Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Rahwana Angkara

Jumat, 10 Juli 2015

KISUTA.com - Setelah kematian Wisrawa dan Sukesi, Danaraja terpaku dalam dukanya. Perenungannya yang dalam tentang kekhilafan ayahandanya jatuh dalam godaan maksiat, membuatnya menemui Batara Brahma, gurunya.

Danaraja: Duh pukulun...seribu kali hamba mencoba mengurai kejadian yang menimpa Ramanda Wisrawa, seribu kali pula bayangan-bayangan semu mengacaukan pikiran hamba....Pukulun, paduka sesembahan hamba selain orang tua hamba, bantulah hamba menemukan jawaban bagaimana seorang Begawan linuwih kekasih para dewa, jatuh pada prilaku sesat yang menjijikkan seperti itu...

Brahma: Danaraja...biarkanlah apa yang sudah terjadi menjadi pelajaranmu, untuk tidak kamu ulangi kesalahan yang sama. Aling Lan Becik Iku gegandhengan, Kabeh Kuwi Saka Kersane Hyang Widi Wasa...Baik dan Buruk sikap seseorang itu selalu bergandengan, semua itu bisa terjadi atas kehendak Hyang Maha Kuasa...namun, ingatlah..diri pribadilah yang mengendalikan watak-watak itu...jangan menyalahkan Hyang Widi Wasa, sebagai suratan takdir kalau yang buruk sudah terjadi...karena itu kelakuan seorang pengecut, yang tidak mau mengakui kesalahannya dan jauh dari penyesalan.

Danaraja: Ya Pukulun...saya kecewa, justru di saat Kanjeng Rama sudah nglenggana mengakui kesalahannya, dan siap menebus kesalahan itu dipuncak penyesalannya..saya tidak bisa mengendalikan diri dan terpancing mengeluarkan Gandik Kencana sesuai permintaan Kanjeng Rama..hingga beliau palastra diujung Gandik Kencana. (Danaraja tertunduk dalam duka)

Brahma: Ngger, Danaraja, sejatinya Gandik Kencana itu pusaka kadewatan..didalam tulang-2 keris itu ada jiwa yang bisa berlaku adil...ketika engkau menghunus dari warangkanya, senjata itu tahu dia harus melakukan tugasnya. Dan engkau tidak akan mampu menahan lajunya. Itulah pepesten ayahmu. Tetapi Danaraja, jika engkau mau ikhlas memaafkan perbuatan ayahandamu, dan mendorongnya dengan doa permohonan ampunan darimu..Engkau bisa membersihkan jiwa ayahmu, dan mengantarkannya sebagai wasu, yang kelak bisa dilahirkan kembali untuk membersihkan dosa-dosanya dan bersama raga yang dititisnya bisa bersih naik ke surga.

Danaraja menyanggupi nasehat Batara Brahma ini. Dengan tapa semedinya yang khusuk, Danaraja berhasil mengantarkan ayahnya menjadi wasu Dyaus, salah satu dari 8 wasu Jonggringsaloka yang kelak akan menitis pada Dewabrata (Bisma).

Setelah menyelesaikan tapa bratanya, Danaraja menyerahkan Alengkadiraja yang menjadi negri jajahan Lokapala kepada Prabu Sumali. Masih dalam suasana Duka, Prabu Sumali menerima negeri yang memang di idam-idamkannya itu dengan mata berlinang.

Prabu Sumali: Anak Prabu Danaraja...terima kasih..tetapi sungguh negeri ini meminta tumbal yang terlalu besar untukku...Ooo, Jagad Dewa ya Batara.

Danaraja: Sudahlah Prabu Sumali, aku juga menyesali apa yang sudah terjadi. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Agar tidak menimbulkan dendam pada adik-2 tiriku, terimalah Alengkadiraja ini untuk mereka. Engkau boleh mewakili mereka sebelum mereka dewasa, dan siap memimpin kerajaan besar ini.

Prabu Sumali, setuju dengan saran Danaraja bahwa cucu-cucunya belum siap diserahi tahta Alengkadiraja. Karena itu dia menyuruh cucu-cucunya untuk melakukan tapa brata di gunung Gohkarna. Cara bertapa mereka tidak sama, Rahwana bertapa sambil berdiri dengan kaki sebelah diangkat ke atas, tangannya yang satu diangkat ke atas menengadah ke langit dan tangan yang satunya lagi disilang di depan dada. Kumbakarna melakukan tapa brata dengan cara tidur, tubuhnya yang besar menyerupai besarnya bukit terbujur diantara lembah gunung Gohkarna. Sarpakaneka bertapa dengan cara menjungkir badannya hingga kepalanya di bawah dan kakinya di atas, sedangkan Gunawan Wibisana melakukan tapa brata dengan cara layaknya para ksatria, sidakep sinuku tunggal. Selama puluhan tahun para putra Wisrawa dengan tekun melakukan mati raga, dan ketika menginjak waktu yang kelima puluh tahun, Candradimuka terguncang hebat. Kawah panas Candradimuka menggelegar-gelegar membuncahkan laharnya, batu pijar dan panasnya api lahar berhamburan, asap hitam membaur menaungi puncak Tengguru, kahyangan Jonggringsaloka diliputi awan hitam pekat. Para batara dan batari, para dewa dan para dewi penghuni kahyangan menjerit panik dengan kejadian alam Candradimuka yang tidak bersahabat.

Batara Narada: Oooeeyyy...Adi Guru, ada apa ini ?... Candradimuka mengamuk dahsyat.

Batara Guru: Kakang Kanekaputra, ini karena keinginan dahsyat dari putra putra Wisrawa dan Sukesi...mari kita temui mereka Kakang, kita coba penuhi apa yang bisa kita penuhi..tapi berhati-hatilah menjaga keseimbangan Mayapada.

Di puncak gunung Gohkarna, gunung wingit yang tidak pernah dijamah oleh manusia, Batara Guru dan Batara Narada menemui Rahwana. Rahwana mengajukan permintaan. Ia ingin memiliki kesaktian dan kedigjayaan melebihi siapa pun para penghuni marcapada, tidak dapat dikalahkan oleh para penghuni di dasar bumi, baik jin atau siluman, manusia bahkan para dewa di kahyangan. Bukan hanya itu, ia juga ingin bisa bertiwikrama menjadi sebesar gunung Gohkarna, dan minta agar umurnya dipanjangkan selama se-umur seribu gajah, seribu perkutut, seribu naga, dan sepanjang umur tujuh zaman.

Permintaan Rahwana disetujui oleh Batara Guru walau Batara Narada sendiri sempat mengingatkan akan datangnya ke-angkara murka-an yang akan merusak tatanan marcapada dihari depannya nanti bila keinginan Rahwana dipenuhi.

Batara Guru dan Batara Narada kemudian menemui Kumbakarna yang sedang bertapa tidur di lembah Gohkarna. Batara Guru menanyakan keinginan Kumbakarna. Putra kedua resi Wsirawa tidak menginginkan apa-apa, ia tidak ingin meminta segala kesaktian karena ia merasa tidak mempunyai musuh di marcapada, ia hanya ingin bisa tertidur nyenyak, makan, dan segala hal kenikmatan yang menjadi kesukaannya, sebab dengan makan dan tidur hidupnya sudah merasa nyaman tanpa harus mengganggu ketentraman hidup orang lain. Batara Guru memenuhi permintaan Kumbakarna. Ia memberikan rasa kantuk yang berkepanjangan kepada putra kedua Wisrawa.

Selanjutnya Batara Guru dan Batara Narada membangunkan Sarpakaneka. Anak ketiga Wisrawa yang berwujud raksesi ini meminta diberi kesaktian dan kekuatan yang setaraf dengan para dewa, dan diberi kenikmatan-kenikmatan dunia, dipenuhi segala nafsunya terutama syahwatnya.

Dan ketika Batara Guru menggugah Gunawan Wibisana, putra keempat begawan Wisrawa ini tidak meminta kesaktian, ia hanya minta diberi kebijaksanaan dan senantiasa selalu berada dijalan kebenaran atau dharma.

Setelah kembali dari tapa bratanya, Rahwana dinobatkan menjadi raja Alengka. Setelah menjadi raja prilaku Rahwana yang kian hari parah, tidak mencerminkan sikap sebagai seorang raja. Rahwana sangat keras kepala, susah diatur dan selalu ingin menang sendiri. Terkadang Rahwana tidak segan-segan menurunkan tangan kasar kepada punggawa-punggawa Alengka yang membangkang segala keinginannya. Dan ketika Rahwana telah tahu bahwa kedua orang tuanya mati terbunuh karena serangan Danaraja, maka Rahwana memutuskan untuk menyerang Lokapala.

Prahasta yang kedudukannya sebagai patih Alengka dan juga sebagai orang tua asuh hanya bisa memberi nasehat, begitu juga dengan Kumbakarna dan Gunawan Wibisana, mereka menentang keras keinginan Rahwana yang ingin menyerang Lokapala, sebab bagaimanapun raja Lokapala adalah kakak tertua mereka, secara lahiriah Danaraja mewarisi darah Wisrawa.

Dasarnya Rahwana keras kepala, nasehat Prahasta, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana bukan hanya tidak didengar tetapi juga dibantah. Bersama Sarpakaneka, Rahwana memimpin puluhan ribu balatentara Alengka untuk menyerang Lokapala. Perang pun berkobar.

Prabu Danaraja segera kembali dari perburuan setelah mendengar kabar negerinya diserang oleh Rahwana, raja Alengka. Perang besar kembali terjadi antara Alengka dan Lokapala. Prabu Danaraja mengingatkan Rahwana agar menarik mundur pasukannya, ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah diantara keluarga.

Rahwana tidak memperdulikan kata-kata Danaraja, ia terus menyerang bahkan memburu Danaraja. Terjadilah perang tanding antara Rahwana dan Danaraja. Dua putra Wisrawa saling serang, saling adu pukul dan saling mengeluarkan aji-aji kesaktian.

Rahwana tidak segan-segan membidikan senjatanya ke arah Danaraja. Bertubi-tubi Rahwana menghantamkan pusakanya ke tubuh Danaraja hingga tubuh raja Lokapala itu terpotong-potong oleh pusaka Candrasa.

Tubuh Danaraja yang sudah terpotong-potong secara ajaib kembali menyatu secara utuh, tanpa bekas. Ia bangkit berdiri dari kematiannya membuat Rahwana keheranan. Sekali lagi, dan sekali lagi Rahwana memenggal kepala Danaraja namun raja Lokapala yang gagah perwira itu kembali bangkit dari kematiannya. Segala upaya telah dilakukan Rahwana untuk membinasakan Danaraja, tetapi sia-sia. Rahwana kalah sakti, ia tersungkur oleh pukulan sakti aji gineng yang dimiliki oleh Danaraja. Tubuhnya lemas lunglai luruh jatuh ke tanah.

Dalam keadaan tidak berdaya Rahwana hanya bisa menggerang memohon ampun, dan pada saat-saat Danaraja menghunus pusaka, tiba-tiba Prahasta datang berlutut dihadapan Danaraja.

Prahasta: Aduh Sinuwun, ketiwasan...janganlah paduka ulangi kesalahan yang sama menghunus Gandik Kencana dan peristiwa terbunuhnya Ayahanda paduka yang paduka sesali seumur hidup terjadi lagi pada adik paduka....Ooo Sinuwun...ampunilah Rahwana...bagaimanapun juga dia masih darah daging paduka.

Danaraja: Prahasta...kurang apa aku memberi kesempatan Rahwana dan adik-adikku yang lain menikmati kemewahan sebagai raja di Alengka...kemewahan yang aku berikan cuma-cuma tanpa harus diminta...sekarang..jangankan ucapan terima kasih..yang aku terima malah tantangan kurang ajar, dari manusia tak tahu diri.

Prahasta: Ya Sinuwun hamba sangat menghormati kebijaksanaan paduka...karena itu janganlah kebaikan paduka menjadi sia-sia karena tingkah kekanak-kanakan sok jago momongan saya ini Sinuwun...Rahwana memang kurang ajar...karena itu sepantasnya di ajar..termasuk di ajar sopan santun...Ah andai saja sebagai kakak, paduka bersedia urun tangan mengajar adik paduka ini.

Danaraja : Apa maksudmu Prahasta...?

Prahasta memohon kepada Danaraja agar Rahwana diampuni segala kesalahannya, dan sekaligus membantu mendidik Rahwana agar siap sebagai raja besar dan tidak mempermalukan leluhurnya sebagai sesama keturunan Wisrawa.Mengingat hubungan darah diantara mereka, Danaraja akhirnya mengampuni Rahwana. Ia juga bersedia menerima kehadiran Rahwana di Lokapala ketika Prahasta menyarankan Rahwana untuk ikut bersama kakaknya di Lokapala supaya mendapat pengajaran dan gemblengan ilmu hingga kelak menjadi seorang kesatria utama.

Rahwana sangat senang mendengar saran Prahasta, maka ketika itu juga Rahwana tinggal di Lokapala bersama kakaknya.

Bertahun-tahun Rahwana hidup dalam gemblengan Danaraja. Ia mendapatkan berbagai macam ilmu-ilmu kedigjayaan dari Danaraja. Hampir seluruh kesaktian Danaraja diserap oleh Rahwana, diam-diam Rahwana mengincar ilmu kesaktian Rawarontek. Tetapi Rahwana mendengar dari Patih Gohmuka yang culas dan sebenarnya iri pada rajanya sendiri Prabu Danaraja, bahwa aji Rawarontek tidak akan bisa dilepaskan dan diajarkan dengan sempurna oleh si empunya kesaktian, bila sanubarinya masih bersih dan belum dikotori nafsu syahwat atau angkara. Aji Rawarontek ini sebelumnya dimiliki oleh Resi Wisrawa...tetapi karena sanubarinya mulai dikotori syahwat, akibat godaan bayangan Sukesi, maka ajian ini dengan mudah di wariskan kepada Danaraja. Mendengar hal ini, mulailah Rahwana merencanakan muslihat licik untuk menyeret kakak tirinya itu jatuh kedalam lingkaran nafsu yang menyesatkan itu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya