Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Muslihat Rahwana, Danaraja Khilaf

Minggu, 12 Juli 2015

KISUTA.com - Sejak berambisi memiliki ilmu Rawarontek, Rahwana sadar dia harus menjebak Danaraja jatuh ke dalam dosa, agar ilmu kadewatan Rawarontek bisa diloloskan untuk diajarkan kepadanya dengan mudah. Pertemanannya dengan patih Gohmuka yang licik membuatnya leluasa mengatur muslihat.

Gohmuka: Hueyyy hehehe..pangeran pati Rahwana, rakandamu itu Prabu agung yang belum punya istri...mengapa tidak kita carikan saja istri, yang sudah jadi istri orang...bukankah itu akan membuatnya berlumur dosa...?

Rahwana: Huahahahah..usul yang bagus, tapi istri orang yang bagaimana dulu,...harus secantik bidadari supaya kakakku mau dan punya alasan kuat untuk merebutnya dari suaminya.

Gohmuka: Kebetulan Prabu Kertawirya dari Maespati belum termasuk negeri jajahan Lokapala, istrinya Dewi Hagnyanawati atau Dewi Danuwati adalah putri cantik luarbiasa, yang dipuja-puja rakyat Maespati karena keluhuran budinya...

Rahwana: Aaah...hebat, sekali tepuk dua kebutuhan terpenuhi...akan aku bujuk kakakku untuk merebut Danuwati, dengan alasan putri itu tidak berbahagia bersuamikan Kertawirya yang picik...dan merebut Danuwati berarti mencaplok Maespati jadi jajahan Lokapala...wuiiisshebat..siasat yang jitu.

Rahwana dan Gohmuka segera melancarkan siasat busuknya. Siang dan malam mereka membujuk Danaraja untuk merebut Danuwati dari Kertawirya dan menjadikan Maespati sebagai negeri jajahan Lokapala. Akhirnya Prabu Danaraja mengirim Gohmuka sebagai duta ke Maespasti. Gohmuka adalah salah seorang punggawa Lokapala berwujud raksasa yang telah dipercaya oleh Prabu Danaraja dalam menjalankan setiap tugasnya, menyerang dan menaklukan negara-negara yang kini menjadi bawahan dan sekutu Lokapala. Berbekal beberapa ratus prajurit Gohmuka berangkat ke Maespati.

Beberapa hari belakangan ini Prabu Kertawirya sedang berdebar-debar menanti terlahirnya seorang putra mahkota yang akan terlahir dari rahim seorang dewi yang sangat ia cintai, dewi Danuwati. Sebagai seorang raja besar tentu Kertawirya sangat mendambakan seorang putra mahkota yang akan menggantikan kedudukannya untuk melanjutkan cita-cita para leluhurnya.

Kebahagiaan Kertawirya terganggu dengan kehadiran utusan Lokapala. Tanpa tedeng eling Gohmuka menyampaikan maksud kedatangannya ke Maespati. Atas nama Raja Lokapala,suka ataupun terpaksa ia akan memboyong dewi Danuwati ke Lokapala untuk dipersembahkan kepada rajanya, sebab Prabu Danaraja menginginkan sang dewi untuk dijadikan permaisuri.

Prabu Kertawirya sangat terkejut mendengar maksud dan tujuan Gohmuka. Apalagi ancaman Gohmuka terhadap dirinya, bahwa Maespati akan dijadikan lautan api apabila Prabu Kertawirya menolak keinginan Prabu Lokapala. Murkalah Prabu Kertawirya. Sudah pasti ia memilih mengangkat senjata daripada menyerahkan kehormatan dan harga dirinya begitu saja kepada orang lain.

Mahapatih Gumiyat dari Maespati segera menyeret Gohmuka ke alun-alun istana. Terjadi pertempuran antara Gohmuka dengan Mahapatih Gumiyat. Hanya disertai beberapa ratus prajurit, Gohmuka mengadakan perlawanan. Ia menerjang ke palagan yuda menghadapi kekuatan Maespati.

Walau Gohmuka punggawa yang cukup terampil di medan perang, namun untuk menandingi Mahapatih Gumiyat dengan kekuatan prajuritnya, Gohmuka bukanlah apa-apa. Berkali-kali Gohmuka harus jatuh tersungkur ditimpa pukulan-pukulan sakti lawannya. Tidak ada perlawanan yang berarti dari punggawa Lokapala. Akhirnya, bersama dengan beberapa prajuritnya yang masih tersisa ia memutuskan untuk melarikan diri meninggalkan Maespati, kembali pulang ke negaranya untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada Prabu Danaraja.

Sebagai Raja besar yang diakui oleh raja-raja bawahannya, keinginan Prabu Danaraja pantang ditolak. Setelah mendengar laporan Gohmuka, Danaraja segera memerintahkan Mahapatih Wisnungkara diperkuat oleh Rahwana untuk menyiapkan seluruh pasukan Lokapala. Maespati harus dijadikan lautan api.

Di Maespati, Prabu Kertawirya sadar akan datangnya bahaya maka ia telah bersiap-siap menyongsong datangnya musuh. Bersama Mahapatih Gumiyat, Prabu Kertawirya menyiapkan seluruh kekuatan Maespati. Sebenarnya ia mengakui kekuatan balatentara Lokapala yang cukup besar. Negara besar yang dipimpin oleh raja muda sakti mandraguna putra seorang resi sakti yang banyak mendapat gemblengan ilmu olah keprajuritan, belum lagi dukungan dari negara-negara mancanegara yang telah menjadi sekutunya, tentu sangat sulit bagi Maespati untuk dapat memenangkan peperangan. Akan tetapi Prabu Kertawirya sudah bertekad mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang raja. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah.

Untuk menghadapi kekuatan besar Lokapala, Prabu Kertawirya meminta bantuan kakaknya seorang resi sakti bernama Swandageni (Swandagni) dari pertapaan Ardisekar (Jatisarana).

Dua pasukan telah sama-sama mengusung senjata, perang pun beradu di medan yuda. Mereka saling serang, saling terjang, saling hantam, saling menusuk, sama-sama saling menghabisi nyawa lawannya.

Pasukan Lokapala telah teruji dalam setiap pertempuran, mereka telah ditempa dengan berbagai pengalaman perang. Terlebih lagi kekuatan Lokapala berlipat ganda dengan adanya Rahwana dan sekutu-sekutunya yang selalu siap membantu.

Di lain pihak, kesaktian resi Swandageni memberi semangat tempur prajurit-prajurit Maespati. Putra resi Wisanggeni ini mampu menciptakan pasukan menjadi beberapa kali lipat kekuatan Maespati hingga pertempuran pasukan keduanya menjadi berimbang.

Prabu Kertawirya berhadapan langsung dengan Prabu Danaraja. Mahapatih Gumiyat menghadapi terjangan Gohmuka dan Rahwana.

Prabu Kertawirya telah membuktikan sendiri kesaktian raja muda dari Lokapala itu. Ia memang sakti mandraguna, bahkan tidak bisa mati dengan berbagai macam senjata apapun yang digunakan Kertawirya untuk melawannya. Beberapa kali senjata raja Maespati itu melukainya, beberapa kali itu pula raja Lokapala sembuh seperti sedia kala. Bahkan ketika pusakanya berkali-kali memenggal kepala Danaraja, beberapa kali pula raja Lokapala itu bangkit dari kematiannya. Danaraja seperti memiliki ribuan nyawa, Danaraja tidak bisa mati.

Mahapatih Gumiyat yang telah berhasil membunuh Gohmuka, melihat Prabu Kertawirya sedang dalam kesulitan menghadapi Danaraja yang telah mengeluarkan kesaktiannya hingga membuat Prabu Kertawirya berkali-kali harus terpelanting jatuh, maka Mahapatih Gumiyat segera mengejar dan membantu Prabu Kertawirya. Disaat seperti itulah seorang prajurit memberi khabar bahwa permaisuri raja telah melahirkan.

Sangkakala dihentikan untuk gencatan senjata, memberi kesempatan Raja menengok putranya yang baru lahir. Prabu Danaraja mematuhi etika perang, mempersilahkan Kertawirya mengunjungi bayi dan istrinya terlebih dahulu.

Rahwana membujuk kakaknya untuk mau berlaku licik tidak memberi kesempatan lawan. Tetapi Danaraja adalah raja yang sangat memegang aturan. Dihardiknya Rahwana untuk tahu diri.

Di istana Maespati prabu Kertawirya menemui permaisurinya. Di samping istrinya kini telah tergolek bayi tampan rupawan yang anehnya di tangannya memegang senjata Cakra Sudarsana. Dengan penuh bangga dan kasih sayang Prabu Kertawirya menimang putranya. Ia lalu memberinya nama Arjunawijaya atau Arjunasasrabahu, pada saat itulah muncul Batara Narada yang menjelaskan makna senjata cakra itu menunjukkan bahwa putranya adalah titisan batara Wisnu yang akan menghancurkan segala keangkara murkaan di Arcapada. Prabu Kertawirya sangat gembira mendengar penuturan Batara Narada. Ia segera kembali menuju medan perang sambil membawa pusaka Cakra.

Prabu Kertawirya meminjamkan Cakra kepada Resi Swandageni. Dengan pusaka Cakra ditangan resi Swandageni, bala tentara Lokapala tercerai berai. Pusaka Cakra berkelebatan, gigi-gigi tajamnya membunuhi prajurit-prajurit Lokapala. Raja-raja sekutu Lokapala berguguran terpenggal pusaka sakti itu.

Prabu Danaraja terkejut melihat pusaka Cakra dalam genggaman Resi Swandageni. Ia sangat maklum dengan pusaka sakti yang telah menggetarkan mayapada. Bukan hanya ditakuti oleh para raja-raja, kesatria ataupun brahmana, tetapi juga disegani oleh para dewa.

Dalam kebingungan seperti itu ditengah medan pertempuran seperti ada pusaran angin yang membelah kedua pasukan...ternyata itu merupakan tanda kehadiran Batara Narada.

Batara Narada: Ooooiiii...kaki Danaraja..sabar dulu...hentikan pertempuran dan dengarkan kata-kataku kaki...

Danaraja: Ooo Pukulun Narada..kebetulan sekali, mengapa dalam pertempuran ini ada Cakra Sudarsana...bagaimana senjata Batara Wisnu bisa ada ditangan panglima Maespati?

Batara Narada: Heheheh...Yang lehernya panjang namanya jerapah, badannya tinggi jalannya kaku..Negeri kecil banyak barokah, baru saja lahir titisan Wisnu...Ya, kamu sudah keterlaluan Danaraja, apa hak kamu menyerang Maespati, mengganggu kebahagiaan rumah tangga orang lain.

Danaraja: Pukulun, menjadi kewajiban saya melebarkan kekuasaan Lokapala, dan saya dengan Maespati ini tidak berkembang karena dipimpin raja yang picik dan permaisurinya tidak bahagia...karena itulah ingin saya ambil alih untuk memperbaiki keadaan...

Narada: Halah...alasan itu, kamu dengar dari siapa ??.. Danaraja, engkau raja besar pilih tanding...sadarkah bahwa saat ini engkau tengah dihinggapi penyakit hati yang akan menyeretmu pada keruntuhanmu?

Danaraja: Duhai pukulun mohon uraikan apa itu penyakit hati hamba, agar jangan telanjur hamba tersungkurr...

Narada: Ada 7 penyakit hati yang berbahaya. 1. Hati yang dikuasai Nafsu, 2. Kesombongan yang mulai mematikan Nurani, 3. Riya, yang menutupi kebenaran, 4. Dengki yang melenyapkan Kautaman, 5. Cinta dunia yang mematikan cahaya hati, 6. Bergunjingb yang bagaikan hama meracuni hati, 7. Lalai dan menyepelekan anugrah.

Engkau raja besar...tentu bisa engkau rasakan sendiri, sudah sampai dimana penyakit-penyakit ini menggerogoti kepribadianmu. Sadarlah Danaraja, pulang dan bangunlah Lokapala, tinggalkan Maespati. Di kerajaan ini baru saja lahir Titisan Wisnu yang mustahil bisa engkau kalahkan.

Narada menasehati Danaraja, menyuruhnya kembali menjalani hidup yang lurus. Tidak ada manfaatnya gemar memamerkan kekuasaan dan kekuatan karena itu hanya akan menyengsara kan banyak pihak. Batara Narada menyarankan agar Prabu Danaraja menjalani penyucian diri, menebus segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini, sebab bagaimanapun ia adalah keturunan dari para resi sakti yang telah dijadikan panutan di mayapada.

Prabu Danaraja menuruti nasehat Batara Narada, ia segera menarik pasukannya dari wilayah Maespati kembali pulang ke negaranya. Dan selanjutnya, Prabu Danaraja melakukan tapa brata di tepi sungai gangga.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya