Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Duryudana Menjelang Ajal

Senin, 13 Juli 2015

KISUTA.com - Duryudana yang terbaring tidak berdaya masih sempat menyumpahi Krishna. Dia paksakan diri untuk bangun. Mengabaikan rasa sakit yang mendera, dia berteriak:

"Hai bedebah! Anak budak! Bukankah ayahmu Wasudewa hanyalah budak Kamsa? Engkau tidak pantas duduk dan bergaul dengan para putra raja. Bicaramu seperti orang yang tidak tahu malu. Aku tahu engkau memberi tanda pada Bima supaya menghantam pahaku. Apa kau pikir aku tidak tahu egkau pura-pura bicara dengan Arjuna, sambil menunjuk pada pahamu. Kau sama sekali tidak mengindahkan aturan pertarungan satu lawan satu.

"Sampai engkau memberikan isyarat pada Bima, pertarungan seimbang. Engkau sama sekali tidak tahu maluatau belas kasih. Bukankah kau juga yang menyiapkan tipu daya untuk membunuh kakek Bhisma? Engkau perintahkan Srikandi untuk maju menghadang Bhisma, karena tahu kakek tidak akan mungkin menyerang perempuan dan bahkan membiarkan diri diserang sampai luka parah tanpa membalas.

"Engkau juga yang menyebabkan kematian mahaguru Durna dengan menyuruh Dharmaputra berbohong. Engkaulah biang yang menyebabkan Dharmaputra berbicara bohong dan Durna membuang senjata. Bukankah engkau diam saja ketika si bedebah Dristadyumna menyerang dan memenggal kepala mahaguru ketika dia telah membuang senjata dan sedang bermeditasi?

"Bukankah engkau juga yang menyebabkan Karna melepaskan senjata pusaka ke arah Gatotkaca dan tidak menyimpannya untuk bertarung melawan Arjuna? Hai pendosa, engkau jugalah yang menyuruh Satyaki membantai Burisrawa yang tangan kanannya telah terpenggal dan berhenti berperang dan bersiap melakukan meditasi.

"Engkau jugalah yang menyebabkan kematian Karna. Engkau perintahkan Arjuna untuk menyerang Karna yang sedang berusaha mengangkat roda kereta yang terjebak dalam lumpur. Oh, manusia tidak berguna, engkaulah penyebab kehancuran kami. Seluruh dunia akan mengutukmu. Dengan sihirmu, kau buat matahari seolah-olah sudah tenggelam dan Raja Sindhu percaya bahwa hari sudah berakhir. Akibatnya, dia tewas karena lepas dari para penjaganya."

Demikianlah Duryudana melampiaskan amarahnya kepada Krishna. Saking marahnya, ia kembali jatuh pingsan.

Kata Krishna: "Putra Gandari, jangan biarkan amarahmu menambah rasa sakitmu di saat-saat terakhir ini. Kesalahan dan dosamu sendirilah yang menyebabkanmu mengalami nasib seburuk ini. Jangan lemparkan dosa-dosamu kepadaku. Engkau sendirilah yang menyebabkan kematian Karna dan Durna. Apakah aku harus membeberkan semua dosamu pada para Pandawa? Hukumam macam apakah yang pantas kau terima atas dosamu mempermalukan Drupadi?

"Dendam dan nafsu serakahmu tidak semestinya dijadikan alasan untuk menyelahkan orang lain. Semua tipu daya dan kejahatan yang engkau lakukan adalah cerminan sikap jahatmu. Engkau telah membayar lunas dosa-dosa akibat nafsu serakahmu. Meskipun demikian, engkau gugur sebagai kesatria pemberani. Engkau akan pergi ke surga yang disediakan untuk para kesatria yang mempertaruhkan hidup di medan perang."

Duryudana yang masih keras kepala berucap: “Krishna, aku akan pergi ke surga bersama sahabat-sahabat dan kerabatku. Tapi engkau bersama sahabat-sahabatmu akan menderita di bumi ini.” Lalu ucapnya lagi: “Aku belajar kitab Weda. Karena takdir, aku beroleh anugerah dan aku berkuasa atas seluruh muka bumi. Semasa hidupku, musuh-musuhku tunduk dan hormat kepadaku. Semua kesenangan yang diimpikan manusia dan bahkan para raja, telah aku nikmati. Sekarang, aku sekarat. Kematian semacam inilah yang diidam-idamkan semua kesatria. Sebentar lagi aku akan mati dan pergi menemui sahabat-sahabatku di surga. Nah, siapa yang lebih diberkati? Engkau atau kalian yang masih harus tinggal di bumi ini, meratapi kematian para sahabat dalam kesepian. Memang benar kalianlah yang memenangkan perang yang berlangsung sekian lama. Tapi bukankah yang kau dapatkan hanya kegetiran?” jata Duryudana dan para dewa menghujani kesatria yang menjelang ajal itu dengan bunga. Para gandarwa memainkan musik dan langit berubah cerah. Wasudewa dan para Pandawa merasa diri kecil, tidak berarti.

Kata Krishna: “Memang benar apa yang dikatakan Duryudana. Kalian tidak akan bisa mengalahkan mereka dalam pertarungan yang jujur. Di medan perang, manusia jahat itu memang tidak bisa dikalahkan.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya