Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Rahwana Umbar Asmara, Danaraja Pralaya

Selasa, 14 Juli 2015

KISUTA.com - Sepeninggal Danaraja yang bertapa di sungai Gangga untuk menebus dosanya menyerang Maespati, tahta Maespati untuk sementara diserahkan pada patih Wisnungkara.

Mendengar Danaraja bertapa, Rahwana segera menyusul kakaknya ke tepi bengawan gangga untuk membujuknya memberikan Aji Rawarontek.

Rahwana: Kakaprabu...tinggal selangkah lagi kakanda mendapat istri cantik, bijaksana dan kerajaan besar. Mengapa mundur dan sekarang menyepi bertapa...apa ngga salah ini?

Danaraja: Adiku Rahwana, seorang ksatria harus bisa mengendalikan dirinya sendiri. Itulah kautaman luhur yang menjadi puncak pengendalian diri kita.

Rahwana: Aah..bagaimana sih? Apa yang kanda lakukan itu, bisa dipandang laku pengecut oleh para kawula. Masa seorang raja besar, sakti mandraguna..ngalah pada raja kerajaan kecil yang kesaktiannya jelas dibawah kita...

Danaraja: Kuncinya pada kata-katamu tadi..NGALAH...bukan kalah adikku....Ngalah itu sebuah kemenangan yang luar biasa. Karena yang di kalahkan bukan orang lain, tetapi dirinya sendiri. Pemahaman bathinku kadang belum terlalu tinggi, untuk mencapai NGALAH..kadang aku harus melewati kejadian-kejadian yang tidak aku harapkan...contohnya seperti serbuan ke Maespati ini...seharusnya aku tidak boleh terbujuk olehmu dan Gohmuka, karena ini mengurangi dharmaku dan membuatku memasuki nafsu angkara.

Rahwana: Pusing aku mendengarkan kalimatmu kanda...hhmm...kanda, karena kakanda berniat bertapa, apakah tidak sebaiknya sebelum kanda bertapa, kanda ajarkan saja rawa rontek padaku?

Danaraja (mengernyitkan dahinya): Rawarontek? Hhmm, buat apa adikku...kesaktianmu sudah luar biasa, hampir semua aji-aji kesaktianku sudah aku turunkan padamu. Rawarontek itu ajian tunggalm yang setelah diturunkan, akan terhapus dari raga pemilik sebelumnya....Biarkan aku bertapa dahulu untuk mengurangi dosa-dosaku...jika kupandang sudah saatnya Rawarontek aku lepas...tentu engkaulah yang akan memiliki.

Rahwana cerdik, dengan jawaban Danaraja seperti itu, tentu mustahil dia mendesak Danaraja yang akan memancing kecurigaan. Akhirnya Rahwana memutuskan kembali ke Alengkadiraja, sambil membawa angan-angannya bisa mendapatkan ajian Rawarontek dari Danaraja yang sedang bertapa.

Di Perjalanan saat melintas di pertapaan Argobelah, mata Rahwana tiba-tiba nanar, di lihatnya wajah wanita cantik jelita yang lembut, di tepi telaga. Wajah cantik itu membuat debar jantungnya memburu, baru kali ini Rahwana merasakan pengaruh pandangan mata dengan perasaan yang mengharu biru. Setelah berusaha menenangkan dirinya Rahwana memberanikan diri menyapa wanita itu...

Rahwana: Ehm..hmm..duh Sang Dewi yang jelita ?...bidadarikah anda, bagaimana mungkin di hutan belantara seperti ini ada wanita secantik dirimu...siapakah engkau?

Widowati: Yaksa...jaga jarakmu dariku...aku Widowati, putri Begawan Wrahaspati dari Argobelah....Aku sedang mesu budi, membersihkan diri lahir dan bathin dengan bertapa...

Rahwana: Aah, bukan bidadari bisa secantik ini ?...woow..mengapa harus bertapa ? marilah menjadi istriku saja, kita reguk kenikmatan dunia ini dalam madu asmara...Ooo dewiku kalau Rahwana memiliki istri selembut dan secantik dirimu..percayalah engkau merubah dunia, akan kepenuhi hari-harimu dengan kenikmatan, kumanjakan engkau dengan cintaku yang dahsyat...(Rahwana sudah mabuk kepayang, dan mulai mencoba meraih tangan Widowati, namun, Widowati sangat lincah dan selicin belut, Rahwana tidak dapat menyentuh si Jelita).

Widowati: Rahwana..singkirkan angan-anganmu.. sesungguhnya lah aku ini titisan Bathari Sri Widowati, bidadari Maniloka...seandainya ada lelaki yang boleh menyentuhku..maka lelaki itu haruslah titisan Bathara Wisnu, suamiku sesungguhnya...jangan dekati aku...(Widowati makin menjauh hingga mereka sampai di pertapaan).

Rahwana: (yang terus membuntuti, karena rasa cinta yg mulai merasuk sukmanya) Ooo Widowati, mau kemana kamu...ayolah ikut denganku. Kalau aku dapat memperistrimu, Engkaulah satu-satunya wanita dalam hidupku...Widowati...Widowati...

Widowati (sebagai pertapa wanita titisan bidadari, Widowati sadar Yaksa dihadapannya ini memiliki nafsu angkara yang luarbiasa, untuk menjaga kesucian ragawinya, dia harus lebur...Widowati segera mengatur siasat untuk melaksanakan tekad sucinya): Rahwana...jika sungguh engkau mencintaiku..jangan paksakan tanganmu yang kotor menjamah tubuhmu...tunggulah sebentar, biar aku sucikan diriku di sanggar pamujan. Engkau tidak boleh masuk ke sanggar pamujanku. Nanti saat tiba waktunya, biarlah aku yang menemuimu setelah menyucikan diriku....." (Widowati berkelebat masuk ke pertapaan. Dengan harapan yang setinggi gunung, Rahwana menunggu pujaan hatinya, sambil membayangkan kemolekan tubuh Widowati, Kulitnya yang halus, Raut muka jelitanya, tindak tanduknya yang luwes dan halus...Rahwana menelan ludahnya, membayangkan berasyik masyuk dengan wanita secantik Widowati....tunggu punya tunggu...Widowati tak juga muncul......sayup sayup penciumannya merasakan baru harum dupa dengan bunga tujuh rupa, ditambah bau harum luarbiasa dari arah sanggar pamujan...Rahwana menjadi kehilangan kesabaran...di dobraknya pertapaan..sambil berteriak-teriak).

Widowati...Widowati...di mana kamu...

Dari perapian di sanggar pamujan, Rahwana hanya menemukan sisa-2 kemben yang tadi dilihatnya dipakai Widowati...saat tercenung...Rahwana melihat dibalik asap yang bergulung-gulung terlihatlah bayangan Widowati berselaput sinar keemasan membumbung makin tinggi dan samar-samar menghilang...bersamaan dengan bayangan itu terdengar suaranya.

"Rahwana...sudah menjadi pepestenku harus lebur diri, untuk menjaga kesucianku dari tanganmu yang diselimuti nafsu....aku ini titisan Bathari Sri Widowati...seharusnya hanya Titisan Wisnu yang boleh menjadi pendampingku, atau kalau bukan titisan Wisnu, dia harus laki-laki yang bersih dari pikiran-2 kotor dan darah angkara, karena bisa jadi dari rahimku akan lahir titisan Wisnu...kelak aku akan menitis pada Dewi Kausalya...Dewi Citrawati, Dewi Shinta, dan terakhir akan menitis pada Wara Sumbadra...hati-hati Rahwana...jangan kau turuti nafsumu...karena salah satu dari titisanku kelak bisa jadi adalah darah dagingmu sendiri...putrimu sendiri.....waspadalah Rahwana..."

Rahwana menjerit-jerit murka...dihancurkannya pertapaan itu. Duka nestapa kehilangan Widowati membuatnya seperti orang gila....Setelah selesai mbarang amuk, dengan terengah-engah...Rahwana tiba-tiba memukuli badannya sendiri, dibentur-benturkannya badannya ke batu cadas sampai berdarah-darah...dan dipuncak penyiksaannya pada diri sendiri, dia patahkan kakinya sebatas betis...dg menyandang luka separahn itu, Rahwana kembali ke tepi sungai Gangga, menemui Danaraja.

Rahwana: (Menangis berteriak-teriak kesakitan, sambil mengeluh minta dikasihani oleh Danaraja)..Kakang...aduh kakang...mati aku kakang...

Danaraja: Rahwana?!....Ada apa ini, badanmu bersimbah darah babak belur...kakimu patah..Oooo adiku...mari aku rawat luka-lukamu...siapa yang bisa menghajar kamu separah ini ? kemana aji kesaktianmu Rahwana...

Rahwana: Aaa,..aaduuuh...adduhhh..kakang..ketiwasan...inilah kalau ilmuku tanggung kakang...aku di hajar Begawan Wrahaspati dari pertapaan Argobelah...huaduuuuhhh...sakit kakang...

Danaraja: Hhm..Begawan Wrahaspati ?..dia memang pertapa sakti, tetapi bagaimana engkau bisa berhadapan dengan dia ?...Sangg Begawan ini biasanya tidak pernah menyerang siapapun karena beliau selalu gentur tapa.

Rahwana : Aku mencintai putrinya kakang...cantik sekali, namanya Widowati...tapi gadis itu malah bunuh diri karena dia hanya mau dengan titisan Wisnu, sang Begawan salah paham, aku dihajarnya karena dianggap jadi penyebab kematian putrinya kakang...

(dengan gaya yang meyakinkan,..kadang mengerang kesakitan, kadang sedu sedan...Rahwana berhasil meruntuhkan rasa kasih Danaraja...hingga akhirnya bujuk rayu Rahwana untuk diajarkan ilmu Rawarontek berhasil).

Danaraja, sudah sampai pada pemahaman bahwa apa yang di raih dan dimilikinya sudah lebih dari cukup. Saatnyalah mewariskan ilmu-2nya kepada adiknya. Karena bukankah ilmu Rawa Rontek juga dia dapatkan dari ayahnya Begawan Wisrawa yang menjadi ayah Rahwana pula. Jadi Rahwana ber hak mendapat ilmu itu.

Rahwana sangat senang mendapatkan aji kesaktian itu, kesaktian yang telah tersohor diseantero jagat. Aji Rawarontek telah bersatu di dalam tubuh Rahwana. Dendam kembali berkobar, ia teringat akan maksud dan tujuannya untuk melampiaskan dendam terhadap Danaraja. Pada saat itulah Rahwana berdalih ingin membuktikan kesaktian Rawarontek yang baru saja diterimanya. Tanpa tedeng eling, Danaraja diglandang di palagan yudha.

Danaraja sebenarnya maklum pada tujuan akhir Rahwana, dibiarkannya Rahwana melancarkan siasatnya. Keduanya terlibat perang tanding untuk yang kedua kalinya. Namun sekarang Rahwana bukanlah Rahwana yang dulu, ia telah mewarisi semua kesaktian Danaraja, maka Danaraja dengan seluruh tenaganya mencoba menandingi Rahwana yang telah menjadi sakti mandraguna.

Danaraja menemui karmanya, kepalanya ditigas potong oleh Rahwana. Kini Danaraja benar-benar palastra, mati dan tidak bangkit lagi setelah tidak memiliki aji Rawarontek. Rahwana terbahak-bahak penuh kemenangan membawa jenazah Danaraja untuk diperabukan di Lokapala.

Setelah berhasil membunuh Danaraja, Rahwana menyatukan Lokapala dengan Alengkadiraja dan menjadikan Alengkadiraja sebagai pusat pemerintahannya.

Sementara itu, sukma Danaraja, yang pisah dengan raganya di jembut oleh Hyang Brahma.

Brahma: Kaki Danaraja....akhirnya engkau mampu pupus mengendalikan dirimu sendiri dipuncak pemahaman ilmumu...

Sukma Danaraja : Ya Pukulun...namun apa yang akan terjadi dengan Rahwana dengan rangkaian ilmu yang setinggi itu ?...salahkah saya menggunakan kesabaran saya menghadapinya pukulan?

Brahma: Kaki Danaraja...Sabar kuwi, ingaran mustikaning laku. Sabar iku lire momot kuwat nandhang sakehing coba lan pandhadharaning ngaurip....Sabar itu mustika kehidupan, Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup....engkau telah mampu mengejawantahkan ini dengan baik..karena itu Hyang Girinata menganugerahkan jabatan kadewatan untukmu...engkau akan hidup abadi sebagai Dewata yang mengelola harta benda, dengan gelar Batara Kuwera dan kamu akan menghuni kahyangan Gudaphada.....Engkau tidak perlu kawatir tentang Rahwana...memang saatnya angkara murka menebarkan benih-2nya...tetapi, wolak waliking jaman...suro diro jayengingrat lebur dening pangastuti....kebhatilan akan dihancurkan oleh kebajikan... yitna yuwana,lena kena.....orang yang eling waspada akan selamat,yang lengah dan lalai akan celaka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya