Penghimpun Mushaf Al-Quran
KISUTA.com - Saat Anda membaca Al-Quran, pernahkah membayangkan kesulitan dan rintangan yang dihadapi oleh orang-orang yang telah ditentukan Allah untuk menghimpun dan memeliharanya?
Di antara orang-orang pilihan yang telah berjasa menghimpun, menyusun, dan memelihara kesucian Al-Quran hingga menjadi mushaf (buku), adalah Zaid bin Tsabit. Pria Anshar dari Madinah ini telah menjadi muslim sejak usia 11 tahun, saat Rasulullah SAW datang berhijrah ke Madinah.
Meski keinginannya menjadi prajurit sangat besar, namun Zaid baru bergabung dengan barisan Rasulullah pada tahun kelima hijrah, yaitu saat perang Khandaq. Selain menjadi prajurit pemberani, Zaid mempunyai banyak kelebihan, di antaranya sebagai penghafal Al-Quran. Selain Zaid, tidak sedikit ahli baca dan ahli hafal Al-Quran yang mencatat dan menuliskannya, seperti Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Abbas.
Ketika Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin dihadapkan pada peperangan melawan kaum murtad, pada peperangan tersebut banyak ahli baca dan ahli hafal Al-Quran yang gugur. Kondisi ini membuat Khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a. memerintahkan kepada para qari dan huffadh untuk menghimpun Al-Quran sebelum mereka gugur dalam peperangan.
Abu Bakar meminta kepada Zaid bin Tsabit untuk melakukan tugas mulia, yaitu menghimpun Al-Quran. Dibantu para ahli berpengalaman, Zaid bekerja keras menghimpun ayat-ayat dan surat-surat dari para penghafal Al-Quran. Kemudian Zaid menyamakan dan membandingkannya, hingga akhirnya tersusunlah Al-Quran secara rafi dan teratur.
“Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun Al-Quran,” ujar Zaid mengungkapkan kesulitan yang dia hadapi dalam melaksanakan tugas mulia tersebut.
Memang, tugas yang diemban Zaid sangat berat, karena dirinya tidak boleh salah menuliskan ayat Al-Quran seperti yang pernah dituntunkan oleh Rasulullah. Tugas Zaid tak berhenti sampai di situ, karena Al-Quran yang dihimpunnya masih tertulis dalam banyak mashaf, sehingga ketika Usman r.a. menggantikan Umar bin Khatab r.a. menjadi khalifah, Zaid diminta untuk menyusun Al-Quran dalam satu mashaf saja.
Zaid mengumpulkan sahabat-sahabat serta penulis wahyu dan penghafal Al-Quran. Mereka mengambil beberapa mashaf dari rumah Hafhsah, puteri Umar r.a. yang selama ini dipelihara dengan baik. Akhirnya mereka berhasil menyusun Al-Quran yang sampai sekarang digunakan oleh umat Islam di dunia.
Tidak salah memang kalau Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Usman bin Affan memilih Zaid untuk memimpin penyusunan Al-Quran, karena Zaid orang yang tepat. “Tokoh-tokoh terkemuka dari sahabat-sahabat Muhammad SAW tahu betul bahwa Zaid bin Tsabit orang yang dalam ilmunya”. Begitu pujian yang kerap dilontarkan kepada Zaid bin Tsabit.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah - kisuta.com


