Cobaan Maharesi Suwandagni
KISUTA.com - Sinar Surya yang menembus dedaunan di pertapaan Argosekar, menampilkan siluet keindahan alam yang luar biasa. Gemericik air yang memecah bebatuan, seakan symphony merdu ditingkah suara jengkerik dan cericit burung-burung di sekitar pertapaan.
Dewi Darini bidadari Maniloka putri Batara Sambujana, sedang gundah gulana, wajahnya yang cantik seakan tertutup kabut, sang Dewi tengah berbadan dua, suasana hatinya yang resah terungkap dalam keluah kesahnya pada suaminya Resi Suwandagni.
Darini: Kakang Resi, apakah selamanya kita akan tinggal di sini? Gubug reyot di tengah hutan?
Suwandagni: Apa yang salah dengan pertapaan ini adindaku, aku seorang pertapa, kehidupanku memang harus manembah dan memerlukan keheningan yang asri seperti ini, Aku sangat berbahagia tinggal di Argosekar yang indah ini istriku...
Darini: Uuuh...kita ini keturunan Batara Batari Maniloka, kalau kakanda mau, kakandapun bisa menjadi salah seorang raja di Arcapada...tapi lihatlah, kanda pilih kehidupan miskin seperti ini.. semua serba terbatas, semua harus diirit-irit... sebenarnya aku sebal kanda...
Suwandagni: Jagad Dewa Batara...Darini, hentikan keluhanmu, engkau sedang hamil...janganlah keluhanmu itu berakibat buruk pada janinmu...Syukurilah apa yang kita dapat istriku...Begitu banyak karunia yang sudah kita terima, Kita berbahagia sebagai pasangan suami istri, sekarang engkau mengandung...itu berarti hubungan asmara kita di RidhoiNya dan diberiNya kita kepercayaan menjaga AmanahNya...Aah istriku, singkirkan keluhanmu...itu hanya riak kecil yang tak seberapa dibanding karunia yang harus kita syukuri.
Resi Suwandagni terus menasehati istrinya, dia menjelaskan bahwa sebagai pertapa ia memang sebaiknya hidup di tempat sepi. Walaupun Maharesi Suwandagni memaafkan sikap istrinya itu tetapi para dewata tidak. Akibat kata-kata Dewi Darini itu para dewa memberinya hukuman salah satu anak yang dilahirkannya nanti akan berwujud seperti raksasa bajang buruk rupa. Itulah sebabnya Sukrasana yang kemudian lahir sebagai anak bungsu berwujud raksasa kerdil. Saat tiba waktunya melahirkan, Dewi Darini menangis pilu, salah satu putranya lahir tampan memikat dengan kulit putih sebersih kaca,..saat dibersihkan ari-arinya...Dewi Darini merasakan mulas di perutnya, ternyata berjarak setengah hari, Dewi Darini melahirkan lagi, bayi buruk rupa, kulitnya hitam seperti tinta , berkerut-kerut keriput seperti jeruk purut, gigi-giginya runcing seperti duri daun pandan , taringnya berbisa, hidungnya besar seperti terong, pundaknya menonjol, kakinya pendek sebelah, punggung bungkuk...Dewi Darini seakan jijik memeluk darah dagingnya sendiri...bayi kedua ini segera diserahkan pada biyung emban.
Bayi tampan putra pertama Resi Suwandagni, diberi nama Bambang Sumantri, sedangkan buta bajang yang buruk rupa diberi nama Bambang Sukrasana. Resi Suwandagni mencintai kedua putranya ini dengan tulus, dan mengajarkan ilmu kesaktian serta kebiasaan tirakat kepada keduanya. Dewi Darini walaupun mula-mula merasa jijik pada Sukrasana, namun lama-lama bisa menyadari bahwa kelahiran Sukrasana juga merupakan azab teguran atas sifat pengeluhnya yang kurang bersyukur, hingga tumbuhlah rasa kasihan pada Sukrasana, yang harus menanggung dosanya. Dewi Darini menekankan rasa cinta kasih persaudaraan pada Sumantri dan Sukrasana. "anak-2ku kalian adalah buah kasih Rama dan Ibu, apapun yang akan terjadi kelak, cintailah saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri. Sumantri, lindungilah adikmu, sayangi dia...karena dialah satu-satunya saudara kandungmu. Sukrasana, tetaplah bersabar anakku, walau wajahmu buruk rupa, tetapi engkau kesayangan dewa, karena watakmu yang polos tanpa pamrih, membuat dewa tidak kuasa menolak permintaanmu." Pesan ibundanya ini demikian merasuk pada Sumantri dan Sukrasana, sehingga mereka tumbuh dewasa saling mengasihi dan saling menyayangi.
Suatu hari Sumantri menghadap ayahandanya, menyampaikan kebosanannya tinggal di pertapaan, dan keinginannya mengabdi ke Maespati, pada Prabu Arjuna Sasrabahu, titisan Batara Wisnu. Tetapi dia mengkhawatirkan Sukrasana. Resi Suwandagni, memahami perasaan Sumantri, karena itu dimintanya Sumantri bicara baik-baik pada Sukrasana, dan jika perlu meninggalkan adiknya itu diam-diam agar tidak terjadi keributan. Dengan dibantu para punakawan Sumantri mencoba memberi pengertian pada Sukrasana.
Sumantri: Adikku sayang...aku pergi tidak akan lama, percayalah kalau kakakmu ini sudah mendapat kedudukan, engkau akan aku jemput...engkau tahu betapa aku sangat mengasihimu...
Sukrasana: Ngga mau kakang Ati...aku ngga mau berpisah denganmu...(Sukrasana terus memegang tangan Sumantri).
Semar: Den..biarkan kakakmu pergi dahulu..panjenengan di pertapaan ini bersama saya dan anak-2 saya...nanti kalau kakakmu tidak menjemputmu ya kita susul...gitu aja kok repot...
Sukrasana: Maespati itu jauh ya....ehn, emoh aku kalau ditinggal Kakang Ati...aku ikut saja...
(Sukrasana adalah wujud anak yang selalu tergantung pada kasih sayang kakaknya, jiwanya tidak berkembang sebagai orang dewasa. Kepolosan dan keluagasannya membuatnya mendewakan Sumantri, kakaknya yang rupawan, sakti dan baik hati. Baginya dicintai dan disayangi Sumantri adalah kebanggaan luarbiasa, watak bocahnya kadang ingin pamer, betapa kakaknya yang cakep bisa menyayanginya dengan tulus tanpa memperdulikan wajahnya yang buruk rupa. Dengan dibantu Semar dan anak-anaknya Sumantri berhasil meninggalkan Sukrasana di Argosekar, saat Sukrasana tertidur pulas, di dongengkan sambil dinyanyikan lagu oleh Sumantri).
Di Kerajaan Maespati Prabu Harjuna Sasrabahu, menerima pengabdian Sumantri dengan syarat, Sumantri dapat mewakilinya melamar Dewi Citrawati putri prabu Citradarma dari Magada. Dewi Citrawati diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati. Berwajah sangat cantik, anggun penampilannya, jatmika dan suci trilaksita (ucapan, pikiran dan hati) nya.
Sumantri: Sang Prabu, apa yang menjadi syarat untuk memenangkan hati Dewi Citrawati ini?
Harjuna Sasrabahu: Ya Sumantri, sesungguhnya sebagai titisan Bathari Widowati..Citrawati sadar bahwa akulah jodohnya. Tetapi dia perlu menguji apakah calon suaminya layak mendapatkan dia...syaratnya, mengalahkan raja 1000 negara yang melamar Citrawati dan mengiringkan Citrawati dengan 800 domas.
Sumantri: Persyaratan yang sangat berat, mengapa paduka serahkan tugas berat ini kepada saya, dan bagaimana saya dapat memenuhi tugas ini...
Harjuna Sasrabahu: Sumantri...Sebagai Raja titisan Wisnu, aku memiliki kewajiban untuk memayu hayuning bawana, memelihara kehidupan, dan menjaga ketentraman. Syarat mengalahkan 1000 raja, adalah buah kecerdikan Citrawati untuk menguji, apakah aku memiliki nafsu yang sebesar itu hingga melupakan tugas utamaku...Ooo Sumantri, kehadiranmu adalah suluh untuk menegakkan kewajibanku tetapi juga jalan keluar mendapatkan Citrawati mustika hidupku. Engkau akan mampu mengalahkan para raja itu, karena aku akan ngawat-awati dari belakang. Sedangkan 800 domas, akan engkau dapatkan dari hasilmu mengalahkan 1000 raja tadi.
Sumantri: Baiklah Sang Prabu...saya akan laksanakan tugas berat ini....mohon Restu paduka, saya berangkat ke Magada dan akan mempersembahkan Dewi Citrawati untuk Paduka.
Harjuna Sasrabahu: Sumantri, mengemban tugas ini tetaplah..TATAG, TETEG, TANGGUH, TANGGON, TANGGAP, TUTUG. Tatag itu tidak memiliki rasa “sumelang” atau was-was. engkau akan selalu “siap” melaksanakan tugas. Walaupun sarana terbatas dan medan sulit,engkau tidak mengenal gentar. Teteg itu kokoh, tidak tergoyahkan. Hujan badai tidak akan menggoyahkanmu. Selama kakimu masih bisa berdiri tegak, engkau akan tetap bertahan. Tangguh itu memiliki “watak” sekaligus “kekuatan” sesuai dengan kebutuhannya. Tanggon adalah sikap dapat diandalkan. “Tangguh” saja, kalau tidak dapat diandalkan tentunya percuma. Tanggap maksudnya mampu mendengar, mengerti apa yang didengar dan melaksanakan apa yang seharusnya dia lakukan dengan benar. sedangkan Tutug maksudnya sampai pada tujuan, selesai dan tuntas.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


