Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Bambang Sumantri

Senin, 20 Juli 2015

KISUTA.com - Hari masih pagi, Prajurit Maespati berderap gagah melangkah mengiringi langkah Bambang Sumantri, berangkat sebagai duta ke Istana Magada. Di atas punggung kuda putih Bambang Sumantri duduk tegak. Wajah tampan nya kelihatan serius menatap tajam kemuka. Sesekali matanya terpejam ketika ingatannya melayang ke adik satu-satunya Bambang Sukrasana. Bambang Sumantri mencoba menepiskan bayangan itu dengan menggelengkan kepalanya. Ditenangkannya perasaannya, yakin bahwa adiknya pasti ditemani dan dihibur dengan baik oleh Kyai Semar, Petruk dan Bagong. Sumantri memantapkan tekadnya. Apa yang sekarang sedang diperjuangkannya, adalah upaya merubah keadaan. Sebagai anak sulung dia tahu ibunya sangat berharap mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan itu berarti hidup di kalangan istana. Sumantri berjanji pada dirinya sendiri, Sukrasana akan dia jemput, begitu keberhasilan sudah berhasil dia genggam sebagai ksatria negri.

Saat Bambang Sumantri dalam perjalanan menuju Magada, di kerajaan Magada, keadaan nya menjadi sulit, Para Raja 1000 negara, tidak bergeming mengepung Istana Magada. Hal tersebut terjadi karena belum ada kepastian dari Prabu Citrawijaya, untuk menentukan lamaran siapakah yang akan diterima, sehingga keadaan itu menjadi berlarut larut. Dari sekian banyak raja pelamar, Prabu Darmawisesa dari negeri Widarba, merupakan raja yang sangat berpengaruh dan ditakuti. Ia bersama lebih dari tujuh puluh lima raja sekutunya lengkap dengan ribuan prajuritnya, telah mengepung negara Magada dari berbagai penjuru. Tujuannya jelas. Bila lamarannya terhadap Dewi Citrawati ditolak, Prabu Darmawisesa akan merebutnya dengan kekerasan.

Kedatangan Bambang Sumantri, sebagai utusan Maharaja Harjunasasrabahu dari Maespati menjadikan semangat bagi Prabu Citrawijaya, Sumantri segera memasuki palagan dan berhadapan dengan Prabu Darmawisesa.

Darmawisesa: Bocah bagus siapa kamu ? minggirlah jangan masuk palagan ini. Di sini tempat para ksatria mengadu ilmu. Bisa hancur lebur tubuhmu terkena kibasan ilmu kami…sayangilah kulitmu yang halus dan wajahmu yang tampan itu.

Sumantri: Prabu Darmawisesa, ketahuilah, aku Bambang Sumantri utusan Prabu Harjunasasrabahu. Akulah lawanmu jika engkau masih nekad melamar Dewi Citrawati.

Darmawisesa: Wuuieeetsss…bojleng-bojleng…Buah Maja jatuh di Selokan, Raja manja kurang jagoan….huahahahaha…sudah putus asa rupanya Harjunasarabahu, sampai-sampai mengutus anak kemarin sore yang belum kencang memegang pedang…huuee Sumantri minggirlah, daripada tubuhmu aku cabik-cabik jadi dendeng.

Sumantri: Mari aku ladeni ketangkasanmu Darmawisesa, dan buktikan apakah sesumbarmu sehebat kesaktianmu.

Dengan kesaktiannya, tanpa melibatkan para prajurit dari kedua belah pihak, lewat pertempuran yang sengit Sumantri akhirnya dapat menaklukkan Prabu Darmawisesa sekaligus para raja lainnya.

Melalui kharismanya pula Bambang Sumantri berhasil meminta para raja itu memenuhi persyaratan perkawinan Dewi Citrawati berupa Putri Domas yg berjumlah 800 orang.

Setelah tuntas semua tugasnya, Bambang Sumantri dipertemukan dengan Dewi Citrawati untuk menyampaikan kehendak Prabu HHarjunasasrabahu.

Berjumpa dengan seorang putri cantik titisan Dewi Widowati, sungguh membuat jantung Sumantri berdebar kencang. Aduhai cantik sekali putri ini, suara hati Sumantri membuat langkahnya tertahan. Dari jarak jauh saja sudah tampak cahaya yg keluar dari kulit bersih Sang Dewi. Makin mendekati singgasana sang Putri, denyut jantung Sumantri makin tak beraturan, putri ini tinggi semampai, rambutnya panjang berkilau, anak-2 rambutnya manis menghias dahinya. Sorot matanya demikian lembut menggetarkan sukma. Sumantri berusaha menata hati mendekati sang Putri, di tahannya kuat-kuat hasrat hatinya, dengan tekad menyadari posisinya sebagai utusan.

Dewi Citrawati sangat terpesona dengan penampilan Bambang Sumantri, ia tidak yakin keberadaan Bambang Sumantri di Magada, apakah benar sekedar duta seorang raja untuk melamar dirinya.

Citrawati : Sinatria, benarkah engkau yang berhasil mengalahkan 1000 raja dan memenuhi permintaanku untuk 800 domas? Siapakah namamu?

Sumantri: Ya sang Putri, berkat doa restu paduka saya berhasil menundukkan para raja itu dan mendapat bantuan mereka untuk menyediakan 800 domas permintaan paduka. Nama saya Bambang Sumantri, saya diutus Prabu Harjunasasrabahu untuk meminang paduka.

Citrawati: Utusan? Hhmm..mengapa calon jodohku tidak datang sendiri mengeluarkan keringat? Serendah itukah aku calon prameswari hingga untuk mendapatkan aku…diutusnya engkau bertaruh nyawa? Betapa bodohnya engkau sinatria…engkau mampu mengalahkan 1000 raja mendapatkan 800 domas…kalau engkau mau, engkau sudah layak mengambil hadiahmu.

Sumantri: Aduh tuan Putri, sungguh hamba tidak dapat berangan-angan setinggi itu mendapatkan paduka. Hamba ini hanya utusan. Keberhasilan yang hamba raih adalah keberhasilan seorang utusan yang memadukan segala daya, semangat dan usaha, untuk memenuhi harapan rajanya.

Citrawati: Dan…apakah rajamu itu layak menerima semua jerih payahmu itu ? yakinkah engkau bahwa rajamu memang memiliki kemampuan jauh diatas kemampuanmu, sehingga dia bisa mempercayakan tugas berat ini kepadamu?

(Sumantri tercenung…pesona Citrawati yang kelihatan makin jelita saat marah, terasa masuk akal kini)

Citrawati: Sinatria, maksudku menyelenggarakan sayembara seberat itu, sebenarnya karena aku ingin merasa yakin bahwa jodohku adalah satria gung binatara titisan hyang Wisnu yang sakti, bijak tanpa tanding. Kalau sayembara ini kemudian diwakilkan padamu…bagaimana aku bisa yakin pada kemampuan rajamu. Sinatria, sampaikan kepada rajamu, kalau dia menghendaki aku sebagai permaisurinya. Jemput aku di tapal batas Magada, dan dia harus mampu mengalahkan engkau yang menjadi utusannya.

Sumantri: Tuan Putri, jangan suruh saya kurang ajar pada raja sesembahan saya.. Saya menerima penugasan ini sebagai utusan…karena itu, akan saya tuntaskan sebagai utusan juga, sebagaimana pesan Sang Prabu …TATAG, TETEG, TANGGUH, TANGGON, TANGGAP, dan TUTUG.

Citrawati: Ya Sumantri…dengan kemenangan dan keberhasilanmu…engkau sudah menjalankan tatag, Teteg, tangguh, Tanggon dan Tanggap…..tetapi Tutug?....ini belum Tutug Sumantri…kita berdua sama-sama tahu…keberhasilanmu tidak membuktikan kemampuan Prabu Harjunasasrabahu…jadi kalau mau Tutug…penuhi permintaanku. Jemput aku di Tapal batas Magada dan kalahkan dirimu.

Akhirnya Sumantri mengirimkan surat melalui seorang utusan kepada Prabu Harjunasasrabahu agar menjemput sendiri Dewi Citrawati di perbatasan kota dengan cara seorang satria, yaitu harus berhasil mengalahkan Sumantri dalam satu peperangan. "Mohon Sri Paduka jangan salah mengerti akan sikap hamba serta menduga yang tidak-tidak, terutama mengenai diri dan itikad hamba. Sedikitpun tak terbersit di hati suatu niat atau keinginan untuk memperistri Tuan Puteri Dewi Citrawati, karena hamba sudah bertekad sejak dulu untuk hidup sebagai satria pinandhita tidak akan menikah seumur hidup. Karena itulah hamba tidak rela menyerahkan putri utama seperti Dewi Citrawati begitu saja, layaknya seorang raja taklukkan menyerahkan seorang putri sebagai upeti. Hamba ingin Dewi Citrawati direbut dengan peperangan. Hamba berharap peperangan ini akan meningkatkan pamor dan kewibawaan Paduka, bukan saja kepada Dewi Citrawati dan sekalian para putri domas yang berjumlah 800 orang, tetapi juga terhadap para raja dari lebih seribu negara di luar sana. Merekalah yang akan menjadi saksi sejarah keperkasaan dan kebesaran Paduka. Karena itulah hamba berharap perang tanding di antara kita harus berlangsung dahsyat dan hebat..."

Demikian antara lain isi surat Sumantri pada Harjunasasrabahu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya