Kematian Sukrasana
KISUTA.com - Surat yang disampaikan Bambang Sumantri kepada Harjunasasrabahu agar menjemput sendiri Dewi Citrawati dengan cara 'merebut' dari Sumantri di perbatasan, ditanggapi Sasrabahu dengan kelapangan dada. Dalih Sumantri agar di mata khalayak terbukti kesaktian Sasrabahu dengan melalui peperangan untuk tidak menjadikan calon istrinya ini hanya sekadar upeti yang diserahterimakan, disikapi dengan tenang. Berarti, ia harus maju untuk berhadapan dengan Sumantri yang berhasil menyelesaikan tugasnya memboyong Dewi Citrawati dari Magada beserta 800 Putri Domasnya.
Apa yang diinginkan Sumantri menjadi kenyataan. Terjadi perang yang dahsyat antara Prabu Harjunasasrabahu melawan Sumantri di lapangan maha luas yang terbentang di antara pegunungan Salva dan Malawa, di perbatasan negara Maespati. Para brahmana dan pujangga melukiskan, peperangan ini merupakan perang maha besar yg pernah terjadi sepanjang alam raya gumelar.
Sumantri mengeluarkan segenap aji kesaktiannya untuk menghadapi Harjunasasrabahu, tendangan tatit gumlegar, di padukan dengan kelincahan maruta adi, seakan menemukan tandingan yang selalu mengatasinya. Kemudian ganti Prabu Harjunasasrabahu menampakkan kekuatannya. Ia berubah menjadi brahala, raksasa sebesar gunung anakan, menjadikan Bambang Sumantri terkejut. Bambang Sumantri menyerah, menyerah bukan kalah. Namun ia telah menemukan jati diri Prabu Harjunasasrabahu. Harjunasasrabahu adalah titisan Dewa Wisnu, yang ia cari-cari selama ini. Sejak dahulu Bambang Sumantri menginginkan bisa mengabdi pada keturunan Dewa Wisnu.
Setelah mengetahui kemenangan Prabu Harjunasasrabahu, maka Dewi Citrawatipun bersedia diboyong dengan persyaratan tambahan, sesampainya di Maespati, Harjunasasrabahu harus bisa memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke Maespati.
Prabu Harjunasasrabahu sekali lagi meminta kepada Bambang Sumantri untuk dapat melaksanakan permintaan Dewi Citrawati. Bambang Sumantri meninggalkan istana, guna memenuhi permintaan Prabu Harjunasasrabahu.
Di tengah perjalanan, Bambang Sumantri tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan permintaan Dewi Citrawati. Memindahkan Taman Sriwedari dari kahyangan Untarasegara ? sungguh mustahil... Tiba tiba ia seperti mendengar suara adiknya, Sukrasana. Bambang Sumantri terperanjat melihat Sukrasana mendekatinya. Bambang Sukrasana berjanji, akan membantu kakaknya, Bambang Sumantri. Bambang Sukrasana adalah buta bajang yang polos, jujur tanpa pamrih kesayangan para Dewa. Kemampuan olah bathin dan tirakatnya bahkan lebih tinggi dari Bambang Sumantri, karena jiwanya yang polos seperti kanak-kanak tidak suka berkelahi dan olah kanuragan. Saat masih kecil Bambang Sukrasana pernah diajak main ke kahyangan Untarasegara oleh Hyang Wisnu.
Melihat kebingungan Sumantri, dimintanya kakaknya pulang saja, kembali ke Maespati. Bambang Sukrasana segera mencari tempat untuk bersemadi. Tiba tiba Bambang Sukrasana tidak terlihat lagi dari pandangan kakaknya, Sumantri. Bambang Sumantri bergegas pulang ke Istana Maespati, Sesampai di Istana Maespati, ternyata bertepatan datangnya Puteri Domas, dan tamu istana yang terdiri dari 100 orang bidadari, yang wajah dan badannya semua sama, dan turun juga dari angkasa membawa serta taman Sriwedari dari Untarasegara. Bambang Sumantri merasa lega, karena dengan bantuan adiknya, maka semua permintaan Dewi Citrawati dapat dilaksanakan.
Prabu Harjunasasrabahu merasa senang, melihat keberhasilan Bambang Sumantri telah mendapatkan apa yang diinginkan Dewi Citrawati. Mengingat jasa jasanya, maka Bambang Sumantri diangkat menjadi Patih Kerajaan Maespati, dengan gelar Patih Suwanda. Pengangkatan Bambang Sumantri menjadi patih Maespati dilakukan di Sitihinggil Istana Maespati di hadapan para nayaka, sentana, para manteri dan Bupati. Juga didepan raja raja 1000 negara. Bambang Sumantri merasa tidak mantap dengan pemberian jabatan ini, karena Bambang Sumantri tidak melakukan apa apa. Keberhasilannya karena bantuan adiknya.
Sementara itu di taman, para dayang domas Harjunasasrabahu, melihat sesuatu yang menakutkan. Maka Harjunasasrabahu, minta agar Patih Suwanda menyelesaikan masalah ini. Bambang Sumantri, terkejut ketika yang menjadi pokok persoalan, adalah adiknya. Bambang Sukrasana ketiduran di taman Sriwedari, mungkin karena capek setelah memindahkan taman dari Untarasegara ke Maespati.
Adiknya dibangunkan, disuruhnya pergi dari taman.
Sumantri: Yayi adine pun Kakang Sukrasana....bangunlah Yayi, pulanglah ke Argosekar..kasihan kanjeng Ibu kesepian...
Sukrasana: Ooooaaaheemmm...uenak bobokku kakang Ati....ehm...aku sekarang ikut kamu di sini saja kakang Ati.
Sumantri : Jangan adikku...pulanglah engkau di Argosekar. Di sini aku belum punya papan, ini istana Prabu Harjunasrabahu...tidak enak kalau kamu ikut di sini...tunggulah, kalau nanti aku sudah punya papan, aku jemput engkau tinggal bersamaku.
Sukrasana: Emoh...aku ngga mau kakang Ati...aku ngga mau pisah sama kamu...cuma kamu yang sayang sama aku...
Sumantri: Sukrasana jangan begitu...aku harus mengabdi dulu pada rajaku...di Argosekar, Rama, Ibu dan para punakawan semua menyayangimu...pulanglah adikku...
Sukrasana: Aku ikut kamu saja kakang Ati...seperti dulu, kita selalu bersama...kamu sayang aku Kakang Ati..aku tidak bisa pisah darimu.
Bambang Sukrasana, tidak mau berpisah lagi dengan Bambang Sumantri. Bambang Sumantri memasang anak panah di gendewanya menakut nakuti adiknya, dengan pura-pura akan memanah adiknya. Sukrasana tertawa geli tidak takut, karena yakin kakaknya tidak akan tega menyakitinya. Tetapi anak panah yang diarahkan Sumantri kepada adiknya, terlepas dan anak panahnya mengenai adiknya. Bambang Sukrasana, langsung tewas. Bambang Sumantri menangisi kematian adiknya. (lamat-lamat terdengar suara Sukrasana menghiburnya.."Kakang Ati, jangan menangis...aku tahu engkau tidak sengaja...engkau begitu berbakti pada rajamu, hingga lupa rasa cinta dan sayang kita sebagai saudara...baiklah kakang Ati...aku akan menunggumu, aku baru mau naik ke surga kalau bergandengan tangan denganmu kakang Ati....jaga dirimu baik-baik.")
"Tobat Sukrasana..Ooo adikku sayang, biadabnya kakakmu ini yang melupakan kesetiaanmu demi kelungguhanku...Aduh tobat Dewa, ampuni hamba Rama dan Ibu...hari ini wadagku kosong tanpa jiwa kasihku...yayi Sukrasana, ketahuilah adikku, apa yang aku lakukan sesungguhnya adalah tekad menjunjung martabat kita...aku sumpah wadat karena hanya ingin membawamu dan kanjeng Ibu ke kemuliaan hidup, karena Rama Resi memilih mesu budi. Oooo jagad dewa bathara, mengapa begini akhirnya...sungguh tak ada gunanya lagi kedudukan dan kehidupanku. Baiklah Sukrasana, tunggulah kakakmu ini...tak lama lagi akan kutemani engkau sowan pangayunaning Kang Akarya Jagad.".....Sumantri merintih sesambatan, menyesali peristiwa tragis yang menimpa Sukrasana...terus dibelai-belainya mayat adiknya penuh kasih, diciuminya wajah buruk rupa itu dengan tubuh gemetar.
Prabu Harjunasasrabahu mengetahui persitiwa ini, menyayangkan pada Sumantri, mengapa tidak memberitahukan pada Prabu Harjunasasrabahu, kalau yang ditakuti para istrinya, sebenarnya, adik Bambang Sumantri sendiri. Andaikan tahu sebelumnya, Prabu Harjunasasrabahu, pasti mengijinkan adik Bambang Sumantri tinggal di dalam taman Maespati.
"Suwanda...wus dadi kodratira, kudu mangkene gonnira kelangan sedulur kinasihnira...sumurupa Suwanda, ora ana gunane getuni barang kang wis kadung, apa maneh banjur ora tumindak kang manfaat mring sakpadaning urip. Adimu wis bali mring kasedan jati...isenana nggonmu ngenteni olehe ngajak bali mring ngarsaning Pangeran, kanthi tobat lan ngiseni lelabuhanmu mring sak pada padaning urip.
Bambang Sumantri merasa menyesal dan berdosa besar pada adiknya, Bambang Sukrasana. Penyesalan biasanya datang kemudian, sekarang hanya satu keinginan Sumantri, yaitu mati, agar bisa bersama lagi dengan adiknya, Bambang Sukrasana. Dia bertekad mengisi sisa hidupnya dengan pengabdian pada sesamanya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


