Selasa, 2 Juni 2026
Unik Menarik
Aduuuh...

Rekor Gol Sepakbola, Negara Ini Tiga Kali Beruntun Kalah 0 - 114

Kamis, 23 Juli 2015

KISUTA.com - Anda mungkin masih ingat dengan laga babak kualifikasi Piala Dunia 2002 antara tim nasional Samoa melawan tim nasional Australia? Hasil pertandingan yang digelar pada 11 April 2001 silam di International Sport Stadium, Australia tersebut, membuat publik sepakbola dunia tercengang, Samoa kebobolan 31 gol tanpa balas.

Laga Australia vs Samoa tersebut menjadi legenda yang dikenang publik sepakbola dunia. Selama 14 tahun, belum ada tim nasional lain yang mampu melampuai kekalahan tim nasional Samoa tersebut. Namun, rekot terasebut akhirnya terpecahkan oleh tim nasional Mikronesia yang berlaga di babak kualifikasi Olimpiade.

Diberitakan The Independent.co.uk, Rabu, 8 Juli 2015, tim nasional Mikronesia harus menelan kekalahan beruntun dari tim nasional Tahiti, Fiji, dan Vanuatu. Pemain Mikronesia benar-benar menjadi bulan-bulanan para pemain dari ketiga negara tersebut.

Bagaimana ceritanya hingga Mikronesia bisa memecahkan rekor Samoa? Dalam laga babak kualiifikasi Olimpiade untuk wilayah Pasifik, Mikronesia harus menghadapi Tahiti, Fiji, dan Vanuatu. Ketika menghadapi Tahiti, Mikronesia belum mengalahkan rekor Samoa. Mikronesia masih bermain lebih bagus dari Samoa karena hanya kalah 30-0 dari Tahiti. Baru pada pertandingan kedua melawan Fiji, Mikronesia mengalahkan rekor Samoa karena dikalahkan Fiji dengan skor 38-0.

Pada laga ketiga melawan Vanuatu, Mikronesia justru memecahkan rekor sendiri, karena dikalahkan Vanuatu dengan skor 46-0. Kekalahan telak yang dialami para pemain Mikronesia ini benar-benar mencengangkan, karena kalau dirata-ratakan, hampir setiap dua menit gawang Mikronesia kebobolan.

Dalam laga antara Mikronesia melawan Vanuatu, penonton menyaksikan gol demi gol bersarang di gawang Mikornesia. Bahkan seorang pemain Vanuatu, Jean Kaltack berhasil mencetak 16 gol.

Meskipun hasil pertandingan tersebut tidak tercatat dalam rekor FIFA, namun tetap saja membuat tim Mikronesia kecewa. Mengapa FIFA tidak mencatat hasil pertandingan tersebut? Karena tim nasional yang berlaga masuk kategori di bawah usia 23 tahun.

Mengenai kekalahan yang dialami pemain Mikronesia, sang pelatih, Stan Foster mengibaratkan anak-anak melawan orang dewasa, sehingga wajar saja jika tim asuhannya harus menelan kekalahan telak. Menurut Foster, bertanding di grup ini memang sangat berat, apalagi sebagian besar dari tim asuhannya tidak pernah keluar kampung, mereka hanya bermain di pulau mereka.

“Saya membawa mereka ke Guam pada suatu hari dan itu menjadi hari pertama mereka naik elevator atau eskalator. Ini merupakan lompatan besar untuk mereka dan mereka benar-benar terkagum-kagum,” tambah Foster.* Uma – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya