Menuntut Balas
KISUTA.com - "Oh Duryudana, ternyata engkau masih hidup. Dengarlah kabar gembira ini dan bergembiralah! Semnua pangeran Panchala dan putra-putra Pandawa telah tewas. Seluruh pasukan Pandawa telah musnah. Semalam ketika mereka tidur, kami menyerang. Hanya tujuh yang selamat. Di kubu kita, masih ada tiga orang, yaitu Kripa, Kritawarma dan aku."
Demikian kata Aswatama kepada Duryudana yang sekarat. Mendengaer kabar itu, pelan-pelan Duryudana membuka mata dan dengan napas tersengal-sengal dia berkata: "Aswatama, engkau telah melakukan pekerjaan besar yang tidak bisa dilakukan orang lain. Kesatria besar seperti Bhisma yang agung dan Karna yang gagah berani pun tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan. Engkau telah membesarkan hatiku dan aku pun bisa mati dengan tenang." Setelah berkata demikian, Duryudana menghembuskan napas terakhir.
Ketika melihat kehancuran yang sama sekali tidak terduga menimpa pasukannya karena serangan malam, Yudhistira tidak bisa menahan kesedihan hatinya. Katanya:
"Ketika kemenangan sudah di tangan, justru musuh berhasil menghancurkan kita. Memang benar, yang kalah yang menang. Karena kurang waspada, anak-anak Drupadi yang selamat dari tangan Karna yang sakti mandraguna malah mati tak berdaya seperti anak ayam disergap induk musang. Kita telah membiarkan diri hancur seperti kapal dagang yang berlayar pulang membawa untung besar dari negeri-negeri yang jauh, tiba-tiba terbalik dan tenggelam di muara sungai di negeri sendiri.
Drupadi tidak kuasa menanggung dukanya. Dia menangis di sisi Dhaemaputra. Katanya: "Tidak adakah orang yang bisa membalas kematian anak-anakku? Tidak adakah orang yang sanggup menghancurkan si pendosa besar, Aswatama?"
Mendengar kata-kata Drupadi, para Pandawa segera pergi mencari Aswatama. Mereka mencari ke mana-mana. Akhirnya, merejka berhasil menemukan Aswatama di pinggir Sungai Gangga. Dia bersembunyi d belakang Begawan Wiyasa. Melihat Pandawa dan Janardhana mendekat, diam-diam Aswatama mengambil sehelai rumput dan mengucapkan mantra sakti: "Semoga dengan ini seluruh wangsa Pandawa musnah dari muka bumi."
Rumput yang telah diberi mantra itu melesat cepat menuju Dewi Uttari yang sedang mengandung putra Abimanyu. Wangsa Pandawa akan musnah jika Sri Krishna tidak ikut campur menyelamatkan bayi dalam kandungan Dewi Uttari itu. Kelak anak ini akan selamat dan diberi nama Parikesit. Anak inilah yang kelajk dinobatkan menjadi raja oleh Yudhistira ketika para Pandawa memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia dan bertapa ke hutan.
Kenudian, Aswatama menanggalkan permata berkilau yang menempel di kepalanya dan memberikannya kepada Bima. Ia mengaku kalah dan pergi ke hutan. Bima menerima permata itu dan memberikannya kepada Drupadi. Katanya: “Malaikat yang murni tanpa noda, permata ini untukmu. Orang yang telah membunuh anak-anak terkasihmu telah lenyap. Duryudana telah mati terbunuh dan aku telah hisap darah Dursasana. Aku telah menuntaskan dendam dan sumpah padamu.”
Drupadi menerima permata itu dan menyerahkannya kepada Yudhistira. Katanya: “Raja yang tanpa cela, permata ini cocok untuk disuntingkan pada mahkotamu.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


