Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Hastinapura Berkabung

Senin, 27 Juli 2015

KISUTA.com - Ketika perang berakhir, seluruh negeri Hastinapura berkabung. Semua wanita dan anak-anak menangis dan meratapi orang-orang terkasih dan terdekat mereka yang gugur di medan perang. Bersama ribuan wanita yang berduka cita, Raja Destarata menuju medan perang. Di padang Kurusetra , medan perang yang menghabisi jutaan nyawa, raja buta itu merenungkan mereka semua yang gugur. Dia menangis sesenggukan. Tapi apa gunanya air mata?

Kata Sanjaya kepada Destarata: "Paduka Raja, kata-kata penghiburan yang engkau berikan kepada mereka yang berduka tidak akan mengubah apa-apa. Ribuan raja dan pangeran telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk putramu. Sekaranglah saatnyan untuk mempersiapkan upacara pemakaman yang pantas untuk mereka yang gugur."

Dengan berbagai macam cara Widura yang bijaksana mencoba menghibur raja buta itu. Katanya: "Tidak semestinya meratapi orang-orang yang gugur di medan perang . Ketika jiwa meninggalkan badan, tidak ada lagi hubungan persaudaraan, kekerabatan, atau persahabatan. Kau dan putramu tidak ada hubungan lagi. Hubungan itu sudah berakhir denghan kematian. Hubungan semacam itu hanyalah hubungan yang bersifat duniawi dan hanya sebuah peristiwa kecil dalam kaitannya dengan kehidupan abadi. Kita berasal dari ketiadaan dan akhirnya kembali pada ketiadaan. Tidak ada yang perlu ditangisi. Mereka yang gugur di medan perang akan diterima di surga sebagai tamu Batara Indra. Berduka karena kehilangan tidak akan mendekatkan kita pada dharma, kekayaan, atau kebahagiaan."

Begawan Wiyasa juga berusaha menghibur Destarata dengan lembut. Katanya: "Anakku, tidak ada lagi yang tidak kau ketahui dan harus engkau pelajari dariku. Engkau sudah tahu bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Kata Batara Wisnu sendiri, perang yang baru saja usai ini membantu meringankan beban dunia. Itulah alasan mengapa bencana ini tidak bisa kita hindarkan. Mulai saat ini, Yudhistira adalah anakmu sendiri. Engkau harus belajar mencintainya. Dengan cara ini, beban hidupmu akan lebih tertanggungkan. Sudahlah, jangan bersedih."

Berrjalan di sela-sela para wanita yang meratap, Yudhistira mendekati Destarata dan menghaturkan sembah. Destarata memeluk Yudhistira, tapi pelukan itu tidak memancarkan cinta.

Kemudian, pelayan raja mengumumkan kedatangan Bimasena.

Kata Destarata: "Kemarilah."

Tapi Wasudewa bijaksana. Dengan lembut dia dorong Bima ke samping dan menyodorkan patung besi besar pada raja buta itu. Krishna tahu Destarata amat marah. Destarata memeluk patung itu kuat-kuat. Tiba-tiba di benak raja tua itu muncul pikiran bahwa orang inilah yang membunuh anak-anaknya. Amarahnya meluap sampai patung itu remuk dalam pelukannya.

Seru Destarata: "Aku tidak kuasa mengendalikan amarah. Aku telah membunuh Bima dengan meremukkan badannya."

Kemudian kata Krishna kepada raja buta itu: "Paduka Raja, aku sudah memperkirakan ini semua. Karena itu, aku halang-halangi maksud Tuanku. Sebenarnya engkau tidak membunuh Bimasena, tapi meremukkan sebuah patung besi. Semoga amarahmu telah lenyap dengan apa yang telah Tuanku lakukan pada patung itu. Bima masih hidup."

Maharaja tua itu akhirnya sadar dan memberikan berkatnya pada Bima dan para Pandawa. Kemudian para Pandawa menghadap Dewi Gandari.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya