Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Dewi Gandari

Rabu, 29 Juli 2015

KISUTA.com - Ketika itu, Begawan Wiyasa sedang bersama Dewi Gandari. Kata resi itu: "Oh, Paduka Permaisuri, jangan engkau marah kepada para Pandawa. Bukabkah engkau sendiri pernah berkata: 'Di mana ada dharma, di situ ada kemenangan?' Demikianlah Pandawa sekarang. Tidak pantas membiarkan pikiran dikuasai masa lalu dan hati dikendalikan amarah. Engkau harus tabah menghadapi semua ini."

Kata Gandari: "Begawan, aku tidak iri hati dengan kemenangan Pandawa. Memang benar, kematian putra-putraku membuatku gelap mata. Para Pandawa ini putra-putraku juga. Aku tahu Sengkuni dan Dursasanalah yang sesungguhnya menyebabkan kehancuran rakyat. Arjuna dan Bima sama sekali tidak bersalah. Harga diri mendorong mereka untuk terjun ke gelanggang perang dan putra-putraku pantas menemui takdir mereka. Aku tidak menyesali semua itu. Tapi kemudian, dengan kehadiran Wasudewa, Bima menantang Duryudana untuk bertarung. Mereka bertarung. Karena tahu Duryudana lebih kuat dan tidak mungkin dikalahkan dalam pertarungan satu lawan satu, Bima memukul di bawah perut dan membunuhnya. Wasudewa hanya melihat dan tidak mencegah. Itu jelas menyalahi dharma. Sungguh sulit bagiku untuk memaafkannya."

Bima yang mendengar percakapan itu mendekat dan berkata:

"Ibunda, aku lakukan semua itu untuk membela diri. Apakah itu benar atau salah, engkau dan aku harus menanggung akibat perbuatan itu. Dalam pertarungan satu lawan satu, putramu tidak mungkin dikalahkan dan aku melindungi diri dengan perbuatan yang memang salah. Putramu mengundang Yudhistira untuk bermain dadu dan menjebaknya. Berkali-kali putramu berbuat jahat pada kami. Dia tidak akan mengembalikan kerajaan kami yang dia rampas secara tidak sah. Dan engkau tahu apa yang dia lakukan pada Drupadi yang tidak berdosa. Jika kami membunuh Duryudana seketika itu juga ketia dia melakukan perbuatan dosa itu tentunya engkau tidak akan menyalahkan kami. Karena terikat oleh sumpah Dharmaraja, kami menahan diri dengan susah payah. Setelah sumpah itu berakhir kamim ingin memulihkan kehormatan. Tidak ada pilihan lain. Kami harus merebut apa yang menjadi hak kami melalui perang. Ibunda, mohon maafkan aku."

Kata Gandari: "Anakku, seandainya engkau sisakan saja satu dari seratus anakku, aku dan suamiku yang sudah tua ini masih punya anak untuk pelipur duka. Di mana Dharmaputra? Panggil dia!"

Yudhistira gemetar mendengar kata-kata Dewi Gandari. Dengan tangan menyembah, Yudhistira menghadap Gandari yang menutup matanya dengan sehelai kain. Gandari bersumpah tidak akan melihat dunia sebagai bentuk kesetiaan pada suaminya yang buta. Yudhistira menunduk takzim di depan Gandari dan katanya pelan:

"Permaisuri, inilah aku Yudhistira yang jahat, yang telah membunuh putra-putramu menghadap. Kutuk dan hukumlah aku yang telah berbuat dosa besar. Aku tidak peduli lagi pada hidup dan kerajaanku." Setelah berkata demikian, dia menjatuhkan diri. Dia pasrah dan bersujud di kaki Gandari.

Gandari mengambil napas panjang dan berdiri. Lidahnya kelu. Ia palingkan wajahnya dari Yudhistira. Dia tahu jika matanya bisa melihat menembus kain ke arah badan Yudhistira, badan itu akan terbakar menjadi abu. Tapi dari celah bagian bawah kain penutup matanya, dia bisa melihat ibu jari kaki Dharmaputra. Seketika itu juga, kata sang pengarang Mahabharata, jari kaki itu terpanggang dan meninggalkan tanda hitam.

Arjuna tahu kekuatan amarah Gandari yang sedang berduka. Dia segera menyembunyikan diri di belakang Wasudewa.

Dewi Gandari yang bijaksana dan baik budi berusaha mengendalikan amarahnya. Dia memberikan berkatnya kepada para Pandawa dan menyuruh mereka untuk menghadap Kunti.

Kepada Drupadi yang berduka karena kehilangan anak-anaknya, Dewi Gandari berkata: "Anakku, jangan engkau berduka. Siapa yang bisa melipur hatiku dan hatimu? Karena keslahanku bangsa besar ini musnah." C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya