Khilaf Renuka, Sumpah Bargawa
KISUTA.com - Saat negeri Maespati sedang berkembang sebagai negara besar penuh kejayaan di bawah pemerintahan Prabu Harjunasasrabahu, dengan patih Suwanda.
Tersebutlah sebuah kerajaan tata tentrem kertaraharja loh jinawi, bernama kerajaan Kanyakawaya. Raja yang memerintah kerajaan itu bernama Prabu Wiragni, dengan permaisurinya yang sejelita bidadari bernama Dewi Renuka. Prabu Wiragni adalah raja yang adil dan sakti saudara dari Resi Suwandagni (Ayah Sumantri/Sukrasana), sepupu Kartawirya (Ayah Harjunasasrabahu) dan juga sepupu Resi Gotama (ayah Sugriwa Subali).
Setelah membawa kerajaannya ke puncak kejayaan, Prabu Wiragni, berniat meningkatkan olah kebathinannya dengan menjadi brahmana, mengikuti jejak saudaranya Resi Suwandagni. Diserahkannya kerajaannya pada putra angkatnya yang bernama Hehaya, yang akhirnya naik tahta di Kanyakawaya sebagai Prabu Hehaya. Setelah menyerahkan tampuk pemerintahan Prabu Wiragni mengajaknya istri serta kelima anaknya naik ke gunung Ngringin dan mendirikan padepokan Dewanata, Prabu Wiragni menjalani hidup brahmana dengan gelar Resi Jamadagni.
Seiring berjalannya waktu, Dewi Renuka yang dikaruniai penampilan bak dara remaja walau tlah berputra 5 orang, mulai merasakan kejenuhan. Situasi pertapaan di tepi telaga yang indah mulai membuatnya kesepian. Dewi Renuka tidak dapat mengeluh pada suaminya tentang perasaannya yang resah, rasa segan dan hormatnya pada Resi Jamadagni demikian besar, hingga dia merasa lebih nyaman menyimpan kegelisahannya sendiri.
Senja itu, saat berjalan-jalan di tepi telaga, sayup sayup Dewi Renuka mendengar suara merdu dari seorang teruna yang sedang berdendang. Ditelusurinya suara itu sampai ke sisi lain dari Telaga Ngringin…Di tengah telaga terlihat seorang ksatria yang tampan dan cakap, berdendang dengan suara merdu yang mampu menggoncangkan iman setiap gadis yang melihat dan mendengarnya. Tanpa sadar Dewi Renuka yang mulai goyah imannya, matanya menatap nanar keindahan tubuh sang ksatria, yang begitu sempurna dengan bulir bulir air berkilat diantara tonjolan ototnya yang perkasa. Sang Dewi mulai berangan-angan nakal, kesepian yang dirasakannya mendorongnya berbuat tak pantas. Pelan-pelan diloloskannya busananya satu persatu, dengan berjingkat perlahan, Dewi Renuka memasuki telaga berenang menghampiri ksatria yang membangkitkan gairahnya itu.
Renuka: Duhai jejaka Bagus…siapakah andika yang berdendang di telaga sunyi ini?
Citrarata: (Laki-laki muda itu terkejut mendengar suara mendesah di belakangnya…matanya menangkap keindahan luarbisa, seorang dara jelita dengan lekuk liku tubuh menawan polos berenang mendekatinya. Debar jantung ksatria itu menderu, gairahnya terbangkitkan oleh sorot mata Dewi Renuka yang seakan mengundangnya berbuat lebih jauh)..Oooh…siapa anda Dewi yang jelita…aku Citrarata, Raja Martikawata…aaa…andika mengejutkan saya…siapa anda..yang begitu berani menggoda imanku…
Renuka (Terkekeh genit): Aku menggodamu ya…ah…engkaulah yang mula-mula menggodaku wahai ksatria…(Renuka dengan genit makin mendekati Citrarata, menggosokkan punggung tangannya ke dada sang raja) namaku Renuka…ah…pentingkah nama itu ? jika kita hanya ingin menikmati sesaat gelora yang menggelegak dalam tubuh kita (tiba-tiba Renuka sudah menghimpit sang Raja dengan tubuh polosnya…nafasnya memburu, tanda nafsunya sudah tidak dapat dikendalikan).
Citrarata: Aaah sang Dewi…bagaimana kalau ada yang tahu ?...apakah anda masih lajang ?...wah bagaimana ini…
Renuka: Sudahlah, jangan risaukan itu…mari nikmati kebersamaan kita…tidak akan ada yang tahu… aku sangat berhati-hati…
Dewi Renuka merasa jatuh hati dan terpikat pada Prabu Citrarata. Akhirnya dia lupa akan norma-norma susila, maka diajaknya Prabu Citrarata yang sedang mandi untuk menuruti nafsu birahinya yang sedang bergejolak. Tiba-tiba awan menyelimuti telaga, menutupi cahaya matahari, dan suasana menjadi gelap gulita. Guntur gemuruh suaranya membelah angkasa, sedang dua insan yang sedang dimabuk asmara telah tenggelam dalam lautan asmara liar yang memabokkan.
Usai menunaikan hasratnya, Dewi Renuka segera meninggalkan Prabu Citrarata. Dengan berlari-lari kecil dia menuju hilir sungai, membersihkan dirinya memasang sanggulnya dan kembali ke pertapaan dengan pipi merona kemerahan, seakan terpuaskan dengan madu asmara yang baru direguknya. Renuka merasa yakin tindak selingkuhnya aman dari penglihatan suami dan anak-anaknya.
Malam itu, seperti bisaa Dewi Renuka melayani keluarganya makan malam. Resi Jamadagni, adalah Brahmana Sakti yang mampu menembus bathin manusia, dia tahu apa yang baru saja terjadi dengan istrinya. Ditahannya amarahnya sampai makan malam selesai. Setelah keluarganya selesai merahapi hidangan malam, ditegurnya istrinya dengan suara tegas.
Jamadagni: Yayi Renuka…bau busuk apakah ini ?....bunga melati yang aku rawat dipinggir telaga, ternyata mulai menyebarkan bau busuk…sadarkah engkau Renuka.
Renuka: (Wajahnya langsung pucat pasi…tangannya menggigil…tiba-tiba kakinya seperti dilolosi, dia jatuh berlutut di bawah kaki Jamadagni…suara isak tangis mulai terdengar, tetapi suaranya ditahannya rapat-rapat).
Jamadagni: Renuka…sangat disayangkan istri brahmana, ibu dari 5 ksatria, bisa membuka bajunya untuk laki-laki lain….betapa menjijikan... patrapmu yang seperti binatang tidak bisa mengendalikan nafsumu…sadarkah engkau dengan kesalahanmu Renuka?
(Mata Dewi Renuka terbelalak, seperti tidak terima..tetapi mulutnya terkatup rapat-rapat)
Jamadagni: Orang yang bertahan membisu tanpa mau mengakui kesalahan yang dilakukannya…padahal dia tahu itu salah, adalah sehina-hinanya manusia. Hai Renuka, jika engkau tidak sadar dengan kesalahanmu…maka tidak akan ada penyesalan di hatimu…jika tidak ada penyesalan di hatimu..bagaimana engkau bisa tobat ?...hhmm…kalau engkau tidak punya niat untuk tobat…kejadian ini bisa berulang lagi.
Kelakuanmu yang berbuat zinah, ditengah-tengah perkawinan kita ibarat "Micekake uwong melek"...kamu anggap aku ini buta tidak melihat kejijikan yg engkau lakukan..hai Renuka, aku ini "nandur pari tuwuh suket teki"...segala kebaikan dan kemuliaan yang aku berikan kepadamu...rusak menjadi hina karena perbuatanmu.
(Mata Jamadagni tertuju pada keempat anaknya yang duduk terpaku) Anak-anakku…ibumu telah bertindak asusila, dan dia tidak tahu kesalahannya, bunuhlah ibumu untuk mencuci dosanya.
(Saat itu di ruang makan hanya ada 4 orang anak, karena si Bungsu Rama Bargawa sedang keluar ruangan. Ke 4 anak tersebut tercenung mereka hanya diam saja menundukkan kepala)
Jamadagni (menghardik dengan suara keras) : Sungguh tak layak laku kalian seperti hewan pengecut !!!....(Ucapan Jamadagni ini seperti kutukan bagi anak-2nya, tiba-2 mereka ber 4 menjadi hewan pengerat yang berlarian ketakutan di sudut ruangan. Dewi Renuka menjerit menangis…badannya menggigil ketakutan…disaat seperti itu masuklah Rama Bargawa yang mendengar ribut-ribut di ruang makan).
Jamadagni: Rama Bargawa…ke 4 saudaramu berlaku pengecut…Ibumu berlumur dosa… bersihkanlah noda keluarga kita, bunuh ibumu!
Mata Rama Bargawa menyorot tajam kedua orang tuanya, keheningan bathinnya bisa melihat kali ini apa yang dikatakan ayahnya benar. Ibunya telah berlaku selingkuh…Dia bersujud dihadapan ibunya, dihapusnya airmata yang menitik dipipi, di persiapkannya Bargawastranya, dipasangnya anak panah…suara mendesing keluar dari pusaka sakti itu…tanpa suara menjerit Dewi Renuka jatuh terkulai tewas seketika.
Jamadagni: Rama Bargawa, engkaulah satu-satunya anakku yang mampu menterjemahkan makna sebuah kehormatan. Atas bhaktimu, aku akan meluluskan 5 permintaanmu, semoga Dewata Agung membantuku meluluskan apapun yang engkau minta anakku. Sebutkan apa 5 permintaanmu itu?
Rama Bargawa : Bapa…engkau tahu aku membunuh Ibu karena ingin berbhakti padamu dan menegakkan dharma ksatria…tetapi sungguh hatiku pedih dan merasa berdosa memperlakukan ibu seperti itu. 5 permintaanku adalah : Hidupkan Ibuku, Pulihkan ke 4 saudaraku sebagai manusia, Hapuskan dosaku karena membunuh Ibuku, Panjangkan umurku dan yang terakhir buatlah aku mudah menyerap ilmu kesaktian, hingga hanya titisan Wisnu saja yang mampu mengalahkanku.
Permintaan Rama Bargawa dikabulkan oleh para Dewa. Ibu dan keempat saudaranya kembali seperti semula dan akhirnya merekapun hidup rukun kembali.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Malapetaka kedua menyusul menimpa keluarganya. Prabu Hehaya datang ke pertapaan dan melakukan perampokan, merampas lembu sakti Kamadhenu, kerbau serta semua harta miliknya, bahkan juga memperkosa Dewi Renuka dengan biadab. Rupanya dulu saat masih menjadi putra angkat Prabu Wiragni (nama Jamadagni saat masih menjadi Raja) Hehaya memiliki perasaan birahi yang tertahan pada Dewi Renuka yang memang cantik dan awet muda.
Tentu saja Resi Jamadagni ingin mempertahankan apa yang telah dimilikinya. Namun Prabu Hehaya dengan sangat kejam membunuh Resi Jamadagni dan ke 4 anaknya di depan isterinya, Dewi Renuka. Dewi Renuka menangis dan menjerit membelah angkasa sampai terdengar oleh Rama Bargawa, yang saat itu sedang berburu. Rama Bargawa datang dan langsung meratapi kematian ayahnya, saudara-saudaranya dan ibunya yang membunuh diri setelah di nodai dan dihabisi suami dan anak-anaknya.
Renuka (dalam keadaan sekarat) : Bar…ga..wa…ketahuilah, orang yang melakukan kekejian ini bukanlah orang lain…di..di..a…sss..saudara angkatmu…Prabu Hehaya…ah…balaskan..ss..sakit hati ini anakku…
Dewi Renuka terkulai tewas bersimbah darah. Di dadanya tertancap cundrik perak yang memang selalu dibawanya.
Bargawa: Aaaaarrrrrggghhh….(Teriakan marah membelah angkasa)…Dewa…Ooo dewa… sungguh biadab para ksatria yang selalu haus darah…dulu, ibuku hanyut dalam kemaksiatan oleh ksatria berwajah bagus….sekarang keluargaku dibasmi saudara angkatku, ksatria yang di didik untuk mengembangkan dharma…Ooo Dewa…dengarkan sumpahku ini….akan aku tebas leher para ksatria dengan kampakku…siapapun yang berlaku pongah membanggakan kebangsawanannya…akan aku tumpas, agar tidak ada kemaksiatan dan sikap sewenang-wenang mereka.
Setelah sadar Rama Bargawa berdiri tegak dan bersumpah akan membunuh semua ksatria yang ditemuinya. Pelaksanaan dendamnya yang pertama tentu saja tertuju ke Prabu Hehaya. Dikejarnya raja itu dibunuhnya dan dibasminya keluarganya sebagaimana Hehaya telah menghancurkan keluarganya. Tanpa sepengetahuan Rama Bargawa putri bungsu Hehaya yang masih kecil berhasil di selamatkan Emban Matara, dilarikan dan disembunyikan.. ditampung Raja Padnapura berjuluk Prabu Kekaya yang masih paman dari Kekayi dari pihak Ibunya.
Amuk Rama Bargawa dengan senjata Kampaknya hingga dia dijuluki juga sebagai Rama Parasu, adalah pengejawantahan dendam yang tak bertepi. Luka hati akibat kehancuran keluarganya, mengantarkan Rama Bargawa yang sebenarnya sosok gagah, yang setia pada ayah bundanya, menjadi mesin pembunuh yang tak kenal surut saat menyerang mangsanya. Jagad kasatrian menjadi senyap saat Sang Parasu melintas dengan Kampak sakti dan Bargawastranya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


