Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Harjunasasrabahu Tambak, Suwanda Gugur

Minggu, 2 Agustus 2015

KISUTA.com - Maespati negeri indah di lereng Himalaya yang di hiasi sungai Salva dan Malawa, dengan bukit-bukit menghijau, tampak seperti Kahyangan di Marcapada. Di bawah pemerintahan Prabu Harjunasasrabahu dengan patihnya Suwanda, Maespati berkembang menjadi negara adikuasa yang rnenguasai hampir dua pertiga jagad raya. Meski demikian, Prabu Harjunasasrabahu tetap memerintah dengan sikap yang adil dan arif bijaksana. Prabu Harjunasasrabahu dikenal sebagai raja yang cinta damai dan selalu berusaha menyelesaikan perselisihan dengan negara tetangga secara musyawarah.

Prabu Harjunasasrabahu adalah Maharaja terbesar yang pernah ada di jagad raya. la tidak hanya memerintah hampir duapertiga luas jagad raya dan membawahi lebih dari dua ribu raja dari berbagai negara, tetapi ia juga seorang raja yang hidup dengan seorang permaisuri, Dewi Citrawati, yang memiliki kecantikan bidadari Swargaloka karena menjadi titisan Batari Widowati yang memiliki 800 dayang cantik putri-2 pilihan dari domasnya dulu . Karena itu tak mengherankan apabila sebagian besar penghuni istana Maespati adalah wanita-wanita cantik, sehingga keadaan taman keputrian istana Maespati tak ubahnya kahyangan Ekacakra, tempat para bidadari.

Prabu Harjunasasrabahu adalah raja yang sangat mencintai dan memanjakan permaisuri Dewi Citrawati. Apa saja yang menjadi keinginan Dewi Citrawati selalu berusaha untuk dipenuhinya. Suatu ketika Dewi Citrawati menyampaikan keinginan yang rasanya mustahil dapat terpenuhi oleh manusia lumrah di Marcapada. Dewi Citrawati ingin mandi bersama 800 orang dayangnya di sebuah sungai atau danau. Mendengar keinginan ini Sang Prabu hanya tersenyum, dan langsung mengiyakan permintaan istrinya. Dengan disertai Patih Suwanda, dan dikawal beberapa ratus orang prajurit, Prabu Harjunasasrabahu membawa Dewi Citrawati dan 800 dayangnya meninggalkan istana Maespati pergi kesebuah dataran rendah antara pegunungan Salva dan Malawa, dimana ditengahnya mengalir sebuah sungai.

Harjunasasrabahu : Dinda Patih Suwanda, aku akan bertiwikrama tidur melintang membendung aliran sungai agar tercipta danau buatan untuk tempat mandi dan bercengkrama dinda Dewi Citrawati dan para dayang. Selama aku tidur bertiwikrama, keselamatan dinda Citrawati dan para putri lain, sepenuhnya aku serahkan pada dinda Patih Suwanda.

Suwanda: Sendika dawuh sang Prabu. Akan saya jaga permaisuri dan para putrid dengan taruhan nyawa saya.

Prabu Harjunasasrabahu kemudian bertiwikrama, tidur melintang membendung aliran sungai. Dengan tubuh sebesar bukit dengan panjang hampir mencapai 500 meter, dalam waktu tidak terlalu lama, lembah antara pegunungan Salva dan Malawa berubah menjadi sebuah danau buatan yang sangat luas. Dengan suka cita Dewi Citrawati terjun kedalam air, diikuti oleh para dayang. Mereka berenang kesana-kemari, bercanda, bersuka cita penuh kegembiraan dan gelak tawa.

Luapan air sungai yang terbendung semakin lama semakin meninggi, meluas melebar menggenangi perbukitan dan daerah sekitarnya. Mengalir deras ke daratan yang lebih rendah, laksana air bah melanda persawahan dan perbukitan. Kejadian ini sama sekali tak disadari oleh Prabu Harjunasasrabahu, karena ia dalam keadaan tidur bertiwikrama.

Di antara kedua betis raksasa jelmaan Prabu Harjunasasrabahu muncul daerah kering. Di tempat itulah dibuat pesanggrahan mewah semacam istana sebagai tempat tinggal Dewi Citrawati dan dayang-dayangnya.

Adapun Patih Suwanda, dan beberapa para raja taklukan serta prajurit Maespati membuat pesanggrahan di luar betis yang melintang itu.

Banyak sekali ikan-ikan yang menggelepar di tanah kering atau kubangan sisa-sisa air. Hal ini sangat menggembirakan para putri domas dan para dayang, yang saling berebut menangkap ikan sambil bercanda. Macam-macam ulah para putri domas itu. Ada yang menaruh ikannya pada kain kembennya dengan cara dibungkus, tapi ada pula yang dengan seenaknya diselipkan di lekukan dadanya. Manakala ikan-ikan itu bergerak-gerak, mereka akan tertawa geli penuh suka cita.

Tak terduga luapan air bengawan yang berbalik arah ke arah hulu, melanda daerah Sakya perbatasan Negara Alengkadiraja, dimana Rahwana, raja Alengka beserta para hulubalangnya sedang membangun pesanggrahan.

Dalam sekejap, bangunan pesanggrahan Rahwana ludes dilanda air bah. Rahwana dan para hulubalangnya yang bisa terbang, segera terbang menyelamatkan diri ke puncak gunung, diikuti oleh para raksasa pengikutnya berlari-lari cepat mendaki bukit yang lebih tinggi. Namun banyak pula diantara para raksasa yang tidak sempat menyelamatkan diri, mati hanyut dilanda air bah.

Rahwana marah. la segera menyuruh Detya Kala Marica, abdi kepercayaarmya untuk melakukan penyelidikan. Dilaporkan oleh Detya Kala Marica, bahwa yang menyebabkan meluapnya aliran sungai dan menghancurkan pesanggrahan adalah akibat ulah Prabu Harjunasasrabahu, raja negara Maespati, yang tidur melintang di muara sungai.

Rahwana berang, sebenarnya niatnya membangun pesanggrahan di lembah Sakya adalah persiapan menyerang Maespati, untuk merebut Dewi Citrawati yang diketahuinya sebagai titisan Bathari Widowati.

Pucuk dicinta ulam tiba. Belum selesai persiapannya sekarang putri cantik itu bahkan datang sendiri, seakan menyerahkan diri. Rahwana mengabaikan Harjunasasrabahu, la kemudian memerintahkan Aditya Mintragna, Karadusana dan Trimurda untuk menyiapkan pasukan perang, menggempur pasukan Maespati.

Dengan sikap hati-hati Patih Prahasta berusaha menasehati dan mengingatkan Prabu Rahwana akan akibat buruk dari peperangan tersebut. Diingatkan pula oleh Patih Prahasta, akan kesaktian dan keperwiraan Prabu Harjunasasrabahu dan patih Suwanda yang sulit tertandingi oleh lawan siapapun, termasuk Prabu Rahwana sendiri. Namun Rahwana tetap kukuh dengan kamauannya.

Peperangan tak dapat dihindarkan dan berlangsung dengan seru antara pasukan Alengka sebagai penyerang dan pasukan Maespati yang berusaha mempertahankan kehormatan dan kedaulatan rajanya. Korbanpun berjatuhan, bergelimpangan. Ribuan raksasa dipihak Alengka dan ribuan prajurit di pihak Maespati. Ketika banyak para senopati perang Alengka mati dalam peperangan dan pasukan terdesak mundur, Rahwana akhirnya maju perang sendiri menghadapi para senopati perang Maespati.

Rahwana bertiwikrama , merubah wujud menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh yang masing-masing tanganya memegang berbagai jenis senjata. Sepak terjang Rahwana sangat menakutkan. Dalam sekejap ratusan prajurit Maespati menemui ajaInya. Untuk menghadapi amukan dan sepak terjang Rahwana, beberapa raja yang menjadi senopati perang Maespati, seperti Prabu Wisabajra, Prabu Kalinggapati, Prabu Soda, Prabu Candraketu dan Patih Handaka Sumekar, mencoba menghadangnya. Namun bagaimanapun saktinya mereka, mereka bukantah tandingan Rahwana. Para raja itu akhirnya gugur ditangan Rahwana.

Menyaksikan hal itu, akhirnya Patih Suwanda maju sendiri memimpin pasukan Maespati. Dengan tata gelar perang “Garuda Nglayang” pasukan Maespati bergerak cepat, memukul mundur dan memporak porandakan pasukan Alengka. Sepak terjang Patih Suwanda sangat trengginas. Tak satupun para Senopati perang Alengka, baik Tumenggung Mintragna, Karadusana, Trimurda, juga patih Prahasta yang mampu menandingi kesaktian Patih Suwanda. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Beberapa putra Rahwana antara lain Kuntalamea, Trigarda, Indrayaksa dan Yaksadewa yang nekad berperang mati-matian melawan Patih Suwanda, akhirnya gugur juga di medan perang.

Mengetahui beberapa orang putranya tewas dalam peperangan dan tak satupun para senapati perangnya yang dapat menandingi kesaktian dan keperkasaan Patih Suwanda, akhirnya Rahwana maju sendiri ke medan laga.

Rahwana: Babo-babo Iblis laknat pada ge gojegan…hei satria bagus siapa kamu?

Suwanda: Yaksa…aja gumaep adigang adigung…nggonmu ngumbar amarah lan aluamah, sajak ndonya iki dadi lambaran angkara murkamu …sejatine hei Yaksa, jalma ngono mung sakdermo mampir ngombe….Wahai Raja Raksasa, jangan kamu pamerkan kesombongan kedigdayaanmu..nafsu amarah dan aluamah engkau umbar seakan seluruh isi dunia ini menjadi ajang angkara murkamu…ingatlah bahwa hidup kita itu hanya sekelebat kedipan mata…

Rahwana: Huahahaha..satria bodoh..itu berlaku untuk kamu yang ringkih dan bisa mati…aku Rahwana punya rawa rontek, tidak ada yang bisa membunuhku…huahahaha.

Patih Suwanda merasa percuma berdebat dengan Rahwana yang sombong. Perang tanding pun berlangsung dengan seru. Berkali-kali Patih Suwanda berhasil memenggal putus kepala Rahwana Namun Rahwana selalu dapat hidup kembali dari kematian. Hal ini berkat Ajian Rawarontek, ajaran dan pemberian Prabu Danaraja.

Merasa kewalahan menghadapi patih Suwanda, Rahwana berTiwikrama . Tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan duapuluh. Perubahan wujud ini sama sekali tidak menakutkan Patih Suwanda. Tiwikrama yang dilakukan Rahwana tidaklah sehebat dan semenakutkan Tiwikrama yang dilakukan Prabu Arjunasasrabahu. Dengan cepat Patih Suwanda melepaskan senjata Ardu Dadali, yang begitu melesat langsung menebas putus kesepuluh kepala Rahwana. Kesepuluh kepala itu jatuh bergelimpangan di tanah, namun dalam sekejap menyatu kembali pada badannya. Patih Suwanda mulai kehilangan akal dan kesabaran menghadapi kesaktian Rahwana.

Sementara itu di Batas Swargaloka, arwah Sukrasana, adik Patih Suwanda, masih bergentayangan melihat pertempuran tersebut. La melihat inilah saatnya memenuhi janjinya untuk bersama-sama mengajak kakaknya, Sumantri (Patih Suwanda) pergi ke Swargaloka. Dengan cepat arwah Sukasrana menyatu hidup dalam taring Rahwana.

Perang tanding masih berlangsung antara Patih Suwanda melawan Rahwana. Patih Suwanda telah berketetapan hati hendak mencincang habis kepala Rahwana agar tidak bisa hidup kembali. Karena itu tatkala kepala Rahwana lepas dari lehernya terbabat senjata Ardu Dadali, Patih Suwanda segera memungut kepala Rahwana.

Tak terduga, saat ia memegang rambut kepala Rahwana, sekelebatan di lihatnya wajah adiknya Sukrasana membayang di kilatan taring Rahwana. Kepala yang sudah di jambak hendak di cincang itu terlepas dari tangannya, jatuh ke bantala. Tanpa disadari tubuh Rahwana menyatu kembali berkat daya kesaktian Aji Rawarontek. Begitu kepalanya menggeliat dan membuka mata, berkat pengaruh arwah Sukasrana, tangan Rahwana langsung mengangkat tubuh Patih Suwanda dan menggigit lehernya hingga putus. Saat itu juga Patih Suwanda menemui ajalnya.

Arwahnya berdampingan dengan arwah Sukasrana terbang menuju ke swargaloka.

(Sukma Sumantri memeluk Sukrasana penuh kerinduan…

Sumantri: Adine pun Kakang, Sukrasana…Oo yayi betapa rindunya aku padamu adikku…maafkan kakakmu ini Sukrasana.

Sukrasana: Ya kakang Ati…aku sudah memaafkanmu…aku juga rindu padamu kakang, mari bersama-sama kita sowan pangayunaning pangeran…semoga bhakti dan pahala kita bisa membuat kita masuk surga kakang…

Sumantri: Ya adikku…perjalanan hidup kita ini pelajaran yang luarbiasa…Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo…Sekeras apapun pun kakang berusaha untuk menjadi satria utama, berprilaku baik, mencintai sesama dan terlebih dirimu adikku…tetapi ketika setetes kekhilafan terjadi…betapa dahsyat pertanggungan jawab yang harus aku alami….Oo Sukrasana, semoga manusia menyadari ini…mereka tetap harus berupaya dan berbuat baik…jangan takut terkena goda dan coba…karena sesungguhnya, hasil dari perbuatan kita hanyalah azab atau pahala.

Sukrasana: Ya kakang Ati…seperti selalu engkau ingatkan “Lila lan legawa lair trusing bathin”….kita harus menjalani hidup kita dengan ikhlas, lahir dan bathin… ada banyak yang mengecewakan, banyak yang menyakitkan, biarlah itu berlalu karena semua ada balasannya…yang penting adalah dedeg ajeg, tempat kita berdiri…bahwa kita harus memilih jalan yang baik, laku satria utama…jalan yang di ridhoiNya…

(Kedua sukma itu bergandengan mesra menembus awan….makin cemerlang karena rasa kasih suci yang mereka miliki, telah menyatu menuju kelanggengan)

Waosan Serat Tripama: Karya Mangkoenagara IV, macapatan Dandanggula.

Yogyanira kang para prajurit; Lamun bisa sira anulada; Duk ing nguni caritane; Andelira Sang Prabu; Sasrabahu ing Maespati; Aran patih Suwanda; Lelabuhanipun; Kang ginelung triprakara; Guna kaya purun ingkang den antepi; Nuhoni trah utama.

Lire lelabuhan triprakawis; Guna bisa saniskareng karya; Binudi dadya unggule; Kaya sayektinipun; Duk bantu prang Manggada nagri; Amboyong putri dhomas; Katur ratunipun; Purune sampun tetela; Aprang tanding lan ditya Ngalengka nagri; Suwanda mati ngrana.

Sebaiknya para prajurit; Semua bisa meniru; Seperti ceritera pada jaman dulu; Andalan sang raja; Sasrabahu di negara Maespati; Namanya Patih Suwanda; Jasa-jasanya; Dikemas dalam tiga hal; Pandai, mampu dan berani (Guna, Kaya, Purun), itulah yang dipegang teguh; Mengikuti keturunan orang utama.

Artinya dharmabakti yang tiga hal itu; Guna (bisa diandalkan) : bisa menyelesaikan masalah; Berupaya untuk memperoleh kemenangan; Kaya (punya kemampuan) : ketika peperangan di negara Manggada; Bisa memboyong putri dhomas; Diserahkan kepada sang raja; Purun (Bersedia, ikhlas sampai tuntas) : Keberaniannya sudah nyata ketika perang tanding (dengan Dasamuka) raja Ngalengka; Patih Suwanda gugur di medan perang.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya