Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Yudhistira Terhibur

Senin, 3 Agustus 2015

KISUTA.com - Semakin hari Yudhistira semakin gelisah karena memikirtkan sanak saudaranya yang telah tiada. Saking menyesalnya dia memutuskan untuk meninggalkan dunia dan hidup mengasingkan diri di hutan untuk menyucikan dosa.

Katanya kepada saudara-saudaranya: "Aku tidak bisa lagi merasakan kegembiraan atau kebaikan memerintah kerajaan dan kesenangan duniawi. Kusserahkan kerajaan ini ke dalam tangan kalian dan biarkan aku pergi mengasingkan diri ke hutan."

Arjuna berkata tentang nilai luhur hidup berkeluarga dan semua hal yang bisa dilakukan tanpa harus mengambil jalan sanyasa atau bertapa. Bimasena juga berkata keras menentang niat kakaknya.

"Engkau seperti orang bodoh yang hafal kalimat-kalimat sastra tapi tidak memahami maknanya.  Sanyasa bukanlah dharma kesatria. Tugas kesatria adalah menjalani karya di tengah rakyat, bukan pergi ke hutan untuk bertapa."

Nakula juga menentang niat saudaranya. Dia menegaskan bahwa berkarya di tengah rakyat adalah jalan yang mesti ditempuh para kesatria. Sadewa juga mengatakan hal yang sama. Katanya: "Bagiku, engkau adalah ayah, ibu, guru, dan saudaraku. Jangan tinggalkan kami. Mari kita pikul bersama beban kedukaan ini."

Drupadi juga angkat bicara: "Membunuh Duryudana dan orang-orangnya adalah tindakan yang benar. Mengapa kita harus menyesalinya? Sallah satu tugas seorang raja adalah menjalankan hukuman yang adil. Engkau telah menjatuhkan hukuman yang adil atas orang-orang yang jahat. Tidak ada alasan untuk berbuda. Sekarang, tugas sucimu adalah memerintah kerajaan berdasarkan dharma. Berhentilah bersedih."

Kemudian Wiyasa memberikan nasihat yang panjang lebar kepada Yudhistira. Dia jelaskan tugas-tugas yang harus dijalankan Yudhistira. Dia beberkan beberapa contoh orang besar. Wiyasa meminta Yudhistira untuk pergi ke Hastinapura dan mengambil tanggung jawab memerintah kerajaan.

Yudhistira akhirnya dinobatkan sebagai raja di Hastinapura. Sebelum melaksanakan tugas-tugas kerajaan, Yudhistira menyempatkan diri untuk mengunjungi Bhisma yang berbaring di atas ranjang panah menanti ajal. Dia mohon restu dan petunjuk tentang dharma.

Pelajaran dharma yang diberikan Bhisma kepada Raja Yudhistira adalah Santiparwa Mahabharata yang masyhur itu.

Setelah selesai mwemberikan pelajaran dharma kepada Yudhistira, jiwa Bhisma meninggalkan raga dengan tenang. Kemudian Yudhistira pergi ke Sungai Gangga dan melakukan upacara persembahyangan untuk kedamaian jiwa yang meninggal. Setelah upacara tersebut selesai, Yudhistira pergi ke pinggir sungai. Beberapa saat dia berdiri termangu di tepi sungai itu. Tiba-tiba kenangan-kenangan sedih di masa lalu memebuhi benaknya. Hatinya sedih. Dadanya sesak. Karena berat dengan beban kesedihan. Yudhistira jatuh pingsan, seperti gajah yang tumbangb terkena panah para pemburu.

Bimasena segera datang dan menolongnya hingga siuman. Dia menghiburnya dengan kata-kata penghiburan. Destarata juga datang dan menghibur Yudhistira. Katanya kepada Yudhistira:

“Jangan kau rusak dirimu dengan kesedihan seperti itu. Bangkitlah. Bersama saudara-saudaramu tugasmu sekarang adalah memerintah Hastinapura. Tinggalkan dukamu padaku dan Gandari. Engkau telah meraih kemenangan sesuai dengan dharma kesatria. Buah kemenangan itu adalah memangku tanggung jawab sebagai raja Hastinapura. Aku memang bodoh, tidak mengindahkan nasihat Widura dan justru mendengarkan kata-kata Duryudana. Akibatnya, aku mengambil jalan yang salah. Aku menipu diri dengan membayangkan masa kemuliaan kami. Kini impian itu telah lenyap tidak berbekas bersama keseratus anak-anakku. Tapi sekarang, aku memiliki engkau sebagai anakku. Janganlah bersedih.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya