Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Harjuna Sasrabahu Gugur

Selasa, 4 Agustus 2015

KISUTA.com - Sejak kematian patih Suwanda, mendung senantiasa meliputi hati Prabu Harjuna Sasrabahu. Permaisuri Citrawati berusaha menghibur dan membuat suasana menggembirakan bagi Sang Prabu. Namun, jauh di lubuk hatinya sang Permaisuri sadar, masih ada rasa kehilangan yang besar di hati Sang Harjuna Sasrabahu.

Citrawati: Duh Sinuwun, apakah duka harus terus berlanjut…Paduka sesembahaning kawula…Jika paduka tidak bisa menata hati…dan terus membiarkan rasa kehilangan yayi Suwanda, …bagaimana kami yang berada di sekitar paduka, bisa merasa berbahagia?

Harjuna Sasrabahu: Yayi Citrawati…tidak dapat dipungkiri, kematian yayi Suwanda adalah kehilangan besar negri ini. Patih Suwanda adalah manusia pilihan yang memiliki kemampuan hampir sama dengan kakanda. Tetapi dalam prilaku sehari-harinya..tidak ada sekalipun keinginannya untuk memanfaatkan kedudukannya. Aku begitu mempercayainya. Kalau dia mau, banyak kenikmatan dan kemewahan yang bisa dia dapatkan. Tetapi Suwanda hanya berkarya dan mengabdi untuk negri….jauh dari keinginan memikirkan diri sendiri..Ooo yayi garwaning pun kakang…bagaimana aku bisa melupakan jasa-jasanya.

Citrawati: Ya Kakaprabu…sewaktu adinda menguji imannya…saat Sumantri rela hanya menjadi utusan Paduka..dinda masih ingat kata-katanya…” Aboting abot menika mboten kedah kadya nuhoni prentah lan pitutur. Pahit lan ngrekasa kados pundi kewala prentah lan pitutur menika kedah dipun ayahi. Mangke mesti kepanggih barang legi ingkang mboten nate dipun petang. Kosok wangsulipun pancen langkung prayogi pahit rumiyin saweg leginipun. Awit biasanipun kita saged ngraosaken manis amargi sampun nyumurupi pahit. Kadosdene saged ngaosaken kabungahan amargi sampun ngalami nandang kasusahan…Menjalani perintah, memang berat, namun sepahit apapun perintah dari orang yang kita hormati itu harus kita jalankan...karena hal yang manis biasanya akan muncul tanpa kita perhitungkan. Lagipula, bagaimana kita tahu hal yang manis kalau belum menjalani pahitnya kehidupan... Duh Sinuwun…pepatih dalem itu memang insan yang ikhlas dan luhur…Bisa memahami pahit getirnya kehidupan sebelum mencari kenikmatannya.

Karena memahami rasa kehilangan suaminya, Dewi Citrawati berusaha menhadirkan kebahagian dari sisi kewanitaannya. Dia sadar, Patih Suwanda akan tetap menjadi kenangan manis bagi Sang Prabu.

Akhirnya Kebahagiaan Prabu Harjuna Sasrabahu bertambah dengan lahirnya Raden Ruryana sebagai putra mahkota. Oleh ayahnya sejak kecil Raden Ruryana dididik dalam berbagai ilmu, baik ilmu tata kenegaraan maupun ilmu jayakawijayan. Hal ini karena dialah satu-satunya pewaris tahta dan negara Maespati.

Sayang sekali, dengan berjalannya waktu, Prabu Harjuna Sasrabahu mulai dihinggapi khilaf. Merasa tak ada lagi lawan yang berarti, dan tak ada lagi gangguan yang mengancam negara Maespati dan negara-negara sekutunya, kehidupan selanjutnya dari Prabu Harjuna Sasrabahu lebih banyak digunakan bersenang-senang, memanjakan istri, para putri dan putra-putranya. Akibatnya, Prabu Harjunasasrabahu mulai melupakan tugas kewajiban menjaga kelestarian dan kesejahteraan jagad raya (memayu hayuning, bawono).

Akibat dari kelalaian Prabu Harjuan Sasrabahu tersebut, tanpa sepengetahuannya Dewa Wisnu loncat dari tubuhnya.

Syahdan di pertapaan Jatisrana, Sang Ramaparasu, sedang gelisah, sesekali dibersihkannya darah yang mulai menjadi karat di ujung kampak nya. Terbayang tak terhitung banyaknya raja ksatria yang telah tertabas kampak itu, demi memenuhi dendamnya. Rama Bargawa, atau Ramaparasu, menghela nafasnya...hmm, apakah dia bahagia dengan pembunuhan-pembunuhan atas para ksatria dan raja-raja itu ? apakah dunia sudah lebih aman dengan banyaknya ksatria yang mati ? sampai kapan dia akan memburu dan membunuh mereka? Ramaparasu mengernyitkan keningnya.

Dalam heningnya pagi itu, Bathara Narada mengunjungi Ramaparasu di Jatisrana.

Narada: Wayah Ulun Rama Bargawa...apa yang membuatmu termenung memainkan kampakmu seperti itu?

Rama Bargawa: Hhmm Pukulan...saya mulai merasa bosan dan tidak tahu...kemana lagi seharusnya langkah saya tertuju. Ribuan ksatria dan raja sudah saya bunuh...tetapi semua itu tidak bisa menghilangkan sakit hatiku...aku juga tidak yakin, apakah itu juga sudah membuat dunia ini lebih aman?

Narada: Kaki Rama Bargawa...Denta denti kusuma warsa sarira cakra...gading atau gigi yang tumbuh tidak bisa dibenamkan lagi, bunga yang mekar tidak dapat dikuncupkan lagi, hujan yang turun tidak dapat dinaikkan lagi, darah yang keluar dari badan karena terkena senjata tajam tidak dapat disurutkan lagi...maknanya Ngger...yang benar tidak dapat disalahkan, yang salah tidak boleh dibenarkan. Bisa saja direkayasa, tetapi hasilnya hanya bersifat sementara atau tidak abadi. Cepat atau lambat akan mewujud sebagaimana aslinya. Yang salah kelihatan salah, yang benar tampak benar.

Rama Bargawa: Jadi? Apakah tindakanku ini benar atau salah?

Narada: Gunakan hati nuranimu Bargawa...renungkan dan rasakan sampai ke dasar hatimu...kalau tindakanmu itu tidak membawa kebahagiaan, justru membuatmu resah...bukankah itu tanda hati nuranimu telah meragukan kebenaran tindakanmu ?...aah..betapa konyolnya, ketika manusia mulai meninggalkan nuraninya, mburu kesenangannya saja, padahal Sang Khalik membekali mereka dengan nurani, sebagai alat mencegah tindakan mungkar.

Rama Bargawa: Pukulun...kalau begitu, untuk menghentikan perbuatanku...bukankah sebaiknya aku saja yang tumpas dari dunia ini ?...dan aku hanya bisa di kalahkan oleh Titisan Wisnu...kemana harus kucari Ooo Pukulun...

(Hening sejenak...Narada paham sebenarnya setelah oncat dari tubuh Harjunasasrabahu Batara Wisnu justru sekarang menitis pada Rama Bargawa...oleh karena itulah saat bangun dari pertapaannya, Rama Bargawa gelisah karena nuraninya yang sudah dipengaruhi kehadiran Batara Wisnu, membuatnya resah dengan perbuatannya. Narada memahami, Rama Bargawa adalah sosok yang tegas cenderung brangasan, mungkin dia tidak menyadari kemuliaan yang bersemayam di bathinnya. Karena itu Narada mengarahkan agar Sang Wisnu menjalankan kodratnya).

Narada: Wayah Ulun Rama Bargawa...berjalanlah ke arah timur, jumpailah raja Maespati, Harjuna Sasrabahu, dan selesaikanlah kewajibanmu di sana.

(Rama Bargawa memaknai perintah Narada ini sebagai petunjuk, bahwa Harjunasasrabahulah sosok yang harus dia cari untuk mencari mati)

Suatu hari Prabu Harjuna Sasrabahu sedang melakukan perburuan di hutan. Seperti biasa, mengajak serta Dewi Citrawati, semua para putri, para dayang dan para raja sekutunya. Ikut serta dalam rombongan tersebut ratusan prajurit pengawal dan para kerabat kerajaan Maespati lainnya. Sehingga kegiatan perburuan tak ubahnya kegiatan wisata keluarga besar Kerajaan Maespati.

Perkemahan besar pun dibangun di tengah hutan sebagai tempat tinggal Dewi Citrawati, setelah itu Prabu Harjuna Sasrabahu disertai Prabu Kalinggapati, Prabu Soda, Prabu Candraketu dan beberapa hulubalang melakukan perburuan binatang ke tengah hutan.

Saat melakukan perburuan itulah Prabu Harjuna Sasrabahu dihadang oleh Ramaparasu. Ramaparasu sengaja menghadangnya setelah mendapat petunjuk dari Narada, bahwa raja yang sedang melakukan perburuan adalah Prabu Harjuna Sasrabahu, raja yang diyakininya sebagi penjelmaan Dewa Wisnu. Rama Bargawa sedang mencari kematian dan kematian itu baru akan dijumpainya kalau dia bisa bertarung dengan titisan Wisnu...Jadi Rama Bargawa memang mencari Wisnu..tanpa dia sadari, Wisnu yang dicarinya lebih dekat dengan pribadinya. Wisnu ada dalam pusat rasanya. Bukankah telah diajarkan bahwa:

“Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono”.

Artinya: Asal tetap waspada dan ketenangan yang sempurna maka yang tampak hanyalah dirinya sendiri.

Di sisi lain, sebenarnya Prabu Harjuna Sasrabahu telah kehilangan rasa bahagianya, dia mulai merasakan kekosongan hatinya. Berburu dan bersenang-senang adalah kegiatannya hari demi hari...tetapi semua itu tidak mengembalikan kebahagiaannya saat masih ada Patih Suwanda.

Ternyata penghadangan yang dilakukan oleh Ramaparasu, sangat menggembirakan hati Prabu Harjuna Sasrabahu. Raja besar ini sadar...perasaannya yang kosong, terjadi karena Batara Wisnu tak lagi bersemayam di sanubarinya. Harjuna Sasrabahu tahu, waktu dan tugasnya di Marcapada telah usai, lengkap sudah, kebesaran, kebahagiaan beristrikan Citrawati yang cantik, duka dan lara ditinggal Patih Suwanda yang di kasihinya, amarah dan amuknya pada Rahwana...adalah rangkaian kehidupan yang telah lengkap direguknya.

Perawakan Ramaparasu yang tinggi besar, kekar dan menakutkan itu dengan dua pusaka, Kapak dan Bargawastra, menerbitkan suatu harapan besar di hati Harjuna Sasrabahu, bahwa yang menghadangnya ini adalah penjelmaan Dewa Wisnu yang baru setelah sang Dewa oncat dari dirinya.

Saat menyadari Dewa Wisnu telah meninggalkan dirinya. ia pun ingin mati melalui perantaraan Dewa Wisnu selanjutnya.

Bertemu dengan Raja besar ini, Ramaparasu merasa segan, tanpa sadar ia menceritakan kisah hidup petualangannya, sejak meninggalkan pertapaan Daksinapata setelah perabukan jenasah ayahnya, Resi Jamadagni, hingga ia bertemu dengan Prabu Harjunasasrabahu.Saat ini ia mencari penjelmaan Dewa Wisnu, sebab hanya Dewa Wisnu yang dapat mengantarkannya ke Nirwana.

Rama Bargawa: Itulah Paduka yang hamba cari selama ini. kata Harjuna Sasrabahu: "Mengapa tuan mengira hamba sebagai penjelmaan Dewa Wisnu?"

Rama Bargawa: Tanda-tanda keagungan ada pada Paduka.

Harjuna Sasrabahu: Jangan salah Kisanak, Tuan juga seorang yang agung budi. Menurut pendapatku, Tuanlah satria brahmana berwatak dewa, karena tuan telah melaksanakan dharma dan kebajikan dunia dan umat manusia. Siapa lagi yang sanggup berbuat demikian selain Dewa Wisnu?”

Rama Bargawa: Oh. sekiranya kata-kata Sinuwun benar, apa perlu hamba mencari Dewa Wisnu?”

Harjuna Sasrabahu: Jadi Tuan tetap mengira, akulah penjelmaan Dewa Wisnu?”

Rama Bargawa: "Ya, sebab Paduka bisa bertriwikrama!”

Harjuna Sasrabahu: Sekiranya aku mengatakan tidak bisa lagi, lalu apa yang akan Tuan lakukan?”

Rama Bargawa : Akan hamba paksa Paduka melepaskan senjata Cakra. Sebab hanya senjata Dewa Wisnu yang dapat menembus dada hamba!”

Harjuna Sasrabahu: Sekiranya senjataku tidak dapat menembus dada Tuan, lalu apa yang akan Tuan lakukan?”

Rama Bargawa: Paduka akan hamba bunuh dengan Bargawastra, Paduka pasti tidak akan tewas, sebab hanya Dewa Wisnu yang dapat menahan keampuhannya!”

Prabu Harjuna Sasrabahu tersenyum, Ramaparasu benar-benar keras dan lurus hati. Dia berharap, mudah-mudahan Bargawastra dapat menembus dadanya. Dan inilah yang ia cari selama ini.

Mereka kemudian sepakat untuk mengadu kesaktian. Mereka kini telah siap tempur. Karena masing-masing tak ada niat untuk menggelak hantaman senjata lawan, mereka berdiri hampir berhadap-hadapan. Ramaparasu menimang-nimang Bargawastra, sedangkan Prabu Harjunasasrabahu memegang senjata cakra yang berbahaya, Dengan teriakan panjang keduanya siap melepaskan senjata pemusnahnya masing-masing.

Prabu Harjuna Sasrabahu menahan senjata cakranya. Semenjak bersiaga, tiada niat sedikitpun untuk melepaskan senjata cakra, sebab takut akan menembus dada Ramaparasu. Sebaliknya Ramaparasu melempaskan senjata Bargawastra dengan sungguh-sungguh. Senjata ampuh itu menyibak udara menembus dada Prabu HHarjunasasrabahu, yang segera rebah ke tanah dengan bersembah. Bisiknya : “Oh, Dewata Agung ! Sungguh indah kematian yang datang padaku, kematian seorang ksatria lewat senjata pusaka. Dewa, telah aku tunaikan tugas dan kewajibanku di alam dunia...sungguh sudah engkau tunjukan kepadaku kini, Dialah sesungguhnya penjelmaan Dewa Wisnu setelah aku!”

Walau bersimbah darah, wajah Harjuna Sasrabahu menunjukkan kepuasan batin yang dalam, karena akan mati dengan hati ikhlas dan puas. Ramaparasu yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Ia segera berlari dan memeluk tubuh Prabu Harjuna Sasrabahu.

Rama Bargawa: Aaaah bagaimana mungkin…? Bagaimana bisa?! Paduka berkhianat. Paduka sengaja tidak melepaskan senjata cakra!”

Harjuna Sasrabahu: Sudah kukatakan tadi, tiada senjata apapun di dunia ini yang dapat menembus dadaku kecuali senjata Dewa Wisnu yang dilepaskan oleh Dewa Wisnu sendiri. Jadi jelas sudah, Tuan memang penjelmaan Dewa Wisnu!”

Seketika terbit perasaan gusar dan kecewa Ramaparasu begitu mengetahui Prabu Harjuna Sasrabahu bukan penjelmaan Dewa Wisnu. Menganggap bahwa Prabu Harjuna Sasrabahu tidak ada artinya lagi baginya, tak ubahnya ribuan satria lain yang telah dibunuhnya, maka Ramaparasu berteriak lantang: “Kurang ajar...engkau raja ksatria kurang ajar!! Kau telah menipuku. Kau memang layak untuk mati! ” Setelah itu Ramaparasu pergi meninggalkan jasad Prabu Harjuna Sasrabahu.

Sepeninggal Ramaparasu, jasad Prabu Harjuna Sasrabahu diangkat oleh Prabu Kalinggapati dan Prabu Soda, dibawa ke pesanggrahan.

Gelombang tangis dan hujan air mata seketika meledak dan terjadi di pesanggrahan, karena Dewi Citrawati beserta para putri yang berjumlah 2000 orang, dan para dayang yang jumlahnya hampir empat ribu orang itu, menangis bersama-sama.

Persiapan pembakaran jenazah segera dilakukan oleh Prabu Kalinggapati, Prabu Soda dan para raja lainnya. Arena pembakaran dipersiapkan sedemikian luas. Ribuan ton kubik kayu dipersiapkan. Inilah arena dan upacara pembakaran mayat yang terbesar yang pernah ada di jagad raya. Karena bukan hanya jenasah Prabu Harjunasasrabahu yang akan dibakar, tetapi Dewi Citrawati dan para putri akan ikut bela pati, terjun kedalam pancaka (api pembakaran jenasah).

Pudarnya nyala api pembakaran, bukan hanya sekedar akhir hidup dan kejayaan Prabu Harjunasasrabahu, tetapi juga awal pudarnya masa kejayaan negara Maespati. Sebab sepeninggal Prabu Harjunasasrabahu, satu persatu para raja dari negara-negara yang semula bergabung dengan Maespati, menyatakan diri memisahkan diri dan berdaulat sendiri.

Tak ayal lagi, setelah berakhirnya masa pemerintahan Prabu Ruryana (Putra Harjuna
Sasrabahu), secara lambat tapi pasti, negeri Maespati lenyap dari percaturan dunia pewayangan. Ironis memang!*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya