Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Dewi Kausalya, Lumpuh untuk Mempersiapkan Titisan Wisnu

Kamis, 6 Agustus 2015

KISUTA.com - Sepeninggal Prabu Harjuna Sasrabahu, dan makin merosotnya pamor Maespati, Kerajaan Alengkadiraja tumbuh pesat sebagai kerajaan besar yang ditakuti dan disegani lawan.

Rahwana seakan tak tertandingi dan makin bebas mengumbar angkara murkanya. Kematian Citrawati, yang belapati atas tewasnya sang suami, memupuskan hasrat Rahwana mendapatkan titisan Batari Widowati. Rahwana membabi buta memuaskan syahwatnya…setiap mendengar ada dara cantik, segera diutusnya pasukan untuk menjemput gadis itu. Sudah tak terhitung jumlah selir di Alengkadiraja. Patih Prahasta yang sebenarnya adalah paman Rahwana, tak henti-hentinya menasehati keponakannya itu.

Prahasta: Anak Prabu, sudahilah nafsu angkara murkamu, bukankah selirmu Dewi Banondari sudah cukup cantik…bahkan darinya anak Prabu sudah punya putra Trinetra, Trisirah dan Trigangga….mengapa masih terus mencari gadis-gadis cantik…

Rahwana: Huuueee hehehe…Paman Prahasta, aku ini Raja Gung Binatara, penguasa Alengkadiraja…kalau cuma Banondari dan selir-selir lainnya itu…mana cukup…Banondari memang anak bidadari..ibunya Batari Hema, tapi ayahnya raja Yaksa Prabu Mayasura….huaaah…masih belum bisa menandingi Widowati… uuueehh… hhmmm…Widowati…Widowati…kemana lagi harus kucari engkau manisku….hhmmmn.

Prahasta: Anak Prabu, Batari Widowati itu, di kahyangan Maniloka istrinya Batara Wisnu. Kalau kelak dia menitis lagi, sudah pasti dia akan menikah dengan titisan Wisnu pula.

Rahwana: Huuuaaah…ya sebelum jadi istrinya aku rebut…ah Paman…jangan menggurui aku..si Paman ini cuma patihku…ikuti saja apa perintahku. Hhmm…setelah Citrawati pralaya…Widowati katanya akan menitis lagi, pada seorang putri bernama Kausalya…ya..ya..Kausalya…aaah, cerdas bener aku kalau mengingat-ingat titisan Widowati…huhaahahaha..inilah rindu dendam cinta belum kesampaian.. Paman Prahasta, kerahkan telik sandi sebar ke seluruh penghujung negri…cari putri cantik bernama Kausalya..huee kali ini aku harus bisa mendapatkan titisan Widowati…

Walaupun prihatin dengan kesewenangan Rahwana, Patih Prahasta tidak bisa berbuat banyak, diperintahkannya Detya Kala Marica dan Sarpakenaka menyebarkan mata-mata untuk mengetahui keberadaan Dewi Kausalya.

Syahdan, di seberang Samudra Alengka, tersebutlah negri Ayodyapala dengan rajanya yang bijak dan cinta damai Prabu Banuputra, sang prabu bersama istrinya yang cantik Dewi Barawati, memiliki putri tunggal yang sangat jelita bernama Dewi Kausalya. Selain cantik sang putri juga memiliki kecerdasan luarbiasa, serta kemampuan membaca pikiran orang sehingga menambah kebijaksanaannya. Saat Remaja, Kausalya pernah didatangi Batari Lokati.

Batari Lokati: Kausalya…ketahuilah…engkau wanita mulia yang terpilih mengantarkan kelahiran Batara Wisnu ke dunia…

Kausalya: Siapakah andika sang Bathari…sinar yang memancar di wajahmu begitu teduh menentramkan…

Batari Lokati: Aku Bathari Lokati…menjadi kewajibanku untuk mewartakan padamu, bahwa engkau adalah wanita pilihan…jagalah sikap dan tindak tandukmu…karena dari rahimmu akan lahir seorang ksatria utama yang menjadi titisan bathara Wisnu.

Kausalya: Aaah, tidak salahkah itu…aku masih remaja…bagaimana bisa aku terpilih ?...apa yang harus aku lakukan kalau sudah terpilih seperti ini…

Batari Lokati (tersenyum bijak): Kerendahan hatimu, dan kesiapanmu untuk berkorban, adalah syarat utama menjadi wanita kekasih dewa Kausalya…ketahuilah, saat ini Bathari Widowati telah oncat dari gua garba Dewi Citrawati yang meninggal belapati kematian suaminya. Nanti malam sukma sang Bathari akan menyatu dengan ragamu…saat hal itu terjadi, badanmu akan lungkrah…engkau akan lumpuh…jangan bersedih, karena itulah jalannya…bahwa engkau akan bertemu jodohmu yang berliku Kausalya…

Kausalya: Duh Bathari, jika penderitaan seperti itu membuatku layak menjadi ibu titisan Wisnu, biarlah itu aku tanggung dengan ikhlas…

Batari Lokati: Ya Kausalya…walaupun Bathari Widowati menitis padamu…namun, takdirmu tidaklah menjadi istri titisan Wisnu…takdirmu menjadi ibu titisan Wisnu…kelak setelah engkau melahirkan putramu, Bathari Widowati akan oncat, dan menitis pada seorang putri, yang akan menjadi jodoh putramu.

Kausalya : Baiklah Bathari…apapun suratan takdirku, aku akan menjalani dan menggenapi kehidupanku dengan dharma.

Saat malam harinya sukma Bathari Widowati benar memasuki raga Kausalya, putri raja itu menjerit tertahan karena menahan rasa sakit yang mencengkeram segenap ruas syaraf dan tulang-tulangnya. Kausalya lumpuh. Hebohlah seantero Ayodyapala keesokan harinya…. Para Brahmana sakti, Maha Resi, jampi-jampi tradisionil, bahkan tabib-tabib ulung dengan mantra-mantra saktinya telah dikerahkan untuk mengobatinya, namun tak ada yang berhasil bahkan menjadi makin parah.

Berita tentang sakitnya Dewi Kausalya tidak dipercaya oleh para raja yang “gandrung kepayang” kepada Dewi Kausalya. Beberapa raja yang tidak sabaran dan “brangasan” malah ada yang mempersiapkan wadya balanya untuk menggempur negeri Ayodya untuk merebut Dewi Kausalya secara paksa. Kehebohan ini terdengar oleh mata-mata Rahwana yang segera melaporkan temuannya pada rajanya. Penyakit lumpuh Kausalya dan kehebohan para pelamar membuat Prabu Banuputra memutuskan untuk membuat suatu sayembara, yaitu barang siapa dapat menyembuhkan penyakit Dewi Kausalya, maka dialah yang akan menjadi suami dan jodohnya. Apakah ia seorang raja, satria, resi, tabib, dukun maupun rakyat jelata tak menjadi soal.

Resi Rawatmaja, dari pertapaan Puncakmolah datang untuk menyembuhkan. Resi Rawatmaja adalah seorang Brahmacari, ia bukan peserta sayembara, ia hanya ingin menolong saja, karena petunjuk dewa mengarahkannya untuk menjadi perantara. Dengan Cupu Manik Astagina yang dimilikinya. Sang Resi mengobati Kausalya. Didalam cupu itu terdapat air mujarab yang bernama tirta Mayamahadi. Dengan tirta Mayamahadi ini Resi Rawatmaja, berhasil menyembuhkan Dewi Kausalya. Resi Rawatmaja menolak Dewi Kausalya menjadi istrinya, namun Prabu Banuputra maupun Dewi Kausalya sendiri, mengharap agar Resi Rawatmaja membawanya ke pertapaan Puncakmolah. Sudah menjadi ketentuan sayembara, siapa yang memenangkan sayembara, maka akan mendapatkan Dewi Kausalya.

Alkisah Prabu Rahwana menjadi murka, ketika ia datang ke Kerajaan Ayodya, sayembara telah usai. Keraton Ayodya di hancurkan. Sedang Prabu Banuputra tidak luput dari amukannya, ia dan permaisurinya dibunuh. Belum puas menghancurkan istana Ayodya dan membunuh rajanya, Rahwana segera memburu Dewi Kausalya ke Pertapaan Puncakmolah. Saat itu di Pertapaan Puncak molah, Resi Rawatmaja memberi pengertian pada Kausalya:

“Sang Dewi, aku memang bukan jodohmu. Aku harus meninggalkanmu. Janganlah sang dewi menanyakan tentang diriku, waktunya sudah tidak ada. Suamimu yang sebenarnya adalah pemuda bernama Dasarata, yang kini sedang berguru kepada brahmana Yogiswara di pertapaan Dandaka. Pergilah cepat sekarang juga.” (Sang Resi dengan kawaskitaannya mampu merasakan bahaya sudah mendekat, Rahwana adalah ancaman keselamatan Kausalya)

Namun Dewi Kausalya tak berubah pendiriannya, karena ia adalah seorang wanita setia dan berpegang teguh kepada janjinya. Ia berpikir, karena Rawatmaja adalah suaminya yang syah dan yang berhasil menyembuhkan penyakit lumpuhnya."

Belum sempat Kausalya menjawab dan melaksanakan perintah resi Rawatmaja, datanglah Rahwana menghardik dan menerkam leher Rawatmaja sambil mengumpat-umpat katanya:

“Babo-babo Iblis laknat, dasar resi bejat Heeiii Rawatmaja, engkau manusia yang tak tahu perikemanusiaan, kau resi Brahmacarya, wadat!! tetapi nekat hendak mempunyai istri. Bukankah itu berarti akan menyiksa Kausalya. Berikan ia kepadaku agar ia tahu apa artinya kenikmatan hidup, arti kekuasaan, arti kebahagiaan. Biarlah ia tinggal di Alengka, ia akan kuberi istana bertingkat tujuh yang berlantai marmer yang ditaburi oleh intan berlian sejagung-jagung besarnya, masing-masing tujuh kerat nilainya. Tidak seperti engkau resi pengung, wanita cantik hanya akan disekap di bawah gubuk reyot “trocoh” bocor semua atapnya”.

Sambil berteriak-teriak murka, pedang Rahwana telah memenggal kepala Rawatmaja yang kemudian jatuh terkapar ditanah, menyembur darahnya membasahi pakaian Dewi Kausalya.

Dewi Kausalya menjerit histeris…dengan tanggap Garuda Sempati menyerang Rahwana dengan kibasan sayap perkasanya, sehingga Rahwana jatuh terpelanting ke tanah. Setelah menyerang Rahwana, Sempati segera menggendong Kausalya dan mengantarkannya ke pertapaan Dandaka, menyerahkan ke Resi Yogiswara, agar segera di nikahkan dengan Dasarata sesuai pesan Resi Rawatmaja.

Sempati kemudian kembali ke Puncakmolah untuk menghalangi Rahwana dan mengulur waktu agar Dasarata punya kesempatan menyelamatkan Kausalya.

Di pertapaan Dandaka, Dewi Kausalya berjumpa dengan pemuda bernama Dasarata. Oleh Resi Yogiswara, keduanya di kawinkan sesuai dengan pesan Resi Rawatmaja.

Yogiswara: Ngger Dasarata, sekarang Kausalya telah menjadi istrimu sesuai pesan sahabatku Resi Rawatmaja….pesanku ngger, untuk kalian berdua…disaat mengarungi rumah tangga..Yen krasa enak uwisa, Yen krasa ora enak terusna, Yen ana bapang sumimpanga…Hendaknya kalian tetap dapat berlaku hidup prihatin, sederhana dan mengendalikan hawa nafsu baik disaat sedih maupun gembira. Kalau menjumpai penghalang yg membahayakan keselamatan lebih baik menghindar dan menjauhi…

Dasarata : Sendika dawuh Bapa Resi…yayi Kausalya sekarang menjadi tanggung jawab saya, walaupun saya bukan tandingan Prabu Rahwana…segala daya upaya akan saya lakukan untuk menyelamatkan yayi Kausalya.

Yogiswara : Ya Dasarata…kesaktianmu mungkin kalah dari Rahwana…tetapi Bapa yakin, engkau punya kecerdikan untuk menyisihkannya…gunakan itu Ngger.

Dasarata: Mohon doa restu Bapa Resi…saya akan menyembunyikan yayi Kausalya terlebih dahulu.

Yogiswara: Tetap eling…waspada dan hati-hati Dasarata…musuhmu bukan jalma lumrah…pegang selalu ajaranku…Sing sapa wedi ing luput wani ing bener, iku klebu manungsa linuwih…siapa yang takut berbuat salah berani berbuat benar, maka itu berarti tergolong manusia yang utama.

Dasarata pamit pada Yogiswara, dan segera membawa Kausalya untuk menghindari Rahwana.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya