Utanga
KISUTA.com - Setelah perang usai, Krishna mohon diri pada para Pandawa dan kembali ke Dwaraka. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang brahmana tua, Utanga. Krishna berhenti dan turun dari keretanya untuk memberikan salam pada sang brahmana. Utanga membalas salam dan melanjutkan dengan menanyakan kesehatan dan kesejahteraan para kerabat.
Tanyanya: "Madhawa, apakah sepupumu Pandawa dan Kurawa saling mencintai sebagaimana layaknya saudara? Apakah mereka baik-baik saja dan sejahtera?"
Petapa itu memang sama sekali tidak tahu tentang perang besar yang terjadi. Krishna terkejut dengan pertanyaan brahmana tua itu. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam saja tidak tahu apa yang mesti dikatakan. Kemudian, pelan-pelan ia jelaskan apa yang terjadi.
Katanya menceritakan perang yang terjadi: "Brahmana yang kuhormati, telah terjadi perang yang mengerikan antara Pandawa dan Kurawa. Aku sudah berusaha sebisaku untuk mengindarkan perang itu. Tapi, mereka tidak mau mendengarkan. Hampir semua dari mereka tewas dalam perang itu. Siapa bisa melawan kuasa takdir?"
Mendengar cerita Krishna, brahmana tua itu marah. Dengan mata merah, ia berkata kepada Krishna: "Wasudewa, apakah engkau ada di sana dan diam saja? Rngkau benar-benar tidak bisa menjalankan tugasmu. Engkau pasti gunakan tipu muslihat dan membawa mereka ke jurang kehancuran. Bersiaplah menerima kutukanku!"
Wasudewa tersenyum dan berkata: "Tenang, tenang! Tenangkan dirimu. Jangan gunakan buah-buah tapa bratamu karena marahmu ini. Dengarkan dulu ceritaku dan jika engkau memang tetap bersikeras mengutukku, silakan kutuk aku."
Krishna menenangkan brahmana yang sedang gusar itu dan menampakkan diri dalam wujud Wiswarupa, wujud yang merangkum seluruh alam semesta.
"Aku terlahir dalam berbagai wujud dari waktu ke waktu untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Apa pun wujud yang aku sandang, aku harus bertindak selaras dengan wujud itu. Ketika aku terlahir sebagai dewa, aku harus bertindak sebagaimana layaknya dewa. Jika aku dilahirkan menjadi yaksa atau raksasa, aku mesti bertindak seperti yaksa atau raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia atau sebagai binatang buas, aku akan melakukan semua hal yang dilakukan oleh manusia atau binatang buas itu. Dengan cara itulah aku tunaikan tugasku. Aku telah mendesak para Kurawa yang dungu itu. Tapi mereka angkuh dan sudah terbius oleh kekuasaan. Mereka tidak mengindahkanku. Aku juga menakut-nakuti mereka, tapi itu pun tidak membuahkan hasil. Aku murka dan aku tunjukkan Wiswarupa. Itu pun masih tidak mereka indahkan. Mereka terus bersikukuh dalam jalan yang sesat. Mereka tetap memilih jalan perang dan akibatnya mereka musnah. Wahai Brahmana, engkau sama sekali tidak punya alasan untuk marah padaku."
Setelah medengar penjelasan Sri Krishna, Utanga kembali tenang. Krishna senang. Kata Utanga: “Achcyuta, aku sudah puas telah menyaksikan wujud aslimu. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi.”
Tapi Krishna mendesak dan akhirnya, brahmana sederhana yang menghabiskan waktunya mengelana dipadang pasir itu menjawab: “Baiklah, jika Paduka bersikeras memberikan anugerah, biarlah aku bisa menemukan air setiap kali aku kehausan. Berilah aku anugerah ini.”
Krishna tersenyum. “Hanya itu? Baiklah, kuberikan anugerah itu.” Setelah berkata demikian, Krishna melanjutkan perjalanannya.
Suatu hari, Utanga sangat kehausan. Ia tidak bisa menemukan air di mana pun. Ia teringat anugerah yang diberikan Krishna. Segera setelah ia menggunakan anugerah itu, seorang Nishada muncul di hadapannya. Pakaiannya kumal, sebuah kantung air tergantung di pundaknya. Ditemani lima anjing, Nishada itu tersenyum pada Utanga dan berkata: “Tampaknya engkau sangat kehausan. Ini air untukmu. Silakan minum,” sambil mengulurkan kantung air.
Utanga menatap laki-laki itu, anjing-anjingnya dan kantung air yang ditawarkan padanya. Kata Utanga dengan pandangan yang tidak suka: “Teman, aku tidak membutuhkan air. Terima kasih.”
Setelah berkata demikian, ia memikirkan Krishna. Katanya pada dirinya sendiri: “Benarkah ini anugerah yang diberikan Krishna kepadaku?”
Nishada yang tidak punya kasta itu terus mendesak Utanga untuk menghilangkan rasa hausnya. Tapi semakin didesak, Utanga semakin marah dan menolak untuk minum. Akhirnya, pemburu dan anjing-anjingnya lenyap dari pandangan.
Melihat pemburu itu hilang secara tiba-tiba, Utanga berpikir: “Siapa sebenarnya pemburu itu? Ia pasti bukan nishada sebenarnya. Itu pasti ujian dan aku telah gagal melewatinya. Pikirankulah yang membuatku gagal melewati ujian ini. Aku menolak air yang diulurkan nishada itu. Aku memang manusia angkuh yang dungu.”
Utanga sangat sedih. Tidak berapa lama kemudian, Madhawa menampakkan diri dengan terompet kerang dan senjata cakranya di tangannya.
Seru Utanga: “Oh Puroshottama, engkau mengujiku dengan ujian yang sulit. Apakah pantas engkau mengujiku seperti itu –memberikan air haram untuk diminum oleh seorang brahmana. Apakah itu ujian yang kau berikan?” Demikian kata Utanga dengan nada getir.
Janardhana tersenyum: “Oh, Utanga, demimu, ketika engkau menggunakan anugerah yang kuberikan kepadamu, aku minta Batara Indra untuk memberikan amrita dan memberikannya dalam bentuk air. Katanya ia tidak bisa memberikan pada manusia yang tidak abadi minuman yang bisa membuat abadi. Tapi aku terus mendesaknya. Akhirnya, ia setuju memberimu amrita dalam bentuk air, asalkan aku membiarkannya memberikan dalam rupa chandala dan menguji pemahamanmu apakah engkau mau menerima air minum dari seorang chandala. Aku menerima syarat itu karena aku percaya engkau sudah mencapai tingkatan jnama dan tidak menjadi abadi. Tapi lihatlah, apa yang kau lakukan. Engkau membuatku kalah di hadapan Batara Indra.” Utanga menyadari kesalahannya dan merasa malu.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


