Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Kelahiran Sri Rama

Senin, 10 Agustus 2015

KISUTA.com - Hari yang cerah, di Kerajaan Ayodyapala Prabu Dasarata mengadakan paseban agung dihadap oleh para nayakapraja diantaranya Patih Tamenggita dan Resi Wasista. Nampak sang prabu tengah dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan Sang Prabu ini disebabkan kendati telah mempunyai tiga orang isteri, namun keturunan yang selalu diharap-harapkan tak kunjung tiba. Sementara usia beliau semakin senja. Siapa nanti yang akan meneruskan sejarah memegang kekuasaan di Ayodya itulah alasan sang Prabu menyelenggarakan paseban agung.

Ketika hal ini diungkapkan kepada Patih Tamenggita dan Resi Wasista, kedua nayaka andalan Ayodya ini, menyarankan agar Sang Prabu mengadakan upacara sesaji Putrakama Yadnya. Sebuah upacara memohon lahirnya putra kepada Dewata Agung.

Resi Wasista yang memimpin upacara itu, dengan khusuk mengantarkan permohonan itu. Sesaat kemudian resi Wasista menyerahkan sejenis puding untuk di bagikan kepada para isteri raja. Oleh Prabu Dasarata 1/2 bagian puding di serahkan untuk dimakan Dewi Kausalya, 1/2 lagi dibagi 2 untuk Kekayi dan Sumitra.

Beberapa bulan setelah pelaksanaan upacara Putrakama Yadnya, terkabullah permohonan prabu Dasarata, Dewi Kausalya mengandung. Sembilan bulan kemudian lahirlah bayi laki-laki, yang saat kelahirannya sudah membawa senjata Cakra sebagai bukti dialah titisan Wisnu. Bayi ini diberi nama Raden Regawa atau Raden Rama. Begitu sayangnya Sang Prabu pada putera pertamanya sampai-sampai dia telah dibuatkan taman yang indah untuk menyenangkan calon putera mahkota itu.

Dewi Kekayi merasa tidak suka atas kelahiran Regawa. Dia yang pada dasarnya memiliki watak iri dan dengki merasa tidak mendapatkan perhatian dari Sang Prabu atas lahirnya bayi yang lahir dari rahim Dewi Kausalya. Emban Kekayi yang bernama Matara, terus menghasut Kekayi agar merebut perhatian Dasarata dari Kausalya dan bayi Rama.

Matara: Den ayu, ngga ada gunanya sedih karena merasa disisihkan...ya usaha dong...rebut perhatian suamimu...toh den Ayu lebih muda dari Dewi Kausalya...gunakan daya tarikmu...

Kekayi: Hm..sebelumnya mudah bagiku bermanja-manja dengan raja tua itu biyung emban...tapi sejak bayi itu lahir...sepertinya pesonaku surut...

Matara: Pesona surut itu khan kalau den ayu ngga pake cara-cara alus...kalau biasa saja ya susah...wong Dewi Kausalya itu cantik sekali....gunakan lagi japa mantra pengikat sukma yang saya ajarkan itu lho....

Kekayi: Ooo...yang mencampurkan darah pas aku nggarap sari (mens) dengan minuman sang raja, sambil muja semedi dalam posisi telanjang dan terus menyebut nama sang prabu 100x itu ya Biyung ?....trus nanti minuman itu di minumkan ke sang raja ya biyung?

Matara: Betul...itu manjur, untuk merebut para lelaki dari istrinya...menjijikkan memang, tapi anti saya samarkan minumannya di buat panas di campur sedikit jeruk dan rasa manis... pasti sang Raja tidak menyadari...

Ambisi dan kedengkian Kekayi, membuatnya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Setelah melakukan saran Matara yang menjijikan, akhirnya beberapa waktu kemudian Kekayi hamil...di saat Kekayi hamil ini, pengaruh magisnya kepada Dasarata berkurang (karena Kekayi tidak mens) dan Dasarata bisa lebih memperhatikan Kausalnya dan Sumitra. Tak lama setelah kehamilan Kekayi, Sumitrapun hamil...bahkan karena kehamilannya sangat besar para resi menebak Sumitra mengandung anak kembar. Kekayi gusar memikirkan hal itu...ah bertambah lagi saingannya dari Sumitra.

Kekayi: Biyung emban, bagaimana ini...masih pusing dengan kelahiran Rama, sekarang si Sumitra hamil juga...malah katanya anaknya kembar ?....duuuh kok repot begini...

Matara: Repot bagaimana Den Ayu...

Kekayi: Aku ingin nanti anak yang kukandung inilah yang menjadi raja Ayodya...bukan Rama, yang sekarang sudah di jadikan putra mahkota...

Matara: Wah...berat itu....memangnya den ayu punya cara khusus agar sang Prabu mau mengikuti keinginan den ayu...?

Kekayi: Saat aku selamatkan dari kejaran Rahwana, Sang Prabu pernah berjanji akan memenuhi apapun keinginanku. Sabda pandita ratu biyung emban...harus dipenuhi janji itu...dulu aku bilang saat tiba waktunya, akan aku nyatakan keinginanku. Nah keinginanku adalah menjadikan anakku sebagai raja.

Matara: Wuuiiii hebat...cerdas den ayu ini...beres sudah masa depan den ayu...jadi apa lagi yang merisaukan...

Kekayi: Kamu ini bagaimana sih emban...jadi raja tapi kalau ngga tenang ada perang saudara khan kasihan anak-2ku....aku cuma punya satu kepastian untuk diluluskan permintaanku oleh sang Prabu...aaaah seandainya ada kejadian lagi yang membuat sang prabu memberikan janji meluluskan permintaanku...tentu aku pakai untuk menyingkirkan Rama.

Matara: lha gampang itu !...bikin saja kejadian yang membuat sang raja merasa berhutang budi dan kelepasan umbar janji pada jengandika den ayu...

Kekayi: Caranya? Aku khan lagi hamil...repot juga ini...

Matara: Hihihi....ajaklah sang prabu bermesraan, buat beliau terpuaskan...disaat nafsunya sedang naik tanpa beliau sadari, tusukkan sekilas jarum yang sudah saya celup ke bisa kalajengking ke pantat beliau..trus biar ngga curiga, segera buang jarum...dan...hihihi...sambil main usap-usap mesra bekas tusukan biar racunnya masuk....nanti, selesai pelayanan paduka, racun itu pasti sudah bekerja dan Sang Prabu kesakitan... nah disitulah paduka memberikan jasa...tangani lukanya sedot segera racunnya ludahkan begitu terus sampai rasa sakit sang prabu hilang...dan janji itu ditawarkan lagi...hihihi.

Kekayi yang memang dengki dan ambisius menyetujui saran Matara. Matara, menyiapkan jarum yang sudah direndam dengan bisa ketunggeng (kalajengking), jarum ini disematkan di kemben Kekayi untuk dipergunakan pada saat yang tepat.

Malam itu, dengan manja Dewi Kekayi menarik-narik Dasarata untuk masuk ke biliknya, dengan alasan kangen pada sang Raja. Dasarata terbius kemanjaan Kekayi, bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, dia ikuti saja kemauan Kekayi. Saran Matara di jalankan tahap demi tahap oleh Kekayi. Setelah usai bermesraan sebagai suami istri dengan Kekayi, barulah Prabu Dasarata merasakan rasa sakit di pantatnya yang tadi tertusuk jarum (padahal sebenarnya “ditusuk” jarum oleh Kekayi)..ternyata luka itu telah bernanah, meradang dan menimbulkan rasa sakit, panas yang luar biasa…Sang Prabu tidak sadar merintih…Dewi Kekayi tersenyum, inilah saat yang di nanti-nantinya...dengan terampil, tangannya menusukkan cundrik untuk membuka luka...Dasarata menjerit menahan sakit, Kekayi segera menempelkan mulutnya ke luka bernanah itu, menyedot bisa dan meludahkannya...berulang kali itu dilakukan, sampai radang menipis dan Dasarata merasakan sakitnya berkurang. Dengan gaya penuh kasih sayang, Kekayi membalut luka sang Prabu, sesekali matanya mengerling manja...

Kekayi: Kanda...dinda telah bertaruh nyawa menyelamatkan kanda, dengan menyedot bisa luka dan mengobati kanda...padahal dinda sedang hamil...cukupkah begini saja atau ada hadiah untuk pengorbanan dinda...Ooo kakanda?

Dasarata: Hahaha...istriku yang manja, iya Kekayi sungguh bahagianya aku memiliki istri yang setia dan sayang suami...baiklah dinda...kamu minta apa ?....kanda akan penuhi apapun permintaanmu.

Kekayi: Ehm...benarkah kanda? apapun permintaan dinda...

Dasarata: Tentu saja benar Kekayi, apapun permintaanmu akan kanda penuhi.

Kekayi: Oooh terima kasih kanda....berarti sudah ada dua janji kanda ya...pertama saat dinda menyelamatkan kanda dari Rahwana, dan ini yang kedua...

Dasarata: Hahahaha dasar manja...iya..iya ada dua...kamu minta apa sih...

Kekayi: Belum sekarang kanda...tunggulah saat yang tepat akan dinda utarakan keinginan dinda.

Dasarata tersenyum saja mendengar kemanjaan Kekayi...tak disadarinya bagai api dalam sekam, Dasarata telah menanam bencana akibat kelemahannya pada wanita.

Beberapa waktu kemudian dari rahim Kekayi lahir bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Barata.

Sungguh kenikmatan luar biasa dirasakan Prabu Dasarata. Setelah sekian lama belum memiliki keturunan sekarang dua isterinya sudah melahirkan puteranya. Kebahagiaan Raja Ayodyapala ini seakan sempurna, disaat isteri ketiganya yaitu Dewi Sumitra juga telah melahirkan putera laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Laksmana Widagda atau Raden Sumitra Tanaya. Tak hanya itu, dua tahun kemudia Dewi Sumitra melahirkan lagi seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Satrugena.

Keempat Pangeran ini dididik oleh brahmana istana Resi Wasista, dari keempatnya, Ramalah yang paling menonjol dan terampil dalam segala bidang. Rama sangat mencintai adik-adiknya tetapi yang paling dekat dengannya adalah Laksmana yang walaupun berbeda ibu, tampang dan bentuk tubuhnya mirip Sri Rama, hanya saja Laksmana kulitnya lebih putih.

Pada suatu ketika, Raja Dasarata pergi berburu di tepi sungai Sarayu dalam keadaan remang-remang. Pada waktu ituditepi sungai seorang pemuda bernama Srawana sedang berada di tempat yang sama untuk mengisi kendi dengan air. Dasarata yang ceroboh mengira bahwa seekor kijang sedang meminum air. Tanpa pikir panjang, ia segera melepaskan anak panahnya karena ia memiliki kemampuan untuk memanah tanpa melihat sasaran, namun hanya dengan mendengar suaranya saja. Ketika anak panahnya mengenai sasaran dengan tepat, Dasarata terkejut karena tidak mendengar suara hewan yang menjerit, melainkan suara seseorang yang sedang mengaduh.

Saat Dasarata mendekati asal suara tersebut, ia melihat seorang pemuda sedang tergeletak bersimbah darah sambil mengerang kesakitan. Srawana mengenal wajah Dasarata dengan baik, namun ia heran karena raja yang seharusnya melindunginya kini menjadi pembunuhnya. Kemudian Srawana meminta Dasarata agar memenuhi permohonan terakhirnya, yaitu membawa sekendi air untuk kedua orang tuanya yang sedang menunggu. Dasarata memenuhi permohonan Srawana lalu menelusuri jejak Srawana sampai di sebuah asrama. Di sana ia melihat dua orang tua yang buta sedang cemas menunggu kedatangan puteranya. Dengan memberanikan diri, Dasarata memberikan air minum kepada mereka berdua. Karena Srawana tidak kunjung tiba, kedua orang tuanya menanyakan keadaan putera mereka kepada Dasarata. Lalu Dasarata menceritakan musibah yang telah menimpa Srawana dengan sejujurnya.

Setelah Dasarata menceritakan kejadian yang sebenarnya, ia memohon pengampunan dan menunggu hukuman di hadapan orang tua Srawana. Namun, kedua orang tua tersebut membisu sambil mencucurkan air mata karena mendengar musibah yang menimpa puteranya, terbayang bagaimana Srawana menggendong mereka dengan cara memikul keduanya kemana-mana menggunakan pikulan, karena keduanya buta. Srawana adalah anak yang berbhakti dan tak pernah mengeluh merawat mereka berdua. Sekarang Srawana telah mati.

Mendengar kisah Srawana, menitik airmata Dasarata karena dia telah membunuh anak yang begitu mulia. Akhirnya Dasarata menyelenggarakan perabuan jenasah Srawana secara agung untuk menghormati anak berbhakti itu, kedua orang tua Srawana menyatakan ingin ikut menerjunkan diri ke api pembakaran. Mereka hendak turut serta menyusul putera mereka ke surga. Sebelum mereka menenggelamkan diri ke dalam api pembakaran, mereka mengutuk Dasarata bahwa pada masa kejayaannya kelak, ia akan meninggal dalam kesedihan karena berpisah dengan putera yang paling diharapkannya dan paling dicintainya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya