Sekantong Tepung
KISUTA.com - Ketika dinobatkan dan diangkat sebagai raja setelah perang Kurusetra, Yudhistira melakukan upacara "aswamedha yajna". Seperti adat kebiasaan upacara kurban agung, semua pangeran dari negara-negara tetangga diundang dan upacara yajna itu diselenggarakan dengan megah. Para brahmana dan para papa yang datang dalam jumlah sangat besar dari seluruh penjuru negeri mendapatkan hadiah yang berlimpah. Semuanya dilaksanakan dengan mewah dan selaras dengan adat kebiasaan yang berlaku.
Entah dari mana tiba-tiba muncul seekor musang di tengah-tengah tamu terhormat dan para pendeta di pavilyun istana. Setelah berguling-guling di tanah, musang itu tertawa seperti manusia yang tertawa melecehkan. Para pendeta menjadi khawatir karena peristiwa yang aneh dan tidak biasa ini. Mereka berpikir musang itu adalah penjelmaan ruh jahat yang ingi mengotori dan mengganggu upacara suci.
Salah satu sisi tubuh musang itu berbulu emas berkilau. Binatang ajaib itu melihat ke sekeliling dan menatap para tamu serta pendeta yang datang dari berbagai penjuru dan berkumpul di pavilyun itu. Katanya:
"Para pangeran dan pendeta yang terhormat. Mohon dengarkan aku. Tidak perlu diragukan kalian semua pasti yakin bahwa upacara yajna ini sukses besar. Dulu, seorang brahmana miskin yang tinggal di padang Kurusetra memberikan sekantong tepung jagung. Upacara korban kuda dan semua persembahan hadiah yang kalian berikan sama sekali bukan imbangan persembahan brahmana miskin yang tinggal di padang Kurusetra itu. Tampaknya kalian terlalu terpukau pada upacara korban kalian sendiri, jangan mengira upacara korban kalian sudah berjalan sebagaimana mestinya."
Para tamu terhenyak dengan kata-kata musang aneh dan tidak pantas itu. Brahmana yang memimpin upacara mendekati musang dan berkata:
"Dari mana asalmu dan mengapa engkau datang ke upacara yajna yang diselenggarakan oleh orang-orang yang berbudi luhur dan bermartabat? Siapakah dirimu? Mengapa engkau mencela upacara korban kami? Upacara korban ini telah diselenggarakan dengan setiap rincian sesuai dengan petumjuk yang tertulis dalam kitab-kitab sastra. Tidak semestinya engkau mencela upacara agung kami. Semua orang yang menghadiri upacara ini telah dilayani dengan baik dan beroleh penghormatan dan hadiah yang sepantasnya. Semua orang puas dengan apa yang mereka peroleh dan pulang ke rumah dengan hati puas. Mantra-mantra doa telah dinyanyikan dengan sempurna dan upacara korban sudah dilangsungkan. Keempat kasta semuanya puas. Mengapa engkau bicara seperti itu? Coba jelaskan kepada kami!"
Musang itu tertawa lagi dan katanya: “Brahmana, apa yang kukatakan benar adanya. Aku tidak merasa iri pada kesejahteraan Raja Yudhistira atau kalian semua. Bukan iri hati yang membuatku bicara seperti ini. Upacara yajna yang baru saja kalian selenggarakan menurutku tidaklah seagung pengorbanan yang dilakukan brahmana miskin yang aku lihat. Dan i9mbalan yang ia, istri, anak, dan menantunya peroleh adalah langsung diangkat ke surga. Dengarkan ceritaku. Aku benar-benar menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
“Jauh sebelum kalian menjadikan padaang Kurusetra medan perang, hiduplah seorang brahmana. Ia hidup dari mengumpulkan sisa-sisa panen yang tertinggal di tegalan. Keempat orang itu hidup dengan cara tersebut. Setiap sore, mereka duduk berempat dan menikmati makanan yang mereka peroleh selama sehari itu. Ketika tidak mendapatkan sisa panen, mereka akan berpuasa sampai sore hari yang kemudian. Mereka tidak pernah menyimpan apa yang mereka peroleh untuk hari berikutnya. Mereka menjalani disiplin unchawritti yang ketat.
“Demikianlah mereka menjalani hidup mereka. Suatu ketika musim kering datang dan kelaparan melanda seluruh penjuru negeri. Tidak ada lagi orang yang mengolah tanah dan oleh karena itu tidak ada yang membajak sawah atau panen. Pendeknya tidak ada lagi sisa panen di tegalan. Selama beberapa hari keluarga brahmana itu kelaparan. Suatu hari, setelah berkelana ke sana ke mari menahan lapar, mereka berhasil mendapatkan sekantong tepung jagung. Seperti biasanya mereka duduk bersama-sama dan berdoa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Setelah itu mereka membagi apa yang mereka peroleh secara adil. Kemudian mereka duduk bersiap untuk menuntaskan rasa lapar. Persis pada saat itu, seorang brahmana masuk. Tampaknya ia sangat kelaparan. Melihat ada tamu, mereka segera bangkit berdiri dan menerimanya dengan baik. Mereka mengajaknya untuk ikut makan. Keluarga brahmana yang berhati murni itu sangat bahagia kedatangan tamu seorang brahmana. Bagi mereka ini adalah keberuntungan.
Kata sang brahmana: “Brahmana yang terhormat, aku hanyalah keluarga miskin. Tepung jagung ini kami peroleh sesuai dengan jalan dharma. Mohon pemberian ini diterima. Semoga engkau diberkati.” Katanya sambil mengulurkan jatah makannya. Tamu itu langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap. Tapi ia masih tampak kelaparan.
“Melihat tamunya masih kelihatan lapar, brahmana itu sangat sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika istrinya berkata: ‘Tuanku, berikan juga jatahku. Aku akan gembira jika tamu kita bisa merasa kenyang.’ Setlah berkata demikian, ia berikan bagiannnya kepada suaminya supaya diberikan kepada sang tamu.
Katanya: ‘Istriku yang setia, burung-burung, dan semua binatang merawat istrinya dengan penuh perhatian.Apakah manusia nisa bertindak lebih buruk? Aku tidak menerima usulmu. Hukuman macam apakah yang akan kuperoleh di kehidupan yang akan datang jika aku membiarkan kau kelaparan. Engkau telah membantu dan meayaniku untuk menjalankan tugas suci kehidupan rumah tangga. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita seperti itu dan berharap berbuat kebajikan demi memberi makan seorang tamu. Tidak, aku tidak bisa menerima usulanmu.’
Jawab istrinya: ‘Brahmana suamiku, engkau terpelajar dalam kitab-kirab sastra. Bukankah dharma, artha, dan semua kegiatan manusia semuanya sama bagi kita berdua yang telah menjalani hidup bersama? Lihatlah padaku dengan pandangan kasih dan berikan bagianku kepada tamu kita. Biarlah aku lapar seperti halnya engkau. Aku mohon jangan tolak pemberian ini.’
“Akhirnya brahmana itu mengalah. Ia terima bagian istrinya dan ia berikan kepada sang tamu. Tamu itu langsung menyikat habis makanan yang diberikan. Tapi ia masih tetap lapar! Brahmana miskin itu sangat sedih. Melihat kesedihan ayahnya, sang anak mendekat dan katanya: ‘Ini bagianku. Berikan kepada tamu kita yang tampaknya masih kelaparan. Aku akan gembira jika kita bisa menunaikan kewajiban kita.’
“Sang ayah bertambah sedih. ‘Anakku, orang tua masih bisa menahan lapar. Rasa lapat yang dialami anak muda jauh lebih tidak tertahankan. Hatiku sulit menerima pemberianmu itu.’
“Sang anak bersikeras memberikan bagiannya: ‘Seorang anak wajib merawat orang yuanya yang beranjak tua. Anak tidak berbeda dengan orang tuanya. Bukankah dikatakan bahwa orang tua terlahir kembali dalam diri anak. Aku mohon ayah mau menerima pemberian ini dan berikan kepada tamu kita yang lapar.’
“Anakku terkasih, kau sungguh berbudi mulia dan kemampuanmu menanggung derita membuatku bangga. Terberkatilah engkau. Baiklah, aku terima pemberianmu!’ kata sang ayah itu. Ia segera berikan nbagian anaknya itu kepada sang tamu. Sang tamu segera menuntaskan makanan itu. Ia masih saja kelaparan! Brahmana yang hidup dari mengumpulkan sisa panen yang tercecer itu, kebingungan.
“Sementara ia kebingungan, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, menantu perempuannya mendekatinya dan berkata.
‘Ayah, aku akan berikan bagianku juga. Mohon diterima untuk melengkapi kewajiban kita memberiakn makan pada tamu. Aku mohon ayang berkenan menerima dan memberkati aku, putrimu, supaya aku mendapat ganjaran yang lebih abadi.’
“Ayah yang brahmana itu sedih tidak terkira. Katanya: ‘Oh, anakku yang berhati mulia, meskipun wajahmu sudah pucat dan badanmu kurus seperti ini, engkau masih saja mau memberikan bagianmu kepadaku supaya aku bisa berbuat kebajikan pada tamu kita. Jika aku terima pemberianmu, aku akan berbuat kejam. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu gemetar kelaparan?’
Sang menantu tidak mau mengindahkan. ‘Ayah, engkau adalah tuan dari tuanku, guru dari guruku, dewa dari dewaku. Aku mohon ayah berkenan menerima makanan ini. Bukankah seluruh badanku telah kupersembahkan untuk mengabdi pada tuanku? Ayah harus membantuku untuk berbuat kebajikan. Ambillah makanan ini, aku mohon.’
“Setelah didesak-desak, akhirnya brahmana itu mau menerima bagian menantu perempuannya. Katanya: ‘Anakku yang setia, semoga engkau mendapatkan ganjaran yang setimpal.’
“Sang tamu menerima bagian terakhir itu dengan suka hati. Ia segera habiskan makanan itu dan ia kenyang!
“Terberkatilah kebaikan hati kalian, yang kalian berikan dengan niat murni dan dengan segenap kemampuan kalian. Pengorbanan kalian sungguh membuatku senang. Lihatlah di sana! Para dewa menurunkan hujan bunga untuk memberikan pujian pada pengorbanan kalian yang luar biasa. Lihatlah! Para dewa dan gandarwa turun ke bumi dengan kereta-kereta kencana bersama para pelayan untuk menjemput kalian ke surga. Pengorbananmu mendapat ganjarabn surga bagi kalian dan leluhur kalian. Rasa lapar menghancurkan akal sehat manusia. Rasa lapar bisa membuat manusia meninggalkan jalan kebenaran. Lapar bisa membuat orang berpikiran jahat. Bahkan orang yang saleh sekalipun, karena rasa lapar, bisa kehilangan ketabahan hati.
“Tapi engkau, bahkan ketika lapar mendera, masih bisa meninggalkan keterikatan pada istri dan anak dan tetap memilih jalan dharma. Upacara Rajasuya dan upacara kurban kuda yang dilaksanakan dengan megah akan tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kalian lakukan. Lihatlah, kereta kuda sudah menantikan kalian. Naiklah dan berangkatlah ke sura.’ Setelah berkata demikian, tamu misterius itu menghilang.”
Setelah menceritakan kisah brahmana Kurusetra yang hidup dari mengumpulkan sisa-sisa panen yang tercecer, musang itu melanjutkan:
“Waktu itu aku berada di tempat mereka. Aku bisa mencium aroma tepung mereka. Aroma itu membuat kepalaku berubah menjadi emas. Kemudian, aku pergi mendekat dan berguling-guling dengan gembira di atas tepung yang berserakan. Hasilnya adalah separuh badanku berubah menjadi emas yang berkilauan. Aku berguling dengan sisi badan yang lain tapi tepung itu sudah habis. Akibatnya sisi badanku yang satu masih tetap sama seperti sebelumnya. Karena ingin membuat seluruh tubuhku berubah menjadi emas, aku pergi ke setiap orang yang melakukan upacara yajna atau tapa brata. Aku mendengar bahwa Yudhistira yang masyhur menyelenggarakan upacara yajna. Karena itulah aku datang ke mari. Aku yakin upacara ini akan seagung yang aku bayangkan. Tapi ternyata, tidak seperti yang aku bayangkan. Maka aku katakan bahwa upacara kurban kuda ini tidak seagung pengorbanan diri keluarga brahmana itu untuk tamu mereka.” Setelah berkata demikian, musang itu menghilang.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


