Cupu Manik Astagina
KISUTA.com - Fajar merekah, wangi aroma bunga kemuning di tepi sungai Yamuna, berbaur dengan sejuknya udara yang melingkupi pagi indah itu.
Di pertapaan Grastina tinggal seorang pertapa sakti, brahmana linuwih Resi Gotama. Ia putra tunggal Resi Dewasana, putra sulung Bathara Dewanggana cucu buyut Bathara Surya. Resi Gotama bersaudara sepupu dengan Prabu Heriya, raja negara Maespati yang merupakan kakek Prabu Arjunasasrabahu, dan Resi Wisanggeni dari pertapaan Ardi Sekar yang merupakan kakek dari Bambang Sumantri dan Ramaparasu (Ramabargawa).
Resi Gotama, adalah seorang suami yang tulus bagi Dewi Indradi bidadari Maniloka yang diturunkan ke Marcapada karena prilaku tak patutnya berhubungan gelap dengan Batara Surya, hingga menghasilkan Anjani, hubungan dengan Batara Bayu menghasilkan Guwarsi, dan hubungan dengan Batara Indra menghasilkan Guwarsa. Resi Gotama bersedia menerima Dewi Indradi dengan segala nodanya, untuk menutup aib eyang-eyangnya para dewa di Jonggringsaloka, berusaha mencintai Indradi dan menuntunnya memasuki masa pertobatan agar kelak layak kembali ke surga sebagai bidadari yang sudah bertobat. Gotama adalah seorang ayah yang pantas bagi Anjani, Guwarsi dan Guwarsa. Cinta kasihnya kepada anak-anak itu adalah kasih sayang seorang ayah yang bijak membina mereka seperti pada anak-anak kandungnya sendiri. Sehingga anak-anak itu tumbuh hanya mengenal Gotama sebagai ayahnya.
Walau sebenarnya ketiga anak tersebut bukanlah anak anak kandungnya. Namun itu tidak mengurangi sedikit pun kecintaan Gotama terhadap ketiga “anaknya”.
Dewi Indradi merupakan seorang bidadari yang sangat cantik keturunan Batara Asmara. Dewi Indradi memiliki pusaka Cupu Manik Astagina pemberian Batara Surya kepada Dewi Indradi sebagai bentuk cintanya, dan masih terus disimpan oleh Dewi Indradi. Pusaka Cupu Manik Astagina sendiri adalah sebuah pusaka yang dapat melihat segala keindahan dan kebahagiaan yang akan dirasakan oleh pemiliknya ketika menggunakannya. Pusaka Cupu Manik Astagina sebenarnya bukanlah pusaka yang baik untuk disimpan, karena “seakan-akan” memberikan keindahan dan kebahagiaan namun sebenarnya itu hanya sebuah keindahan dan kebahagiaan yang semu, bahkan akan mengambil tumbal kebahagiaan dari orang terdekat pemiliknya. Dewi Indradi menyimpan Cupu Manik Astagina ini sebagai rahasia pribadinya. Dia sangat berhati-hati menggunakan cupu itu agar tidak ketahuan suaminya. Bagaimanapun juga cupu itu membawa kisah masa lalunya yang kelam.
Pagi itu, dengan sembunyi-sembunyi Dewi Indradi memainkan Pusaka Cupu Manik Astagina nya (lagi). Tanpa sadar, di belakang punggung Dewi Indradi, putrinya Dewi Anjani memperhatikan ibunya sedang asyik menikmati “permainannya” meminjam Cupu Manik Astagina. Dewi Indradi terkejut, tetapi tidak bisa menolak permintaan putri yang sangat disayanginya. Diserahkannya cupu itu sambil berpesan : "Anjani...berjanjilah pada ibu sayang...dan pegang baik-baik janjimu untuk keselamatan kita berdua. Engkau boleh bermain dengan cupu ini...karena sesungguhnya cupu ini adalah pemberian ayah kandungmu Batara Surya...tapi bersembunyilah engkau di tempat yang benar-benar tersembunyi. Jangan sampai ada yang melihat...terutama jangan sampai ayahmu Resi Gotama tahu, kalau ibu masih menyimpan benda pusaka ini...Ooo, Anjani...berjanjilah engkau anakku sayang...nasib kita tergantung pada kemampuanmu menyembunyikan rahasia ini."
Anjani menganggukkan kepalanya dan segera berlari mencari tempat persembunyian begitu menerima cupu manik astagina dari ibunya. Kelakuan Anjani yang berlari-lari kecil dengan pandangan mata menyiratkan kekhawatiran ketahuan orang, justru memancing perhatian adik-adiknya Guwarsi dan Guwarsa. Diam-diam kedua jejaka tampan itu membuntuti kakaknya. Anjani berlari naik turun lembah di lereng bukit dengan ilmu berlari bagai mengendarai angin, gesit dan lincah..salah satu ilmu kanuragan yang dipelajarinya dari Resi Gotama. Sesampainya di tepi telaga, terhalang semak-semak Anjani duduk di atas batu dan mulai membuka cupu manik astagina. Roman wajah Anjani saat bermain-main cupu manik astagina berubah-ubah, dari wajah terpana, takjub hingga ceria berbinar-binar, hal ini membuat Guwarsi dan Guwarsa yang mengintip dari balik semak-semak tidak tahan untuk keluar dan ingin ikut melihat apa isi cupu itu. Anjani terkejut, ingat janjinya pada sang Ibu, secara refleks cupu itu segera disembunyikan di balik kembennya. Keributan pun terjadi ketika ketiga saudara itu memperebutkan cupu.
Keributan tersebut sampailah ke telinga Resi Gotama. Saat tahu bahwa masalahnya adalah rebutan cupu manik astagina, marahlah resi Gotama. Kemarahan Resi Gotama merupakan akumulasi atas kesalahan Dewi Indradi yang sama sekali tidak dirubahnya. Bersama ketiga anaknya, segera ditemuinya Dewi Indradi, dengan menggenggam cupu manik astagina yang berhasil diambilnya dari Anjani.
Gotama: Indradi istriku,..darimana engkau dapatkan cupu ini? Aku tahu cupu ini milik Batara Surya...apakah engkau masih berhubungan dengan Batara Surya?
(Dewi Indradi tercekat...matanya memandang tajam Dewi Anjani yang mulai terisak ketakutan, menundukkan kepalanya)
Gotama: Indradi, engkau tahu aku bersedia membasuh segala kotoran yang tersandang di tubuhmu, jika engkau mau membersihkan diri dan meninggalkan masa lalumu. Tapi lihatlah ini, apa maknanya...yen sira ora duwe wirang, tumindaka sakgelemmu dewe ..Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu... Apa memang sudah buta hatiku hingga aku tidak melihat bahwa istriku, sungguh tidak tahu diri dan tidak punya rasa malu?
(Suara Resi Gotama mulai meninggi, rasa sakit hati mulai menggerogotinya. Ia tak mengerti bagaimana istrinya masih menyimpan rahasia sisa-2 penyelewengannya dengan Batara Surya yang jelas akan mengancam keutuhan keluarganya..Matanya nanar menatap tajam Indradi yang diam membisu)
Gotama: Indradi...engkau adalah seorang bidadari, kehadiranmu menjadi istriku adalah proses menjalani pertobatan, dan aku ikhlas membimbingmu, jika engkau juga ikhlas menjalani. Tapi lihatlah...engkau belum ikhlas melepaskan angan-angan kotormu.. cupu ini hanya perlambang...tetapi dari cupu ini, aku bisa merasakan betapa engkau tidak tulus memahami arti pertobatan Indradi.
(Dewi Indradi tetap diam membisu)
Gotama: Hhhmmm...engkau diam saja istriku ?...jika diam itu terjadi karena perwujudan rasa malumu pada diriku dan jagad seisinya...maka itu akan baik adanya setelah engkau sikapi dengan pengakuan atas kesalahanmu dan tindakan nyata yang menunjukkan penyesalanmu...
(Gotama menunggu reaksi Indradi atas pancingannya agar Indradi mau mengaku bersalah dan menyatakan penyesalan...tetapi Indradi tetap diam membisu...)
Gotama: Baiklah Indradi...cukup sudah...Rasa malu itu datang dari Hyang Widi Wasa, jika rasa malu yang merupakan sifat bawaan dicabut dari diri seseorang, maka dia tidak akan memiliki penghalang yang dapat meredamnya dari perbuatan jelek dan akhlaq yang tercela. Engkau terus diam membisu seakan bertahan terhadap aib yang coba engkau kubur sendiri...Engkau Diam Seperti Tugu Batu Indradi!!!
Bentakan penuh kemurkaan dari seorang Resi sesakti Gotama, adalah kutukan bagi Indradi...Petir menggelegak, angin bertiup kencang menerbangkan ranting dan dedaunan, Dewi Indradi yang cantik tiba-tiba berubah menjadi Tugu Batu.
Pecahlah tangis Anjani melihat hal ini, rasa bersalah terus meremas-remas jantungnya, Guwarsi dan Guwarsa, memeluk tugu batu itu sambil merintih memanggil-manggil ibu mereka...
Resi Gotama bersabda pada anak-anaknya: "Anak-anakku..inilah buah dari sebuah pengkhianatan...tidak ada laku serong yang bisa disembunyikan selamanya. Ibumu masih ada, tetapi dia harus menanggung akibat dari perbuatannya...kelak cucunya akan membebaskannya dari derita, ketika tugu batu ini di pakai menghancurkan kepala yaksa dalam peperangan kebajikan melawan kebathilan..disaat itulah ibumu akan kembali menjadi bidadari dan kembali ke kahyangan."
Sekali lagi Resi Gotama menarik nafas panjang, sebagai upaya meredakan kemarahannya. Dalam kemurkaannya Pusaka Cupu Manik Astagina dilemparnya jauh sekali dan juga Tugu Dewi Indradi dibuangnya hingga tanah Alengka. Kemarahan Resi Gotama telah mengakhiri segala cerita cinta romantismenya dengan Dewi Indradi yang telah dijalaninya.
Untuk keadilan Resi Gotama membuang Cupumanik Astagina ke udara untuk diperebutkan ketiga putranya. Cupu jatuh di hutan pecah menjadi dua buah telaga bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala. Dewi Anjani, Guwarsi dan Guwarsa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera.
Dewi Anjani hanya berubah sebatas muka dan tangannya, karena tidak menyelam kedalam telaga. Guwarsi dan Guwarsa berubah seluruh tubuhnya karena menyelam untuk memperebutkan cupu itu. Mereka berlari menangis sujud dihadapan Resi Gotama, menyesali apa yang sudah terjadi.
"Anak-anakku, inilah buah ketidak rukunan kalian, yang memperebutkan barang sampai melupakan kerukunan saudara, seperti tingkah laku kera yang senang berebut...Oooo ngger, betapa kalian sudah melupakan semua ajaran Bapa. Guwarsi, dengan wujudmu yang seperti kera, mulai sekarang engkau akan dipanggil sebagai Subali, dan engkau Guwarsa, namamu sekarang adalah Sugriwa."
Ketiga anak itu terus tertunduk dalam duka...Resi Gotama melanjutkan sabdanya.
"Agar kalian bisa menemukan kebahagiaan kalian sebagai penebusan dosa-dosa kalian...anakku ngger Anjani engkau harus bertapa nyantika (seperti katak) di telaga Madirda, engkau ngger Subali lakukanlah tapa ngalong (seperti kelelawar) dan engkau Sugriwa lakukan tapa ngidang (seperti kijang) di hutan Sunyapringga."
Ketiga anak itu menganggukkan kepala sebagai isyarat patuh pada sabda sang Bapa..Resi Gotama membekali mereka dengan nasehat: "Anjani..dengan laku tapamu nanti, engkau akan menemukan jodohmu dan memiliki anak darinya...peganglah nasehat Bapa..Tumraping wanita utama, anak kang dadi wohing among asih, mula putra wayah wulangen marang kautaman, predinen susileng tata, supaya gawe pepadhaning kaluwarga...bagi wanita utama, anak itu buah cinta, didiklah anak cucu dengan budi pekerti, akhlak, moral agar menjadi kebanggaan keluarga. Subali...Sedulur iku apik kabeh darba panjangka amrih rahayu, mapan sira nampa sing kosok wangsule Sing dawa ususe. Sing sapa lali marang kabecikaning liyan, iku kaya kewan...persaudaraan itu seharusnya baik semua untuk kesejahteraan, jika engkau menemukan kebalikannya...yang sabar..siapa yang melupakan kebaikan orang lain...itu seperti hewan...Sugriwa,...Ojo leren lamun durung sayah, Ojo mangan lamun durung luwe, Ojo lali karo asale, Jagat ora mung sagodhong kelor, kareben nggremet waton slamet...Jangan istirahat saat belum lelah, jangan makan saat belum lapar, jangan lupa asal usulmu..Dunia ini luas, hati-hatilah biar lambat asal selamat." Setelah menerima nasehat dari Resi Gotama, yang menyiratkan masa depan mereka masing-masing, ketiga anak itu segera berpisah untuk bertapa, menjalani penebusan dosa, sebagaimana nasehat Resi Gotama.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


