Yudhistira Menjadi Raja
KISUTA.com - Manusia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang diinginikan. Ia baru puas jika yang diinginkan sudah di tangan. Setelah itu, ia akan menjadi budak keinginan yang baru dan kedukaan yang baru. Ia kembali mengalami kegelisahan.
Meskipun berperang dan membunuh musuh adalah dharma kesatria, kebahagiaan macam apakah yang bisa didapatkan dari kekuasaan, posisi, dan kesejahteraan yang diperoleh dari membunuh dan kesedihan para saudara dan kerabat dekat? Inilah yang dikatakan Arjuna kepada Krishna sebelum perang pecah. Ketika itu, Krishna menjawab dengan menjelaskan tindakan-tindakan manusia dan cara-cara yang mesti digunakan untuk menunaikan tugas manusia. Tapi, apa yang dirasakan Arjuna dan katakan memiliki nilai kebenaran dan memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat jika dilihat lebih dalam.
Para Pandawa berhasil mengalahkan Kurawa dan menjadi penguasa yang tidak terbantahkan. Mereka menjalankan kewajiban dan tugas mereka sesuai dengan ajaran dharma. Tapi mereka tidak bisa menemukan kebahagiaan yang mereka bayangkan dalam kemenangan mereka.
Tanya Raja Janamejaya: "Setelah putra-putra Pandu menang dan mendapatkan kembali kerajaan mereka, bagaimana mereka memperlakukan Destarata?"
Dan Waisampayana, yang menceritakan kisah Mahabharata kepada raja bercerita:
Destarata yang tenggelam dalam samudera kedukaan diperlakukan dengan penuh hormat oleh para Pandawa. Mereka berusaha membuat raja tua itu bahagia. Mereka berusaha untuk tidak mempermalukan Destarata. Hanyan dengan persetujuan Destarata, Yudhistira mengeluarkan perintah. Gandari yang kehilangan keseratus putranya selalu diperlakukan dengan cinta dan pengabdian seorang saudari oleh Dewi Kunti. Drupadi memperlakukan mereka dengan adil.
Yudhistira menghiasi istana Destarata dengan kursi, ranjang, dan dekorasi yang sangat indah. Ia juga melengkapi istana itu dengan semua hal yang dianggap perlu. Setiap hari, ia kirimkan makanan yang lezat-lezat. Mahaguru Kripa tinggal bersama Destarata untuk menemaninya. Begawan Wiyasa sering menghiburnya dengan kisah-kisah zaman dulu.
Dalam mengurusi urusan kerajaan, Yudhistira selalu minta nasihat kepada Destarata. Ia memperlakukan Destarata dengan cara yang sedemikian rupa sehingga orang tua itu merasa bahwa dialah penguasa tertinggi kerajaan. Dalam berbiacara pun, Yudhistira sangat berhati-hati. Ia tidak mau melukai hati raja tua yang sedang berduka itu. Para tamu yang datang pun menghormati raja tua itu sebagai penguasa tertinggi Hastinapura. Para pelayan istana juga tidak pernah membiarkan Dewi Gandari larut dalam kesedihan.
Yudhistira mewanti-wanti saudaranya supaya tidak berbuat atau berkata-kata yang mungkin melukai hati Destarata dan Dewi Gandari sedih. Semua mematuhi harapan sang kakak, kecuali Bimasena. Destarata sendiri menunjukkan rasa cintanya kepada para Pandawa. Ia sama sekali tidak memperlihatkan sikap buruk bahkan ketika mendapatkan perlakuan yang buruk.
Para Pandawa bersikap sangat baik kepada paman dan bibi tua mereka itu. Namun demikian, setelah beberapa lama Bima kadang-kadang mulai bersikap kasar. Kadang-kadang ia tidak sabar dan menentang perintah sang paman. Kadang ia sampai hati mengatakan: “Para sepupu yang jahat itu memilih sendiri jalan kehancuran mereka.” Tampaknya Bima tidak bisa memaafkan Duryudana, Karna, atau Dursasana.
Gandari amat sedih ketika melihat kata-kata Bima menusuk hati Destarata. Namun demikian, Gandari adalah wanita agung yang berbudi luhur. Setiap kali ia terluka oleh kata-kata Bima, ia akan menemui Kunti dan menemukan kedamaian bersama Kunti. Kunti memang merupakan perwujudan dharma dan wanita yang sangat sabar. Mereka menjalani hidup seperti ini selama lima belas tahun.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


