Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Anjani Menjadi Bidadari

Senin, 17 Agustus 2015

KISUTA.com - Embun di pucuk-pucuk dedaunan telaga Madirda berkilat-kilat tertimpa sinar mentari, indah sekali mengeluarkan bias sinar panca warna. Burung-burung bernyanyi merdu, katak dan jengkerik bersahut-sahutan seakan backing vocal yang menyempurnakan symphony alam.

Dewi Anjani yang sedang melaksanakan tapa nyantika, bertapa serupa katak, khusuk merendam tubuhnya di tengah telaga. Mulutnya sejajar dengan air telaga, sedikit terbuka untuk menangkap makanan apa saja yang hanyut di telaga tersebut. Anjani begitu khusuk menjalani tapanya, perasaan sesal rasa berdosa merasa menjadi penyebab musibah keluarganya, perubahan wujudnya dari wanita jelita menjadi wanita berwajah kera, menjadikan Anjani sadar, laku yang dijalaninya adalah satu-satunya jalan menuju penebusan seluruh dosa-dosanya. Bukankah air yang mengalir, bersama doa-doanya ini bisa membersihkan aib yang tersandang ? kadang-kadang airmata Anjani menitik mengalir lembut ke pipinya...duhai betapa beratnya azab yang harus ditanggung...ibunya melakukan pengkhianatan cinta, dengan terus memelihara rasa terlarangnya, membawanya ketengah-tengah perkawinan suci...dan sekarang, ibu dan anak-2nya menerima azab yang begitu besar...sungguh tak sebanding dengan kebahagiaan yang sebelumnya direguknya sempurna, dalam rangkulan kasih sayang seorang Bapa seperti Resi Gotama. Anjani terisak, sungguh besar pertaruhan untuk pengkhianatan cinta.

Sambil bertapa, doa tulusnya mengalir "Duh Dewata Agung, jika engkau terima pertobatanku, siapapun yang akan menjadi jodohku...kesetiaanku pada cintanya, akan aku bawa ke lubang kubur. Anjani tidak akan pernah berpaling. Cukuplah berhenti pada Batari Indradi, kelemahan batin wanita. Anjani akan menutup diri dari satu cinta guru laki, dan seperti pesan Bapa Gotama, Anjani akan menjadi wanita utama, yang sanggup mendidik dan menjadikan anakku sebagai ksatria pilih tanding, ujung tombak kebenaran."

Doa dan kekhusukan Anjani ini, membiaskan sinar kemilau dari ubun-ubunnya tembus ke Jonggringsaloka.

Di Kahyangan Jonggring Saloka Batara Guru melihat cahaya sebesar lidi aren yang memancar kelangit, hawa yang dibawa cahaya itu begitu dingin menusuk, Batara Guru segera terbang mengikuti asal cahaya itu sampai ke telaga Madirda. Ternyata pancaran cahaya itu berasal dari Dewi Anjani yang sedang bertapa . Batara Guru iba hatinya melihat Dewi Anjani jarang sekali mendapatkan makanan yang masuk dalam mulutnya. Batara Guru memetik daun sinom atau daun asam yang masih muda, dan melemparkan kedepan mulut Dewi Anjani. Melihat ada makanan dihadapannya, Dewi Anjani segera melahapnya. Apa yang terjadi. Dengan kesaktian Batara Guru Dewi Anjani menjadi berbadan dua, wajah dan tangannya yang berwujud kera kembali menjadi seorang dewi yang cantik jelita.

Batara Guru membangunkan Dewi Anjani dari bertapanya.

Batara Guru: Nini Dewi Anjani, bangunlah...cukup sudah tapamu....aku sudah tahu semua niat luhurmu...bangkitlah Nini, dan dengarkan sabdaku.

Dewi Anjani: Jagad Dewa Batara, Duh Pukulun,...Kok paduka sendiri yang turun ke Marcapada membangunkan hamba...sungguh karunia luarbiasa yang Anjani terima.

Batara Guru: Ya Nini...kamu layak menerima seluruh karunia itu. Ketulusan hatimu, tekadmu berkorban untuk bebrayan agung...kesadaranmu akan dosa-dosamu dan dosa ibumu...sampai niatmu yang luhur untuk menjadi wanita utama...membuatmu layak mengandung janin dari benihku...

Dewi Anjani: Aaah....apa maksud paduka pukulan ?...paduka Hyang Girinata, penguasa Tribuana...hamba baru sekali ini bertemu paduka...bagaimana mungkin hamba mengandung putra paduka...

Batara Guru: Kesucian niatmu Anjani...menjadikanmu layak menjadi bidadari Jonggringsaloka bersama Batari Uma mendampingi aku. Untuk kemuliaan mengandung putraku...engkau tidak perlu berhubungan layaknya manusia lumrah denganku...daun sinom yang tadi engkau makan bersama aliran air telaga, telah membawa sebagian dari sukma sejatiku...dan saat ini, sukma sejatiku sedang bekerja di dalam rahimmu...segala kerak-kerak noda dan dosamu, akan terbawa bersama kelahiran putraku dan putramu, yang kelak akan kera putih. Jika kelak tiba masanya putramu lahir, berilah nama Anoman.

Batara Guru memanggil beberapa bidadari untuk memberi pakaian dan merias wajah Dewi Anjani, setelah didandani oleh para bidadari, terlihatlah kecantikan Dewi Anjani yang mendekati sempurna. Kemudian Batara Guru memerintahkan para bidadari untuk membawa Dewi Anjani ke kahyangan.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya