Destarata
KISUTA.com - Setelah lima belas tahun hidup di bawah lindungan Yudhistira, akhirnya Destarata tidak sanggup lagi menahan beban kedukaan hatinya. Setelah berulang kali terluka oleh sikap dan kata-kata Bima, ia tidak sanggup lagi menerima kebaikan hati dan kenyamanan yang diberikan oleh Raja Yudhistira. Tanpa sepengetahuan para Pandawa, diam-diam ia berpuasa dan menjalani mati raga yang berat. Gandari juga melakukan banyak puasa dan mati raga yang berat. Dan suatu hari, Destarata menghadap Yudhistira dan berkata:
"Anakku, terberkatilah engkau. Lima belas tahun sudah aku hidup di bawah lindunganmu. Engkau selalu melayani kami dengan penuh cinta. Aku telah melakukan doa persembahan dan korban untuk para leluhur. Dalam hal ini, aku telah lakukan semua yang aku inginkan. Gandari yang dirundung duka mengabaikan kedukaannya sendiri dan terus merawatku selama setahun ini. Putra-putraku memang jahat, mereka telah melakukan dosa yang tidak terampuni pada Drupadi dan merampas apa yang menjadi warisan sahmu. Tetapi mereka telah bertarung dengan gagah berani dan gugur di medan perang. Mereka telah berada di surga para pemberani. Sekarang tiba saatnya aku dan Gandari melakukan dharma kami yang selanjutnya. Engkau tahu apa yang dikatakan dalam kitab-kitab sastra. Sekarang, aku harus pergi ke hutan. Pakaian ini harus digantikan dengan kulit pohon dan pakaian usang yang lebih sesuai untuk kehidupan wanaprastha. Aku ingin bertapa di hutan dan berdoa untuk kebaikanmu. Aku mohon engkau mengizinkan aku pergi. Biarkan aku mengikuti tradisi para pendahulu kita. Sebagai raja, engkau akan memetik buah-buah tapa brataku."
Yudhistira amat terkejut ketika melihat dan mendengar Destarata berkata seperti itu. Katanya: "Sungguh aku tidak tahu paman dan bibi telah menyiksa diri dengan berpuasa dan tidur di tanah. Aku tidak tahu engkau menjalani mati raga seperti itu. Saudara-saudarku pun tidak tahu. Aku kira selama ini engkau dilayani dengan baik dan bahagia. Paman, engkau dirundung kedukaan dalam yang tidak terlipurkan. Aku tidak bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi raja atau semua kesenangan yang ada. Aku adalah pendosa besar. Ambisi dan keserakahan telah menyeretku menjadi raja di atas kematian saudara-saudaraku sendiri.
"Paman, biarlah Yuyutsu, anakmu, yang menjadi raja atau orang lain yang kau kehendaki. Atau jika engkau berkenan, engkau sendirilah yang menjadi raja dan memimpin kerajaan. Aku saja yang pergi ke hutan. Biarlah kututup lembar hidupku yang berlumur dosa. Aku mohon hindarkan aku dari cercaan dan rasa malu yang semakin menyakitkan hati. Aku bukan raja. Pamanlah yang sebenarnya menjadi raja. Jika Paman meminta izinku untuk pergi ke hutan, bagaimana mungkin aku bisa memberikan izin padamu. Biarlah aku katakan bahwa aku sudah melupakan sama sekali kebencian pada Duryudana. Kebencian itu telah ditelan waktu. Takdirlah yang memilih dan menelan kita ke dalam kekacauan pikiran hingga semuanya terjadi di luar kendali kita.
"Kami adalah anak-anakmu, seperti halnya Duryudana dan adik-adiknya. Dewi Gandari dan Dewi Kunti adalah ibu-ibuku yang sama-sama aku kasihi dan hormati. Jika engkau pergi ke hutan, aku harus ikut pergi bersamamu dan melayanimu. Jika engkau mengundurkan diri ke hutan dan meninggalkan aku di sini, kebahagiaan macam apakah yang bisa aku peroleh di kerajaan ini? Aku sujud di hadapanmu untuk mohon ampun atas semua kesalahanku. Melayanimu akan memberikan kebahagiaan bagiku. Berikan kesempatan itu padaku. Jangan tinggalkan aku."
Destarata terharu. Tapi katanya: "Putra terkasih Kunti, hatiku sudah bulat untuk pergi ke hutan dan bertapa di sana. Hanya di sanalah aku bisa menemukan kedamaian. Aku telah hidup di bawah lindunganmu selama bertahun-tahun. Engkau dan orang-orangmu telah melayaniku dengan sangat baik. Engkau harus mengizinkanku pergi."
Setelah berkata demikian kepada Yudhistira yang mengatupkan tangan dan gemetar karena gejolak hati, Destarata menoleh kepada Widura dan Mahaguru Kripa.
"Aku mohon kalian menghibur Paduka Raja dan menasihatinya supaya mengizinkanku pergi. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa bicara lagi. Mulutku kering. Mungkin, aku memang sudah terlalu tua. Aku bicara terlalu banyak. Aku lelah." Setelah berkata demikian, ia menyandarkan diri pada Dewi Gandari dan jatuh pingsan.
Yudhistira tidak tahan lagi melihat kedukaan yang dialami orang tua itu. Ia tahu pamannya memiliki otot sekuat gajah dan bisa meremukan patung besi menjadi berkeping-keping. Betapa rapuhnya ia sekarang. Badannya kurus kering hingga tulang-tulang tampak menonjol. Ia terbaring tidak sadarkan diri di pangkuan Dewi Gandari.
Kata Yudhistira pada dirinya: "Apakah aku yang menjadikan paman sedemikian menderita seperti ini? Aku sungguh manusia yang tidak berguna. Aku telah mengabaikan dharma dan kehilangan akal sehat. Betapa bodohnya aku!"
Ia perciki wajah Destarata dengan air dan mengusap dengan tangannya yang lembut. Ketika orang tua itu membuka mata, ia bawa tangan Yudhistira ke dadanya dan membisikkan ke telinga: "Anakku terkasih, sentuhan tanganmu begitu lembut! Aku bahagia."
Ketika itu, Begawan Wiyasa masuk. Setelah diberi tahu apa yang terjadi, ia bekata kepada Yudhistira: "Biarlah Destarata, sesepuh keluarga Kuru, mendapatkan apa yang ia inginkan. Biarlah ia pergi ke hutan. Ia sudah tua. Anak-anaknya telah pergi mendahuluinya. Jangan menahannya untuk tetap tinggal di sini menanggung duka derita. Gandari yang telah diberkati dengan pencerahan hati, telah menanggung duka deritanya dengan berani. Jangan halangi keinginan mereka. Jangan biarkan Destarata menderita dan mati di sini. Biarlah ia pergi dan tinggal bersama segarnya tanaman bunga yang menebar harum madu dan keharuman bunga. Biarlah meninggalkan dunia ramai. Dharma seorang raja adalah mati di medan perang atau menghabiskan hari-hari terakhir mereka di hutan.
"Destarata telah memimpin kerajaan dan melaksanakan upacara yajna. Ketika kalian menjalani tiga belas tahun masa pengasingan, ia telah menikmati kebahagiaan memimpin kerajaan yang seluas bumi melalui anaknya. Tidak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini. Sekarang, tiba saatnya untuk dia menjalani tapa brata. Lepaskan kepergiannya dengan hati rela agar ia bisa pergi dengan hati ringan."
Ucap Yudhistira: "Baiklah, jika demikian."
Kemudian, Begawan Wiyasa kembali ke pertapaannya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


