Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Crah Subali Sugriwa

Rabu, 19 Agustus 2015

KISUTA.com - Batara Guru melanjutkan perjalanan ke hutan Sunyapringga menemui Subali yang sedang bertapa ngalong di sebuah pohon besar. Subali dibangunkan dan diajak menemui Sugriwa. Mereka akhirnya bertemu dengan Sugriwa. Batara Guru menitahkan kepada Subali dan Sugriwa untuk menyelamatkan Dewi Tara yang diculik Prabu Maesasura dan Lembusura. Dan jika berhasil, akan diberi hadiah Dewi Tara untuk diperistri. Setelah memberikan pesan-pesan Batara Guru kembali ke kahyangan.

Subali dan Sugriwa segera menuju ke Goa Kiskenda. Sesampainya di Goa Kiskenda mereka dihadang pasukan siluman Goa Kiskenda, melalui pertempuran sengit akhirnya mereka dapat mengalahkan para pasukan Goa Kiskenda.

Subali: Yayi Sugriwa...masuk ke dalam Goa yang mulutnya sempit ini hanya cukup untuk satu orang saja. Sebaiknya biarlah pun kakang yang masuk untuk melawan Maesasura dan Lembusura. Mereka itu sakti sekali, satu mati dilompati oleh yang satunya akan hidup kembali. Karena itu, biarlah aku yang menghadapi mereka.

Sugriwa: Baiklah jika itu keputusan kanda. Adinda akan menjaga di mulut Goa...tetapi bagaimana dinda tahu kanda berhasil memenangkan pertarungan dan menewaskan mereka? Maaf kanda...bagaimana kalau mereka yang menang?

Subali: Sugriwa adikku...engkau tahu, darah kakakmu ini adalah darah putih...Lihatlah darah yang mengalir ke pintu gua...jika darah merah yang mengalir...itu berarti kematian mereka. Tunggu aku di pintu Gua. Tetapi, jika darah putih yang mengalir segeralah tutup pintu dengan batu besar itu, karena kalau aku saja tewas, tentu engkau juga tidak akan kuat melawan mereka. Kanda akan bebaskan dulu Dewi Tara, jaga dia di luar pintu gua, sampai pertarunganku selesai. Ingat-ingat pesanku Sugriwa...Mengalir darah merah, tunggu aku...Mengalir Darah Putih, Tutup pintu gua dan engkau boleh memperistri Dewi Tara yang sudah aku amankan.

Sugriwa menganggukkan kepalanya tanda memahami pesan kakaknya. Subali berhasil membebaskan Dewi Tara. Demi keselamatan Dewi Tara, Subali memberi tugas pada Sugriwa untuk menjaganya di luar pintu gua terlebih dahulu sementara Subali akan menghadapi Maesasura dan Lembusura.

Mendengar kegaduhan yang terjadi Prabu Maesasura dan Lembu Sura keluar dari istana. Mereka mendapati Dewi Tara sudah hilang dan hanya ada seorang manusia kera yang ada di hadapannya, ya Subali. Kontan meledaklah amarah Maesasura dan Lembusura. Tanpa basa-basi mereka langsung mengeroyok Subali. Kali ini lawan Subali sangat tangguh, berkali-kali Prabu Maesasura tewas, kemudian dilompati Lembusura, Prabu Maesasura hidup kembali demikian pula sebaliknya.

Subali adalah ksatria berdarah putih di samping Resi Bagaspati (mertua Prabu Salya) dan Puntadewa, yang sejak lahir membawa kesucian hati, kejujuran dan kebersihan sikap. Kesaktiannya pilih tanding, kecerdasannya luarbiasa. Melihat kesaktian Lembusura dan Maesasura yang selalu bisa bangkit dari kematian jika salah satu terbunuh, Subali tahu, untuk meraih kemenangan dia harus membunuh mereka bersamaan.

Pada suatu kesempatan, Subali membiarkan dirinya tertendang Maesasura hingga tubuhnya menggelosor berada di tengah-tengah keduanya (Maesasura dan Lembusura). Dengan sisa tenaga yang ada Subali segera merangkul mereka berdua, dan dengan kecepatan kilat membenturkan kedua kepala musuhnya sehingga hancur berkeping-keping. Darah dan otak prabu Maesasura dan Lembusura mengalir ke sepanjang goa.

Sugriwa yang waktu itu termangu menunggu kakaknya terkejut melihat darah merah dan darah putih mengalir bersama sama ke pintu goa. Sugriwa menangisi kematian kakaknya. Sugriwa berpikir bahwa kakaknya, Subali tewas, setelah berhasil mengalahkan Maesasura dan Lembusura, terbukti ada darah merah yang mengalir bersama darah putih kakaknya.

Sesuai pesan kakaknya Sugriwa menutup pintu goa dengan batu-batuan. Sugriwa pergi ke kahyangan untuk menyerahkan Dewi Tara dan melaporkan kejadian yang telah terjadi di Goa Kiskenda.

Di kahyangan, Sugriwa diterima Batara Guru. Menurut Batara Guru, Batara Guru akan menganugerahkan Dewi Tara kepada Sugriwa untuk menjadi istrinya. Dengan berat hati Sugriwa menerimanya, karena ia merasa yang lebih berhak adalah Subali. Sugriwa bersama Dewi Tara kemudian meninggalkan kahyangan menuju goa Kiskenda.

Sementara itu Subali terjebak dalam goa. Subali marah karena adiknya berbuat curang padanya. Subali lupa dengan pesan pesan yang diberikan pada adiknya. Subali bersemadi mohon pertolongan dewa untuk membuka pintu goa. Dengan kekuatan penuh Subali menghantam batu-batuan hingga hancur berkeping-keping.

Subali berangkat ke kahyangan menemui Batara Guru. Subali melaporkan semua kejadian pada Batara Guru. Batara Guru tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Dewi Tara sudah telanjur diberikan kepada Sugriwa, karena Subali dianggap sudah tewas. Namun Batara Guru tidak akan melupakan jasa Subali. Diberikannya kepada Subali aji Pancasona yang mempunyai kekuatan hebat. Aji Pancasona menjadikan pemiliknya menjadi sakti dan tidak mati apabila tubuhnya menyentuh tanah.

Sementara itu Sugriwa dan Dewi Tara telah bersemayam di lereng Goa Kiskenda, membangun padepokan yang asri. Tidak lama kemudian Subali datang, melihat adiknya sedang bersanding dengan Dewi Tara, Subali langsung menarik Sugriwa dan memukulnya.

Ditariknya tubuh Sugriwa sehingga keluar dari pertapaan. Perkelahian terjadi antara kedua kakak beradik. Keduanya tidak ada yang mau mengalah sehingga perkelahian mereka berlangsung sampai beberapa hari beberapa malam. Subali sangat geram. Tubuh Sugriwa akhirnya dilempar jauh keluar wilayah Goa Kiskenda. Sugriwa jatuh terjepit di sebuah pohon raksasa di hutan Pancawati.

Dari kejadian ini, sebenarnya Subali yang temperamental sudah khilaf tidak mengingat-ingat pesan Resi Gotama, untuk selalu ingat dengan kerukunan Saudara.

"Ora ana critane wong kejungkel amarga kesandhung watu gedhe. Sing mesti merga kesandhung watu cilik. Umpama tatu ya saka krikil sing lancip-lancip. Bab mau aweh pituduh supaya kita ora nyepelekake marang barang sing katone sepele amarga sing katone ora mingsra mau bisa dadi jalarane wong kejungkel tiba ing papa."

Artinya: Tidak ada ceritanya orang terjatuh gara-gara tersandung batu besar, pasti karena batu kecil. Andaikan luka pun akibat kerikil yang tajam. Hal tersebut memberi petunjuk supaya kita tidak menyepelekan barang yang kelihatannya sepele karena yang kelihatan tidak seberapa itu bisa mengakibatkan kita sengsara.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya