Kematian Ketiga Sesepuh Keluarga
KISUTA.com - Akhirnya Yudhistira melepaskan kepergian Destarata ke hutan. Kemudian, Destarata dan Gandari Kembali ke istana mereka dan menyelesaikan puasa mereka. Kunti duduk bersama Gandari dan mereka makan bersama. Destarata meminta Yudhistira untuk menemaninya makan. Kemudian, ia memberikan berkat terakhirnya. Lalu, orang tua itu berdiri dan beranjak pergi. Ia sandarkan tangannya di pundak Gandari. Pelan-pelan mereka berjalan beriringan ke luar kota dan menuju hutan. Gandari, yang karena tuan dan suaminya buta bersumopah tidak akan lagi melihat dunia menyandarkan tangannya di pundak Kunti. Mereka berjalan pelan-pelan, beriringan.
Dalam hati, Kunti sudah memutuskan untuk pergi ke hutan bersama Gandari. Sambil berjalan, ia berkata kepada Yudhistira: "Anakku, jangan pernah memperlihatkan amarah ketika berbicara dengan Sadewa. Kenanglah Karna yang gugur di medan perang dengan penuh cinta. Ia juga putraku. Aku memang telah berdosa tidak mengatakan kebenaran ini kepadamu. Jagalah Drupadi dengan cinta dan perhatian yang tidak pernah luntur. Jangan pernah buat Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa bersedih. Ingat pesanku ini baik-baik. Sekarang beban keluarga sepenuhnya ada di pundakmu."
Sampai pada waktu itu, Dharmaputra yakin bahwa Dewi Kunti menemani Dewi Gandari hanya untuk mengucapkan selamat jalan. Ketika mendengar ibunya berkata seperti itu, Yudhistira terkejut dan selama beberapa saat tidak bisa berkata apa-apa. Setelah pulih dari keterkejutannya, ia berkata: "Ibu, jangan! Engkau memberikan restu sebelum kami berangkat ke medan perang. Sebaiknya Ibu tidak meninggalkan kami dan pergi ke hutan."
Namun demikian, permohonan Yudhistira tidak ada gunanya. Kunti tetap bersikeras dengan niatnya.
"Aku harus mengikuti tuan dan suamiku ke mana pun ia pergi. Aku akan bersama Dewi Gandari dan menjalani hidup di hutan. Tidak lama lagi aku akan menyusul ayahmu. Kembalilah dan tenangkan hatimu. Kembalilah ke kota. Semoga engkau tetap berada di jalan dharma." Demikianlah Kunti memberkati putranya dan pamit.
Yudhistira hanya bisa diam tak bisa berkata apa-apa. Kunti melanjutkan perjalanan. Berulang kali ia menoleh ke belakang untuk melihat putra-putranya. Ketiga sesepuh keluargha itu berkjalan beriringan dengan tangan bersandar pada satu sama lain. Sang pengarang Mahabharata menggambarkan kepergian mereka dengan sangat hidup hingga para pembaca bisa merasakan terenyuh di hati.
Destarata, Gandari, dan Kunti hidup di hutan selama tiga tahun. Sanjaya juga ikut bersama mereka. Suatu hari, setelah Destarata menyelesaikan sembahyangnya dan kembali ke pertapaan, api melalap hutan itu. Angin berhembus kencang dan api menari-nari berkobar ke mana-mana. Rusa dan babi hutan berlarian ke sana ke mari menyelamatkan diri. Mereka berlarian ke telaga untuk mendinginkan diri.
Kata Destarata kepada Sanjaya: "Api akan melalap habis semuanya. Sebaiknya engkau selamatkan dirimu sendiri." Setelah berkata demikian, raja tua yang buta itu bersama Gandari yang matanya tertutup selendang dan Kunti duduk. Mereka menghadap ke arah timur dengan posisi yoga. Dengan tenang mereka membiarkan diri ditelan kobaran api.
Sanjaya, yang selama ini menjadi mata bagi raja buta itu dan penasihat kesayangan, menghabiskan sisa hidupnya di Himalaya sebagai sanyasin.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


