Anoman Lahir
KISUTA.com - Keheningan yang mencekam di Kahyangan Jonggring Saloka, senandung tembang mengalir runtut dari mulut merdu para bidadari. Dewi Anjani yang kandungannya makin membesar, sedang mengerang kesakitan...para bidadari yang diminta Hyang Girinata membantu Dewi Anjani, terus berusaha menghibur sang Dewi yang hendak melahirkan. Saat Fajar merekah pecahlah tangis sang jabang bayi memecah keheningan Jonggring Saloka. Sang bayi berwujud wanara seta (kera putih) yang sehat dan kuat suara tangisnya. Oleh Hyang Girinata sang ayah, bayi itu diberi nama Anoman, atau Anjani Putra.
Suatu hari saat Batara Guru sedang memangku bayi Anoman, Batara Narada menertawakan nya. Segera Batara Guru menghampirinya, dan menempelkan sehelai daun nila di punggung Narada, dan seketika itu juga di punggung Batara Narada menggelendot seekor bayi kera berwarna biru nila. Batara Narada berteriak-teriak geli karena Bayi kera itu mulai meremas-remas punggungnya.
Batara Narada: Aduuuh tobat Adi Guru, bagaimana ini...tolong lepaskan bayi kera ini...ampun Adi Guru...ampuni pun Kakang telah menertawakan putramu...tapi...tolonglah lepaskan kera usil ini...hiiiyy...geli aku...dia kelitikin tengkukku..duh...tobat...
Hyang Girinata: Kakang Kaneka Putra...itulah jadinya, orang yang suka usil menertawakan orang lain...ketika diusilin, barulah dia tahu bagaimana rasanya....Kera itu belum akan lepas dari punggungmu, sebelum kakang akui dia sebagai putra kakang, dan kakang beri nama dia...
Batara Narada: Weee ladalah, jadi ikut-ikutan punya anak kera pun kakang ini...baiklah..ngger monyet lucu, kamu putraku yang ngganteng sendiri, turunlah dari punggung pun rama...mulai sekarang namamu Anila ya ngger...
Melihat adegan itu. Para dewa yang hadir tertawa semua. Karena merasa ditertawakan, Batara Guru lalu memerintahkan para dewa untuk menciptakan seekor kera dan mengakui sebagai anak mereka masing-masing. Akhirnya ratusan dewa itu menciptakan anak pujan berwujud kera, beberapa diantaranya adalah Kapi Sempati pujaan Batara Indra, Kapi Anggeni pujaan Batara Brahma, Kapi Menda dari Batara Bayu, Kapi Baliwisata dari Batara Surya, dan Kapi Anala pujaan Batara Yamadipati...dan masih ada banyak lagi anak-anak pujan para Dewa ini yang dijadikan teman bermain Anoman.
Batara Guru menyerahkan pengasuhan dan pendidikan olah kanuragan Anoman pada Batara Bayu. Saking sayangnya Batara Bayu pada Anoman, sampai Anoman pun mendapat julukan Marutaputra.
Suatu ketika Anoman mempertanyakan asal-usulnya pada pengasuh ibunya sejak kecil yang bernama Kapisraba, mengapa dirinya berujud wanara, juga mengapa dirinya yang bukan dewata tinggal di Jonggringsaloka/Kahyangan. Kapisraba pun lalu mengisahkan riwayat kakeknya Resi Gotama yang beristrikan Bidadari Dewi Indradi, juga kisah Cupu Manik Astagina yang kemudian menjadi rebutan Anjani dan dua adiknya, Subali & Sugriwa, yang mengakibatkan ketiganya berubah wujud menjadi wanara/ kera.
Setelah mendengarkan cerita Kapisraba, Anoman berpendapat, yang paling bersalah dalam rangkaian kasus ini adalah Batara Surya. Bermula dari hubungan terlarangnya dengan Dewi Indradi sampai dengan pemberian hadiah cupu yang mengakibatkan permasalahan dengan Resi Gotama suami Neneknya, berikut anak-anaknya. Anoman merasa amat prihatin membayangkan penderitaan dewi Indradi yang dikutuk suaminya menjadi tugu batu dan dibuang ke perbatasan Alengka.
Segera setelah cerita Kapisraba usai dengan sigap Anoman lalu mencari Batara Surya, Ia ingin meminta pertanggungjawaban Batara Surya berupa sekadar permintaan maaf atas kasus itu, serta menuntut pengembalian jasad eyang putrinya, Indradi, dari tugu batu kembali menjadi manusia.
Anoman: Eyang Pukulun Batara Surya...tunggu dulu Eyang...
Batara Surya: Lho..lho...salah kaprah iki..kenapa kau panggil aku eyang? Engkau putra sang Girinata...berarti masih adikku...sebaiknya engkau panggil aku kakang...
Anoman: Huuuhhh...Kakang? Sudahlah jangan kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu... Ibu Dewi Anjani itu putri Eyang Batari Indradi dari siapa? Kenapa masih sembunyi-sembunyi.. dasar dewa pengecut!!!
Batara Surya:Eee...anak kecil, jangan kurang ajar kamu...urusan orang dewasa tahu apa kamu...
Anoman: Urusan orang dewasa? Huh, kamu yang kegatelen...orang dewasa itu bisa bertanggung jawab terhadap setiap kelakuannya....bukan main umpet umpetan seperti kamu....sekarang akibat kegatalanmu, eyang putriku jadi tugu batu. Paman-pamanku jadi monyet...akupun terlahir sebagai wanara seta membawa azab ibuku...bertobatlah kamu...mintalah maaf pada Resi Gotama secara jantan dan perwira...jangan diam-diam seperti tengu...
Batara Surya: Eee, kok malah makin menjadi-jadi...Anoman, diam kamu...jangan gara-gara menjadi anak kesayangan Rama Pukulun kamu terus jumawa...Aku ini Batara Surya...dewanya Matahari...jangan sembarangan mulutmu nyerocos degsura seperti itu...
Anoman: Hhmm...sungguh cilaka Eyang putriku...terkena rayuan gombalmu, ibaratnya Ngandel Tali Gedebog...Percaya pada orang yang tidak meyakinkan sepertimu... Bukannya melindungi orang yang katanya kamu cintai, engkau malah merusak masa depannya...huh Dewa Matahari apa...kalau perlu, Matahari juga bisa aku telan...
Perdebatan berlanjut dengan pertarungan antara keduanya. Batara Surya cukup kewalahan menghadapi Anoman yang memang memiliki kesaktian luar biasa ini.
Ketika akhirnya Batara Surya berlindung dalam terangnya matahari kekuasaannya untuk tidak memperpanjang peseteruannya dengan Anoman, sang wanara putih ini justru mengerahkan segala ajiannya dan menghimpun seluruh awan, mega dan mendung sejagat raya untuk membungkus matahari.
Akibatnya, seluruh alam menjadi gelap gulita. Seisi kahyangan kaget, segenap mayapada panik. Siang hari sama sekali tidak ada sinar matahari, malam hari bulanpun menghilang karena tidak adanya pantulan cahaya matahari. Yang tersisa hanyalah ribuan kedipan bintang yang membisu.
Gegerlah para dewa, bujukan Batara Narada dan para dewa lainnya tidak bisa meluluhkan hati Anoman untuk menghentikan perbuatannya. Akhirnya Batara Guru meminta Anjani, ibunda sang Anoman, untuk membujuk putera terkasihnya itu. Dengan tutur kata lemah lembut, sang ibu membuka mata hati Anoman terhadap banyak hal.
Anjani: Anakku ngger Anoman...sareh disik Kaki...mengapa kau biarkan nafsu amarah menyesakkan nafasmu anakku sayang...
Anoman: Kanjeng Ibu...saya sudah menemukan biang keladi semua penderitaan keluarga kita. Si Pengecut ini, enak-enak saja diam seakan-akan tidak berbuat apa-apa. Sementara eyang putri, Ibu dan para paman mendapatkan azab yang seberat itu.
Anjani: Ooo ngger anakku..perhatianmu pada Ibu, eyang dan paman-pamanmu sungguh luar biasa...itu menunjukkan kepedulianmu. Tetapi Nak, kisah perselingkuhan eyang putrimu dewi Indradi dengan Batara Surya yang tentu bukan kesalahan satu pihak saja. ...semua saling terkait Anoman...mana mungkin tanganmu bisa mengeluarkan suara saat ditepukkan kalau hanya sebelah yang bergerak, dan sebelah lagi menghindar...
Anoman: Ibu...kanjeng Ibu sangat sabar dan halus budi...lihatlah Batara Surya...kemana tanggung jawab dan rasa perwiranya.... sedih saya membawa darahnya dalam tubuh saya...
Anjani: Jagad dewat batara...anakku ngger Anoman...jangan begitu...apapun juga tetap harus diakui Batara Surya adalah sudarmaku...berarti eyangmu juga..Tetapi jangan khawatir anakku... Ajining manungsa iku kapurba ing pakartine dhewe, ora kagawa saka keturunan, kepinteran lan kasugihane. Nanging gumantung saka enggone nanjakake kapinteran lan kasugihane, sarta matrapake wewatekane kanggo keperluan bebrayan. Kabeh mau yen mung katanjakake kanggo keperluwane dhewe, tanpa paedah... Nilai seorang manusia ditentukan oleh perbuatannya sendiri, tidak dibawa melalui keturunan, kepandaian dan kekayaannya. Tetapi bergantung bagaimana dia menerapkan kepandaian, kekayaan dan wataknya dalam bermasyarakat. Semua itu kalau hanya diarahkan untuk kepentingan sendiri tentu tidak akan bermanfaat.
Akhirnya, Anoman luluh hatinya dan bersedia memaafkan Batara Surya. Anoman kemudian minta maaf kepada para dewata lainnya atas perbuatannya yang menurutkan hawa nafsu semata itu. Dengan kesaktiannya, awan hitam yang bergulung-gulung membungkus matahari bergerak kembali ketempat asalnya di seluruh penjuru jagat raya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


