Ujian Terakhir Yudhistira
KISUTA.com - Kabar kematian Krishna dan kehancuran bangsa Yadawa sampai ke Hastinapura. Ketika para Pandawa mendengar kabar itu, mereka semua kehilangan keterikatan pada hidup di dunia. Mereka menobatkan Parikesit, putra Abimanyu, sebagai raja dan kelima Pandawa meninggalkan kota bersama Drupadi, Mereka memutuskan untuk pergi berziarah, mengunjungi tempat-tempat suci, dan akhirnya tiba di pegunungan Himalaya. Seekor anjing mengikuti dan menemani mereka dengan setia sepanjang perjalanan. Mereka bertujuh mendaki gunung itu dalam perjalanan ziarah yang terakhir. Dengan susah payah mereka mendaki. Satu per satu jatuh kelelahan dan mati.
Yang pertama mati adalah yang paling muda. Drupadi, Sadewa dan Nakula satu per satu tumbang. Kemudian diikuti Arjuna dan kemudian Bima yang perkasa. Yudhistira hanya bisa menyaksikan orang-orang terkasihnya tumbang satu per satu. Dengan hati tenang, dia melanjutkan perjalanan. Dia tidak membiarkan dirinya terbawa kedukaan atas meninggalnya keempat saudaranya. Di hadapannya, Kebenaran bersinat terang menyinari jalannya. Yudhistira tahu mana yang hanya bayangan dan mana yang hakiki. Anjing itu terus mengikuti Yudhistira.
Pelajaran yang mau diangkat oleh pengarang dalam episode anjing ini adalah bahwa dharma adalah satu-satunya hal yang selalu menemani dalam perjalanan hidup orang. Dharmalah, dalam wujud anjing, yang selalu mendampingi Yudhistira menjalani perjalanan yang melelahkan dan membosankan mendaki gunung itu. Sementara itu, saudaranya dan Drupadi telah meninggalkannya sendiri.
Akhirnya, ketika Yudhistira sudah sampai pada ketinggian tertentu, Batara Indra menampakkan diri dengan kereta kudanya.
Kata Batara Indra: "Saudara-saudaramu dan Drupadi telah sampai. Mereka mendahuluimu. Engkau tertinggal di belakang karena terbebani oleh ragamu. Naiklah ke keretaku dan mari kita pergi bersama ragamu. Aku ke sini untuk menjemputmu." Tapi, ketika Yudhistira naik ke atas kereta, abjingnya juga turut serta.
Kata Batara Indra: "Tidak, tidak. Tidak ada tempat untuk anjing di surga." Katanya sambil mengusir anjing itu.
Kata Yudhistira: "Jika demikian, tidak ada tempat bagiku juga." Ia menolak untuk naik kereta yang akan membawanyan ke surga jika sahabatnya yang setia tidak diperkenankan ikut serta.
Dharma mencoba menguji kesetiaan Yudhistira dan dia sangat senang dengan sikap putranya. Anjing itu pun segera lenyap dari pandangan.
Yudhistira sampai di surga. Di sana, dia melihat Duryudana. Pangeran keluarga Kuru itu duduk di singgasana yang sangat indah. Dia tampak gilang gemilang seperti matahari dan dikelilingi para dewi dan malaikat. Yudhistira sama sekali tidak melihat saudara-saudara Duryudana yang lain. Tentu saja dia jadi terkejut dengan pemandangan di hadapannya.
Tanya Yudhistira: "Wahai para penghuni surga, di manakah saudara-saudaraku? Manusia yang penuh angkara dan tumpul pandangannya ada di sini. Aku tak mau tinggal di sini bersamanya. Karena kedengkian hatinya, kami membunuh para sahabat dan kerabat. Kami hanya bisa berdiri tak berbuat apa-apa karena dharma ketika melihat Panchali yang tidak berdosa dan adalah istri kami berlima diseret ke tengah sidang pertemuan dan dipermalukan atas perintah manusia jahat ini. Aku tidak sanggup menyaksikan manusia jahat ini. Katakan kepadaku di manakah saudara-saudaraku? Aku ingin pergi ke tempat mereka berada." etelah berkata demikian, Yudhistira memalingkan muka dari tempat Duryudana duduk dalam kemuliaan.
Kemudian, Narada, Batara yang tahu segala, tersenyum mengisyaratkan ketidaksetujuan pada sikap Yudhistira. Katanya:
"Putra raja yang termasyhur, apa yang kau katakan tidak benar. Di surga, Tidak ada lagi kehendak jahat. Jangan bicara jelek tentang Duryudana. Kesatria yang gagah berani itu beroleh keadaannya yang sekarang karena kekuatan dharma kesatria. Sebaiknya engkau melepaskan pertimbangan daging dan jangan bersikap buruk seperti itu. Ikutilah aturan yang berlaku dan tinggallah di sini bersama Raja Duryudana. Tidak ada tempat bagi kebencian di surga. Engkau sampai di tempat ini bersama raga manusiamu; karena itu engkau masih membawa serta perasaan manusiamu. Buang itu semua jauh-jauh, Anakku!"
Jawab Yudhistira: “Oh Batara yang kuhormati, Duryudana adalah manusia yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Dia adalah pendosa besar yang menyebabkan penderitaan orang-orang yang berbudi baik. Dia membiarkan diri dikuasai api permusuhan dan amarah. Dia yang telah membnunuh sekian banyak orang justru telah mencapai surga untuk para kesatria. Di surga bagian manakah tempat saudara-saudaraku yang gagah berani dan Drupadi berada? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka dan Karna, juga para pangeran dan sahabat yang telah mempertaruhkan nyawa dalam perang untukku. Aku tidak melihat mereka semua di tempat ini.
“Aku ingin bertemu dengan Wirata, Drupada, Dristaketu, dan Srikandi, putra raja Panchala. Di manakah mereka, yang melemparkan diri ke bara api perang untukku, seperti korban persembahan. Aku tidak melihat salah satu dari mereka di sini. Di mana mereka semua? Aku semestinya berada bersama mereka.
“Di penghujung perang, Ibunda Kunti memintaku untuk melakukan upacara persembahan untuk Karna kuga. Ketika memikirkan hal ini, bahkan sekarang, rasa sedih masih menyayat hatiku. Karena tidak tahu bahwa dia adalah saudaraku sendiri, aku membuatnya terbunuh di medan perang. Aku ingin bertemu dengannya, Bima saudara terkasih, Arjuna yang sudah seperti Batara Indra sendiri, si kembar Nakula dan Sadewa dan istri terkasih kami Panchali yang teguh dalam dharma. Aku ingin tinggal bersama mereka kembali. Aku tidak mau tinggal di surga ini. Tidak ada gunanya aku tinggal di sini, jauh dari saudara-saudaraku. Surgaku adalah bersama mereka dan bukan di tempat ini.”
Malaikat yang mendengar kata-kata Yudhistira menjawab: “Yudhistira, jika memang ingin tinggal bersama mereka, engkau boleh pergi ke tempat mereka sekarang juga. Jangan ditunda-tunda lagi.” Setelah berkata demikian, dia perintahkan pelayan untuk mengantarkan Yudhistira.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


