Darma Rama
KISUTA.com - Prabu Dasarata menikmati pertumbuhan putra-putranya dengan penuh kebahagiaan di Ayodyapala. Di bawah bimbingan Brahmana Resi Wiswamitra yang sakti, Rama dan adik-adiknya memperlihatkan kemajuan yang pesat dalam olah kanuragan. Kesaktian Rama Wijaya sebagai titisan Wisnu, tentu saja paling menonjol di antara saudara-saudaranya. Karena itulah Begawan Wismamitra sangat mengasihinya.
Laksmana putra Dewi Sumitra sangat lengket dengan Rama, sementara Satrugna saudara kembarnya justru lebih akrab dengan Baratha putra Kekayi. Tetapi ke empat saudara itu cukup rukun, dan semuanya menghormati Rama yang menonjol kepemimpinannya dibanding saudara-saudaranya.
Suatu hari ketika mereka berada di tengah hutan. Wiswamitra mengajari mantra keramat serta penggunaan senjata ilahi bernama Dewastra kepada Rama dan Laksmana. Setelah pelajaran itu usai, Begawan Wismamitra menceritakan pada Rama bahwa saat ini kediaman para resi di sekitar hutan Dandaka diteror para raksasa. Para Raksasa itu adalah Denawa pemakan daging yang sering menculik para cantrik dan penduduk sekitar pertapaan sebagai mangsa mereka.
Wiswamitra adalah Brahmana yang berambisi mencapai derajad keagungan. Oleh karena itu dia mengisi hari-harinya dengan tapa brata. Dengan keadaan seperti itu Wismamitra enggan mengutuk raksasa-raksasa tersebut karena akan menodai kemurnian tapanya. Atas permohonan para resi, Wiswamitra meminta bantuan kepada Rama. Dengan restu ayah Ibunya Rama dan Laksmana mengikuti kehendak Wismamitra. Mereka menempuh perjalanan panjang, bermalam di sebuah tempat peristirahatan dekat sungai Sarayu. Di sana Resi Wiswamitra memberi mantra keramat bernama bala dan atibala.
Saat fajar menyingsing, mereka melanjutkan perjalanan melewati Kamasrama sampai akhirnya tiba di Sungai Gangga. Dengan rakit yang sudah disiapkan para resi, mereka menyeberang. Kemudian, mereka tiba di hutan Dandaka. Di sana, Rama dan Laksmana bertemu raksasi Tataka, Laksmana bertarung melawan Raksasi ini, dengan kegesitan dan kesaktiannya Laksmana berhasil membunuhnya. Setelah membunuh raksasi tersebut, Rama dan Laksmana melanjutkan perjalanan ke Sidhasrama. Di Sidhasrama, Rama dan Laksmana bertarung dengan dedengkot para Denawa itu yaitu Malika dan Subahu. Beberapa kali Malika dan Subahu yang ahli sihir itu berusaha menggoyahkan kewaspadaan kedua ksatria itu. Tetapi dengan mantra pemberian Wismamitra semua sihir itu punah dan akhirnya mereka tewas di tangan Rama dan Laksmana.
Wismamitra: Ngger Rama dan Laksmana, tepat seperti dugaanku...akhirnya darma ini berhasil kalian tuntaskan...
Rama: Semua ini juga berkat bimbingan Bapa Begawan...dua dedengkot Denawa itu ahli sihir mereka kuat sekali ilmu hitamnya...jika Bapa Begawan belum melengkapi kami dengan mantra sakti...bukan tak mungkin kamilah yang tewas melawan mereka.
Wismamitra: Inilah yang aku sukai dari dirimu Rama...selalu rendah hati...tak pernah menyombongkan diri... Rama, dengan hasil pertolonganmu ini para Resi menyampaikan rasa terima kasih mereka melalui aku. Apakah yang engkau inginkan sebagai hadiah Rama? mereka akan berusaha memenuhinya.
Rama: Duh Bapa Begawan...mohon maaf kalau saya menolak pemberian itu...bukan karena kesombongan atau ketinggian hati. Bapa...saya menjalani tugas itu sebagai darma seorang ksatria...ikhlas dan nrimo....nrimo iku ateges, mboten pamrih...inggih namung jiwa ingkang nrimah ingkang saged ngresiki reregeding manah..sadaya titahing Allah bade dipun timbali ing masanipun, tanpa mbeto barang punapa kewala...namung kautamaning manah ingkang linambaran sumarah, gandanipun ngambar ing swarga....Ikhlas dan menerima tanpa pamrih, itu bisa membersihkan kekotoran hati....semua makhluk Allah akan mati tanpa membawa barang apapun juga...hanya kebersihan hati yang utama beralaskan pasrah karena Allah yang bau harumnya akan tercium sampai ke sorga.
Wismamitra: Jagad Dewa Batara....Oooo...Rama, sungguh engkau ksatria utama tiada banding. Baiklah Pangeran.....aku hormati pendirianmu. Tetapi karena engkau putra sulung ayahandamu, yang bisa disebut juga sebagai Putra Mahkota. Saranku Rama...sekembalinya engkau dari hutan Dandaka ini, pergilah ke negeri Mantili. Aku dengar raja Janaka disana, sedang menyelenggarakan sayembara mencari menantu, untuk putrinya yang jelita, Dewi Sinta.
Rama mengucapkan terima kasih atas arahan Wismamitra, bersama Laksmana akhirnya Rama memutuskan menuju ke negeri Mantili terlebih dahulu, sebelum kembali ke Ayodyapala.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


