Yudhistira Menjadi Dewa
KISUTA.com - Pelayan surga itu segera menujukkan jalan dan Yudhistira mengikutinya. Semakin mereka melangkah, keadaan menjadi semakin gelap dan samar-samar tampak benda-benda yang aneh dan menjijikkan. Yudhistira terus berjalanmelintasi genangan darah dan sampah. Jalan yang mereka lintasi penuh dengan daging busuk, tulang, dan rambut orang mati. Di sana-sini tampak cacing bergerak ke sana ke mari. di sana-sini tercium bau yang bacin darah. Dia melihat potongan-potongan tubuh manusia berserakan di mana-mana.
Yudhistira merasa ngeri dan kebingungan. Ribuan pikiran berlesatan di benaknya.
Akhirnya, dia bertanya kepada pelayan yang mengantarnya: "Katakan berapa jauh lagi saudara-saudaraku berada." Hatinya amat sedih.
Jawab pelayan itu: "Jika engkau mau, kita bisa kembali."
Suasana dan bau yang tidak tertahankan sungguh membuat mual hingga terpikir oleh Yudhistira untuk kembali. Persis pada saat itu, seperti ada campur tangan Ilahi, terdengar samar-samar suara-suara yang tidak asing di telinga Yudhistira. Suara-suara itu meratap.
"Oh Dharmaputra, jangan tinggalkan kami! Tinggallah di sini sebentar saja. Kehadiranmu membuat kami sedikit bernapas di sela-sela siksa ini. Kedatanganmu membawa angin segar dan keharuman yang membuat kami bisa sedikit beroleh kelegaan di sela-sela penderitaan yang amat pahit ini. Putra Kunti, kedatanganmu membuat kami merasa nyaman dan meredakan rasa sakit yang mendera kami. Tinggallah di sini, biar pun hanya sebentar saja. Jangan kembali dulu. Sementara kau berada di sini, kami bisa merasakan kelonggaran dari siksaan yang mendera." Demikian seru suara-suara itu.
Mendengar suara ratapan dari sekelilingnya, Yudhistira kebingungan. Hatinya tergerak oleh belas kasih karena ratapan yang menyayat hati. Karena mendengar suara yang –suara yang meratap, Yudhistira berseru:
“Oh Dewata, siapakah kalian yang meratap sedemikian memilukan? Mengapa kalian ada di sini?”
“Rajaku, aku adalah Karna,” kata suara yang satu.
“Aku Bima,” kata suara yang lain.
“Aku Arjuna,” kata suara yang lain lagi.
“Aku Drupadi,” kata suara keempat dengan nada sangat memilukan.
“Aku Nakula.” “Aku Sadewa.” “Kami adalah anak-anak Drupadi,” demikian terus terdengar suara yang menyayat hingga Yudhistira tidak sanggup menanggung rasa sedihnya.
Seru Yudhistira: “Dosa apakah yang mereka perbuat sehingga mereka berada di tempat seperti ini. Tindakan macam apakah yang dilakukan Duryudana sehingga dia boleh duduk dalam kemuliaan seperti Mahendra di surga, sementara mereka ada di sini? Apakah aku bermimpi? Apakah pikiranku sudah jungkir balik? Atau apakah aku sudah gila?”
Saking kecewanya, Yudhistira mengutuk para dewa dan mengingkari dharma. Dia menoleh kepada malaikat yang menemaninya dan katanya tajam: “Kembalilah kepada tuanmu. Aku akan tinggal di sini bersama saudara-saudaraku, yang karena setia kepadaku harus terdampar dan menderita siksa neraka. Biarlah aku bersama mereka.”
Pelayan itu kembali dan menyampaikan apa yang dikatakan Yudhistira kepada Batara Indra.
Demikianlah, setelah sepertiga belas hari berlalu, Batara Indra dan Batara Yama menampakkan diri di hadapan Yudhistira yang sedang diliputi kedukaan mendalam. Kedatangan mereka menyapu habis kegelapan dan pemandangan mengerikan yang menyelimuti tempat itu. Tidak ada lagi pemandanagan para pendosa dan siksaan yang harus mereka alami. Bau harum mewangi menebar ketika Batara Yama tersenyum pada putranya, Yudhistira.
“Kesatria yang bijaksana, ini adalah kali yang ketiga aku menguji keteguhan hatimu. Engkau memilih untuk tetap tinggal di neraka demi saudara-saudaramu. Sudah menjadi aturan bahwa arwah para kesatria dan raja harus tinggal di neraka selama beberapa saat. Karena alasan itulah, selama sepertiga belas hari engkau harus tinggal di neraka dan merasakan pahitnya siksa di neraka. Sebenarnya sawyasachi atau saudara terkasihmu, Bima, tidak benar-benar tinggal di neraka. Demikian pula dengan Karna, yang adil, atau siapa pun yang kau kau pikir akan mengalami siksa neraka. Semua hanyalah ilusi yang dibuat sedemikian rupa untuk mengujimu. Tempat ini bukan neraka. Ini surga. Apakah engkau tidak melihat Batara Narada yang perjalanannya meliputi ketiga dunia ada di sini? Tak usah bersedih.”
Demikianlah yang dikatakan Batara Yama kepada Yudhistira yang pada saat itu mengalami perubahan wujud. Raga Yudhistira yang tidak abadi lenyap dan Yudhistira berubah menjadi dewa. Dengan hilangnya raga manusianya, hilang pula sisa-sisa kebencian dan marah di hati Yudhistira. Kemudian, Yudhistira melihat Karna, saudara-saudaranya, dan anak-anak Destarata. Wajah mereka memperlihatkan ketentramnan dan kemurnian hati. Mereka semua telah mencapai tingkatan dewa. Bersama mereka semua, pada akhirnya Yudhistira menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.(Tamat)* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


