Indrajit Krama
KISUTA.com - Di balik bukit-bukit kecil lereng Himalaya, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kotawindu. Raja kerajaan itu adalah Wisakarma, seorang raja raksasa ahli racun yang sakti mandraguna. Permaisuri raja ini adalah seorang bidadari jelita keturunan Sanghyang Taya yang bernama Dewi Sumeru atau Dewi Mersupadmi. Saat turun ke Marcapada menjadi istri Prabu Wisakarma, sang Dewi mengajak serta adiknya bidadari jelita bernama Dewi Sumbaga.
Kerajaan Kotawindu adalah kerajaan kecil di bawah Alengkadiraja, jadi Prabu Wisakarma masih harus mengabdi dan tunduk pada kekuasaan Rahwana. Saat Rahwana tahu bahwa Wisakarma menikahi bidadari cantik, dan membawa adiknya yang juga cantik, sebenarnya Rahwana memerintahkan agar Dewi Sumbaga diserahkan untuk dijadikan koleksi selirnya.. tetapi dalam penolakan halusnya atas ke angkara murkaan Rahwana, sang Dewi merapal mantera yang membuatnya selalu tampak kurang sehat (gering) saat di tatap Rahwana, sehingga Rahwana kehilangan selera dan akhirnya mengawini Dewi Wisakti adik Prabu Wisakarma yang walaupun tidak secantik bidadari tetapi berwujud manusia (bukan yaksa) yang manis dan indah bentuk tubuhnya.
Pagi itu, Kotawindu kedatangan tamu putra Mahkota Alengkadiraja, Indrajit....tujuan Indrajit datang ke Kotawindu adalah memenuhi perintah ayahnya untuk menengok putri pasangan Prabu Wisakarma dan Dewi Sumeru yang bernama Dewi Sayempraba.
Rahwana merasa Indrajit sudah dewasa, sudah saatnya Indrajit mencari istri. Dan sebagai putra mahkota Alengkadiraja, Indrajit harus mencari istri yang seimbang dalam hal derajad dan kedudukan. Dari telik sandi Alengkadiraja...muncullah nama Dewi Sayempraba.
“Huehehehehe..nDrajit...coba kamu tengok si Sayempraba anak Wisakarma itu...kalau dia secantik ibunya...ambil sebagai istrimu...kalau kamu ngga mau...bawa saja kesini, mungkin cocok juga buat aku...huahahahaha...sebenarnya disana masih ada bidadari adik Dewi Sumeru yang bernama Dewi Sumbaga...ehmm..hueh eman...cantik-cantik tapi ringkih...badannya gering, gemeteran terus...mana asyiik diajak main asmara...huahahaha.. ya sudah terserah kamu ...tengok saja kesana...ambil salah satunya jadi istrimu”
Raden Indrajit diterima di Balai Marakata kerajaan Kotawindu, Prabu Wisakarma di dampingi Dewi Sumeru, Dewi Sumbaga dan Dewi Sayempraba, menerima kunjungan Indrajit dengan hangat. Sang Prabu sepertinya sudah dapat menebak arah kunjungan Indrajit. Karena itu dia persiapkan anak dan adik iparnya baik-baik. Saat mengintip dari balik jendela, sikap dan adeg Indrajit, Dewi Sumbaga merasakan perbedaan Indrajit dengan Rahwana ayahnya. Diam-diam Dewi Sumbaga melepaskan mantra gering yang selama ini melindunginya dari ketertarikan Rahwana.
Saat beramah tamah dengan keluarga Wisakarma, pandangan Indrajit tidak pernah lepas dari Dewi Sumbaga. Walaupun Wisakarma seakan menyodorkan anaknya, lirikan mata Indrajit selalu kembali ke Dewi Sumbaga.
Dewi Sumeru arif melihat hal ini, dengan isyarat diajaknya Prabu Wisakarma dan Dewi Sayempraba masuk meninggalkan dua sejoli itu, agar mereka punya kesempatan untuk saling menjajagi.
Indrajit: Hhmm..ehm..hhm...Sang Dewi...apakah saya boleh bertanya...
Dewi Sumbaga: Silahkan Raden, dari tadi anda deham dehem terus sejak ditinggal keluarga kakakku...mari nikmati minumannya mungkin bisa membantu...
Indrajit: eee..ehm...minuman ini masih membuat seret mulut saya karena tersedot kecantikan sang Dewi..ehm..hem..hem (dehem lagi)...saya heran mengapa bidadari-2 secantik kakak paduka dan paduka...mau turun ke marcapada, bahkan kakak paduka mau diperistri raja yaksa?
Dewi Sumbaga: Raden...kami para bidadari, memiliki tugas membantu para dewa menjaga keharmonisan Tribuana....Yaksa memang terkenal sebagai bangsa perusak, tukang membuat onar...tetapi sebagian dari para Yaksa itu ada juga yang punya ketrampilan dan punya harapan untuk menjadi lebih baik....seperti Prabu Wisakarma...beliau adalah ahli bangunan yang pandai membuat keindahan di setiap bangunan yang dibangunnya... kakakku bersedia di peristri...karena ingin menjaga keselarasan...agar kehidupan Prabu Wisakarma menjadi lebih baik.
Indrajit: Waah..hebat sekali...ehm..hem..hem..(dehem lagi)...kalau begitu..paduka belum ada yang mengku...belum ada yang melamar...apakah paduka juga harus menjaga harmonisasi dan memperbaiki apa yang ada?
Dewi Sumbaga (tersenyum): Maksudnya apa Raden? Apakah ada lagi yang harus di perbaiki?
Indrajit: Ehm..hem..hem (dehem lagi, mulai berkeringat)..Ya sang Dewi..aku Indrajit sepertinya butuh keselarasan dan butuh perbaikan itu...eh..hem..hem.. (dehem lagi).
Dewi Sumbaga: Ada 2 hal yang aku perlukan untuk memutuskan ya dan tidaknya Raden. Pertama, coba Raden rasakan apa perasaan terbaik yang bisa raden andalkan yang bisa aku buktikan bahwa itu jujur dan benar. Kedua, hal apa yang raden rasakan perlu aku perbaiki agar kehidupanmu lebih bahagia raden.
Indrajit: Wuuiiieess...haduh...yang begini ini aku ngga ahli..(Indrajit memejamkan matanya untuk memusatkan konsentrasi, dia tidak mau gagal, hatinya sudah terpikat pada Dewi Sumbaga) yang pertama..hem...aku ini anak yang sangat mencintai sudarmaku, siapapun dia, bagaimanapun dia...aku selalu berbhakti dan kalau perlu bela pati untuk menuruti apa maunya. Yang Kedua...hem yang kedua ya...hem...aku ini brangasan Sang Dewi..sering cepat marah, padahal nantinya aku bisa menyesal sendiri kalau ternyata kemarahanku itu ngga benar...nha kalau sang dewi menjadi istriku...engkau bisa meredakanku sebelum aku marah...
Dewi Sumbaga merasakan kejujuran disetiap kata dan ucapan Indrajit, akhirnya lamaran Indrajit diterima dan diselenggarakanlah pernikahan yang mewah antara Indrajit dengan Dewi Sumbaga.
Setelah Dewi Sumbaga di boyong Indrajit di Kasatriyan Bikukung wilayah Alengkadiraja, Prabu Wisakarma memutuskan membangun taman kerajaaan Kotawindu lengkap beserta istananya dengan mengambil pola Taman Indraloka, taman dan istana Bathara Indra.
Keberhasilan Wisakarma membangun taman yang indah ini, menerbitkan kesombongannya. Mulailah dia menyelenggarakan banyak jamuan dan undangan ke negara-negara tetangga memamerkan keindahan istananya ini.
"Huahahahaha...nyata benar sekarang...bagaimana Wisakarma bisa mewujudkan Kahyangan di Marcapada..heem..Yayi Mersupadmi...jelaslah sekarang betapa engkau merasa lebih nyaman tinggal di Kotabumi...huahahaha...kalau begini caranya aku bisa bikin kadewatan sendiri...hahaha"
Kesombongan dan sikap pamer Wisakarma telah membangkitkan kemarahan Bathara Indra. Panah angin dilepaskan Dewa Indra dari pintu kahyangan, menghantam dan memporak-porandakan istana Kotawindu. Prabu Wisakarma dan Dewi Sumeru tewas dalam peristiwa tersebut.
Bekas istana Kotawindu kemudian berubah menjadi Goawindu dan menjadi tempat tinggal Dewi Sayempraba yang selamat dari tragedi panah angin Bathara Indra. Rahwana mengerahkan bantuannya untuk merapikan Gua tersebut, dengan syarat Dewi Sayempraba mau menjadi salah satu selirnya. Dengan kecerdikannya Dewi Sayempraba mengiyakan permintaan Rahwana, tetapi tidak mau di boyong ke Alengkadiraja Dewi Sayempraba tetap tinggal di bekas reruntuhan istana yang kemudian dikenal dengan nama Gowawindu, yang terletak di lereng gunung Warawendya. Dengan demikian, sebutan sebagai selir Rahwana hanyalah sebagai sebutan karena jarak Rahwana menjadi jarang menyambangi Sayempraba.* Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


