Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sayembara Mantili, Rama Persunting Sinta

Minggu, 30 Agustus 2015

KISUTA.com - Kerajaan Mantili di tepi Sungai Yamuna, adalah kerajaan kecil yang indah dan berdaulat. Prabu Janaka Raja Kerajaan Mantili, memerintah kerajaan ini dengan adil dan bijaksana. Ketenangan, keamanan dan kedamaian menjadi ciri-ciri Kerajaan Mantili yang disukai negara tetangga yang berhubungan dagang dan budaya dengan kerajaan tersebut.

Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Sinta. Sebenarnya Dewi Sinta bukanlah putri kandung sang raja, di masa lalu seorang bayi jelita dihanyutkan dengan perahu kotak berbalut selimut mewah dan ketupat Shinta. Prabu Janaka menemukan bayi jelita yang terhanyut di sungai Yamuna itu, beliau menganggapnya sebagai anugrah dewa. Karena dari permaisurinya Dewi Sara, Prabu Janaka tidak memiliki anak, maka bayi tersebut diserahkan kepada Dewi Sara untuk diasuh sebagai anak, dan mereka beri nama Dewi Sinta.

Setelah memiliki putri Dewi Sinta, kebahagiaan Dewi Sara begitu sempurna, namun dia sadar bahwa sebagai seorang Raja, tentu Prabu Janaka ingin memiliki anak kandung. Sadar bahwa dirinya tidak bisa memberi keturunan, Dewi Sara menyarankan suaminya menikah lagi, dan mengambil salah seorang sepupunya sebagai istri. Dari istri kedua yang bernama Dewi Sumerta inilah Prabu Janaka memiliki putri kandung, yang menjadi adik Sinta bernama Dewi Urmila. Urmila tidak secantik Sinta, tetapi dia memiliki kecantikan yang khas, manja dan ahli melukis yang tiada banding. Urmila sangat memuja ayundanya dan selalu berada di dekat Sinta, di manapun Sinta berada, di situ selalu ada Urmila.

Kini kedua putri Prabu Janaka sudah beranjak dewasa, sudah saatnya mereka memiliki pasangan hidup yang sepadan. Prabu Janaka bingung, kecantikan Dewi Sinta sudah terkenal ke seantero negri, hingga banyaklah raja-raja dari 1000 negara yang melamar sang dewi. Akhirnya Sang Prabu memutuskan menggelar sayembara untuk mencarikan jodoh yang tepat bagi putrinya. Dewi Sinta berpesan bahwa dalam sayembara itu, dia tidak mau ditukar dengan harta atau sayembara adu kesaktian. Karena dia butuh suami yang bijaksana, adil dan mengasihi sesama.

Akhirnya didampingi ayahandanya, Dewi Sinta masuk ke sanggar pamujan, memohon petunjuk dewa, jenis sayembara apakah yang layak untuk keinginannya tersebut. Karena khusuknya semedi mereka, turunlah batara Narada membawa Gendewa pusaka atas perintah Hyang Girinata.

Narada: Ooeey...kaki Janaka, wayah Sinta...sore sore krasa sumuk, anak demit maem srabi... lihmu donga kok khusuk,...jare merga kepengin rabi...yiie..hehehe...wungu a kaki...bangunlah cucuku Sinta..ini ulun datang memenuhi harapanmu...

Janaka: Duh pukulun kanekaputra...mohon pencerahan untuk mencari jalan keluar. Sayembara seperti apa yang cocok untuk putri hamba ini?

Narada: Oooeeiii...Janaka, Sinta...lihatlah di tanganku ini ada Gendewa Sakti....ini pusaka Hyang Girinata...Gendewa inilah yang akan menemukan jodoh si Sinta...

Dewi Sinta: Bagaimana bisa begitu Pukulun...

Narada: Cucu Ulun Sinta...orang yang menjadi jodohmu itu haruslah titisan Batara Wisnu...begitulah yang sudah tersurat di kitab para dewa...hanya titisan Hyang Wisnulah yang sanggup mengangkat dan mentang gendewa sakti ini ngger.

Janaka: Pukulan...berarti Gendewa itulah yang akan menjadi sarana pemilihan jodoh putri hamba. Duuh terima kasih pukulun.

Akhirnya sayembara mencari jodoh bagi Dewi Sinta dibuka. Barang siapa yang kuat menarik gendewa raksasa tersebut tidak peduli derajat dan asalnya, walaupun ia berasal dari kaum sudra yang miskin pun akan dapat memperistri Dewi Sinta.

Di Panggung kehormatan Prabu Janaka dan putrinya Dewi Sinta didampingi Dewi Urmila menyanding gendewa pusaka.

Di situ sudah berkumpul banyak raja, satria, bupati yang ingin memasuki sayembara, juga pegawai kerajaan Mantili sendiri.

Pendopo istana yang besar itu sudah dari jauh seperti gunung emas saja yang mengeluarkan sinar indah gemerlapan oleh pakaian keemasan dari yang hadir.

Saat Rama dan Laksmana memasuki pagelaran terjadilah hiruk pikuk. Semua yang hadir memberi jalan kepada kedua satria Ayodya itu yang berjalan dengan penuh keagungan. Ketampanan wajah mereka, dan sikapnya yang begitu tenang, membawa perbawa tersendiri. Mereka menyangka Batara Kamajaya dan Batara Asmara yang datang menyaksikan jalannya sayembara. Akhirnya kedua satria itu dikerumuni orang banyak.

Pada waktu itu sayembara telah dimulai. Banyak raja, satria dan bupati yang mencoba menarik gendewa raksasa, tetapi tak seorang pun yang mampu melakukannya.

Rama dan Laksmana sabar menunggu sampai orang yang terakhir melakukannya. Tetapi juga orang yang terakhir itu gagal.

Rama maju ke depan dan mendaftarkan diri. Ia mengaku satria dari gunung. Tidak banyak pertanyaan lagi, Rama segera diberi kesempatan untuk menarik gendewa rakasasa yang tersedia tersebut. Seluruh yang hadir termasuk Prabu Janaka dan Dewi Sinta sendiri memperhatikanya dengan seksama.

Dengan langkah-langkah dan tindak-tinduk yang sopan, Rama segera menerima gendewa dan ditariknya dengan sangat mudah, malahan menimbulkan suara bergerit.

Semua yang hadir tertegun, kemudian secara serempak pecahlah tepuk tangan dan sorak-sorai bergemuruh. Rama dinyatakan menang.

Rama dan Laksmana kemudian dipanggil oleh Prabu Janaka dan ditanyai mengenai asalnya. Rama dan Laksmana melakukan sembah, kemudian menjelaskan terus-terang bahwa mereka berdua adalah putra Prabu Dasarata di Ayodya.

Prabu Janaka sangat berbahagia mendengar kedua ksatria itu adalah putra Dasarata. Segera dikirimkannya utusan ke Ayodya untuk mengabarkan kemenangan Rama, sekaligus mengundang Prabu Dasarata, untuk pelaksanaan perkawinan Rama dan Sinta.

Prabu Dasarata terkejut, tetapi sekaligus berbahagia bahwa Rama menemukan jodohnya yang sepadan. Sang Prabu memutuskan berangkat pada saat itu juga ke Mantili. Keberangkatan Prabu Dasarata ke Mantili diiringi oleh sepasukan kehormatan yang naik gajah dan kuda, sedangkan untuk para Ibu Suri disediakan joli.

Saat rombongan Prabu Dasarata tiba di luar ibukota Mantili. Prabu Janaka memerlukan menjemput sendiri besan ke luar kota.

Setelah itu rombongan Prabu Dasarata dipersilahkan beristrirahat di pesanggrahan. Persiapan telah selesai, tepat pada waktu upacara “temu” tiba, dewa-dewa dan bidadari-bidadari pun banyak yang memerlukan hadir.

Istana Mantili dihias indah sekali, kedua mempelai berpakaian indah menarik. Setiap tamu yang hadir menjadi terpesona menyaksikan kedua pengantin yang berparas sangat elok itu.

Waktu kedua pengantin itu dipersandingkan sepintas itu seperti Batara Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Kedua pengantin kemudian melakukan sembah sungkem kepada kedua raja.

Setelah pernikahan Rama-Sinta selesai, ternyata ada pernikahan kedua yang tak kalah eloknya, yaitu pernikahan Laksmana dan Urmila.

Dua pasang mempelai yang tak kalah cakapnya ini malu-malu memberikan sungkemnya pada kedua orang tua. Ternyata diam-diam sambil mendampingi kakak masing-masing...terjadilah kontak batin yang erat di antara Laksmana dan Urmila, sehingga akhirnya merekapun dinikahkan sesaat setelah pernikahan Rama.

Keesokan harinya Prabu Dasarata menyampaikan maksudnya untuk melakukan upacara “ngunduh mantu “, ialah memboyong kedua pasang pengantin ke Ayodya dan merayakanya di sana.

Besoknya rombongan kedua pasang pengantin meninggalkan negeri Mantili menuju negeri Ayodya. Kota dan istana Mantili menjadi sunyi, seperti sebuah cincin yang kehilangan permatanya. Ibarat negeri Mantili adalah sebuah cincin , Dewi Sinta adalah permatanya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya