Ramaparasu Mandeg Jawata
KISUTA.com - Waktu iring-iringan kedua pasang pengantin Rama-Sinta dan Laksmana-Urmila memasuki hutan lebat, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya seorang pendeta bertubuh besar,tinggi, berkumis dan berjenggot, berparas ganteng gagah perkasa dan menjinjing sebuah gendewa raksasa.
Pendeta itu adalah Rama Parasu. Pendeta itu menghadang dan menantang.
“Rama, jika benar engkau titisan Wisnu, turunlah dari keretamu. Mari kita bertarung sampai mati! Hanya dengan cara seperti inilah akan jelas darmaku..engkau satria linuwih yang bisa mengantarkanku ke sorga atau, hanya satria manja yang layak mati diujung bargawaku.”
Prabu Dasarata turun dari kereta karena merasa kasihan kapada putra dan putri menantunya yang masih berusia muda. Ia melakukan sembah kepada pendeta tinggi besar itu.
Katanya, “Duh sang wiku, kasihanilah putra dan putri menantuku. Mereka masih begitu muda.Tidak mungkin melawan paduka.”
Mendengar ucapan Prabu Dasarata tersebut Ramabargawa sama sekali tidak menghiraukannya. Ia langsung menuju ke tempat Rama berada. Diberikan gendewa raksasa yang dipegangnya kepada Rama sambil berkata. “Hee Rama, peganglah gendewaku ini. Tariklah kalau engkau mampu atau kuat. Kalau gendewaku ini tertarik olehmu, aku kalah. Tetapi kalau engkau tak mampu menariknya maka engkau kalah.”
Mendengar tantangan tersebut setiap orang yang mendengarnya merasa ngeri. Semuanya menarik nafas panjang. Satu-satunya yang tetap tenang adalah Rama. Ia cepat menerima gendewa. Ditariknya dengan mudah, bahkan sampai gendewa itu patah. Menyaksikan ini Ramabargawa terkejut, mukanya pucat,menunduk dan berkata perlahan.
“Duh titisan Wisnu, sudahilah petualanganku yang penuh darah ini...berikan ketenangan pada jiwaku. Panahlah leher ini, bukankah aku telah kalah olehmu. Engkaulah yang akan menjadi sarana kematianku. Engkaulah yang akan menjadi sarana aku pergi ke kelanggengan.”
Rama dengan tersenyum melaksanakan permintaan Ramabargawa tersebut. Anak panah mengenai leher Ramabargawa putra Resi Jamadagni itu musnah bersama tubuhnya. Ternyata tubuh dan jiwa kosong yang terangkat naik itu diterima oleh para dewa dibasuh dengan tirtakamandanu, dan di tahbiskan hidup kembali sebagai jawata di Jonggringsaloka dengan nama Dewa Resi Ramaparasu.
Menyaksikan peristiwa tersebut semua yang hadir merasa lega. Prabu Dasarata memerintahkan agar iring-iringan berhenti beristirahat sebentar dan berpesta makan bersama. Para anggota pasukan bersuka ria. Setelah itu iring-iringan melanjutkan perjalanan.
Prabu Dasarata berikut putra dan putri menantunya terus saja menuju istana. Kedua pengantin itu mendapat sambutan mesra dari keluarga istana. Seluruh istana bahkan seluruh penduduk Ayodya mencintai putri Mantili Dewi Sinta yang cantik, ramah dan selalu tersenyum. Dewi Urmila juga diterima dengan hangat, apalagi setelah Sang Dewi menunjukkan keahliannya dalam bidang lukisan dan merancang bangunan. Dewi Urmila segera terlibat dalam pembangunan istana untuk Rama dan Sinta sebagai putra mahkota.
Cangik: nDuk..Limbuk...ini bendara kita pesta pora begini..perasaanku kok ngga enak ya.....buat apa ngunduh kelapa, kalau belum tumbuh tunas, buat apa bersuka suka kalau memancing hati panas...
Limbuk: Hati siapa yang akan panas biyung...kok aneh-aneh lho...
Cangik: iya kamu itu ngga sadar ya ..orang hidup itu biasanya khan nggolek ndrajat, pangkat dan martabat...di kerajaan ini, banyak yang tidak tulus...diam-diam bau-bau persaingan tersembunyi dibalik senyum-senyum manis nduk...
Limbuk: Halah biyung..Tetapi kenapa ya Yung, kebanyakan cara orang NGGOLEK umumnya dengan NGOYAK...
Cangik: Itu karena godaan Meri atau Iri dan Pambegan...MERI atau “iri” adalah perasaan kalah,..misalnya kalah disayang, kalah nge top..sedangkan Pambegan adalah perasaan harus menang... menang kedudukan, menang tujuan ngga peduli bener apa ngga jalannya...
Limbuk: Jadi menurut biyung...ada ancaman seperti itu di sini...
Cangik: Baunya sih begitu...tapi kita tunggu aja nanti yaaa...*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


