Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Kekayi Gugat

Rabu, 2 September 2015

KISUTA.com - Perhelatan pesta pernikahan Rama dan Sinta, Laksmana dan Urmila sudah usai. Kedua pasang mempelai yang berbahagia itupun sudah menikmati bulan madu mereka masing-masing.

Pada suatu hari Prabu Dasarata merasa sudah saatnya menyerahkan tampuk pemerintahannya pada putra kinasihnya Rama Wijaya. Dari kemampuan dan kedewasaannya tampak sekali Rama paling menonjol diantara saudara-saudaranya. Selain itu Rama adalah anak permaisuri utama Dewi Kausalya, sekaligus anak tertua, jadi sudah sewajarnya jika Ramalah yang menggantikannya menjadi raja Ayodyapala. Dasarata tersenyum bahagia...inilah saat yang dinantikannya, menyerahkan mahkota kerajaan pada putra kesayangannya. Selanjutnya Dasarata, ingin madeg Brahmana, ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama istri-2nya dalam suasana pemujaan pada Hyang Widi Wasa.

Prabu Dasarata duduk di Sitihinggil dihadap oleh para satria, adipati dan bupati. Mereka menghadap Sang Prabu sesuai undangan mengikuti upacara serah terima jabatan raja Ayodya. Rama akan dinobatkan menjadi raja sedangkan sang Prabu akan menjadi Bagawan. Kemenyan telah dibakar, dan asapnya mengepul tinggi. Kursi singgasana dan sekitarnya dihias indah.

Tidak lama kemudian terdengar suara Sang Prabu Dasarata berkumandang tegas dan berwibawa:

"Para Nayaka, Bupati, Temenggung dan ksatria Ayodya yang saya banggakan.. inilah waktu yang membahagiakan bagi seorang ayah sepertiku... Aku hantarkan anakku yang selalu aku banggakan Rama Wijaya...sebagai Raja baru negri ini.“

(Gemuruh suara tepuk tangan dan sorak sorai para ksatria membahana...menunjukkan kebahagiaan dan penerimaan mereka atas Sabda Sang Prabu)

“Percayalah..anakku Rama Wijaya akan mengantarkan negeri ini ke kejayaan melebihi saat aku pimpin...Ayodyapala akan menjadi negeri besar, terhormat dan terpercaya di bawah kepemimpinan Prabu Rama Wijaya!”

Seruan Sang Prabu ini, di lanjutkan dengan suara Gong di sambut terompet Sangkakala yang memekakkan telinga.

Riuh Rendah suara kebahagiaan rakyat Ayodya menyambut pengumuman itu. Prabu Dasarata melanjutkan pengumuman itu dengan jamuan kebesaran, bahkan sampai ke alun-alun, jamuan gratis untuk semua penduduk Ayodya.

Di Keputren Istana, terdengar teriakan melengking penuh kemarahan, dilanjutkan dengan gedombrangan suara perabot pecah...Dewi Kekayi mengamuk...pengumuman Prabu Dasarata membuatnya gusar..seharusnya Dasarata tidak memutuskan sendiri... mengapa sebagai istri dia tidak dilibatkan untuk menentukan siapa yang berhak di pilih menjadi raja?

Prabu Dasarata, mendengar dari pengawalnya bahwa telah terjadi kehebohan di Keputren karena Dewi Kekayi ngamuk. Segera setelah bisa meninggalkan perjamuan, Sang Prabu bergegas menemui Kekayi.

Berkerut kening Dasarata, waktu melihat betapa porak porandanya teras keputren yang di huni Dewi Kekayi, pot-pot bunga dipecahkan, patung dan piring-2 hias pecah berkeping-keping.

Dasarata: Yayi Kekayi...apa-apaan ini, disaat kebahagiaan dinikmati oleh seluruh warga Ayodyapala, mengapa adinda ngamuk seperti ini...

Kekayi: Hhmm...kanda...remuknya barang-barang ini serupa dengan remuknya hati adinda, karena kanda sudah ingkar janji...kanda anggap Kekayi tidak ada, jadi bisa dilewati begitu saja...

Dasarata: Apa maksudmu Kekayi....mengapa bertingkah manja seperti anak kecil...kedua ayundamu Kausalya dan Sumitra...juga tidak ikut hadir di perhelatan tadi...karena kebanyakan yang hadir memang para pria....mengapa kamu merasa ditinggalkan...

Kekayi: Huuh...jadi kemarahanku hanya kanda anggap kemanjaan karena tidak diajak pesta....??..keterlaluan kau kanda....mari aku segarkan ingatanmu...ketika aku menyelamatkanmu dari Rahwana...kanda menjanjikan akan menuruti apapun permintaanku...sekarang aku tagih janji itu JADIKAN ANAKKU BARATA SEBAGAI RAJA AYODYA....eeiiitss tunggu dulu, masih ada satu lagi...saat aku cucup nanah kanda yang menjijikkan, kanda juga menjanjikan memenuhi permintaanku apapun itu...nah inilah permintaanku. USIR RAMA DAN ISTRINYA 12TH KELUAR ISTANA, AGAR KEDUDUKAN ANAKKU SEBAGAI RAJA AMAN.

Dasarata: Kekayi!!!...Aduh tobat yayi...jangan keterlaluan begitu...aku sudah mengumum kan bahwa Rama lah penggantiku. sungguh tega engkau menghancurkan wibawaku..Kekayi... mintalah yang lain...jangan berbuat sekejam itu...

Kekayi: Kejam? Siapa yang kejam? Kandalah yang ingkar janji kalau permintaan ini tidak dituruti...ingat kanda Sabda Pandita Ratu...kalau ucapan seorang raja sifatnya hanya lamis...rayuan gombal untuk mendapat pelayanan manis dari istrinya saja...apa artinya itu? Kanda tak lebih dari laki-laki bermodal mulut manis yang tidak bisa dipercaya...huh...lelaki seperti itu dimana letak martabatnya !!!... Akan aku sampaikan sendiri 2 permintaanku itu kepada Rama Wijaya dan istrinya... ingin aku lihat...apakah sama lamis nya Anak dan Bapak!!

Karena beratnya beban bathin yang disandang, Prabu Dasarata pingsan...sibuklah Dewi Kausalya dan Dewi Sumitra merawat sang Prabu. Sementara itu, Dewi Kekayi tidak peduli dengan kondisi Sang Prabu dan segera menghubungi Rama dan Sinta untuk mengutarakan maksudnya.

Kekayi: Anakku Rama Wijaya, ada yang ingin ibu sampaikan padamu Rama.

Rama: Ibu Kekayi..silakan Ibu...Adakah yang bisa ananda lakukan untuk Ibu?

Kekayi: Ya Rama...ketahuilah...ramamu gegabah mengumumkan pengangkatanmu sebagai raja...padahal, sebelumnya ramamu sudah menjanjikan untuk memenuhi dua permintaanku apapun itu.

Rama: Dan apakah permintaan Ibu Kekayi berkaitan dengan pengangkatan saya ibu?

Kekayi: Ya Rama...permintaanku yang pertama adalah MENJADIKAN BARATA PUTRAKU SEBAGAI RAJA AYODYAPALA.. (Kekayi melirik wajah Rama, untuk melihat reaksinya..ternyata Rama tenang saja, bahkan tersungging senyum di sudut bibirnya)

Rama: Baiklah Ibu, lalu apakah permintaan ibu yang kedua?

Kekayi: Rama...walaupun engkau rela menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adikmu Barata, tetapi selama engkau masih ada di Ayodyapala..tentu Barata tidak akan aman, akan ada saja pemberontakan membela engkau dan menyingkirkan adikmu...

Rama: Kalau demikian apa yang ibu Kekayi inginkan agar saya dapat membawa kebahagiaan bagi Ibu dan adimas Barata.

Kekayi: Engkau dan istrimu harus pergi sejauh mungkin dari Ayodyapala, menembus hutan Dandaka selama 12 tahun Rama.

(Kekayi memperhatikan roman muka Rama, yang tetap tenang dan tersenyum)

Laksmana: Jagad dewa bathara...kanjeng Ibu Kekayi...sungguh kejam paduka..apakah hal ini sudah disetujui oleh kanjeng rama?

Kekayi: Jangan ikut-ikutan kamu Laksmana...ramandamu tidak bisa menolak kehendakku, karena beliau sendiri yang sudah mengumbar janji saat jiwanya aku selamatkan 2x....hhmm bagaimana Rama, apakah sebagai ksatria engkau bisa memenuhi dharma ksatria yang tak hendak menjilat ludahnya...permintaanku ini adalah pemenuhan janji ramamu..jika tidak terlaksana, terkutuklah si pembuat janji, biar dia hancur dimakan bumi...

Rama: Duh kanjeng ibu Kekayi...janganlah membuat supata seperti itu. Bukankah saya tidak pernah menolak permintaan Ibu? Baiklah Ibu Kekayi, saya akan penuhi permintaan ibu itu, untuk kebahagiaan seluruh keluarga besar kita. Yayi Lesmana rakanda sekalian pamit yayi, aku titipkan keselamatan kanjeng Ibu Kausalya dan Rama Prabu Dasarata pada perlindunganmu...

Laksmana: Tidak kakanda...12 tahun menembus hutan Dandaka yang angker bukanlah pekerjaan ringan. Biarkan adinda mengikuti kanda dan ayunda...kemanapun langkah kaki melangkah...

Sinta: Laksmana, pertimbangkan keputusanmu...kalau kamu mengikuti kami berarti kamu akan meninggalkan dinda Urmila...

Laksmana: Ya Kangmbok dinda Urmila akan mendampingi ibu Sumitra dan Kausalya bersama dinda Satrugna.

Kekayi: Rama, Sinta dan engkau Laksmana...jangan berlama-lama mempersiapkan diri...sebelum kokok ayam di fajar esok..kalian harus sudah pergi dari Ayodyapala...*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya