Rama Tundung
KISUTA.com - Peristiwa Rama ditundung (diusir) dari istana oleh Kekayi, membuat kalangan istana berduka. Begitu besar kecintaan kerabat istana pada pasangan ini. Banyak punggawa yang ikut bahkan banyak pula punggawa yang memohon kepada Rama agar tetap tinggal di istana mempertahankan haknya.
Tetapi Rama mengatakan kepada mereka agar jangan ada yang ikut. Semua ini menurut Rama adalah kehendak dewa yang melalui perantaraan janji ayahnya.
Kata Rama kepada punggawa: “ Kembalilah kalian ke istana. Aku sangat mencintai kanjeng rama. Aku akan melaksanakan semua perintah yang terkandung dalam janjinya. Sampaikan kepada kanjeng rama bahwa aku bahagia memasuki hutan-hutan lebat, untuk mengasah ilmu dan pemahamanku tentang sangkan paraning dumadi.
"Aku memohon restunya dan aku memohon agar adikku Barata dijadikan penggantiku memegang takhta kerajaan Ayodya. Sama saja ia denganku. Sudahlah, lekas kalian menghadap kanjeng rama.”
Setelah berkata demikian barulah Rama memasuki hutan-hutan lebat, dengan diikuti oleh istrinya yang setia Dewi Sinta dan adiknya Laksmana. Walaupun banyak punggawa yang kembali ke istana untuk menyampaikan pesan Rama kepada ayahnya, tetap saja tidak sedikit para tumenggung yang mengikuti Rama memasuki hutan-hutan lebat.
Sejak itu Rama, Sinta dan Laksmana hidup di hutan-hutan lebat. Dewi Sinta ternyata sungguh merupakan wanita utama yang patut menjadi tauladan. Ia setia sekali kepada suami. Walaupun sejak kecil ia biasa hidup di istana dan sekarang ia harus hidup sengsara dalam hutan-hutan lebat, sedikit pun tidak pernah tergoyah hatinya untuk meninggalkan suami atau menyalahkan suami yang tidak mempertahankan haknya.
Rama: Garwaning pun kakang Rakyan Sinta...yayi...pun kakang minta maaf harus membawamu ke dalam laku yang berat ini...Ooo Sinta putri jelita yang aku dapatkan dari sayembara agung...seharusnyalah engkau menikmati kemewahan sebagai putri utama...
Sinta: Duh kanda...sesungguhnya dengan berpegang pada 3 hal yang utama, apapun yang akan kita hadapi, semua terasa wajar tidak ada yang perlu disesali...Tiga hal itu adalah: Pertama, bila kehilangan tidak menyesali (lila lamun kelangan nora gegetun). Kedua, bisa menerima bila hati disakiti oleh sesama (trima yen kataman, sakserik sameng dumadi) dan ketiga, ikhlas dan berserah diri kepada Hyang Widi Wasa (tri legawa nalongsa srahing bathara).
Laksmana yang mendengarkan percakapan suami istri ini tertunduk makin kagum pada keduanya. Tak salah kalau ia menjadikan kakaknya sebagai panutan. Merekapun melanjutkan perjalanan.
Pada hari pertama kalau merasa mengantuk, Rama, Sinta dan Laksmana dengan senang hati tidur di atas batu, di atas rumput, di atas pokok-pokok kayu atau tidur berdiri bersandar ke pohon sambil bersemedi.
Pada saat-saat semacam itu para tumenggung yang mengikutinya melakukan pengawalan dari kejauhan.
Tetapi pada suatu pagi waktu saat tumenggung itu bangun dari tidur dalam hutan telah mendapatkan gusti-gusti mereka tidak ada. Ternyata Rama, Sinta dan Lesama malam itu sepakat meninggalkan para punggawa yang setia itu secara diam-diam. Para punggawa itu sedang tidur pulas dalam keadaan sangat letih. Terjadilah kegaduhan. Mereka mencari ke sana ke mari dalam hutan lebat itu. Tetapi mereka gagal menemukan jejak-jejak gusti mereka. Akhirnya semua menangis dan kembali ke Ayodya.
Para punggawa tersebut segera memasuki istana dan langsung melaporkan kepada Raja Dasarata mengenai keadaan terakhir waktu mereka mengikuti Rama, Sinta dan Laksmana hidup dalam hutan-hutan. Tidak lupa mereka menyampaikan kepada raja permohonan Rama agar Barata menggantikannya memegang takhta kerajaan Ayodya.
Mendengar laporan tersebut Sri Dasarata tertegun. Untuk beberapa saat ia tidak dapat berbicara apa-apa. Hatinya pedih dan sedih seperti diiris-iris. Ia menunduk, tidak menoleh baik ke kiri maupun ke kanan. Jiwa dan raganya tergoncang. Bayangan putranya Rama, putri menantunya Sinta dan putranya yang lain lagi Laksmana tidak dapat hilang dari pelupuk mata, ia jatuh sakit.
Sakit Sri Dasarata ternyata tidak tersembuhkan. Badannya semakin kurus. Maksud hati ingin menyusul ke hutan, tetapi tanggung jawab terhadap praja tidak mengizinkannya. Ia tidak mau makan dan minum. Akhirnya ia meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya.
Duka yang mendalam terjadi di istana. Tangis serentak memenuhi baik di kasatriyan maupun di kaputren.
Raden Barata yang menunggui jenazah ayahnya tidak dapat berbicara apa-apa. Batinnya tertekan. Akhirnya hati yang sedih ditinggal ayah itu berubah menjadi marah kepada ibunya Dewi Keyaki yang dianggapnya menjadi sumber dari segala mala petaka yang menimpa keluarga Dasarata.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


