Barata Berontak
KISUTA.com - Perabuan jenasah Prabu Dasarata, telah usai, namun suasana kelabu di istana Ayodyapala seakan selaras dengan mendung yang bergayut menghantarkan hawa dingin menggigit tulang. Raden Barata termangu dengan dahi berkerut, marah, kecewa, gusar, membuat tangannya terkepal dengan gigi gemelethuk. Batinnya tertekan. Hati yang sedih ditinggal ayah itu berubah menjadi marah kepada ibunya Dewi Kekayi yang dianggapnya menjadi sumber dari segala malapetaka yang menimpa keluarga Dasarata.
Barata: Ibu...(suaranya dalam dan dingin)...sadarkah ibu, kanjeng ibu berdosa besar kepada kanjeng rama. Dosa ibu sungguh tidak terampunkan. Mengapa hamba dimintakan untuk menjadi raja? Masih ada saudara hamba yang lebih tua, lebih berhak, lebih memiliki kesaktian dan pengalaman, ialah kakanda Rama. Mengapa ibu memaksa hamba yang harus menjadi raja? Hamba beristri saja belum. Hamba masih biasa diperintah, belum pernah memerintah. Dibanding kakanda Rama. Hamba ini bukan apa-apa.
Kekayi: Oo Barata...jangan salah terima, inilah keagungan kedudukan yang memang sudah menjadi hakmu...Ngger, tidak lumrah perjuangan ibu untuk mendapatkan kanugrahan ini...hargailah...
Barata: Hargai...?? Apa yang harus nanda hargai....permintaan ibu ini telah membawa korban ayahanda...dan ibu tidak perduli...hmm, ibu mendapatkan ini dengan cara tidak lumrah?!! Apalagi itu...? Sungguh hamba malu lahir dari seorang wanita yang tidak layak disebut sebagai ibu...seorang wanita yang mengedepankan kemauannya pribadi dengan menyingkirkan orang lain yang jelas lebih berhak...
Kekayi: Barata...jangan kurang ajar kamu...kamu pikir ibu bahagia hanya menjadi istri kedua...kamu pikir itu bukan pengorbanan? Saat ramandamu berkasih mesra dengan permaisuri Kausalya...atau maduku Sumitra...? Barata...engkau tidak tahu penderitaan wanita yang kasihnya terbagi...hanya karena ibu menginginkan hakmu menjadi raja di Ayodyapalalah ibu bertahan...dan sekarang semua sudah di tangan, tak ada lagi halangan...Barata...Barata anakku sayang....engkau Raja Ayodyapala...sungguh ibu berbahagia untukmu Barata...
(Kekayi berusaha memeluk pundak Barata...Barata menepiskan dengan kasar...bangkit dan membentak ibunya)
Barata: Tidak!!! Tidak sudi hamba ikut dalam permainan ibu...silahkan telan dosa ibu sendiri...ananda akan mencari kakanda Rama Wijaya...beliau yang berhak menjadi raja Ayodyapala...sudahlah ibu...aku pamit...mongso borong untuk praja Ayodyapala...
Mendengar ucapan putranya yang marah itu Dewi Kekayi tertegun. Mukanya menjadi sangat pucat dan menunduk. Ia malu, sedih dan akhirnya menangis. Tidak disangkanya selama ini bahwa tindakannya untuk meraih kemuliaan akan berakhir seperti ini. Suaminya meninggal membawa rasa benci padanya dan Barata menjadi semarah itu padanya.
Kejadian ini disaksikan oleh seluruh keluarga. Para keluarga menyabarkan kemarahan satria putra Dewi Kekayi itu. Tetapi kemarahan Barata ternyata tidak mudah dilerai.
Barata: Kanjeng Ibu Kausalya, Ibu Sumitra, paman Patih dan para Nayaka Praja...aku tidak sudi mengikuti kemauan ibu Kekayi...Kanjeng Ibu Kausalya, mohon ampun bahwa ibuku telah menorehkan luka sedalam ini pada paduka...aku akan menyusul kakanda Rama Wijaya Ibu, akan aku bawa putramu dan menghormati kakak kebanggaanku sebagai Raja Ayodyapala...jangan khawatir Ibu, tekadku sudah bulat..Barata bukanlah anak gila kedudukan yang mau saja disuapi kedudukan dengan cara murahan seperti ini...Ibu Kausalya...Barata mboten bade Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman...
Kehendak Barata untuk pergi ke hutan itu ternyata sulit sekali dicegah. Para ibu, adipati dan bupati menangis. Barata segera berangkat ke hutan dengan diikuti barisan prajurit lengkap dengan tujuan memohon kepada Rama agar bersedia kembali ke Ayodya dan memimpin praja. Sepeninggal Barata, Kekayi menjerit dan roboh pingsan dalam pelukan Kausalya. Saat sadar dari pingsannya, pandangan Kekayi menjadi kosong...mulutnya terus mendesiskan nama Barata...Kekayi owah...emban Matara mendapat tugas untuk merawatnya.
Pada suatu petang rombongan Barata sampai di sebuah pertapaan yang indah sekali. Terletak di tepi danau. Sang resi yang hanya terkenal dengan sebutan Bagawan Wadat karena ia “wadat” tidak kawin, Resi itu mempersilahkan Barata memasuki pertapaan. Barata meminta petunjuk kepada sang resi mengenai di mana tempat kakaknya Rama berada. Pendeta linuwih itu menjelaskan bahwa satria Ramawijaya beserta istri dan adiknya sekarang ini berada di gunung di sebelah selatan yang nampak dari pertapaan.
Mereka berada di sebuah pertapaan yang sangat indah bernama Gunung Kutarunggu. Meraka sedang memperdalam ilmu lagi pada seorang pendeta linuwih. Mendengar petunjuk itu, pagi harinya Barata dan rombongan segera menuju ke tempat yang ditunjuk.
Di pertapaan Kutarunggu Raden Laksmana terkejut menyaksikan datangnya pasukan besar. Ia segera mengambil gendewa dan panah dan segera dalam keadaan siap. Ia mengira musuh besar telah datang. Tetapi setelah diperhatikannya dengan seksama, ternyata pasukan yang datang itu hanyalah pasukan kehormatan, peralatannya mirip dengan pasukan pengiring priayi agung yang sedang berburu.
Semakin dekat Laksmana mulai mengenal para adipati dan bupati yang berjalan di depan. Jelas bahwa mereka adalah orang-orang Ayodya. Laksmana cepat-cepat memasuki pertapaan dan melapor kepada Rama. Begitu terlihat Rama keluar dari pertapaan Barata segera lari melakukan sembah.
Barata melaporkan semua kejadian di Ayodya sepeninggal kakaknya termasuk meninggalnya Sri Dasarata. Sambil melakukan sungkem dan menangis Barata berkata.
Barata: Jagad Dewa ya Bathara...duuuh Kaka Prabu, sembah pangabekti dimas konjuk dumateng kakaprabu...(Barata memeluk kaki Rama begitu erat, tiba-tiba badannya terguncang...naik sedu sedan dari ksatria tampan yang gagah pideksa itu)...Kangmas..Oo kakangmas...Ra...ra..ma..rama prabu seda kamas...mangga kondur...(pecahlah tangis Barata ..mendengar Sri Dasarata meninggal, Rama terduduk lemas, Laksmana dan Dewi Sinta menangis serentak. Para punggawa yang menyaksikan ikut juga menangis).
Rama: Barata..sudahlah...berdirilah adikku, berat memang duka ini...tapi mari kita terima dengan sabar dan ikhlas..Barata tatap wajahku adikku.
Barata: Duh kanda..ampuni ibumu, sungguh besar dosanya... besar pula kerusakan yang sudah diakibatkannya...karena itu kanda..mari pulang...Kakaprabu adalah Raja Ayodya pilihan almarhum Rama dan rakyat kita...paduka lebih berhak dari siapapun...mari pulang kanda...
Rama: Barata jangan begitu...kalau kau paksa aku..engkau telah merendahkan derajad kakakmu dan kanjeng rama sebagai ksatria yang mudah menjilat ludahnya sendiri...Barata, aku menerima lelakon ini sebagai petunjuk dewata...bahwa inilah yang harus aku jalani...pulanglah engkau, jadilah raja yang baik..engkau ksatria berhati luhur adikku sayang... Sapa Weruh ing Panuju sasad Sugih Pager Wesi...siapa yang bercita-cita luhur atau mulia, akan tertuntun jalan hidupnya...
Barata: Kakaprabu...paduka sesembahan hamba, kalau hamba teruskan keinginan ibu Kekayi...maka Baratalah si hina yang tidak tahu diri...tidak Kakaprabu...Dinda tidak bersedia, mati atau hidup dinda ingin ikut kakanda hidup di hutan.
Mendengar kekerasan sikap Barata akhirnya Rama mundur setapak, bangkit dari duduknya dan melepas kasutnya (alas kaki), kasut itu diserahkan penuh kasih pada Barata.
Rama: Engkau mewakiliku, engkau menggantikanku. Hanya sementara sampai 12 tahun darma ini aku jalani. Kalau engkau tidak mau lantas siapa lagi yang harus memimpin bala tentara dan mengayomi rakyat?
Mendengar ucapan kakaknya yang bernada memaksa itu Barata tidak berani menolak lagi. Sejak kecil ia tunduk lahir batin kepada kakaknya ini.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


