Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Hastabrata

Minggu, 6 September 2015

KISUTA.com - Mendengar ucapan Rama yang bernada memaksa, Barata tidak berani menolak lagi. Sejak kecil ia tunduk lahir batin kepada kakaknya itu.

Barata: Kanda kalau demikian halnya berilah petunjuk, sebagai wakilmu, apa yang menjadi alas hidupku memimpin praja Ayodyapala untuk sementara?

Rama: Baiklah Barata...perhatikan pesanku Dimas...ada 8 laku utama seorang pemimpin yang harus engkau jalankan sebagaimana prilaku para dewa yang menjadi teladan pada ajaran itu.

1. Mulat Laku Jantraning Bantala (Bumi; Bethara Wisnu): Pemimpin itu harus bersifat seperti bumi, sabardrono, ati jembar, legawa dan lembah manah. Rela menghidupi dan menjadi sumber penghidupan seluruh makhluk hidup. Bumi itu tanahnya bersifat dingin nyaman dijadikan pijakan, karena itu bersifat luwes mudah menyesuaikan diri, tidak mudah dihasut, tak mempan dipengaruhi, karena berbekal ketenangan pikir, kebersihan hati, dan kejernihan batinnya dalam menghadapi berbagai macam persoalan dan perubahan.

Sebagai alas pijakan seluruh makhluk. bumi akan bersifat rendah hati, namun mampu menjadi tumpuan dan harapan orang banyak.

Bumi itu memiliki keseimbangan dan hubungan yang selaras dengan kekuatan manapun. Namun, pada saat tertentu bumi dapat berubah menjadi tegas, lugas dan berwibawa. Bumi dapat melibas kekuatan apapun yang bertentangan dengan hukum-hukum keseimbangan alam. Seseorang yang memiliki watak bumi, dapat juga bersikap sangat tegas, dan mampu menunjukkan kewibawaannya di hadapan para musuh dan lawan-lawannya yang akan mencelakai dirinya.

2. Mulat Laku Jantraning Surya (Matahari ; Bethara Surya) : Sebagaimana sang Surya, seorang pemimpin harus mampu menyinari segala kegelapan dalam kehidupan. Kapanpun dan di manapun ia akan selalu memberikan pencerahan kepada orang lain. Engkau harus mampu berperan sebagai penuntun, guru, pelindung sekaligus menjalankan roda kehidupan manusia ke arah kemajuan peradaban yang lebih baik. Surya itu tetap dan pasti, ora kagetan (tidak mudah terkaget-kaget), ora gumunan (tidak gampang heran akan hal-hal baru dan asing).

Seseorang berwatak matahari itu ibarat perjalanan matahari yang pelan, tidak terburu-buru (kemrungsung), langkah yang pasti dan yakin sesuai yang telah dikodratkan Sang Khalik. Surya itu memberikan penerangan adil tanpa pandang bulu, berlaku untuk seluruh umat tanpa pilih kasih...hendaknya demikian pula laku seorang pemimpin.

3. Mulat Laku Jantraning Kartika (Bintang ; Bethara Ismaya) : Kartika itu selalu mapan dan tangguh, walaupun dihempas angin prahara tetap teguh dan tidak terombang-ambing. Seperti Bathara Ismaya, menghadapi persoalan-persoalan besar tidak akan mundur selangkahpun. Kartika itu selalu tertata, teratur, dan tertib. Mampu menghibur yang lagi sedih, dan menuntun orang yang sedang mengalami kebingungan, serta menjadi penerang di antara kegelapan.

4. Mulat Laku Jantraning Candra (Rembulan ; Bethari Ratih) : Candra itu penerang yang lembut kepada siapa saja yang sedang mengalami kegelapan budi, serta memberikan suasana tenteram pada sesama. Rembulan membuat terang tanpa membuat “panas” suasana (dapat ikannya, tanpa membuat keruh airnya). Langkah rembulan selalu, membuat sejuk suasana pergaulan dan tidak merasa diburu-buru oleh keinginannya sendiri . Watak rembulan penuh nuansa keindahan. Selalu eling dan waspada, selalu mengarahkan perhatian batinnya senantiasa berpegang pada harmonisasi dan keselarasan terhadap hukum alam.

5. Mulat Laku Jantraning Samodra atau Tirta (Bathara Baruna) : Samodra memiliki watak dapat memuat apa saja yang masuk ke dalamnya. Yang kotor maupun yang bersih akan hanyut di samodra luas, semua dapat diterima dengan sikap tulus. Watak samudra adalah hati yang luas, penuh kesabaran, serta siap menerima berbagai keluhan atau mampu menampung beban orang banyak tanpa perasaan keluh kesah, samodra itu jalma tan kena kinira, tampak bersahaja, tidak berlebihan, tidak dapat disangka-sangka sesungguhnya ia menyimpan kemampuan yang besar namun tabiatnya jauh dari sifat takabur, atau sikap menyombongkan diri. Pemimpin watak samodra, tidak pernah membeda-bedakan golongan, kelompok, suku, bangsa, dan keyakinan. Semua dipandang sama-sama makhluk ciptaan Sang Khalik dengan kesamaan derajat.

6. Mulat Laku Jantraning Angkasa (Langit ; Bathara Indra) : Angkasa atau langit. Bersifat melindungi atau mengayomi terhadap seluruh makhluk tanpa pilih kasih, dan memberi keadilan Watak langit ini relatif paling sulit karena engkau harus mampu bersikap tanpa pilih kasih dan bersedia mengayomi seluruh makhluk hidup, merupakan tugas dan tanggungjawab yang sangat berat. Angkasa atau langit akan melihat secara gamblang beragamnya persoalan kehidupan di muka bumi ini. Pandangannya luas, bisa menemukan apa yang tersembunyi atau disembunyikan. Bathara Indra akan selalu momong sesama, mampu mengelola watak mengalah, mampu menahan diri, meredam emosi, dan membimbing seluruh makhluk hidup dengan cara yang penuh dengan kasih sayang. Angkasa itu penuh pengetahuan tetapi tidak ada kesombongan, Karena rahasia ilmu yang terdapat di jagad raya ini adalah sebanyak debu yang ada di seluruh alam semesta.

7. Mulat Laku Jantraning Maruta (Angin ; Bathara Bayu) : Angin memiliki watak selalu menyusup di manapun ada ruang yang hampa, walau sekecil apapun. Angin mengetahui situasi dan kondisi apapun dan bertempat di manapun. Kedatangannya tidak pernah diduga, dan tak dapat dilihat. Seseorang yang berwatak samirana atau angin, maknanya adalah selalu meneliti dan menelusup di mana-mana, untuk mengetahui masakah masalah sekecil apapun yang ada di dalam bebrayan, bukan hanya atas dasar kata orang, atau laporan bawahannya. Watak angin mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, sangat teliti dan hati-hati, penuh kecermatan, menjadi orang yang dapat dipercaya dan setiap ucapannya dapat dipertanggungjawabkan.

8. Mulat Laku Jantraning Agni (Api ; Bethara Brahma) : Agni atau api adalah mematangkan dan meleburkan segala sesuatu. Seorang yang berwatak api akan mampu mengolah semua masalah dan kesulitan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Ia juga bersedia untuk melakukan pencerahan pada sesama yang membutuhkan, murah hati dalam mendidik dan menularkan ilmu pengetahuan kepada orang-orang yang haus akan ilmu. Pemimpin itu harus mampu menyelesaikan semua masalah yang menjadi tanggungjawabnya secara adil (mrantasi ing gawe). Serta tanpa membeda-bedakan mana yang mudah diselesaikan (golek penake dewe), dan tidak memilih berdasarkan kasih (pilih sih) , memilih berdasarkan kepentingan pribadinya (golek butuhe dewe).

Barata terpekur mendengarkan nasehat Sri Rama Wijaya, makin tunduklah ia pada kemampuan rakandanya ini. Dengan mata sembab, diterimanya kasut Sri Rama, diciumnya dengan takzim, dibalut kain sutra merah...dan diletakkannya di kursi kereta kencana dengan hati-hati...

Rama: Dimas Barata, yang sudah baik usahakan agar menjadi utama. Yang utama ini jadikanlah teman. Tetapi ingat, baik yang jahat, yang baik, maupun yang utama adalah rakyatmu yang harus mendapat perlakuan yang sama. Baik yang jahat, yang baik maupun yang utama tentu ada penyebabnya masing-masing. Pelajarilah penyebab-penyebab itu. Kalau ada yang jahat dan telah engkau usahakan agar menjadi baik tidak berhasil, tetapi malahan menimbulkan korban jiwa manusia, musnakan saja ia. Ia merupakan bibit kejahatan di hari-hari mendatang.

Hindarkan rakyatmu dari hidup maksiat seperti maling, madon, madat, minum, main, mangani, mada dan sebagainya.

Kalau ada prajurit bertindak semaunya harus cepat-cepat engkau tindak, karena prajurit semacam itu didalam peperangan akan bertindak sendiri mendahului perintah dan ini akan mengacaukan peperangan pihak sendiri.

Harus ada prajurit-prajurit pilihan yang setia yang merupakan kekuatan khusus yang dapat digunakan swaktu-waktu jika ada bahaya mengancam praja. Jangan lupa engkau akan kewaspadaan, sekali lagi kewaspadaan. Engkau sekali-kali jangan terpengaruh oleh laporan yang berdasarkan atas rasa dengki, fitnah atau ditambah-tambah. Engkau jangan mudah menjadi marah. Marah dapat menimbulkan lupa. Hindarkan pertengkaran dengan siapa pun.

Di samping membrantas kemaksiatan engkau sendiri jangan lupa untuk selalu melakukan semadi kepada dewa meminta restu dan petunjuknya. Jangan pandai memberi nasehat tetapi engkau sendiri yang melanggar hal-hal terpenting dalam nasehatmu...Sungguh itu prilaku pengecut yng tak layak menjadi pemimpin. Jangan segan-segan meminta nasihat-nasihat kepada para pendeta. Jangan engkau bertingkah laku seperti singa atau harimau didalam hutan, karena singa atau harimau hanya ditakuti, bukan dihormati.

Musuh yang telah menyerah jangan disakiti, tetapi dilindungi. Tindakan seperti itu direstui dewa. Tindakanmu harus tegas tetapi tepat, adikku dan juga adil. Sikap ragu-ragu adalah tidak terpuji. Dan jangan lupa, sebagai seorang raja engaku harus pengampun. Mudah memaafkan.”

Setelah selesai menerima petunjuk-petunjuk Barata beserta pasukan pengiringnya meminta diri. Perpisahan ini mengharukan. Barata melakukan sembah sungkem sambil menangis, begitu juga semua adipati dan bupati yang hadir.

Barata merasa dirinya seperti menjadi manusia baru setelah menerima petunjuk-petunjuk dari Prabu Ramawjaya kakaknya. Barata merasa hanya akan memerintah Ayodya atas nama Rama, manjadi raja Ayodya atas nama Rama.

Sebelum berangkat Barata diajak menyendiri oleh Rama. Prabu Ramawijaya penitisan Batara Wisnu Sejati yang mahir ulah kependetaan dan kesaktian itu meneteskan api ke tubuh adiknya Barata. Tubuh Barata mendadak terbakar, tetapi hanya sebentar. Api cepat sekali padam dan tubuh Barata menjadi bersinar.

Barata merasa mendapat tambahan kekuatan dan kesaktian. Barata semakin tunduk dan mencintai lahir batin kakaknya ini. Waktu rama meneteskan api pada tubuh Barata ia sambil membisikkan ilmu-ilmu dan aji-aji jaya kawijayan.

Barata dan pasukan pengiringnya segera meninggalkan pertapaan Kutarunggu. Kedatangan Barata di negeri Ayodya disambut dengan gembira oleh rakyat dan seluruh penghuni istana. Karena semuanya sekarang menjadi jelas.

Ia memerintah atas nama Rama dan mendapat restunya. Barata benar-benar telah menjadi raja utama yang memerintah Ayodya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya