Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sondara Sondari Lahir, Sarpakenaka Gruwung

Senin, 7 September 2015

KISUTA.com - Keputren Alengka sedang disibukkan para dayang yang gesit bergerak membawa nampan, air suci dan daun sirih. Salah satu istri kesayangan Rahwana, Dewi Banondari hendak melahirkan, rasa sakit yang meremas-remas rahimnya sedari pagi, membuat Banondari yang biasanya tabah, mulai menangis kesakitan.

Bathari Tari: Bertahanlah dinda Banondari....perutmu besar sekali...kalau bukan Yaksa yang besar, mungkin bayimu kembar...

Banondari: Aduh..kakangmbok Bathari....rasa sakitnya luarbiasa sekali..Ooh, semoga bukan yaksa anakku nanti...tiap malam aku selalu muja semedi, dan beberapa kali ibuku Bathari Hema, menjanjikan akan menjaga anakku agar bisa berwajah rupawan...aa...dd..aaduuuh...tobat...

Dengan bantuan Bathari Tari dan para emban akhirnya Dewi Banondari berhasil melahirkan sepasang bayi kembar yang rupawan. Saat mendengar istrinya Dewi Banondari putri Detya Mayasura dengan Bathari Hema (bidadari) sudah melahirkan sepasang anak kembar berwajah manusia sempurna yang tampan rupawan, Rahwana menggerutu mencurigai istrinya ada main dengan Wibisono adiknya yang tampan.

Rahwana: Banondari..kok bayimu ngga ada mirip-miripnya sama aku...malah agak mirip Wibisono...hhmm anak siapa ini?

Banondari: Aduuuh kakaprabu...bukannya mensyukuri karuniaNya punya putra kembar tampan rupawan...malah mencurigai istri ada main dengan adik ipar...sungguh terlalu paduka kakaprabu...bagaimana caranya hamba bisa bermain gila dengan Dimas Wibisono tanpa ketahuan paduka yang sakti...dan lihatlah penjagaan keputren yang ketat ini kakaprabu...

Rahwana: Banondari istriku yang ayu...lihatlah anakmu ini...bagai satria sigit rupawan...kok ngga ada taringnya? Indrajit saja yang ibunya bidadari, walaupun badannya ksatria pidekso, wajahnya bertaring seperti aku...nha itu tanda ada campuran antara aku dan Bathari Tari...anakmu ini...hem...bagus amat.....anakku bukan ya...?

Banondari: Duh kakaprabu bagaimana bisa mencurigai istri kok hanya dari wajah anak.. Ibundaku juga seorang bidadari Kakaprabu, jangan lupakan itu...walaupun ayahku seorang Yaksa, lihatlah wajah dan tubuhku...sama sekali tidak ada wajah dan keturunan ayah...aku lebih mirip ibuku...bukankah itu bisa terjadi kanda...

Rahwana: Hhmm..ya..ya..ya sudahlah...serahkan sama si Ndrajit biar langsung digembleng kakaknya...aku ngga mau anakku klemer, ngga bertenaga...walau wujudnya seperti satria, mereka harus tangguh dan kuat seperti yaksa...

Banondari (cemberut karena Rahwana seperti tidak peduli dengan bayinya)..terus namanya siapa kanda...?

Rahwana: Namakan saja Sondara Sondari...biar mirip namamu...jadi aku tahu anakku darimana itu hehehehehe.

Syahdan di hutan Dandaka sepanjang perjalanan Rama, Sinta dan Laksmana..mereka menikmati perjalanan itu seperti tamasya, Dewi Sinta sering bermanja-manja meminta dipetikkan buah di pohon yang tinggi, atau bunga indah yang berada di semak-semak berduri. Rama selalu memenuhi permintaan istrinya, putri jelita yang bersedia menemaninya menembus hutan belantara.

Saat remang-remang petang Sarpakenaka raseksi genit adik Rahwana baru kembali dari pondok sarang cintanya dengan selingkuhannya Detya Kalamarica.

Ya..Sarpakenaka memang pengumbar nafsu syahwat, walaupun secara resmi dia sudah punya 3 suami : Detya katakili, Kaladusana dan Kalanopati...Sarpakenaka masih berselingkuh dengan Kalamarica telik sandi Rahwana, dan Detya Agrassina, salah satu punggawa andalan Rahwana.

Sarpakenaka bertemu dengan Rama, Sinta dan Lesmana, dihutan itu...dia langsung sembunyi mengendap-endap membuntuti mereka.. saat melihat ketampanan Rama yang bersinar dari kejauhan...Sarpakenaka mengelus-elus dadanya sendiri, gairahnya naik. Air liurnya menetes menjijikkan..bayangan bisa bercinta dengan Rama menari-nari dipelupuk matanya. Saat Rama menunjukkan kemesraan dengan Rakyan Sinta, darahnya mendidih di amuk cemburu...Ah andai dirinya yang dibelai tangan tegap itu...Sarpakenaka terus membuntuti Rombongan Rama, Sinta dan Laksmana sampai ketengah hutan.

Syahdan, ketika Rama, Sinta dan Laksmana menginap di Padepokan Maharesi Atri, mereka didatangi oleh raksasa yang bernama Wirada saudara Malika yang bermaksud membunuh mereka, membalas dendam kematian Malika.

Wirada mengendap-endap di sekitar tempat Rama sekeluarga menginap tanpa menimbulkan keributan. Kerisnya tergenggam erat di tangan kanannya. Tanpa ia sadari, Sarpakenaka mengikuti langkah-langkah Wirada dan dalam kecepatan tinggi, ia menggoreskan sedikit luka di tengkuk Wirada dengan ujung kukunya. Ketika pintu kamar Rama terbuka, Wirada bersiap memasukinya, tetapi tiba-tiba ia mendapatkan serangan dari seseorang dari sampingnya. Belum sadar siapa yang menyerangnya, Wirada terpental ke pojok kamar, terduduk tak berdaya. Ketika ia menatap siapa yang menyerang, baru ia menyadari kalau itu Rama, orang yang akan dibunuhnya.

Rama mengampuni Wirada dan membiarkan Wirada pergi dari padepokan.

Sarpakenaka yang telah mengubah diri menjadi perempuan cantik keluar dari persembunyiannya dan mendekati Rama.

Sarpakenaka : Duuh manusia tampan, kenalkan namaku Sarini. Tahukah kamu, kalau aku tadi yang melemahkan kekuatan raksasa Wirada yang bermaksud membunuhmu?” (Sarini berpenampilan sangat kenes, dengan tubuh bahenol, berusaha membuat gaya bicaranya seramah mungkin).

Rama: O, terima kasih.

Sarpakenaka: Lho kok hanya bilang terima kasih saja?”

Rama: Apa maksudmu, puteri?”

Sarpakenaka: Satria bagus aku telah menolongmu, aku ingin mendapatkan balas budimu!”

Rama: Balas budi seperti apa yang kamu inginkan?”

Sarpakenaka: (Mulai genit membasahi bibirnya dan menyorong - nyorongkan dadanya) Wahai tampan, puaskan aku dengan belaian mesramu. Jadikan aku istrimu!

(Sarpakenaka mendekati Rama, lalu mencoba meraih tangannya. Rama menepiskan tangan itu...menghindar).

Rama: Nini ketahuilah aku sudah punya istri. Ini… perkenalkan, namanya Sinta.”

(Rama meraih tangan Sinta lalu mereka saling merapat. Kemesraan Rama dan Sinta membuat hati Sarpakenaka terbakar cemburu).

Sarpakenaka: Huh...istrimu tampak lemah mana bisa memuaskanmu..Lihatlah wajahku, tak kalah cantik dengan istrimu bukan? Aku mau kok menjadi istri keduamu.”

Rama: Nini Sarini. Aku telah berjanji untuk laku eka patniwrata, hanya memiliki satu istri seumur hidupku. Kalau kamu ingin mempunyai suami tanyalah adikku Laksmana. Masihkah dia mau menambah istri ?. Apalagi ia lebih tampan daripada diriku!”

(Rama mengucapkan ini dengan tersenyum, dalam hatinya Rama sudah bisa menebak apa yang akan terjadi...Rama melihat, perempuan murahan seperti Sarini sebaiknya diberi pelajaran... dan Laksmana dengan ketegasan sikapnya pasti bisa memberikan pelajaran)

Tanpa membuang waktu, Sarpakenaka menuju kamar Laksmana. Ia melihat Laksmana sedang bersemedi. Kembali nafsu Sarpakenaka naik ke ubun-ubun...heem..pemuda ini bahkan kelihatan lebih jantan...wajahnya ngganteng, tonjolan otot-2 halus keluar menantang di tangan dan dadanya...Sarpakenaka mulai diamuk nafsunya sendiri. Sarpakenaka pun mendekati pemuda yang sedang memejamkan mata itu, lalu mengelus pundaknya dan membisikkan kata-kata rayuan di telinga Laksmana.

Sarpakenaka (mendesis serak-2 basah): cah bagus...bangunlah dari tapamu..lihatlah aku...belailah aku, jangan biarkan aku kedinginan sendiri di tengah hutan ini...

Laksmana mulai merasa terusik, sejenak tercium bau amis dari tubuh Sarini (jelmaan Sarpakenaka) dan bau busuk dari tiupan nafasnya, Laksmana lalu membuka matanya. Sarpakenaka yang masih berujud Sarini itu girang bukan main. Ia merasa telah berhasil merayu Laksmana. Sarpakenaka keliru.

Laksmana marah, alisnya bertaut, mulutnya cenberut. Ia mencabut kerisnya. Matanya nanar menatap ke arah Sarini dan berkata:

Laksmana: Kamu adalah raseksi gila yang pura-pura menjadi seorang perempuan. Sadarlah, bau badan dan nafasmu adalah bau orang kotor pelaku maksiat...Enyahlah kamu dari hadapanku!”

Ujung keris Laksmana mengenai hidung Sarini yang cantik dan memotongnya. Jadilah Sarpakenaka gruwung, tanpa hidung. Wajah Sarini pun berubah menjadi wajah asli Sarpakenaka yang buruk rupa. Wajah itu semakin buruk dengan kondisi yang grumpung seperti itu. Sarpakenaka terkejut. Ia menjerit..jerit kesakitan berlari meninggalkan Laksmana.

Sarpakenaka: Aduuuuhhh tobat....awas engkau Laksmana ..tunggu pembalasanku!” Teriak Sarpakenaka sambil memegangi luka di wajahnya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya