Kaladusana Lena, Rahwana Duratmaka
KISUTA.com - Sarpakenaka menangis meraung-raung sambil memegangi hidungnya yang gruwung. Dia terbang gegana (terbang di angkasa) langsung menuju Kadipaten Lumut Akil tempat kediaman suami pertamanya Detya Kaladusana.
Sarpakenaka: Adduuuuhh..ggrcchhh...tobat...tobat kakang...hidungku gruwung...tolong aku kakang Kaladusana...
Kaladusana: Lho...bojoku denok dubleng Sarpakenaka...kenapa ini...wah siapa yang berani memotong hidungmu?
Sarpakenaka: (memasang tampang memelas sambil terisak-isak) Kakang...tadi di hutan Dandaka aku sedang berendam di telaga Waniasri...lumpur di telaga itu katanya bisa menghaluskan kulitku...supaya manusia tidak takut melihat wujudku...aku malih warna jadi Sharini....yang biasanya kamu sukai itu lho kakang...
Kaladusana: Ooo Sharini yang bahenol, kulitnya putih pantatnya besar itu ya...huahahahah ya...ya...ayu tenan kalau kamu malih begitu yayi (Kaladusana membayangkan istrinya saat berubah menjadi Sharini...dengan tubuh bahenol menggiurkan. Sarpakenaka memang memiliki kemampuan bisa berubah wujud..itulah yang disukai para suaminya, karena saat mereka bermain cinta, si suami bisa minta sarpakenaka merubah wujudnya jadi wanita cantik untuk memancing selera mereka)...Terus apa hubungannya dengan hidungmu yang gruwung itu?
Sarpakenaka: Hich..hich..hiks...(Sarpakenaka menangis manja sambil memeluk Kaladusana)...Ternyata ada ksatria yang diam-diam mengintip aku berendam di lumpur itu kakang...ough... hikcs..hikcs...tiba-tiba dia menyergap aku dari belakang...kedua tanganku ditelikung...jadi aku tidak bisa menggunakan kuku pancanakaku...terus..terus...ksatria itu dengan buas mau memperkosaku kakang...ooough..hicks..hicks...aku meronta tak sudi...karena pikiranku terus terbayang engkau yang perkasa kakang...eh...satria itu mencabut kerisnya dan memotong hidungku...aa..aduuuh...sakit kakang...balaskan dendamku ini...
Kaladusana menjadi marah setelah mendapat laporan bahwa istrinya diperkosa oleh Laksmana. Trengginas senopati Alengkadiraja ini terbang menuju hutan Dandaka menemui Laksmana.
Kaladusana: Babo...babo..burung belibis terbang di sawah...Bocah iblis merasa gagah...heiih Laksmana, jangan hanya berani sama perempuan...kurang ajar... istri orang kamu maui juga...kenapa engkau perkosa istriku Sarpakenaka? Punya nyawa serep berapa kamu?
Laksmana: Yaksa...kamu datang-datang menuduhku memperkosa istrimu Sarpakenaka? Apakah dunia sudah kiamat...raseksi bau seperti Sarpakenaka bisa membangkitkan gairahku? Suruh istrimu berkaca...ini namanya dhandang diunekake kuntul, kuntul dionekake dhandang...(kuntul = burung berbulu putih melambangkan kebaikan, Dhandang nama lain burung gagak, melambangkan keburukan)....istrimu pandai memutar balikkan keadaan...dialah yang menggodaku dengan baunya yang amis, hingga aku risih dan memotong hidungnya.
Kaladusana tidak dapat membantah Laksmana, marah dan malu dengan kelakuan genit istrinya...Tapi ingin membuktikan pembelaannya pada sang istri, langsung saja Kaladusana menyerang Laksmana. Laksmana trengginas melayani serangan Kaladusana, ternyata ketangkasan dan kesaktian Laksmana jauh di atas Kaladusana, Laksmana meloncat ke atas badan Kaladusana dengan satu tamparan guntur saketi, matilah Kaladusana bersimbah darah.
Sarpakenaka yang mengintip kejadian itu menangis sedih...lalu pergi menemui kakaknya, Prabu Rahwana, Raja Alengka.
Prabu Rahwana tidak tertarik dengan cerita Sarpakenaka, soal hidungnya yang gruwung dan matinya Kaladusana. Rahwana orang yang tidak pernah peduli dengan orang lain. Tetapi saat sang adik mengatakan bahwa istri Rama sangat cantik dan lembut...bahkan lebih cantik dari Bathari Tari istrinya....Ingatan Rahwana kembali kepada Widowati... bukankah sudah saatnya Widowati menitis kembali....Hhmm...kalau Widowati menitis lagi dan sekarang sudah bersuami, maka suaminya tentu titisan Wisnu. Rahwana merenung sejenak...dia tidak ingin mengulang kepedihannya disiksa Harjunasasrabahu...dia harus hati-hati.
Dengan segudang akal licik berkecamuk di pikirannya Prabu Rahwana mengajak seorang kepercayaannya yang bernama Kalamarica. Seorang raksasa , walaupun tingkatannya seorang prajurit namun sakti, Kalamarica yang juga salah satu selingkuhan Sarpakenaka ini, selalu menjadi andalan Prabu Rahwana.
Mata Rahwana terbelalak. Mendadak jakun di lehernya terasa kaku. Aah..itulah Widowati, benar...itulah Widowati...bahkan sekarang terasa lebih cantik dan anggun...debar di dada Rahwana seakan suara perkusi yang meloncat-loncat dengan nada yang tak jelas...kadang seperti debur ombak...kadang menderu seperti lari kuda...
Rahwana (berbisik-bisik pada Kalamarica): Lihat..ssstt..lihat betapa cantiknya dia..... eehheemm...wanita seperti inilah yang membuatku ngga nyenyak tidur Kalamarica...
Kalamarica: Ya..ya..cantik sih..tapi manusia lemah biasa...kalau mau adik paduka juga bisa malih warni serupa itu...tapi dengan tandang yang llluuuar biasaaa..heheheh..ngedap edapi...
Rahwana: Hus...wong edan...malah ngrasani adikku...aku tahu kamu gendakannya Sarpakenaka...hei Kalamarica...sekarang dengarkan aku...aku mau ambil Dewi Sinta...cintaku membuat kepalaku berdenyut-denyut mendidihkan gairahku...buatlah dia menjauh dari suami dan iparnya...
Kalamarica: Kenapa harus begitu Sinuwun..paduka sakti mandraguna...ambil saja langsung.. paling suaminya juga keok lawan paduka...
Rahwana: Sembarangan...itu titisan Batara Wisnu, aku punya pengalaman ngga enak sama titisan Wisnu...lebih baik cari jalan aman...kita culik saja si Sinta...aduh ayo cepet dong...sudah sedut senut nih rasanya...
Kalamarica segera merubah wujudnya menjadi kijang kencana....pelan-pelan kijang kencana itu mendekati Sinta, berusaha menarik perhatiannya. Saat melihat kelincahan dan lucunya kijang kencana yang berbulu cantik keemasan itu...Sinta berusaha menangkapnya.. Kalamarica sengaja bermain-main jinak-jinak merpati...saat Sinta sudah mendekat segera dia melompat untuk menjauhkan Sinta dari Rama dan Laksmana...
Rama khawatir melihat kenekadan Sinta yang makin jauh menembus hutan..ditahannya istrinya dan di janjikannya sang istri bahwa dia akan menangkap kijang kencana asalkan Sinta mau sabar menunggu, di tanah lapang sambil di jaga/ ditemani Laksmana. Sinta menurut. Ramapun berlari mengejar Kijang Kencana itu...
Rakyan Sinta menunggu dengan gelisah...terbayang di pelupuk matanya betapa menggembirakan kalau dia memiliki hewan peliharaan yang cantik seperti kijang dengan bulu emas itu...waktu terus berlalu...tiba-tiba mereka mendengar pekik kesakitan yang suaranya mirip seperti suara Rama.
Sinta: Dimas Laksmana....susullah rakanda Rama...jangan-jangan beliau terluka jatuh .. kenapa pekiknya seperti itu?
Laksmana: Kakangmbok...saya tidak bisa meninggalkan Kangmbok...itu bukan suara Rakanda Rama...beliau ksatria linuwih sakti mandraguna, tidak akan memekik seperti itu.
Sinta: Dimas...tega sekali engkau membiarkan rakanda sendiri...susullah...aku aman di sini, perasaanku tidak tenang...susullah rakanda wahai Laksmana...
Laksmana: (menggeleng-gelengkan kepala) tidak Kangmbok...jauh lebih penting keselamatan paduka. Begitulah pesan rakanda Rama...
Sinta: Apa maksudmu bahwa lebih penting keselamatanku? Ooo, Dimas Laksmana, jangan katakan engkaupun sama seperti laki-laki lain itu....masih belum cukupkah adikku Urmila sebagai pendamping hidupmu....hingga engkaupun berangan-angan mendapatkan diriku jika terjadi sesuatu dengan rakanda Rama? Jadi ini tujuanmu mengikuti kami dan meninggalkan Urmila di Ayodyapala?
Laksmana: Jagad Dewa bathara....duuh Kangmbok...tega sekali paduka menilai saya serendah itu... Kesetiaan saya pada rakanda Rama tulus adanya...bahkan sebelum kakangmbok menjadi jodohnya....Dengarlah sumpahku Kangmbok...aku bukan hanya laku eka patniwrata...hanya sekali menikah seumur hidupku...aku melindungi istriku Urmila dengan sumpahku, biarlah aku lebur menjadi debu jika menyangsikan kesetiaan dan pengabdiannya yang tulus kepadaku. (Sumpah Laksmana ini seakan palastra yang tajam pada masa depan kehidupan rumah tangga Sinta).
Baiklah kakangmbok...aku akan lingkari tempat kakangmbok beristirahat ini dengan rajah Laksmana Rekha...Rajah ini aku manterai untuk melindungi kakangmbok...sepanjang kakangmbok berada di dalam rajah ini, kakangmbok aman...karena itu jangan sekali-kali kakangmbok keluar dari lingkaran yang aku buat.
Setelah meninggalkan pesan itu kepada Sinta, Laksmana bergegas meninggalkan Sinta seorang diri.
Pucuk dicinta ulam tiba.....Rahwana girang sekali melihat Laksmana meninggalkan Sinta seorang diri, dia segera merubah wujudnya menjadi seorang peminta-minta yang sudah tua, bongkok dan lemah.
Dengan tertatih-tatih, pengemis tua itu mendekati Rakyan Sinta untuk memancing perhatian dan menguras rasa ibanya.
Pengemis: Gusti ayuu...haduueh...pegelnya punggung ini...Ooo..gusti ayu...tolonglah kakek ini...
Sinta: Kakek...apa maumu? Walaupun ingin membantu...aku tidak bisa menolongmu, karena aku tidak boleh keluar dari lingkaran ini Kek...
Pengemis: Haduuh...duh..duh...tenggorokanku kering...punggungku sakit sekali...aku kepengin nginang (mengunyah sirih)....Gusti ayu...bantulah nglinting kinangku biar tidak berantakan...aa..aaduuh...sakitnya punggungku...
Sinta mulai kehilangan kewaspadaannya karena perasaan ibanya..pelan-pelan dia berjalan di pinggir kalangan....kakek jelmaan Rahwana menjadi tak sabar...saat ingin meraih tangan Sinta...tiba-tiba tubuhnya terlempar seperti tersengat arus listrik dengan kekuatan tinggi....si kakek makin memelas mengerang-erang....Sintapun luluh hatinya...tak disadarinya separuh kakinya sudah keluar dari kalangan...disaat seperti itu mata Rahwana yang jeli menangkap kesempatan itu Ia langsung menangkap Dewi Sinta , badar wujudnya kembali sebagai Rahwana dan membawa terbang Sinta ke Angkasa. Sinta menjerit histeris kaget...untuk kemudian pingsan dalam pondongan Rahwana.
Sementara itu di tengah hutan Dandaka...jeritan serupa suara Rama yang di dengar Sinta, sebenarnya adalah jeritan Kalamarica yang menyamar menjadi kijang kencana, karena kijang itu terus berlari-lari menjauhkan Rama dari Sinta...Rama mengambil keputusan memanah kaki kanan kijang itu untuk melumpuhkannya...Begitu kakinya patah terkena panah Rama, badar wujud kijang itu kembali menjadi Kalamarica...dasar licik saat kesakitan terkena anak panah, Kalamarica masih sempat memba-memba membuat jeritannya serupa suara Rama...inilah yang membuat Sinta terkecoh. Begitu badar wujudnya Kalamarica segera terbang melarikan diri menjauh dari Sri Rama.
Rama terkejut melihat kejadian ini, pikirannya tangkas ke arah Sinta, dia sadar ini pasti kelakuan orang jahat yang ingin menjauhkannya dari Sinta...tapi...apa maksudnya?
Rama bergegas kembali ke arah Sinta, ditengah perjalanan dia bertemu dengan Laksmana yg meminta ampunannya meninggalkan Sinta karena kekhawatiran Sinta mendengar jeritan.
Perasaan Rama semakin tidak enak segera diajaknya Laksmana kembali ketempat Sinta.
Saat Rama dan Laksmana kembali ketempat itu, Sinta sudah tidak ada, mereka hanya menemukan sirih dan tembakau yang berceceran diluar pagar lingkaran Laksmana Rekha. Rama dan Laksmana mencari Dewi Sinta disekitar tempat itu. Tetapi Sinta seakan hilang ditelan bumi. Akhirnya Rama terduduk lemas di atas bebatuan dengan kekhawatiran atas keselamatan istrinya.
Laksmana : Duh kakangmas, ampuni hamba hilangnya kakangmbok Rakyan Sinta...adalah keteledoran hamba kakangmas...
Rama (menghela nafas panjang) : Laksmana...sudahlah, tidak ada gunanya kita mengusut siapa yang salah dalam hal ini...Peristiwa ini saling terkait dengan perginya kita dari istana Ayodya dan lepasnya tahta dariku...
Laksmana : Apa maksud kanda ? apakah kita harus mandah saja dengan kejadian ini ? bagaimana dengan Rakyan Sinta?
Rama: Tentu kita tidak boleh mandah dan berdiam diri adikku...kita harus berusaha menemukan istriku...menyelamatkannya kalau ada apa-apa...
Laksmana: mohon jelaskan maksud kanda...
Rama: Laksmana...sebagai putra raja, selama ini kita diberi pelajaran kanuragan dan budi pekerti..sudah seberapa banyak yang kita kembalikan untuk kepentingan kehidupan? Belum seberapa adikku. Karena terusir harus hidup menggelandang di hutan, kita "terpaksa" meggunakan ilmu-2 kita untuk bertahan dan menolong sesama jika sempat dan dibutuhkan...sekarang ujian ini ditambah lagi dengan hilangnya istriku...Ooo adikku sayang, sepertinya para dewa mengharuskan kita lebih banyak memanfaatkan ilmu-2 kita....Kawruh kang kasimpen iku umpamane mawa kapendhem ing awu, sirnane tanpa pakoleh...ilmu yang hanya disimpan saja tidak dimanfaatkan itu akan hilang seperti abu....karena itu Laksmana, mari endapkan rasamu...bantu aku merenung untuk menemukan jalan apa yang harus kita lakukan untuk menemukan mbakyumu...
Laksmana terpekur mendengar nasehat Rama...betapa bijaknya kakaknya ini, selalu bisa mengendalikan diri, dan menemukan hakekat hidup dalam setiap cobaan...Bersama Rama Laksmana khusuk bersemedi.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


