Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Jatayu Lena, Subali Gugur

Rabu, 9 September 2015

KISUTA.com - Rahwana yang merasa puas berhasil menculik Sinta, terbang gegana sambil memondong Sinta yang terkulai pingsan. Sementara itu teriakan histeris Sinta sebelum pingsan, telah mengundang perhatian Jatayu, burung garuda raksasa...Jatayu segera menghampiri suara jeritan itu... di angkasa Jatayu yang bersahabat dengan Raja Dasarata, melihat Sinta istri putera sahabatnya, di pondong Rahwana dalam keadaan pingsan.

Jatayu yakin Sintalah yang tadi menjerit, dan Rahwanalah sang Duratmaka, maka jiwa ksatria Jatayu meluap-luap , Jatayu tidak gentar melawan Rahwana. Ia menyerang Rahwana dengan segenap tenaganya, berusaha menyelamatkan Sinta. Namun Jatayu sudah renta, dia adalah adik Sempati, raja burung Garuda yang dulu menyelamatkan Kausalya ibu Rama. Ketika ia sedang berusaha menyelamatkan Sita dari Rahwana, sayapnya ditebas dengan pedang. Jatayu bernasib naas. Tubuhnya oleng terjatuh ke tanah dan darahnya bercucuran.

Syahdan di hutan Dandaka, setelah bisa menenangkan diri karena kehilangan istri yang sangat di cintainya, Rama mulai memperhatikan kalangan tempat Sinta ditinggalkan Laksmana. Dengan cermat di sibakkannya semak belukar...perlahan-lahan Rama dan Laksmana mencoba mencerna kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi.

Saat mata mereka menatap tajam ranting, daun, belukar dan tanah setapak, tampak oleh mereka darah berceceran. Mereka segera mengikuti darah itu, Rama cemas sekali dan berharap itu bukan darah istrinya. Semakin jauh mereka menyibak hutan mengikuti ceceran darah itu, akhirnya mereka menemukan seekor burung tanpa sayap sedang sekarat. Burung tersebut mengaku bernama Jatayu, yang berusaha menolong Dewi Sinta karena diculik Rahwana. Namun usahanya tidak berhasil sehingga Dewi Sinta dibawa kabur ke Alengka. Melihat keadaan Sang Jatayu yang sekarat, Sang Rama memberi hormat untuk yang terakhir kalinya. Tak lama kemudian Jatayu menghembuskan napas terakhirnya. Akhirnya dengan khusuk dan hormat Rama bersabda.

Hé Jatayu mahā dibya, wênang dharaka ring hurip, sangka ryasih ta mamitra, bapangku kalulut têmên, tumuluy têka ring putra, ah ō dibyanta hé kaga. Sêdêng tat mahurip nguni, bapangku mahurip hidêp, ri pêjah ta kunêng mangke, menyak uwuh-uwuh. (Kakawin Ramayana).

Hai jatayu yang maha mulia, sungguh kuat dikau bertahan demi kebenaran dengan jiwamu. Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap ayahku lekat sekali, Kau lanjutkan sampai ke aku, puteranya. Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa. Saat engkau masih hidup tadi, kurasakan ayahku pun masih hidup, Saat kini kau telah meninggal, Sungguh perih rasa hatiku.

Mata Laksmana berkaca-kaca saat membantu Rama memperabukan jenasah Jatayu layaknya seorang pahlawan bangsa. Mereka melanjutkan perjalanan, sampai Laksmana melihat di suatu batang pohon tampak seekor monyet besar mengenakan baju kebesaran layaknya raja ksatria terjepit diantara cabangnya yang tinggi. Laksmana melepaskan anak panah Surawijaya, bergemelethak batang pohon itu patah dan monyet besar itu jauh yang dengan sigap di tangkap diselamatkan Rama. Monyet itu menyembah Rama dan Laksmana dengan takzim.

Sugriwa: Sembah saya Sugriwa..Duh Rama Wijaya kekasih dewa titisan Wishnu...

Rama: Kisanak, siapakah engkau yang tiba-tiba mengenalku dan bagaimana kisahmu sampai tersangkut di batang pohon...

Sugriwa: Hamba Sugriwa Raja Kiskenda..hamba tahu paduka Sri Rama, karena dalam gentur tapa hamba menyesali diri, mohon petunjuk dewa untuk bisa selamat dari penderitaan, Bathara Narada telah menemui hamba dan menyampaikan bahwa yang akan menyelamatkan hamba adalah titisan Wishnu bernama Rama Wijaya. (Subali kembali menyembah Rama dan melanjutkan ceritanya).

Sri Rama, hamba tersangkut di pohon itu, akibat kesalah pahaman dengan saudara kandung saya kakanda Resi Subali, yang marah menganggap hamba berlaku curang...(Sugriwa mengisahkan kesalah pahaman membaca darah merah dan putih...yang ternyata darah bercampur otak Mahesasura yang berhasil dibunuh Subali dalam kisah Goakiskenda)... Selain saya dihajar dan dihukum dijepit di pohon tadi, rakanda Subali juga telah menduduki kerajaan Kiskenda dan mengambil Bathari Tara istri saya sebagai istri beliau...

Rama: Jagad dewa bathara...hhmm..Sugriwa...ceritamu sungguh mengenaskan, dimulai dari kecerobohan, berujung pada kesalah pahaman...bukan hanya kesalah pahamanmu pada Subali, tapi juga pada para dewa yg sebelumnya gegabah menyerahkan Dewi Tara untuk kamu peristri, tanpa meneliti apakah Subali sungguh sudah pralaya atau belum....(Rama beringsut sambil merenung).

Baiklah Sugriwa, nasi telah menjadi bubur, bagaimana akhirnya nanti? Kamu harus berjuang mendapatkan istrimu sendiri..tantanglah Subali, rebut kembali hak mu...itu wajib sebagai seorang suami membela kehormatan istri. Aku akan mengamati engkau dari jauh.

Sugriwa segera melaksanakan nasehat Rama, tantangannya pada Subali di Goakiskenda, segera ditanggapi Subali dengan kemarahan yang meluap-luap. Terjadilah pertarungan yang hebat diantara keduanya. Walaupun kini Subali tidak memiliki aji Pancasona lagi, namun karena terlalu lama Sugriwa terjepit di atas batang pohon...badannya menjadi kalah tangkas. Dengan kejam Subali menjadikan adiknya bulan-bulanan, tanpa sadar nafsu amarah menguasinya, Sugriwa yang sudah tidak berdaya di siksanya dengan kejam.

Sri Rama yang menyaksikan dari balik sebatang pohon, mengernyitkan dahi melihat kekejaman Subali..dipersiapkannya panah Guawijaya...dengan suara mendesing panah itu melaju, dan akhirnya tepat menghujam jantung Subali, yang langsung memekik kesakitan bersimbah darah...Sugriwa tanggap memangku kakaknya yang sekarat, sambil menangis menyesali akhir kisah mereka sebagai saudara kandung.

Subali (terbata-bata memandang Rama, dengan nada marah dia berkata) : Wahai ksatria saya menuntut mu, mengapa ikut campur dalam masalah dua bersaudara, yang tidak ada sangkut pautnya denganmu?


Rama: Kesalahanmu hai Subali, engkau tidak wening mencerna keadaan...sebagai seorang Resi engkau menuduh Sugriwa melakukan pengkhianatan dan merebut tahta. Tetapi lihatlah bagaimana engkau memperlakukan Bathari Tara istri Sugriwa. Pengertianmu tentang suami istri belum benar, Engkau menikahi istri saudaramu, dengan cara rebutan sperti binatang. Hal ini tidak bisa dibiarkan karena akan merusak tatanan dunia.

Subali: Hhmm...mengapa kau bunuh aku dari balik pohon?

Rama: Mengapa aku memanah dari balik pohon? hhmm Subali, aku seorang ksatria dan prilakumu tadi layaknya hewan, cara membunuh hewan memang dari balik persembunyian.

Subali: Satria, bukankah seharusnya engkau bisa mengingatkan aku dan bertarung secara adil?


Rama: Subali engkau akan memiliki karunia untuk mendapatkan setengah kekuatan dari musuhmu bila bertarung berhadap-hadapan, tetapi karena prilakumu yang sudah keluar dari kebenaran dikuasai hawa nafsu, hilang rasa persaudaraan maka aku putuskan harus memanahmu dari balik pohon!

Akhirnya Subali sadar bahwa dia berhadapan dengan titisan Bathara Wisnu, karena itulah yang sudah digariskan dalam hidupnya, bahwa hanya titisan Wisnu yang mampu memberikan keadilan dan membunuhnya. Dan dia dapat mengerti mengapa dia dibunuh dengan anak panah dari balik pohon. Subali merangkul kemudian mengadakan perdamaian dengan Sugriwa dan meminta dengan kasih dan penyesalan...kini tahulah dia mengapa dulu tertipu Rahwana, sebenarnya itulah azab teguran Sang Khalik atas kesewenangannya pada adiknya, Subali terbata-bata meminta maaf pada Sugriwa..terbayang dahulu kasih sayang di antara mereka sebagai dua ksatria rupawan..Subali meminta Sugriwa menjadikan Anggada, putranya menjadi putra mahkota. Sugriwa menyetujui dan Subali menghembuskan napasnya dengan tenang...

Rama: Wahai Sugriwa...perabukan jenazah Prabu Subali sebagai Raja besar...sesungguhnya dia adalah ksatria yang berdarah putih...hanya tiga orang ksatria berdarah putih...sayang dia keliru arah karena tidak waspada.

Sugriwa: Ooo kekasih dewa, terima kasih telah membantu saya menyelesaikan masalah ini, semoga saya dapat melanjutkan dengan jalan yang baik. Saya akan penuhi permintaan kakang Subali untuk putranya Anggada...dan melanjutkan hidup bersama Bathari Tara di Kiskenda. Duh sang Prabu beri saya petunjuk agar dapat membantu paduka sebagai raja Kiskenda...

Rama: Sugriwa...perhatikanlah bagian-bagian dari Luku..alat untuk menyuburkan tanah...pada Luku itu ada bagian-bagian yang bisa engkau gunakan sebagai pelajaran hidup.

Pertama: Yang pertama adalah PEGANGAN, pegangan hidup manusia tidak lain adalah ilmu, engkau harus memiliki ilmu yang cukup untuk kehidupanmu saat ini, dan kehidupanmu setelah mati. Ilmu tidak bisa berhenti dalam satu titik harus terus kamu tambah dan kamu olah. kedua adalah PANCADAN, Pancadan berasal dari kata mancad yang berarti bertindak, ilmu itu harus kamu amalkan, kamu harus selalu bertindak, berbuat dan berkarya yang benar.

Ketiga adalah TANDING, tanding itu artinya membanding-bandingkan, engkau tidak boleh merasa puas dalam mengamalkan ilmumu, cobalah selalu mawas diri, bandingkanlah hasilnya, selalu harus ada peningkatan menuju kesempurnaan. Keempat adalah SINGKAL, singkal diambil dari kata metu sing akal, mungkin dalam perjalanan hidupmu engkau menemukan kesulitan-kesulitan, masalah yang berat. Jangan menyerah, gunakan ilmumu, tindakanmu, dan kemampuanmu mawas diri untuk mencari jalan keluar, hingga masalahmu teratasi.

Kelima adalah KEJEN, kejen artinya kasawijen dan berarti pemusatan. Pusatkan pikiranmu ketika mengejar sebuah tujuan, jangan serong, pikirkan pada titik yang utama. Keenam adalah OLANG ALING, olang-aling yang diartikan sebagai penutup atau penghalang, kenalilah penghalang hidupmu agar engkau bisa mengatasinya dengan baik.

Ketujuh adalah RACUK, racuk yang diartikan dengan ngarah sing pucuk..kamu harus selalu mengarahkan tindakan, pikiranmu dan usahamu pada yang terbaik yang bisa engkau lakukan....Tujuh bagian ini di sebut PITU, artinya Pitulungan atau pertolongan dalam hidup, kalau engkau bisa menjlaninya, semoga engkau menjadi raja yang bijak di Kiskenda Sugriwa.

Sugriwa dan Laksmana mendengarkan sabda sang Rama dengan Takzim, sungguh mereka bangga bisa mengabdi pada ksatria agung penuh ilmu seperti Rama.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya