Pancawati Binangun
KISUTA.com - Sepeninggal Resi Subali, Sugriwa mengajak Rama dan Laksmana ke hutan Pancawati. Rama terkesan pada keindahan hutan Pancawati...Sugriwa tanggap terhadap gelagat Rama, Sugriwa mengerahkan wadyabala wanara di bawah pimpinan Anoman, Anggada, Anila, dan Kapi Jembawan, untuk membangun istana yang Indah.
Setelah Istana yang indah itu selesai dibangun, Rama meminta agar Sugriwa menjadi raja. Sugriwa menolak permintaan Rama. Sugriwa meminta Rama yang menjadi raja Pancawati, karena ia masih menjadi raja di Goa Kiskenda. Rama bersedia menjadi raja Pancawati. Namun Prabu Rama juga mengangkat Sugriwa menjadi seorang Narpati. Narpati adalah jabatan setingkat raja. Narpati Sugriwa membantu tugas Prabu Rama dan melaksanakan perintah yang diberikan padanya.
Sebagai raja di Pancawati, Rama berusaha membina rakyatnya yang kebanyakan wanara dengan beberapa penduduk desa di sekitar hutan Pancawati, dengan ajaran budi pekerti luhur. Setelah kerajaannya mulai tertata, Rama mulai menyusun strategi untuk mengembalikan Sinta dari penculikan Rahwana.
Pada suatu hari Prabu Rama memerintahkan Anoman untuk melakukan perjalanan mata-mata ke negeri Alengka. Hal ini diperlukan mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.
Pertimbangan itu diambil karena Anoman memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga jika menghadapi musuh dalam perjalanan, akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Selain itu Anoman dapat terbang ke angkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan, perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini melewati samudera, dan merupakan tugas pertama menuju Alengka.
Anoman berpamitan kepada Prabu Rama, untuk segera melaksanakan tugas. Namun tiba-tiba datanglah Anggada menghadap Prabu Rama. Anggada minta Prabu Rama membatalkan niatnya mengutus Anoman ke Alengka, dan menawarkan dirinya saja yang menjadi duta Pancawati ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas ke Alengka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi.
Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, di samping itu ada kemungkinan dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Rahwana, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya.
Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Sampai di sini Anggada tidak berani lagi menawar hari...karena 1 hari terasa terlalu pendek waktunya.
Sebelum Anoman berangkat ke Alengka. Prabu Rama memberikan nasehatnya: “Luwih becik makarti tanpa sabawa kang anjog marang karahayoning bebrayan, katimbang tumindake wong kang rekane nindakake panggawe luhur nanging disambi udur. Yektine tata tentrem iku ora bakal bisa kagayuh yen ta ora adhedhasar kerukunan, dene kerukunan iku mung bisa kecandhak yen siji lan sijine padha bisa aji-ingajenan lan mong-kinemong.”
Lebih baik bekerja yang tidak mengarah kepada tindakan yang membahayakan kesejahteraan masyarakat, Daripada orang yang sepertinya melakukan perbuatan luhur dan mulia tetapi di selingi dengan percecokan. Sebenarnya ketentraman itu bisa kita raih jika di dasari oleh kerukunan, sedangkan kerukunan itu sendiri hanya bisa di pegang jika satu sama lain bisa saling menghargai dan saling menjaga perasaan.
Anoman berdamai dengan Anggada melalui pesan Prabu Rama itu, walaupun jauh di dasar lubuk hatinya perasaan iri dan dengki Anggada pada Anoman belum juga surut.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


