Rabu, 10 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Anoman Obong

Senin, 14 September 2015

KISUTA.com - Senja temaram di taman Asoka, dua putri jelita gundah gulana. Rakyan Sinta, menggantung air matanya yang bersembunyi di sudut mata. Nafasnya sesak, debar dadanya tak berirama.

Segenap rindu dendam pada Rama Wijaya telah melumpuhkan sendi-sendi tubuhnya. Sang Rakyan Sinta jatuh terduduk di bangku taman. Trijatha menggenggam erat tangan Sinta...

Ooo Dewata Agung...betapa muka jelita itu seperti tak bernyawa. Tanpa kata...hanya usapan-usapan lembut tangan Trijatha ke jemari Sinta. Dua Jelita itu menyatukan jiwa...dalam duka dan kasih. Layaknya saudara kandung yang saling menyayangi...

Sunyi...hening...angin berhenti bergerak langit tunduk berduka, di balik pohon kemuning, Anoman menatap kesenduan ini, dengan perhitungan waktu yang cermat. Sesungguhnya ini waktu sudah senja, tetapi karena Matahari masih diikat Bathara Surya...Gilang gemilang masih aman bagi Anoman menuntaskan tugasnya.

Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing di depannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya. Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ke tempat Prabu Rama.

Sinta: Tidak Anoman, aku istri Sang Rama Wijaya...tak layak bagiku lelaki lain menyelamatkanku.. walaupun engkau kepercayaan suamiku.

Anoman: Baiklah sang Dewi, kalau demikian tinggal cincin inilah yang harus paduka pakai...sebagaimana pesan dari Prabu Rama Wijaya.

Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima, dan dipakai di jari manisnya. Cincin itu melingkar manis di jari..Rakyan Sinta...Sang Dewi terhuyung-huyung tak kuat menanggung beban derita...

Sebelum roboh pingsan, Anoman dan Trijatha sigap memapah sang Dewi. Tanpa sengaja dua tangan bersentuhan...Dada Anoman menggelepar...

Duh si Jelita Trijatha....mengapa kau getarkan amuk asmaraku....Anoman merenung.

Dewi Sinta pingsan, yang segera disadarkan oleh Anoman dengan ilmunya yang tinggi. Anoman menyaksikan cincin itu menjadi kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Inilah bukti yang dibutuhkan Rama, yang akan melanjutkan serangannya jika istrinya menderita. Tetapi jika istrinya menikmati kemulian hidup di Alengka yang ditunjukkan dengan cincin yang sesak, kekecilan tidak bisa masuk ke jari manis, maka Rama akan membatalkan misi penyelamatan. Dan menganggap masalah selesai sudah.

Setelah berhasil disadarkan dari pingsannya, Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama.

Baru saja Anoman menyimpan sisir itu di kancing gelungnya, Indrajit yang akhirnya berhasil menemukan Anoman yang menyusup, telah mengepung taman Asoka dengan pasukannya. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajit segera membawa Anoman ke tempat Prabu Rahwana yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Rahwana, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Rahwana serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka.

Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajit menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka Prabu Rahwana menjadi merah padam.Prabu Rahwana marah bukan kepalang.

Rahwana: Kurang Ajar...munyuk putih tidak tahu diri...kamu tidak tahu siapa aku berani nian menyusup menemui Sinta heh?!

Anoman: Tentu saja aku mengenal kamu...Raine Wana (wajah hutan....Anoman sengaja mengejek Rahwana) ...raja banci yang menginginkan istri orang karena sudah ngga laku lagi di mana-mana....hehehehe.

Rahwana: Jebblllargh..(Meja marmer di samping tempat duduknya hancur dengan sekali pukul)..babo babo iblis laknat ..munyuk bangsat..Ndrajit...paksa dia duduk tertunduk di depanku!!!

Indrajit memukul lutut Anoman dari belakang, untuk memaksanya duduk bersujud...ajaib, walau Anoman terduduk, tapi dengan posisi itu tubuhnya tetap terjaga sederajat sama tingginya dengan Rahwana, karena ekornya membentuk spiral dan menopang tubuhnya.

Anoman: Hehehe...Raine Wana...jangan terlalu tinggi engkau menilai dirimu..lihatlah aku hanya seorang duta, seorang utusan tetapi kita tetap sederajat...sama tinggi kedudukan kita...engkau tidak bisa menundukkanku...bagaimana engkau bermimpi menandingi ratu gustiku? Sana...basuh dulu mukamu biar bangun dari mimpimu...

Rahwana murka, dari singgasananya dilancarkannya serangan maut pukulan tapak ludira dirda mengarah ke dada Anoman...Anoman menanggapi serangan itu dengan tenang. Dibusungkannya dadanya, hantaman itu ambles, seperti menembus tumpukan kapas yang di dalamnya ada hawa dingin menyengat...Rahwana terkejut, tiba-tiba tangannya yang memukul seperti terkena sengatan berhawa dingin...ditariknya tangannya yang mulai membiru dan menyisakan rasa sakit kiyut miyut...Rahwana menggigil... Gila baru monyet putih seorang diri begini, kesaktiannya sudah begitu tinggi...bagaimana dengan rajanya.

Sifat licik dan pengecut Rahwana muncul, Indrajit disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup. Indrajit berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan diikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajit dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman.

Sewaktu Indrajit dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali. Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali.

Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning di atap rumahnya.

Tak lama kemudian Indrajit bersama Rahwana dan adik-adiknya mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Rahwana meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Rahwana melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke negara asalnya.

Wibisana: Kakaprabu...sudahlah, lepaskan saja Anoman..di dalam perang, tidaklah lazim menyiksa dan membunuh utusan.

Rahwana: Heh...kamu ini mau membela siapa? Kamu adikku, apa maksudmu membela musuh...?

Wibisana: Duh kakaprabu, jangan salah mengerti..justru saya sangat menghormati dan mencintai paduka, saya mencoba menjaga nama besar paduka sesuai aturan ksatria dalam perang...sungguh celaka kalau gara-gara salah langkah, nama paduka sebagai raja besar menjadi rusak.

Rahwana: Halah...nama rusak apanya...kamu pikir aku peduli dengan hal itu...sudah sana minggir.

Rahwana tidak memperdulikan permintaan adiknya. Rahwana segera menyuruh Indrajit membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu di sekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana.

Nyala api itu membuat ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala di tubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu ke seluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar. Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar.

Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Rahwana dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi ke rumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.

Anoman sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas.

Anoman kemudian menceriterakan semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya.

Sang Titisan Wishnu, bersemu kelabu memendam duka. Rasa kasih pada pagutan jiwanya makin mencengkeram lubuk hatinya. Duh yayi garwaning pun kakang....eba kaya ngapa gonnmu rekasa. Sinta, bersabarlah...tunggu aku suamimu yang akan menjemputmu...utuh dan terhormat...

Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Rahwana. Nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Rahwana mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang.

Untuk membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merencanakan membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya