Wibisana Tundung
KISUTA.com - Syahdan di Alengka, Wibisana penasaran terhadap Dewi Sinta, gadis cantik ini sewaktu dilahirkan Dewi Tari, sudah disingkirkan ke sungai Gangga, dalam pantauannya Wibisana tahu, Dewi Sinta menjadi anak Prabu Janaka dari Mantili, kemudian, sudah menjadi istri Prabu Rama di Ayodya, mengapa bisa dibawa kembali ke negeri Alengka.
Wibisana percaya, semua sudah menjadi kehendak Dewata, walaupun sudah diupayakan berbagai cara untuk menjauhkan Dewi Sinta dari Rahwana, ternyata jalan hidup Dewi Sinta memang harus berurusan dengan Rahwana. Wibisana hanya bisa pasrah kepada Dewata.
Pada suatu hari di pasewakan Agung Kerajaan Alengka Diraja, Rahwana dihadapan Patih Prahasta. Dan juga para adik-adiknya, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana membicarakan rencana perkawinan Prabu Rahwana dengan Dewi Sinta.
Wibisana: Kakaprabu...jangan teruskan angkara murka ini...ampunkan dinda, biarlah saya buka rahasia ini....melihat ciri-ciri Dewi Sinta...sesungguhnya dia itu putri kanda dari ayunda Bathari Tari....karena paduka mengancam akan menikahi sang bayi jika lahir sebagai wanita, maka begitu bayi lahir, saya larung dan saya selamatkan dari incaran paduka. Indrajit Megananda yang paduka yakini sebagai putra Bathari Tari sesungguhnya adalah pujan dari Mega yang saya pegang dan saya bawa dalam keheningan semadi saya...oleh karena itulah ayunda Bathari Tari memberinya nama Megananda.
Suasana Balairung mendadak senyap...Pangeran Indrajit terpaku dalam sikap sempurnanya. Dialog dalam bathinnya mencoba mencerna rahasia yang terkuak...Ah Aku tetap anak ramanda Rahwana dan Ibu Dewi Tari...dari merekalah aku temukan kasih sayang dan kemuliaan...Indrajit mengikis rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyeruak.
Rahwana menggebrak meja...piring dan gelas perak berantakan dan disamparnya untuk meluapkan kemarahannya...
Dalam kemarahannya, diusirnya Wibisana dan tidak boleh kembali ke negeri Alengka, biar saja jadi orang hutan. Akhirnya Wibisana keluar dari istana.
Kumbakarna melihat Wibisana diperlakukan sewenang-wenang oleh Rahwana. ia tidak terima, dibelanya adiknya yang disebutnya sebagai punggawa kebenaran, dan Rahwana disebutnya sudah sesat jalan, membuta dalam tindakan. Rahwana semakin marah. Kumbakarnapun diusir seperti halnya Wibisana.
Akhirnya Kumbakarna pun pergi dari istana Alengka.
Sesampai di luar Istana, Kumbakarna masih dapat bertemu dengan Wibisana, dan Kumbakarna ingin mengikuti kepergian Wibisana. Wibisana melarang kakaknya mengikutinya, lebih baik kakaknya pulang ke Alengka, untuk menjaga Prabu Rahwana, agar tidak semakin semena mena terhadap orang lain.
Kumbakarna: Wibisana adiku cah Sigit...aku ikut ke mana engkau akan pergi Di...
Wibisana: Duh Kanda...hamba berencana menyeberang ke Pancawati untuk mengingatkan Prabu Rama...hamba ingin mengabdi pada kebenaran dan bersihnya nurani kanda...
Kumbakarna: Hhmmm....Wibisana..tidak salah pendapatmu itu..tetapi aku tidak bisa meninggalkan tanah tempat aku dilahirkan...di bumi inilah aku tumbuh, juga istri dan anak-anakku...aku tidak bisa mengkhianati negaraku Di....baiklah kita harus berpisah...mungkin di sanalah darma mu akan membawa nasibmu di masa depan. Pun Kakang akan tetap tinggal, hingga darahku habis mensucikan tanah yang aku cintai ini...yang dikotori oleh kakak kita Rahwana.
Kumbakarna memilih tinggal di Gunung Gohkarna, tempat bertapa dahulu beserta kakaknya Prabu Rahwana dan adik-adiknya sewaktu masih kecil dahulu. Dia bertapa tidur untuk agar tidak harus melihat angkara murka kakaknya. Sesekali istrinya tercinta Kiswani dan anak-anaknya Mbo Kinumbo dan Kiswanikumbo, datang merawat rambut, kuku, busana dan bercengkerama sekadarnya...untuk kemudian membiarkannya kembali tidur menyatu dengan alam.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


