Duka Cinta Trijatha
KISUTA.com - Fajar yang cerah, butir-butir embun bak berlian menghias ujung dedaunan, berkilau menetes disaput kemilau sang surya. Wibisana berhasil dihadapkan kepada Prabu Rama oleh Anoman yang mengenalnya saat menjadi duta di Alengka.
Wibisana: Duh Sri Nalendra gung binatara...jangan curigai itikad saya, saya bukan pengkhianat yang meninggalkan rakanda saya untuk mencari kemuliaan. Saya rela diusir untuk menjalankan darma...terimalah pengabdian saya Ooo titisan Hyang Wisnu.
Rama: Wibisana, dharma adalah sarana untuk mencari Arta, Kama dan Moksa...kehidupan di alam nyata, kematian yang sempurna dan kehidupan setelah kematian. “Prihen temen dharma dumaranang sarat, saraga Sang sadhu sireka tutana, tan artha tan kama pidonya tan yasa, ya sakti sang sajjana dharma raksaka” (Kakawin Ramayana).
Usahakan dharma dalam kehidupan di dunia ini. Mereka yang bijaksana hendaknya dijadikan panutan, bukanlah harta, nafsu atau kemasyuran, keberhasilan sang bijaksana adalah karena paham benar hakekat dharma.
Wibisana: Benar sang Prabu, padukalah panutan saya..saya yakin jika saya berada bersama paduka, jalan lurus yang saya idam-idamkan akan saya temui.
Rama: Wibisana...semoga aku tidak mengecewakanmu. Saat ini aku juga sedang menjalankan darmaku...saat engkau mendampingiku, jalankanlah kemampuanmu untuk memimpin wadya bala yang akan aku percayakan padamu...bersama para narpati lainnya. Sebagai pemimpin hendaklah jangan congkak, sombong dan berbangga diri, janganlah mementingkan diri sendiri. Seorang pemimpin harus peka pada suara hati yang dipimpinnya Memperjuangkan kepentingan mereka yang engkau pimpin. Mengutamakan kesejahteraan mereka yang engkau pimpin.
Wibisana: Sendika dawuh Gusti. (Wibisana menyembah Sri Rama Wijaya dengan takzim)
Wibisana akhirnya diangkat sebagai salah satu Narpati (Raja Muda) di bawah prabu Rama yang memimpin wadya bala manusia, berdampingan dengan Narpati Sugriwa yang memimpin wadya bala wanara.
Kepergian Wibisana dan Kumbakarna dari Alengkadiraja, membuat Rahwana makin membabi buta. Kalimat pencegahan yang disampaikan Trijatha bahwa Sinta tidak akan mau dan sudi didekati jika Rama dan Laksmana masih hidup...yang sebenarnya berkeinginan menggiring Rahwana agar secara ksatria berani menghadapi Rama... ternyata secara licik dan kejam di manfaatkan Rahwana untuk mendustai Sinta.
Saat putra kembarnya yang tampan dari istrinya Banondari berkunjung, Rahwana mendapatkan ide gila untuk melaksanakan hasratnya. Dijamunya Sondara Sondari dengan makanan mewah dan enak yang sudah dibumbui racun, kedua anak itu makan dengan lahap dan bahagia karena perhatian dan kasih sayang ayahandanya. Saat mereka tertidur lemas karena racun dimakanan itu, dengan dingin dan kejam, Rahwana memenggal kepala putranya sendiri, meletakkan penggalan kepala kedua teruna tampan itu di baki berlapis sutera merah, dan mengirimkannya ke taman Asoka agar dilihat Sinta sebagai kepala Rama dan Laksmana.
Prandéné kang wus sampurna, ing pangawruh tan samar woring dhiri , kang ngalingi wus kadulu , ngéla tan kalamatan , wruh ing wrana pambukané , tan kaliru jro liyêp layap karasa, saking prana pranawaning. (Suluk Pathet Nem Wantah)
Meskipun begitu yang sudah sempurna, dalam pengetahuan kebathinan tak ragu menyatunya diri, yang menghalangi sudah terlihat, jelas tidaklah samar-samar, tahu akan tirai pembukanya, tidak salah dan dapat merasakan dalam keadaan antara tidur dan sadar, dari hati yang telah mendapat penerangan (pencerahan).
Rakyan Sinta menatap nanar dua wajah tampan yang berlumuran darah di baki kencana itu. Tiba-tiba pandangannya gelap, kekhawatiran dan duka menjadikannya tak cermat...
Dengan lenguhan tipis tanda puncak kedukaannya yang meledak... Rakyan Sinta pingsan dalam pelukan Trijatha.
Dewi Trijatha, tanggap, segera diperintahkannya Limbuk dan Cangik merawat Rakyan Sinta. Sesaat diperhatikannya dua wajah tampan di atas nampan...terhuyung-huyung Trijatha berpegangan pada kursi di taman...”Jagad Dewa Bathara..ini kepala adimas Sondara dan Sondari putra kembar bibi Banondari...putra uwa prabu sendiri...duh gusti, tahi lalat kembar diujung mata kiri Sondara dan diujung mata kanan Sondari, adalah tanda yang tidak bisa dihilangkan...kejam sekali...kejam sekali Uwa Prabu yang mengorbankan putranya untuk merebut hati Uwa Sinta.”....Air Mata Trijatha menetes menangisi kematian sia sia sepupunya, di ciumnya dahi wajah penuh darah itu... disampaikannya pada Limbuk dan Cangik agar menyampaikan pada Rakyan Sinta bahwa kedua kepala itu bukan kepala Rama dan Laksmana, sekaligus Trijatha pamit untuk menyelidiki kebenaran dugaannya.
Kedua kepala diatas nampan itu dibalut rapi oleh Trijatha, dia mampir ke keputren Dewi Banondari untuk menyampaikan kabar duka itu.
Isak tangis penuh duka menjadi tembang pilu yang menyayat hati di bilik Dewi Banondari...
Ooo anakku Ngger Sondara Sondari...mengapa kau tinggalkan ibu seperti ini...apa salahmu cah bagus...tangan lentik itu mengusap-usap wajah kedua putranya penuh kasih.. wajah yang sudah mulai membeku dingin dan membiru.... Banondari yang sebenarnya punya rasa cinta pada Rahwana, sekarang di hempaskan pada kenyataan, betapa kejamnya sang suami, ketika memburu kemauannya... Wajah cantik itu menjadi kusut...dengan tangan terkepal, ditegakkannya kepalanya... Duh jawata agung, kanjeng rama Mayasura, kanjeng Ibu Bathari Hema...tolong siram jiwaku dengan keadilan...tak kurelakan kematian anakku seperti ini...atas ijinmu, biarlah kedua anakku kelak menjadi sumber kematian abadi Rahwana,.. yang tak mungkin terjadi karena pancasona dan rawa ronteknya...
Supata itu keluar dari wajah cantik penuh duka itu.
Kepada Indrajit, Banondari meminta agar kedua kepala Sondara dan Sondari dimakamkan di sebelah timur Gunung Gohkarna. Indrajit mematuhi permintaan ibu tirinya, terbang nggegana, Indrajit memakamkan adik-adiknya di sebelah Timur Gunung Gohkarna...ajaib setelah tanah kubur selesai dirapikan, tiba-tiba makam itu terus membesar menjulang menjadi bukit, dan lama kelamaan kedua bukit itupun tegak sebagai dua gunung yang saling berdampingan membawa hawa miris di sekitarnya.
Malam itu juga Trijata terbang ke Suwelagiri. Kesaktian Trijata berasal dari titisan ayahnya Wibisana. Dibantu oleh Anoman yang diam-diam mencintainya, Trijata bertemu dengan Rama dan Laksama. Trijatha menceritakan apa yang dilakukan Rahwana. Kabar ini membuat Rama terkejut dan marah namun juga tenang karena selama ini Dewi Shinta ditemani oleh penjaga yang setia. Trijata bertemu dengan Wibisana yang telah berpindah ke kubu Rama. Wibisana memerintahkan agar Trijata segera kembali ke taman Asoka untuk melindungi Sinta, dan tidak menerbitkan kecurigaan pada Rahwana.
Trijatha pamit mundur pada Rama dan Wibisana, namun matanya terus menatap Laksmana, pandangan Trijatha menyiratkan rasa cinta pada Laksmana. Perasaan itu diawali dengan seringnya ia mendengarkan cerita-cerita Dewi Sinta tentang kesaktian suaminya Rama, dan kesetiaan dan ketangguhan Laksmana, adik Rama.
Dewi Trijata tertarik dengan cerita-cerita Dewi Sinta mengenai Laksmana, dan ketertarikan itu berbuah menjadi cinta meskipun ia belum pernah bertemu ataupun mengenal Laksmana secara langsung. Kesempatan untuk bertemu langsung dengan Laksmana datang ketika Dewi Trijata memeriksa kebenaran mengenai berita kematian Rama dan Laksmana.
Laksmana adalah ksatria yang bijak, melihat hal ini, dia sendiri mengantarkan Trijatha ke bibir pantai agar dapat meredakan asmara dhahana sang Dewi.
“Trijatha, ketahuilah aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai bernama Urmila, bersamanya aku bertekad Eka Patniwrata...hanya menikah sekali seumur hidupku. Jangan sia-siakan kemudaan dan kecantikanmu. Pulanglah, aku doakan yang terbaik untuk kemuliaanmu di masa depan.”
Trijatha menangisi nasibnya yang malang, pupus sudah rasa cintanya. Tanpa menengok lagi, Trijatha terbang melesat menuju Alengkadiraja.
Syahdan keesokan harinya, Rahwana mulai melancarkan akal bulusnya untuk memaksa Shinta menuruti kemauannya.
Sinta: Yaksa, sungguh bukan hanya wajahmu yang jelek tak menarik, pribadimupun kotor tak berperi kemanusiaan. Jangan kau kira aku tak tahu...kedua kepala itu adalah kepala putra-putramu sendiri yang engkau bunuh untuk menggoyahkan hatiku....Pergilah engkau Yaksa, apa yang kau harapkan dengan kelicikan dan kekejaman seperti itu?
Rahwana: Wee lhadalah...Sintaaa..Ooo Sinta...betapa kerasnya hatimu...lihatlah kesungguhanku, bahkan anakku sendiri rela aku korbankan untuk menunjukkan kebesaran cintaku padamu...
Sinta: Trijatha...mual perutku mendengar kebusukan ini...biar aku tinggalkan kalian di Asoka ini...(Sinta segera pergi meninggalkan taman tanpa menengok lagi...Trijatha memeluk kaki Uwanya kuat-kuat agar tidak bisa mengejar Sinta. Rahwana marah, ditendangnya tubuh Trijatha sambil membentak)
Rahwana: Jatha....!!! Kurang ajar engkau malah selalu menghalangi hasratku.. dengar ya.. Wajahmu cantik, tubuhmu indah tetapi...engkau akan sia-sia menikmati masa tuamu karena bukan pria tampan yang akan jadi pendampingmu, tapi Munyuk Tua Jelek yang akan jadi jodohmu!!!. (Selesai mengucapkan kutukan ini, dengan bersungut-sungut Rahwana meninggalkan taman Asoka)
Trijata terisak sedih mendengar kutukan Rahwana, kegagalannya merebut cinta Laksmana membuatnya nanar mendengar kutukan Rahwana, Dewi Sinta yang mendengar teriakan Rahwana mengutuk Trijatha segera keluar memeluk Trijatha yang akhirnya terisak-isak di pundaknya.
Sinta: Sudahlah Trijatha...aku tidak dapat mencabut kutukan itu.. tetapi ketahuilah sebagai titisan Bathari Widowati, tentu aku boleh memberikan berkat padamu Trijatha..Berkatku adalah.. kelak engkau akan memiliki putri jelita yang akan menjadi sisihan terkasih dari titisan Hyang Wisnu.
Trijatha: Uwa Dewi, mengapa nasib saya menjadi begini malang, bagaimana kelak masa depan saya uwa Dewi (Trijatha mengeluhkan nasibnya, Sinta memegang lembut pundaknya)
Sinta : Trijatha “Sebab-sebab kang gawe ciliking ati lan cekleking gegayuhaniku dumunung ing gegambarane pikiran kang sarwa nguwatirake marang lelakon kang durung kelakon, temahane pikiran dadi peteng, lumuh ihtiyar lan koncadan gregeting makarya. Katimbang nyumelangake barang kang durung bisa ginrayang luwih becik aja pegat ing ihtiyar kanthi nenuwun marang sihing Kang Murbeng Dumadi, jer iya mung Panjenengane kang murbawasesa urip kita. Klawan mengkono kowe ora bakal ngedhap ngadhepi sakehing lelakon.
Trijatha...Penyebab kecil hati dan patah semangat sering berada dalam gambaran pikiran kita sendiri terhadap hal-hal yang belum terjadi. Hasilnya pikiran menjadi gelap, malas berusaha dan kehilangan semangat kerja. Daripada mengkhawatirkan hal-hal yang belum bisa diraba, lebih baik kita tidak berhenti berusaha disertai doa memohon belas kasihan Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dialah yang menguasai hidup kita. Dengan demikian kamu akan tabah menghadapi semua hal.
Trijatha : Iya Uwa Dewi...tetapi saya selalu was-was...apalagi sekarang saya sendiri saja bersama paduka, jauh dari ayahanda Wibisana.
Sinta: Trijatha... Rasa was sumelang iku nerakake wong sing arep nggayuh rahayu. Sapa kang wis ketaman rasa iki salawase ora bakal bisa maju. Ing samubarang tandang-tanduke sarwa tidha-tidha lan tansah awang-awangen ngadhepi kangelan kang bakal memalangi laku. Kosokbaline tekad iku rasa ciptaning karsa kang wis gembleng. Dadi yen ana kepenak lan orane bakal didhadhagi lan diayahi kanthi wani. Kang pinandeng mung bakal tekaning sedya. Nanging tekad mono beda banget karo nekad, yen nekad kuwi uwohing pakarti kang tuwuh saka kajudheganing nalar sing tundhone keconggah tumindak nistha, merga koncadan pepadhang.
Trijatha perhatikanlah rasa was-was itu penghambat orang yang ingin mencapai kemuliaan. Siapa yang dihinggapi perasaan ini selamanya tidak akan maju. Semua tingkah-lakunya serba ragu-ragu dan gamang menghadapi hambatan dan kesulitan. Sebaliknya tekad adalah karsa yang sudah bulat. Senang tidak senang akan dihadapi dan dilalui dengan berani. Yang diinginkan hanyalah tercapainya tujuan. Tekad tidak sama dengan nekad. Nekad adalah buah pekerjaan yang tumbuh dari kemelutnya pikir yang bisa berakibat mau melakukan tindakan nista, karena sudah kehilangan akal sehat.
Sinta berhasil menenangkan hati Trijatha...Dua jelita ini saling berpegang tangan, aliran kasih dalam detak jantung mereka menguatkan keduanya, untuk tetap tabah, menunggu saat bahagia tiba.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


