Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Anggada Duta

Jumat, 18 September 2015

KISUTA.com - Prabu Rama terpekur memandang Tambak Situbanda, kerja keras dan kesetiaan kawulanya telah terbukti mengantarkan mereka menyeberangi samudra Hindia, dan para Prajurit Pancawati dapat mendirikan perkemahan di Suwelagiri.

Rama: Narpati Sugriwa dan Narpati Wibisana, panggillah Anggada dan Anoman. Sudah saatnya kita mengirimkan utusan untuk secara terhormat menyampaikan pada Rahwana pilihan atas perbuatannya dan sikap kita.

Wibisana segera memanggil kedua panglima andalah Pancawati itu. Sigap dan tanggap Anggada dan Anoman menghadap dan menyembah Rama untuk siap melaksanakan perintah.

Rama: Anggada dan Anoman, sepertinya salah satu dari kalian akan aku utus bertemu dengan Rahwana. Sampaikan sikapku dan pilihan baginya: Apakah Prabu Rahwana akan menyerahkan kembali Dewi Sinta kepadaku, ataukah harus menghadapi kekuatan senjata Prajurit Pancawati.

Anggada: Ooo sang Prabu, serahkan tugas ini kepada hamba...karena bukankah kakang Anoman sudah pernah menjadi duta sebelumnya...Sekarang biarlah hamba membuktikan darma bakti hamba pada paduka.

Rama: Anggada...berhati-hatilah...aku percaya kepadamu, tetapi ingatlah kendalikan watakmu yang grusa grusu, kadang sembrono itu..... Dipun nedya prawira ing batin. Nanging aja katon, sasona yen durung masane, kekendelan aja wani manikis, wiweka ing batin, den samar ing semu ( Wulangreh – Pakubuwono IV, Pupuh Mijil bait ke 2).... Carilah Keperwiraan dalam batin, Tapi jangan sampai kelihatan, Kalaupun jika belum masanya.

Diamlah jangan berani berucap, Simpanlah dalam batin, jangan salah dalam semu.

Rama memberi kepercayaan pada Anggada namun sebagai titisan Wisnu, Rama sadar risikonya sangat besar memilih Anggada dengan pribadi yang temperamental sebagai duta. Oleh karena itu Rama membekali Anggada dengan nasehat untuk pengendalian diri sebagaio duta ke Alengka untuk menemui Prabu Rahwana.

Di Alengka, dikisahkan para raksasa sedang melakukan penjagaan ketat, karena trauma dengan kejadian sebelumnya, yaitu kota Alengka pernah dibakar oleh Anoman.

Saat sedang berjaga-jaga para raksasa dikejutkan oleh kedatangan seekor kera merah yang bernama Anggada. Peperangan tidak bisa dihindari, para raksasa dengan ganas menyerang Anggada, tet. Namun, Anggada dengan kesaktian yang luarbiasa mampu memporak porandakan pasukan raksasa itu. Tamparan tangan Anggada yang bagai petir meledak seslalu mengakibatkan muka atau badan gosong terkena hawa panas tamparannya, kelincahannya yang kluar biasa juga bagai tatit menyambar-nyambar membuat kewalahan para prajurit.

Kalamarica, mata-mata handal Rahwana segera melaporkan pada Rajanya tentang sepak terjang Anggada ini. Tak lupa Kalamarica juga membisikkan pada Rahwana bahwa Anggada ini sesungguhnya adalah anak Resi Subali dengan Dewi Tara, jadi masih keponakan Dewi Tari istri Rahwana. Mendengar bisikan Kalamarica, tersungging seringai licik di bibir Rahwana, akal busuknya bekerja dengan cepat.

Pertempuran Anggada dan para raksasa akhirnya diberhentikan dengan kedatangan Rahwana. Rahwana mendekati Anggada dan menanyakan maksud kedatangan ke Alengka.

Anggada diajak ke balai paseban agung. Anggada memperkenalkan diri dan menceritakan dirinya adalah anak dari Subali. Seketika itu juga Rahwana menangis dihadapan Anggada. Rahwana berakting sedih untuk mengelabui Anggada, Anggada disanjung, diperlakukan dan dijamu dengan baik.

Rahwana menampakkan kerinduan pada Anggada, dia meratapi kematian Subali. Anggada menjadi bingung, tidak terpikir olehnya Prabu Rahwana yang sejahat itu bisa menangis. Akhirnya Prabu Rahwana menceritakan peristiwa terbunuhnya Subali, ayahanda Anggada oleh pamannya, Sugriwa dan Prabu Rama. Oleh karena itu Prabu Rahwana meminta agar Anggada menyatukan diri dengan kekuatan Alengka dan membalas kematian Subali.

Anggada tercenung apakah betul yang dikatakan Rahwana. Anggada pernah mendengar dari ibunda Dewi Tara, sebab-musabab terjadinya perselisihan ayahanda Sugriwa dan uwa Subali, sehingga menyebabkan kematian Subali. Juga mengenai Subali yang pernah ditipu dan mau dibunuh oleh Prabu Rahwana, setelah Subali menyerahkan Aji Pancasona kepada Prabu Rahwana.

Anggada menegaskan kembali bahwa kedatangannya menjadi utusan Prabu Rama, yaitu minta Prabu Rahwana mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama atau menghadapi perang dengan kekuatan senjata.

“Anggada keponakanku sayang, Cintaku pada Sinta adalah cinta yang tulus...tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang sudah aku miliki...lihatlah buktinya sampai sekarang Sinta masih suci, tidak aku jamah..karena aku menunggu penyerahan total dari cinta yang sejati...Oo Anggada jika aku disebut menculik istri orang...mungkin inilah perjalanan nasibku..bahwa cinta sejatiku harus menjadi milik orang lain dulu..tidak apa apa..tetap akan aku perjuangkan...karena itu bergabunglah denganku...kita kalahkan Rama yang sombong dan pamanmu yang khianat, kita balaskan dendam ayahmu yang mulia guruku tercinta Resi Subali.”

Akhirnya Anggada berpamitan pada Rahwana, dan ia ingin membalas kematian ayahnya pada Sugriwa dan Prabu Rama. Selesai berpamitan, tiba tiba Anggada mengambil mahkota yang dipakai Prabu Rahwana, dan membawa lari mahkota kerajaan Alengkadiraja kembali ke Suwelagiri.

Sesampai di perkemahan Prabu Rama di Suwelagiri, Anggada menceriterakan segala sesuatunya kepada Prabu Rama, dan diserahkannya tandabukti kalau sudah bertemu dengan Prabu Rahwana, berupa mahkota Rahwana.Prabu Rama menerima mahkota kerajaan Alengka dan kemudian diserahkan kepada narpati Sugriwa agar memakainya. Narpati Sugriwapun menerimanya dan memakai mahkota.

Melihat Rama menyerahkan mahkota itu pada Narpati Sugriwa...Hati Anggada mendadak semakin lama semakin mendidih sejak mendapat hasutan Prabu Rahwana. Anggada mencoba melupakan, tetapi tidak bisa. Semakin ditahan semakin membara, Anggada menahan gejolak kemarahan yang luar biasa, makin lama makin sudah tidak bisa terbendung lagi. Tiba tiba saja meledaklah kemarahannya, dihampirinya Sugriwa dan dipukulnya keras keras, sehingga pamannya, Sugriwa, terjatuh terkapar dan pingsan. Anggada kemudian merangsek menyerang Anoman, Anila dan para senapati kera lainnya. Posisi mereka menghalangi Anggada untuk menyerang Prabu Rama. Anggada berniat membalas kematian ayahnya Subali. Ia ingin membunuh Paman Sugriwa juga Prabu Rama. Anoman dan Anila menangkap Anggada dan menenangkannya.

Sementara itu paman Sugriwa sudah sadar dari pingsannya. Melihat keadaan Anggada sedemikian itu, Sugriwa memastikan bahwa penyebabnya pasti karena adu domba dari Prabu Rahwana, antara Anggada dan Sugriwa. Kemudian Sugriwa menceriterakan Riwayat Sugriwa Subali. Sebenarnya hal itu terjadi ketika Ibu Anggada, Dewi Tara, sejak dianugerahkan pada Sugriwa dari Batara Guru menjadi rebutan antara Sugriwa dan Subali. Maka menjadikan keberadaan Anggada tidak bisa dipastikan, siapakah ayah Anggada yang sebenarnya, Sugriwa atau Subali. Sugriwa dan Subali saling mengaku, kalau Anggada adalah anaknya.Tetapi bagi Sugriwa merasa, bahwa Anggada betul betul puteranya. karena Dewi Tara adalah istrinya sebelum direbut oleh Subali. Namun dari beberapa versi lain Anggada ditetapkan sebagai anak Resi Subali.

“Anakku Ngger Anggada, tidak dapat dipungkiri, jika aku berada pada posisimu...mungkin akupun akan ada pada kebingungan yang sama...karena sungguh kisah yang aku lalui bersama rakanda Subali, bukanlah kisah yang enak di jalani...tetapi nak...apakah aku akan menyalahkan pada suratan nasib...Ooo Anggada jika itu yang aku lakukan berarti aku akan cuci tangan dan menyalahkan dewa serta Hyang Widi Wasa yang sudah memberikan nasib begitu buruk padaku...tidak anakku...takdir itu di sertai juga dengan pilihan tindakan. Aku mengakui tindakanku membaca tanda-tanda berupa darah merah dan putih salah...itu kebodohanku hingga Dewa menyerahkan ibumu Dewi Tara sebagai istriku...tetapi apakah kakang Subali benar ? dengan memilih merebut istriku serta menghajarku habis-habisan...tentu tidak juga...karena itulah Prabu Rama menggunakan panah Guwawijaya untuk menentukan kebenaran itu sendiri...Anakku, rasakanlah..pernahkan aku berbuat tak pantas sebagai ayahmu atau pamanmu terserah bagaimana engkau meyakininya...dalam perjalanan hidupmu dari kecil hingga engkau dewasa?

Sugriwa berusaha menyentuh perasaan Anggada dengan suara pilu, luka hatinya tercurah saat menceritakan ini, terasa nada kepasrahan untuk menerima apapun yang akan terjadi.

Setelah mendengarkan cerita dari Pamannya, Sugriwa, Anggada bisa lebih tenang, Sekarang bagi Anggada, Subali atau Sugriwa yang menjadi ayahnya, sama saja. Apalagi Sugriwa sangat sayang pada dirinya, dan Resi Subali pun telah tiada.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya