Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Anggrisana Lena

Sabtu, 19 September 2015

KISUTA.com - Syahdan, di Alengka Rahwana ingin menjajagi terlebih dahulu kekuatan perajurit Rama. Untuk itu diutusnya Anggisrana selir kesayangan Sarpakenaka di luar Kalamarica, menjadi duta mata mata Prabu Rahwana ke Suwelagiri. Anggisrana berhasil menyelinap dalam perkemahan para perajurit Suwelagiri. Kebetulan saja, badan Anggisrana sebesar manusia, tidak seperti raksasa lain yang memiliki postur tubuhnya besar. Lagi pula wajahnya hampir mirip kera.

Anggisrana memasuki semua perkemahan, termasuk perkemahan Prabu Rama dan Laksmana. Tidak ada satupun perajurit Suwelagiri yang mencegatnya, Tetapi kali ini Anggisrana sempat berpapasan dengan Wibisana. Wibisana kaget ia mengenali Anggrisana sebagai pacar selingkuhan Sarpakenaka, kakak perempuannya. Melihat keberadaan Anggisrana di sini Wibisana merasa ada yang aneh, mengapa ia berada di sini. Untuk menjaga segala kemungkinan yang ada Wibisana menemui Anoman, dan mengingatkan agar penjagaan diperkuat, jangan sampai ada telik sandi musuh memasuki perkemahan Suwelagiri.

Anoman paham, kalau apa yang dikatakan Wibisana itu, berati memang sudah ada musuh yang telah masuk dalam pertahanan Suwelagiri. Anoman segera mencari orang yang dimaksud Wibisana.

Anoman menemukan orang yang dicurigai Wibisana, Anggisrana. Anggisrana mengatakan bahwa ia kera dari Goa Kiskenda, perajurit Resi Subali. Ia baru saja ke Suwelagiri, karena ingin memperkuat pertahanan Suwelagiri.

Anoman belum mau percaya. Anoman membawanya ke tempat Anila, karena Anila adalah Patih Goa Kiskenda, pastilah mengetahui sedikit banyak tentang Anggisrana. Namun Anila tidak mengenali Anggisrana sebagai warga Goa Kiskenda. Anoman kemudian minta agar Anggisrana bertingkah laku seperti kera, disuruhnya naik pohon. Ternyata Anggisrana tidak bisa melakukan itu. Anggisrana juga tidak bisa bersuit suit, (bhs.Jw.mere), seperti bunyi kera yang lain.

Yakinlah Anoman bahwa Anggisrana bukan kera, tetapi seorang raksasa yang menjadi duta mata-mata Alengkadiraja. Anoman membawanya menghadap Prabu Rama. Oleh Rama Anoman diminta untuk melepaskan belenggu Anggisrana, dan dimintanya agar Anoman meninggalkan Prabu Rama seorang diri bersama Anggisrana. Dijamunya Anggisrana sebagai tamu.

Setelah itu Prabu Rama memberi beberapa keping emas kepada Anggisrana, Prabu Rama titip salam buat Prabu Rahwana, dan minta agar Prabu Rahwana mengembalikan Dewi Sinta, sehingga terhindar dari perang besar Alengkadiraja.

“Ya Anggrisana, andika adalah duta yang agung, wajar bagiku memuliakanmu dan menjamumu seperti ini...sampaikan salamku pada rajamu...kembalikanlah istriku, tidak perlu kita korbankan para kawula alit untuk mengumbar nafsu kita. Betapa sia-sianya nyawa-nyawa yang terbuang...nyawa yang sebenarnya tidak tersangkut paut dengan permainan nafsu rajanya. Engkau tentu tahu pilihan terbaik adalah mengembalikan istriku, aku akan memaafkan rajamu serta melupakan kekhilafannya.”

Setelah berpamitan dengan Prabu Rama, Anggisrana pulang ke Istana Alengka. Waktu mau pulang Prabu Rama memberikan hadiah beberapa potong emas. Prabu Rama juga titip salam buat Prabu Rahwana.

Setiba di Istana Alengka, Anggisrana menghadap Prabu Rahwana..Anggisrana melaporkan segala sesuatunya yang dialaminya, juga mengenai kekuatan perang pasukan Prabu Rama. Anggisrana juga menceritakan kebaikan Prabu Rama, seorang raja yang bijaksana. Sewaktu ia ketahuan masuk di perkemahan Suwelagiri oleh Wibisana, yang kemudian ditangkap oleh Anoman, Prabu Rama malah melepasakannya. Bahkan Prabu Rama menganggap kehadirannya sebagai seorang tamu dari Alengka, maka dijamunya makan dan minum.

Anggisrana minta agar Prabu Rahwana jangan berperang melawan Prabu Rama, karena pasukan Prabu Rama jauh lebih banyak dan lebih kuat daripada Alengka, lebih-lebih Wibisana ada di sana. Untuk itu kembalikanlah Dewi Sinta kepada Prabu Rama. Mendengar laporan Anggisrana, yang selalu memuji kebaikan Prabu Rama, Prabu Dasa muka menjadi marah besar. Namun Prabu Rahwana masih bisa mengendalikan kemarahannya. Sehingga di hadapan Anggisrana, Prabu Rahwana tidak menampakkan kalau sedang marah. Kemudian Prabu Rahwana memanggil Anggisrana, agar maju mendekati Prabu Rahwana. Prabu Rahwana pura-pura akan memberikan hadiah yang lebih banyak daripada Rama.

“Wuueee edian jian ampuh tenan...jadi si Rama itu sebaik itu ya...hebat-hebat..Anggrisana, kemari aku tambah hadiahmu...karena keberhasilanmu sebagai duta, terimalah hadiah dariku....hayooo...majulah ke sini.”

Setelah Anggisrana bersimpuh dengan kepala tertunduk mendekati Prabu Rahwana, tiba tiba saja tanpa sepengetahuan Anggisrana, Prabu Rahwana menghunus keris pusaka dan ditikamkannnya ke dada Anggisrana. Anggisrana, tewas rebah bersimbah darah. Anggisrana tewas, di tangan Prabu Rahwana, Sehingga menambah catatan panjang kekejaman Prabu Rahwana kepada kawulanya.

Kematian Anggrisana meledakkan amuk Sarpakenaka...dia menjerit menangis meraung-raung...dalam waktu sekejap Sarpakenaka sudah kehilangan selingkuhan-selingkuhnya...Detya Kala Yuyurumpung keponakannya sekaligus selingkuhannya dan sekarang Anggrisana selingkuhan yang sangat disukainya.

Sarpakenaka menyimpan bara dendam dan bersiap untuk mengajukan diri sebagai panglima pertama yang akan membasmi Pancawati.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya