Konformitas Informasi
KISUTA.com - Teman saya yang biasanya adem-ayem jika ada “Isu-isu Dunia Islam”, kali ini “unjuk gigi” sekaligus unjuk jenggot! Kok bisa? Ya, dia melakukan aksi memanjangkan
jenggot dan kumisnya untuk solidaritas Palestina. “Mun Israel nyerang keneh, kuring moal ngurud ieu kumis jeung jenggot!” kata teman saya yang wajahnya mulai mirip Si Brewok, penjahat kambuhan yang muncul di serial Si Unyil di TVRI dulu.
Saya pun bersyukur semakin banyak orang yang peduli terhadap nasib Palestina. Apalagi konflik Palestina-Israel setiap hari gencar diberitakan media massa. “Teungteuingeun pisan mun teu paduli mah,” ujar teman saya sambil mengelus jenggotnya. Mengapa teman saya ini berubah? Mungkin jiwa kepeduliannya sedang muncul. Bisa juga ghirah keislamannya mulai membara. Atau hanya ikut-ikutan teman? Ya, selama ikut-ikutannya positif, mengapa tidak?
Saya pikir berubahnya teman saya ini, erat kaitannya dengan fenomena psikologi sosial yang dinamakan konformitas, atau yang lebih spesifik, konformitas sosial (social conformity). Teman saya ini terkena konformitas individual, yaitu situasi yang ditandai berubahnya keyakinan dan perilaku individual, sehingga menjadi semakin serupa dengan keyakinan dan perilaku individu-individu lain dalam suatu masyarakat. Lebih jauh, konformitas individual dapat menjadi konformitas sosial, yaitu situasi yang ditandai berubahnya keyakinan dan perilaku suatu masyarakat sehingga menjadi semakin serupa dengan keyakinan dan perilaku masyarakat luas yang melingkupinya.
Salah satu penelitian konformitas yang terkenal, pernah dipublikasikan oleh ahli psikologi sosial Solomon Asch tahun 1951 dan 1956. Intinya, Solomon mendapatkan bahwa kebanyakan individu memang cenderung konform dengan kecenderungan mayoritas yang melingkupinya, sekalipun kecenderungan tersebut nyata-nyata salah. Kecenderungan menjadi konform itu semakin besar, bila kecenderungan mayoritas itu bersifat publik.
Mengapa masyarakat menjadi konform dengan suatu kecenderungan? Menurut Donald Campbell (1961), karena masyarakat lebih menitikberatkan social modes daripada personal modes. Artinya, konformitas terjadi bila informasi yang diberikan oleh orang lain atau masyarakat yang melingkupinya, dipandang sebagai informasi terpenting.
Negara kita dalam peradaban informasi sekarang ini selalu dihadapkan dengan berbagai tekanan konformitas (conformity pressures) yang benar atau yang nyata-nyata menipu. Untung saja, terpaan informasi yang gencar diberitakan media massa di negara kita mengenai konflik Palestina-Israel cukup jelas mengulas mana pihak yang zalim dan mana yang terzalimi. Hanya saja, ini tidak terjadi pada media dan kantor-kantor berita asing yang cenderung memihak Israel. Mereka masih saja “Islam Fobi” (ketakutan terhadap Islam). Pers Barat kerap melemparkan istilah-istilah yang memukul Islam, menyudutkan, mengaburkan berita tentang dunia Islam, seperti istilah fundamentalis, kolot, primitif, anti modernisasi, ekstrimis, fanatis, anti demokrasi, anti emansipasi, anti HAM, teroris dan anti tatanan.
Menurut seorang cendekiawan Arab Dr. Kailany, kaum Yahudi menguasai 90% penerbitan dan media massa di Eropa dan Amerika. Mereka mengendalikan koran-koran terkenal, majalah, radio, televisi, industri film, bioskop. Bahkan mereka menguasai kantor-kantor berita seperti UPI, Associated Press, Reuter dan lain sebagainya. Tidak ada informasi yang bebas nilai, ia hanya memenuhi kepentingan Barat. Dengan demikian, informasi tidak akan pernah menjadi netral.
Alhasil, saya jadi mikir. Jika konflik tak kunjung usai, kapan atuh teman saya mencukur jenggotnya? ***


