Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Cerdas Berbahasa

Minggu, 1 November 2015

KISUTA.com - Seiring perkembangan zaman dan globalisasi yang terjadi, hal ini berpengaruh terhadap perkembangan bahasa. Fenomena sekarang menunjukkan pengaruh bahasa asing terutama bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia dan daerah. Sadarkah kita sampai sejauh mana hal ini terjadi dan apa dampak negatifnya?

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang bahasa negara pasal 25 menyebutkan bahwa bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi Negara. Sesuai pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan selaras dengan dinamika peradaban bangsa. Dalam pasal 41 disebutkan bahwa pemerintah wajib mengembangkan bahasa Indonesia. Juga dalam pasal 44 memuat sebuah cita-cita bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Dalam pasal-pasal lain dijelaskan pula tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah kehidupan. Tapi kenyataannya tidak demikian.


Kenyataan menunjukkan, pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Inggris terhadap bahasa pribumi sudah parah dan kian mengkhawatirkan. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temukan penggunaan bahasa asing pada berbagai hal, tempat, dan kesempatan. Yang memilukan juga dicampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Bahkan seolah terjadi justifikasi bahwa bahasa yang “keren” adalah bahasa yang keinggris-inggrisan. Hal ini juga terjadi pada bahasa daerah, Sunda misalnya. Sebuah ironi yang menyedihkan.


Sebagai contoh kita lebih sering menggunakan kata up to date daripada kekinian atau kabiharian, snack untuk penganan ringan atau lalawuh, coment untuk komentar, dll. Meskipun sebuah bahasa bersifat terbuka terhadap bahasa lain, tetapi perkembangannya yang tak terkendali dapat menggerus suatu bahasa. Deddy Mulyana bahkan menyatakan banyak “teroris” bahasa, yaitu sebagian masyarakat yang mencampuradukkan bahasa, baik lisan maupun tulisan dan tidak menunjukkan identitas kita sebagai bangsa yang berdaulat (PR, 21 Mei 2013).


Banyak kalangan masyarakat yang cenderung suka menggunakan bahasa Inggris, yang kadang kala tidak tepat, mencampuradukkannya dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Misalnya di restoran, berbagai menu berbahasa Inggris, di hotel-hotel, nama tempat atau kegiatan, iklan atau tulisan dan percakapan di media massa, dll. Padahal kita hidup di Indonesia dan tatar Pasundan. Tentu sasaran utama bahasa tersebut adalah warga Negara Indonesia, juga Urang Sunda. Hal ini dapat dilihat pula dalam obrolan sehari-hari.


Berbagai hal yang menjadi alasan penggunaan bahasa asing, di antaranya orang Indonesia kurang percaya diri, bahasa asing dianggap lebih keren, lebih suka mempromosikan bahasa asing. Juga semakin rendahnya rasa setia masyarakat kepada bahasa nasional dan daerah.


Jika hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan jati diri bahasa kita karena isi (kata-kata maupun tata bahasanya) merupakan bahasa asing. Juga akan terjadi kesemrawutan berbahasa yang membuat telinga dan mata kita, “enek” mendengar atau membacanya. Juga konstruksi bahasa yang akan kabur, tidak jelas, dan bermasalah.


Dalam menyikapi hal ini, kita harus mengembangkan sikap positif dalam berbahasa, yaitu bangga terhadap bahasa nasional, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mempunyai kemampuan yang tinggi, bukan saja hanya sebagai alat penghubung yang sempurna, tetapi penggunaannya dalam ilmu pengetahuan. Banyak karya bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing membuat kita seharusnya bangga terhadap bahasa ini; Mempunyai rasa setia bahasa, bahasa Indonesia harus memiliki ciri khas berupa kaidah tersendiri, kita harus menjauhkannya dari bahasa asing yang tidak memperkuat identitas nasional; Merasa bertanggungjawab atas perkembangan bahasa Indonesia, baik buruknya nasib bahasa Indonesia tergantung kepada warga negara Indonesia (Minto Rahayu, 2007: 12). Demikian pula terhadap bahasa daerah.


Selain itu, Sikap bahasa yang positif juga berhubungan dengan tingkah laku berbahasa yang tidak bertentangan dengan kaidah atau norma-norma bahasa yang berlaku. Sikap positif ini menunjukkan adanya kesesuaian penggunaan bahasa dengan situasi kebahasaannya.


Sebagai pengguna bahasa, alangkah baiknya kita cerdas dalam berbahasa. Mampu membedakan mana situasi formal dan informal serta menggunakan suatu bahasa secara utuh.


Gunakan kata-kata yang sesuai dalam sebuah bahasa. Jika kita menggunakan bahasa Inggris, gunakan bahasa tersebut dengan baik dan benar. Begitu pun ketika kita menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Jangan mencampur-adukkan atau mengisinya dengan beragam istilah asing hingga menjadikannya kehilangan jati diri sebagai sebuah bahasa yang mandiri.


Pemerintah pun harus mengambil andil dalam menyikapi hal ini. Membuat sebuah aturan untuk penggunaan dan penataan bahasa Indonesia dan daerah berikut sanksinya. Karena ternyata UU RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang bahasa Indonesia dan Perda no 5 tahun 2003 tentang pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, dan aksara daerah tidak cukup ampuh mengatasi fenomena berbahasa sekarang. Mata pelajaran bahasa Indonesia dan daerah di berbagai jenjang pendidikan harus dioptimalkan agar peserta didi kmampu berbahasa dengan cerdas.


Faktor media massa baik elektronik maupun cetak memegang peranan yang cukup besar. Konstruksi budaya yang dibangun media massa semakin memarjinalkan peranan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Oleh karenanya media harus berperan aktif dalam menggunakan dan membenahi kegiatan berbahasa yang baik dan benar dalam penyuguhan informasi kepada masyarakat.


Cerdaslah dalam berbahasa. Gunakan bahasa Indonesia dan daerah di berbagai kesempatan di negeri ini dengan baik dan benar. Minimalisir penggunaan bahasa asing. Selain itu, bila kita menggunakan bahasa Indonesia, daerah, ataupun asing lakukan tanpa mencampur-adukkan bahasa tersebut satu sama lain.

Bahasa adalah ciri sebuah bangsa. Hilang bahasanya,maka hilang pula bangsanya. Selain itu, bahasa adalah sebuah produk budaya. Sehingga hidupnya sebuah bahasa berpengaruh terhadap budayanya. “Hirup Basana, Hurip Budayana. Dipaké Basana, Waluya Budayana”.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya