Garis Tangan
KISUTA.com - Agak terkejut juga ketika melihat kenyataan bahwa salah seorang penghuni Lapas Sukamiskin adalah teman waktu sekolah. Rupanya, ia tersangkut perkara tindak
pidana umum yaitu utang piutang yang berujung dakwaan pada penipuan ketika menjalankan suatu bidang usaha.
Meski keluaran jurusan yang berkecimpung masalah pemerintahan, tak semua di antara kami terjun ke sana. Seperti yang saya alami, sebenarnya telah diterima menjadi pegawai negeri di Pemkab Cianjur. Akan tetapi, saya lebih memilih bidang jurnalistik. Sebagai wartawan yang berhubungan dengan berbagai kalangan, saya juga tak mengira seorang teman sefakultas telah menjadi pejabat di suatu instansi pemerintah. Saat hendak mewawancara, ia memandang saya lekat. ”Rasana teu asing deui, sareng Akang mah,” katanya, sambil mengatakan asal kuliahnya.
Ternyata ia masih mengenal saya waktu di kampus. Sementara ia sendiri, dulu seorang mahasiswa yang cicingeun dan kalem. Siapa mengira jadi seorang pimpinan. Begitu pula, siapa yang mengira kawan yang sagulung-sagalang ada yang menyandang gelar profesor. Padahal saat ujian, orangnya biasa-biasa saja. Artinya tidak terlalu istimewa. Mengingat peristiwa itu, kami sering tertawa. Namun, begitulah manusia. Bisa berubah. Kita tak bisa mengira apa pun jalan kehidupan kelak.
Saat di kampus dulu, saya juga punya grup yang dinamakan Sapta Siaga. Kami bertujuh sering ngumpul bareng-bareng. Nama kumpulan ini, meniru sebuah judul cerita, kalau tak salah karangan Enid Blyton dengan cerita ”Lima Sekawan”. Kami bertujuh kini menempuh kehidupan masih-masing. Ada yang berkarier di pemerintahan. Seorang menjadi camat di Pemkab Purwakarta, ada juga jadi perwira tinggi di AU. Sementara seorang lagi, mandek akibat salah strategi dalam berkarier.
Ada pula yang memilih berwiraswasta di bidang garmen. Padahal jauh mula melu antara ilmu masalah politik atau pemerintahan dengan seluk beluk garmen. ”Padahal Ente mah, kudu na baheula jadi mahasiswa tekstil,” seloroh saya. Ada pula teman yang sampai kini lontang-lantung, berpindah-pindah pekerjaan. Seperti kata pepatah dalam bahasa Sunda, hejo tihang, yang pada akhirnya nganggur.
Begitulah jalan kehidupan kami seperti anak-anak sungai dari satu mata air. Ada orang mengatakan ”garis tangan” orang berbeda-beda. Hingga banyak orang menginginkan bagaimana jalan hidupnya dengan meramal lewat garis tangan. Padahal tak ada seorang pun bisa meramalkan nasib orang besok atau lusa.
Namun anehnya, bukan cerita isapan jempol, banyak yang berkiprah dalam politik dengan jalan klenik. Tak sedikit yang ingin jadi anggota dewan datang ke dukun dan seorang paranormal. Meminta untuk diterawang apakah dirinya bisa jadi anggota dewan atau pemimpin kepala daerah?
Ada yang bertapa di suatu tempat memimpikan wangsit atau bisikan gaib. Ada pula yang sowan ke kuburan keramat. Kemudian, tak sedikit pula yang melengkapi dengan benda-benda keramat, seperti cincin, kalung, atau sabuk yang dianggap punya tuah agar nanjung jadi pangagung.
Jika ada anggota dewan dan pemimpin melakukan upayanya lewat jalan klenik meleset, maka akan dilanda frustrasi. Sebaliknya, jika berhasil, jangan harap pemimpin seperti ini akan membawa kemakmuran dan kemaslahatan umat atau masyarakat. Bahkan jangan-jangan, kebanyakan para birokrat dan yang berkecimpung dalam politik melakukan korupsi, awalnya akibat melalui jalan klenik.***


