Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Panutan Ki Sunda

Rabu, 18 November 2015

KISUTA.com - Ketika Ki Sunda butuh sosok panutan, sekarang ini justru beberapa tokohnya sedang dirundung masalah, terjerat kasus hukum, khususnya korupsi. Mulai mantan Gubernur, mantan dan pejabat eksekutif daerah, walikota, hingga para anggota dewan --yang terhormat--. Mereka mulai diperiksa, diadili, bahkan sudah ada yang dibui. Begitu memprihatinkan. Akibatnya, Ki Sunda kehilangan kepercayaan diri terhadap tokoh-tokohnya dan mulai terjebak romantisme sejarah dan kejayaan masa silam. Akhirnya, sosok Siliwangi diperbincangkan dan ketokohannya jadi rujukan.

Siliwangi berasal dari kata Sili(h) dan Wangi. Siliwangi diberikan kepada raja-raja yang menjadi pengganti Prabu Wangi. Sedangkan Prabu Wangi(sutah) sendiri adalah gelar untuk Prabu Niskala Wastu Kancana raja dari kerajaan Sunda (=Pajajaran) ke-32 sejak Prabu Tarusbawa. Wilayah kerajaannya sendiri kurang lebih meliputi provinsi Lampung, Banten dan Jawa Barat sekarang. Prabu Siliwangi merupakan gelar bagi raja di kerajaan Pajajaran. Namun belum banyak yang tahu bahwa raja yang mempunyai gelar Siliwangi tidak hanya satu. Setidaknya ada enam raja. Mereka adalah Jaya Dewata, Surawisesa, Dewata Buana, Ratu Sakti, Nilakendra dan Surya Kancana.

Yang cukup fenomenal adalah kepemimpinan Siliwangi era Jaya Dewata yang juga bergelar Sri Baduga Maharaja. Mengapa demikian? Ketika Sri Baduga mengawali pemerintahannya, sebagai pertanda kebijakan dan keadilannya yang pertama dilakukan adalah mengurangi beban yang diterima rakyatnya. Prasasti peninggalan Sri Baduga di Kabantenan memuat bahwa penduduk dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan).

Selain itu, naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan pancakaki masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Kerajaan Pakuan Pajajaran) dan dalam Carita Parahiyangan pemerintahannya dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan. Bahkan, Tome Pires (1475-1491) penulis Suma Oriental (dunia timur) asal Portugis ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Selama 39 tahun memerintah (1482-1521), Sri Baduga senantiasa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan hidup bagi rakyatnya.

Hanya saja, jika meruntut masa hidup ada yang patut dipertanyakan. Apakah tidak terlalu jauh merujuk Siliwangi sebagai figur idola? Apakah tidak ada sosok Ki Sunda lain yang ketokohannya layak dijadikan panutan?

Setelah membaca buku tulisan Iip D. Yahya, Oto Iskandar di Nata: the Untold Stories (FDWB: 2008), sebenarnya Ki Sunda tidak perlu jauh sampai harus memilih Siliwangi sebagai tokoh Sunda panutan. Pak Oto Iskandar di Nata (Otista) pantas menjadi rujukan. Mengapa tidak? Otista merupakan orang Sunda bertalenta lengkap. Mulai dari pejuang, guru, politikus, anggota parlemen hingga sebagai wartawan. Dia mampu berbicara tajam mengenai berbagai persoalan dari olah raga, kesenian, pendidikan, gerakan perempuan, ekonomi, politik, sampai masalah militer. Selain itu, kemampuan manajerial Otista mampu menggerakkan atau mengorganisasikan masyarakat ke arah kesejahteraan yang lebih baik.

Saya jadi tahu bahwa dalam rentang waktu 1929-1942, yakni ketika ia menjadi Ketua Umum Paguyuban Pasundan (PP), organisasi ini telah menjadi ikatan solidaritas sosial masyarakat Sunda yang utama. Dengan ikatan sosial tersebut, masyarakat Sunda banyak mengalami kemajuan, yang dapat dilihat dari berbagai fasilitas pendidikan, sosial, dan ekonomi. Otista mampu menjaga komitmen dan menampakkan kepedulian, meningkatkan kemandirian, memperluas partisipasi dan nilai voluntarisme, menciptakan program yang inovatif, membangun kepemimpinan yang berkompeten dan menjalankan kaderisasi, serta aliansi dan jaringan dengan media. Sejatinya, Otista tokoh yang mempunyai karya nyata dalam memperbaiki kondisi orang Sunda.

Kini saatnya Ki Sunda bangkit dan instrospeksi diri. Jadikan kasus yang menimpa tokohnya sebagai pembelajaran. Toh, sosok panutan itu tidak datang begitu saja. Butuh kemauan dan harapan. Mulailah berbenah diri. Siap tampil dan kuatkan nyali. Seperti yang diajarkan Otista bahwa orang Sunda itu sebenarnya bisa guyub, kompak, sauyunan-saaleutan. Bisa pan?***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya